LOGIN"Namaku Valyria Soga Kinar, Anda pasti Nona Liriel bukan?" tanya Valyria.Liriel terkejut dan termangun menatap kehadiran Valyria. Ia langsung meraih tangan Valyria. "Sangat cantik, Anda lebih elegan," ucap Liriel."Oh bukan itu yang kumaksud Nona Liriel, apakah Anda tahu siapa aku?" tanya Valyria tanpa basa-basi.Liriel terdiam memandangi Valyria. Sosok Gadis muda yang memiliki karakter yang kuat, sekilas Liriel seolah melihat sosok Valyria sebagai Valerin Grayii didepannya. Seorang Pemuda berparas indah yang dingin. Liriel segera menggeleng pelan kala Sang Suami membelai pundaknya. "Nona Valyria, bersabarlah ... Istriku sedang hamil," ucap Harlan dengan cemas sembari membelai perut bundarnya Liriel. Valyria langsung mengulum senyuman. Ia segera menduduki kursi yang ada dihadapan pasangan suami istri ini. "Maafkan aku," ucap Valyria setelah itu memanggil pelayan dan mulai memesan makanannya. Valyria tersenyum menatap kehangan pasangan suami istri ini karena ia teringat akan hubunga
Frederitch tersenyum dan mengabaikan jari kelingking itu lalu mengecup pipi manis milik Valyria. “Ingin kau apakan jari kelingking itu?” kekeh Frederitch.“Aku ingin membuatmu berjanji untuk tidak meninggalkan kami," ucap Valyria.Rasa bahagia menyelimuti perasaannya dan Frederitch memeluk gadis itu dengan erat. “Tanpa kau minta aku pasti akan melindungi kalian, aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian.” Frederitch berucap sembari meraih tangan Valyria dan mengecup keduanya dengan lembut."Jadi kau masih ingat ya?" celetuk Valyria."Tidak bisa kujelaskan, kurasa apapun dirimu akan kuterima," sahut Frederitch dengan senyum lebarnya. Valyria memilih jalan perlahan untuk hubungannya dengan Frederitch dari dunianya ini. Valyria memaklumi Frederitch yang hanya memiliki seberkas kecil ingatannya meski Valyria penasaran atas apa yang sudah terjadi. Beberapa orang dari dunia itu ada juga didunia ini tanpa ingatan tentang dirinya, walau hanya perasa dan melalui mimpi."Sebenarnya siapa aku
''Kenalkan ini Keponakan Tante, Freder...,''''Frederitch,'' sahut Valyria memotong ucapan Tante Tasya. Pemuda itu langsung menoleh menatap Valyria. Kedua matanya membelalak menatap kehadiran Valyria, ia menatap dengan tatapan yang sulit diartikan sekaligus terpana menatap Valyria. Pemuda itu berjalan menghampiri Valyria kemudian mengulurkan tangannya. ''Apakah kita pernah bertemu Nona?'' tanya Pemuda itu. Valyria meraih tangan Pemuda itu sembari tersenyum. ''Seseorang bernama Frederitch yang kukenal terasa sama denganmu, namaku Valyria Soga Kinaru,'' ucap Valyria sembari meraih tangan Pemuda itu. Padahal hatinya menyederu dan nyaris hendak memeluk Pria yang mirip dengan Frederitch itu.“Namaku Frederitch Zafir Siegfried, siapa namamu Nona?” tanya Pemuda itu.“Valyria, Valyria Soga Kinaru,” jawab Valyria.“Anda baik-baik saja?” tanya Pemuda itu heran dengan reaksi Valyria.Valyria menggeleng dengan tatapan haru sekaligus menahan isak tangisnya. “Tidak, tentu tidak apa-apa,” ucap Va
"Saya sudah dengar kabar Anda yang menghilang, sebenarnya saya ingin berbincang sedikit mengenai kondisi Anda," ucap Harlan. "Bagaimana dengan menikmati secangkir kopi di caffe?" tawar Harlan lagi.Valyria mengangguk. "Baiklah."''Padahal tadi langit sangat cerah kemudian tiba-tiba saja menjadi mendung seperti ini,'' ucap Valyria sembari menegak kopi hangat dari cangkir gelasnya. Ia tersenyum nanar kemudian meletakkan kembali cangkir hangat ini. ''Anda ingin menggali informasi apa dariku?'' tanya Valyria. Harlan tersentak terkejut saat Valyria tak sungkan bertanya. Keramaian caffe disore hari yang mendung dengan riuh bunyi hujan itu tak ketara dengan Si Gadis yang cantik namun tersenyum dengan luka. Harlan menyadari perubahan sikap Valyria saat ini. Gadis itu lebih murung dari sebelum ia menghilang. ''Anda berkata tanpa basa-basi Nona Valyria,'' sahut Harlan. Valyria mengulum senyuman kecil. ''Anda tak akan percaya apa yang suda kualami selama satu bulan lalu, jika kukatakan bisa
"Kau yang jauh lebih buruk dariku," sahut Valyria sembari tersenyum. Hanya Frederitch yang mampu mengenalinya. "Hentikan semua ini Alphonse, kembalilah ke Dust Bones, cintai rakyatmu ... aku pun akan pergi dari hadapanmu jika itu yang kau mau," ucap Valyria. Alphonse tertegun mendengar ucapan Valyria. Sosok itu adalah Wanita yang ia cintai sejak awal tapi kini ia terlalu berkilau dan tulus bahkan Alphonse merasa tak pantas untuk disamping Valyria. Gadis itu berbeda dengan Gadis yang semula ia kenal, sosok Valerin yang ia dambakan. Valyria ini adalah arti kehidupan sebenarnya dan tanpa dusta. "Bagaimana kau bisa meminta pergi dari hadapanku? sementara seharusnya akulah yang melakukan hal itu," ucap Alphonse lirih."Semua ini sudah berakhir, Al." Valyria berucap dengan lirih. "Lepaskan sebagian segel yang ada padamu, biarkan Kakakku pergi dengan tenang." Valyria berucap setengah memohon.Alphonse terdiam menatap Valyria dengan ucapan memohonnya. Ia beralih menatap Lyn Sanders kemudian
“Hentikan kekonyolanmu, Kak Darly,” ucap Ellis.Pria itu menduduki kursi sofa dengan nyaman. “Aku hanya membayar upah yang dijanjikan oleh Alphonse,” jawab Pria itu.Ellis menyadari jika kakaknya mungkin boleh memiliki Raga yang sama namun tidak dengan jiwanya.“Apa yang kau pikirkan, Kak!” bentak Ellis. Ellis itu nyaris lupa dengan paras kakaknya sendiri. Yang Ellis tahu jika Sang Kakak sudah tiada karena bunuh diri. Ellis akan bohong jika ia tak rindu akan sosok kakaknya itu. Pria berparas indah, berambut hitam sepertinya dan punya sepasang mata violet yang sama pula. Padahal dahulu kedua mata mereka sama-sama kenari, ini membuktikan jika keduanya sudah sama-sama membangkitkan kekuatan masing-masing. ''Idealismu yang membuat semua kekacauan ini dan aku yang harus membereskan semuanya,'' ucap Ellis sembari mengusak wajahnya. Valerin Grayii yang asli adalah Valerin Darly Kinaru. Darly panggilan akrab dari Pemuda yang harusnya tiada itu. Dia hanya duduk sembari memandangi Sang Adik.
Frederitch, Pangeran dari Crave Rose dengan nampan berisi teko teh beserta cangkir tehnya menatap datar sosok Valerin. "Apa maksudmu Val?" tanya Frederitch dengan nada suram, kepala Frederitch Drew Raymond berkedut, melihat Valerin baru tiba diambang pintu ke diaman Sirius dengan seorang gadis berp
“Tuan Muda, Anda kembali, apa Anda baik-baik saja?" tanya Panacea sambil menghampiri Valerin Grayii yang baru tiba di ambang pintu masuk ke diaman Edward Sirius.Valerin meringis kecil karena tampilannya yang sudah perempuan ini masih dipanggil Tuan Muda oleh Panacea. "Aku baik-baik saja, bagaimana
"Hal yang tak kusukai dari diriku sendiri adalah ... tak hanya memurnikan virus yang seperti kutukan itu tapi juga melihat sisa-sisa kenangan jiwa yang tiada." Valerin berucap sambil berjalan telanjang kaki dipinggiran hamparan pasir yang hangat."Eh? maksudmu?" Frederitch yang ada disebelah Valeri
Kuda yang mereka naiki berjalan terus ke depan, melewati setiap jalan berbatuan hingga anakan air yang mengalir kecil. Frederitch bersama Valerin melakukan perjalanan untuk buku peninggalan Emelie Rovana. Mereka berdua tiba disebuah kota yang teramat damai. Satu-satunya kota dengan dinding khusus a







