MasukEl día de mi vigésimo cumpleaños, el amigo multimillonario de mi abuelo colocó varias fotos frente a mí y me pidió que eligiera un esposo. Sin vacilar, seleccioné a Adrián Mendoza, el sexto hijo de la familia Mendoza. Todos los presentes quedaron atónitos. Después de todo, todo el mundo sabía que yo, la heredera de la familia Delgado, había estado obsesionada durante años con Luciano Mendoza, el tercer hijo de los Mendoza. En mi vida anterior, logré casarme con Luciano, quien gracias a esto heredó la mayor parte de los bienes de su abuelo. Pero después del matrimonio, me fue infiel con mi hermana menor, Sofía Delgado. Mis padres, furiosos, enviaron a Sofía a estudiar al extranjero. Desde entonces, Luciano me odió profundamente. Permitió que numerosas amantes que se parecían vagamente a Sofía me humillaran constantemente. El acoso constante me llevó a sufrir una severa depresión. Al final, Luciano reemplazó mis medicamentos con veneno lento, y morí embarazada, llena de amargura. Al renacer, decidí dejarlos ser. Pero cuando se anunció mi compromiso con Adrián Mendoza, Luciano perdió por completo la cordura.
Lihat lebih banyakNamanya juga jodoh. Kita tidak pernah tahu, kapan akan dipertemukan
~Fall in love ~
Namaku Stevie Andini. Hari ini ialah hari besar bagiku. Bukan hari dimana aku akan dilamar atau menikah dengan pangeran tampan berkuda dan akan tinggal di istana megah dan mewah. Biarkan saja itu untuk Cinderella dan para putri lainnya. Aku cukup sebagai penonton mereka saja.
Hari ini ialah hari pertamaku memasuki dunia perkuliahan dan kedepannya akan mulai merasakan bagaimana rasanya pengenalan kampus yang banyak diceritakan orang-orang. Tolong doakan semoga aku baik-baik saja hingga studiku selesai disini.
Sebenarnya aku bukan sedang dalam masa pendaftaran, tapi sedang masa pengenalan kampus. Tak perlu aku ceritakan semuanya dari awal, cukup tahu saja jika sampai ke titik dan situasi hari ini tidaklah mudah.
Karena memang tidak pernah ada kata mudah dalam mencapai sesuatu. Terkecuali jika kau lahir dalam keadaan serba berkecukupan dan tidak kekurangan satu hal pun.
Tapi bahkan, para putri yang biasa aku tonton saja tidak akan memiliki hidup semulus itu bukan ?
Biarku beri tahu saja jika beberapa minggu terakhir ini, aku terlalu tegang karena khawatir tentang hari besarku, tepatnya hari ini.
Apa aku baru saja bilang kalau aku nervous ?, mungkin aku terlalu berlebihan dalam menceritakannya. Tapi bukankah akan selalu ada kali pertama dalam setiap hal ?
Percayalah, rasanya tidak seburuk itu. Aku cukup santai hari ini. Karena memang dasarnya aku orang yang acuh, bisa dianggap masa bodo juga.
Tidak perlu terlalu berlebihan, karena semuanya akan berlalu dengan cepat. Namun hal yang harus selalu kamu syukuri adalah, sesulit apapun harimu, poin pentingya adalah kau masih tetap hidup. Apalagi yang lebih baik dari itu selain keberhasilan itu sendiri ?
Belajarlah bersikap optimis kapanpun dan dimanapun. Itu yang sedangku usahakan sekarang.
Baik, Mari mulai dengan cerita pagi ini..
Pagi ini kami dikumpulkan dalam sebuah lapangan luas. Tentu saja luas, jika tidak maka bukan lapangan namanya. Kami mengenakan topi kerucut dengan papan berisikan nama dan jurusan yang sebelumnya sudah kami pilih.
"Ternyata ini rasanya ospek !" batinku.Sudah aku bilang rasanya tidak buruk. Sebentar juga pasti akan selesai.
Aku berada pada barisan kedua, dengan teman-teman baruku. Rasanya seru mengenal banyak teman baru dari berbagai tempat dan budaya yang berbeda.Namun, aku belum menemukan teman yang suaranya menggelegar, atau tipe yang biasa disebut urat malunya putus.
Sebenarnya teman SMAku dulu banyak yang seperti itu. Suatu kelas, suatu angkatan, hingga suatu sekolah pasti memiliki tipe murid seperti itu. Mereka memang beragam. Mungkin aku juga bisa dibilang termasuk salah satunya. Itung-itung mengurangi pengeluaran untuk membeli speaker atau toa.
Aku mendapatkan beasiswa di kampus ini. Beasiswa berprestasi, dan kampus ini adalah salah satu perguruan tinggi swasta di kota Jogja. Aku diterima dijurusan Akuntansi.Sekedar informasi, aku berasal dari jurusan Mipa semasa SMA tapi entah kenapa bisa diterima di jurusan Soshum. Ini kah yang dinamakan linjur alias lintas jurusan ? Tentu saja iya.
Bukannya mengambil jalur dan kesempatan anak IPS. Tapi bukankah semuanya sudah diatur oleh yang maha kuasa ?, aku pikir itu ada benarnya. Kamu tidak tahu apa takdirmu, makanya kamu hanya bisa berusaha.Pengenalan kampus hari pertama ini berjalan lancar, walau ada beberapa kejadiaan lucu yang tak luput dari perhatian semua peserta. Inilah senangnya mengenal orang baru. Kau tidak akan tahu kepribadiannya sebelum mengenal mereka lebih jauh lagi.
Aku berharap tak akan ada dosen yang mengetahuinya, atau senior yang memperhatikannya.
Oh iya, Banyak teman-temanku yang dibawa ke bagian medis, itu karena mereka kelelahan. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan, walau ada juga beberapa laki-laki.Aku merasa biasa saja saat melihat mereka. Untung aku tidak suka merepotkan orang lain, jika iya, maka aku sudah berpura-pura pingsan sejak tadi.
Tidaklah, sebenarnya aku merasa biasa saja karena aku anak Pramuka sejak SD namun baru aktif saat SMA. sehingga berdiri berjam-jam disini pun rasanya masih biasa saja. Walau kami sedang disuruh duduk, tapi tetap saja sangat terik disini. Apa itu karena matahari hari ini sedang semangat melihat kami ? Apa ini salah satu bentuk dukungannya ?, semoga saja tidak ada teman mataharinya yang ikut.
Oh astaga, apa yang sedang aku bicarakan ?
Baik, Kita lihat saja hingga dua hari kedepan, apa aku masih kuat dengan panas yang terik ini atau tidak. Karena aku juga manusia biasa, dan lawanku matahari. Itu sama sekali bukan manusia.
Bercanda, jangan terlalu dibawa serius.
Aku juga ingin mengatakan bahwa aku juga anak PMR semasa SMA, rasanya tak tenang melihat orang-orang yang mulai kelelahan disekitarku.Andai saja aku bisa bergabung disana, pasti rasanya bangga banget. Itung-itung ibadah. Bisa sekalian kenalan juga gitu.
Saat sedang asik dengan fikiranku, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengalihkan pikiranku.Apa itu ?
Ternyata ada seorang cowok yang sepertinya kelelahan disebelahku.Huffhh, untung saja bukan senior yang ku kira mau menegur. Maafkan aku senior, aku selalu berbicara tentangmu dalam ceritaku.
Tapi cowok ini aneh. Dia tanpa rasa bersalah malah bersandar dibahuku dengan nyamannya. Pasti pacar terakhirnya meminta putus karena dia yang selalu bersandar seperti ini. Itu pasti karena mereka merasa pegal-pegal.Tapi hal yang membuatku kesal adalah, dia tidak kunjung beranjak dari sana.
Dasar tidak tahu tempat. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu.
Palingan ini cuman modus, badannya aja kelihatan segar bugar gitu, masa iya dalamnya lemah lembut.Eh, bisa jadi.
Kan kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja.
Aku tidak tahu pasti. Namun yang aku tahu adalah hal ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi.
"Eh eh !" kataku mulai tak santai saat cowok itu tak kunjung beranjak dari bahuku.“Kenapa sih ?” tanyaku
"Jangan gerak dulu, bentar aja kok.” UjarnyaLo pikir ini halte, bentar-bentar.
“Lo sakit yah ?” tanyaku
“Hmmm,” gumamnya
Apa artinya itu ?
“Sana ke UKS, jangan malah nyandar kesini !” ketusku
“Bentar aja, Nyaman banget disini." katanya
Modusnya tingkat dua ini.
"Gila nih cowok. Baru kenal modusnya minta ampun !" kataku pelan.Tentu saja dia mendengarnya, memang itu tujuanku. Menjauh dari para cowok tukang modus dan gombal haruslah dengan suara yang lantang dan perkataan yang bisa dengan jelas dipahami. Jangan pakai permisalan, mereka nggak akan pernah ngerti.
“Sana minggir !” usirku lagi
"Cantik-cantik galak. Tipe istri idaman banget ini," katanyaYa tuhan, apakah ini ?, apa ini godaan di pagi hari ?
Kenapa bukan Justin Bieber saja yang datang ?
Kalau itu mah, hamba enggak nolak. Kalau Justinnya mau sih.
“Kamu jualan kasur yah ?” tanya cowok itu
Apa lagi sekarang ?
“Enggak. Kenapa ?” kataku bingung
“Abis bahu kamu nyaman banget. Ngalahin kasur Unit Kesehatan !” jawabnya
Aku memutar mataku malas.
Pasti nih anak pengunjung setia uks dulu. Sampe dibawa-bawa ke kampus.
"Heh. Baru kenal juga, udah sana jauh-jauh," kataku mencoba mengusirnya.Sungguh, cowok ini sangat tidak tahu malu.
Bisa-bisanya dia santai saja saat para senior sedang melihat kearah mereka sekarang.
"Bentar aja, ini bakalan jadi tempat bersandar paling nyaman mulai sekarang," kata cowok itu
Andai bukan tempat umum, sudahku teriaki anak ini.
Berapa banyak cewek yang sudah dia gombali seperti ini ?
Apa ucapanku kurang jelas ?, aku harus mencoba cara lain.
"Kalau mau modus tolong jangan sama saya,” kataku“Situ tuh ada cewek lain, modusin sana !" Lanjutku seraya menunjuk seorang cewek disebelahnya lagi.
"Lebih cantik juga, pasti bahunya lebih nyaman," sambungku "Enggak mau !" TolaknyaDia bahkan belum melihat cewek itu dan sudah menolak.
Apa dia sengaja menggangguku ?
Aku memerhatikan para senior didepan yang menatap kami.
Ada juga beberapa senior cewek yang seperti-ya menatapku dengan pandangan kesal.
Sumpah. Gue belum mau punya musuh. Terus itu senior lagi. Tapi badan gue juga enggak kecil-kecil amat.
Tinggi 180 cm, berat 52 kg.
. . .
Sampai ketemu dibab selanjutnya. Hope you enjoy it :)
—¿Qué significa? —su voz sonaba un poco ronca.—¿No te preocupa que la gente diga que te casaste con la mujer que tu hermano mayor no quiso?Su cuerpo se detuvo por un momento, luego respondió con suavidad: —¿Qué estás diciendo? Es una bendición para mí poder casarme contigo. Que él no lo supiera valorar solo demuestra su falta de criterio.Sentí como si una pluma de ganso hubiera rozado mi corazón.—Tengo un secreto que contarte. En realidad, he estado enamorado de ti durante mucho tiempo.Lo miré sorprendida.—Cuando mis padres aún vivían, me llevaron una vez a tu casa de visita. Tú solo tenías un año y pico, y me pedías caramelos con los labios fruncidos. En ese momento pensé: ¿Cómo puede existir una niña tan adorable en este mundo? Después de que mis padres murieron, apenas salía, pero cada vez que venías a la casa de los Mendoza, yo te observaba a escondidas. Tenía miedo de molestarte, pero también me dolía verte sufrir tanto por Luciano.Pero ahora todo está bien.Dijo con
Sofía lo siguió.Pero al llegar, Luciano le negó la entrada.—Ahora mismo su padre la está regañando en el estudio.Yo solo asentí levemente.Ese asunto ya no tenía nada que ver conmigo.El día de la boda, me levanté antes del amanecer para maquillarme.Adrián me cargó en brazos hasta el auto nupcial.Robé un vistazo a su perfil.Era tan diferente a Luciano.Mientras Luciano era el típico heredero arrogante con aire de chico malo, Adrián irradiaba seriedad.Su nariz recta y labios delgados coincidían con el dicho de que "hombres así son fríos".Pero yo había visto su locura por mí.Ese recuerdo me llenó de dulzura.La misma ruta nupcial, pero con un corazón completamente distinto.En mi vida pasada, temía que Luciano se arrepintiera.Ahora solo sentía paz.De pronto, el coche se detuvo.Luciano, con traje y la etiqueta de NOVIO, bloqueaba el camino.Nadie imaginó que se atrevería a esto.Estaba completamente fuera de sí.Adrián bajó y se puso a mi lado.—Yo me enca
—¡Dios mío! ¡Es Luciano! ¡Valeria, venga a ver!Me acerqué rápidamente a la ventana y, efectivamente, allí estaba Luciano.Justo en el jardín de nuestra casa. Rodeado de vecinos curiosos.Los que sabían del asunto ya murmuraban sobre el futuro de la relación entre Luciano y yo.Antes de que pudiera reaccionar, Sofía abrió la puerta y salió corriendo:—¡Luciano, ¿vienes a verme?Pero él la apartó bruscamente. Sofía, desprevenida, cayó al suelo.—Valeria, cásate conmigo —declaró Luciano, arrodillándose en un gesto teatral ante todos y sacando un anillo de diamantes.Sentí náuseas.—¿Te equivocas de hermana? ¿No es a Sofía a quien amas?Al verme alejarme, se levantó para interceptarme, pero Sofía lo agarró del brazo.—Valeria, escúchame, todo es un malentendido. ¡Tú eres la única importante para mí!—Antes decías otra cosa. Que para casarme contigo debía ser "comprensiva", que después del matrimonio cada uno haría su vida.—¡Era una broma! ¿Cómo puedo tratarte así?Su rostro
Luciano abrió los ojos como platos, incapaz de creerlo.—¡Valeria, yo te amo a ti! ¡Solo a ti!De pronto, su rostro se distorsionó en una sonrisa extraña:—Ya entiendo. Estás celosa, ¿verdad? Usas a Adrián para darme celos. ¡Te molestó que le regalara algo a Sofía en tu cumpleaños!Mantuve el rostro impasible:—No digas disparates. Ya estoy comprometida con Adrián.Al oír esto, Luciano se abalanzó para abrazarme con expresión demencial:—¡No puedes comprometerte con otro! ¡Solo puedes amarme a mí!Pero antes de que pudiera tocarme, Adrián me apartó tras de sí:—Luciano, hoy es la cena familiar. No armes un escándalo delante de todos. Valeria ya me eligió a mí.Luciano escupió al suelo:—¿Tú qué eres? ¡No mereces hablar conmigo!—¿Y yo? ¿Merezco hablar?El bastón del abuelo golpeó el suelo con un sonido sordo.Todos enmudecieron.—¡Desgraciado! A partir de hoy, no pises la empresa. Quédate en casa reflexionando.Luciano seguía forcejeando:—¡Valeria, dile al abuelo que me ama
Los hermanos detrás de él se taparon la boca para disimular sus risas.—Valeria, así no vas a llegar lejos. ¿No puedes soportar ni a tu propia hermana? Si en el futuro Luciano tiene otras mujeres, ¿te morirás de rabia?—Jajaja, quizá Valeria pueda vencer a todas en la ciudad y ahuyentar a cualquie
— Ya que elegiste al sexto, lo respeto. No se lo digas a los demás todavía. Cuando todo esté decidido, todos lo sabrán.Dudé un momento, pero al final me contuve y no dije nada.Adrián tampoco dijo nada más, solo me lanzó una mirada fría.Pero en sus ojos había algo de decepción.Entendí que el
Sonreí. ¿Quién dijo que yo quería casarme?El día de mi fiesta de cumpleaños, Luciano llegó tarde acompañado de Sofía, después de que todos los mayores se hubieran retirado.El rostro de Sofía estaba sonrojado, y en el cuello de Luciano se veían claras marcas rojas. Cualquiera con un mínimo de p
Al salir del estudio del abuelo Mendoza, me encontré con Luciano Mendoza y sus hermanos.Al verme, los hermanos Mendoza se dispersaron rápidamente, pero no sin antes burlarse de mí:—¿Otra vez aquí persiguiendo a Luciano, Valeria? Tu abuelo héroe se revolcaría en su tumba al ver lo patética que ere






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
Ulasan-ulasan