Share

Bab 2: Membangun Batas

Penulis: Noona Aurora
last update Tanggal publikasi: 2026-09-06 13:42:10

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman mewah Blackwell. 

Biasanya, jam tujuh pagi adalah waktu di mana Sienna sibuk di dapur, memastikan kopi hitam tanpa gula kesukaan Damian diseduh dengan suhu yang tepat, dan dasi pria itu sudah disiapkan di kursi dekat pintu.

Namun pagi ini, ruang makan itu sunyi.

Damian turun dengan langkah tegap, manik kemejanya sudah terkancing, tapi ada sesuatu yang mengganjal di lehernya. 

Dasinya belum terpasang. 

Matanya langsung tertuju pada meja makan. 

Di sana hanya ada sepiring roti bakar dan secangkir kopi yang mengepul, tapi suasana sekelilingnya kosong. Tidak ada Sienna yang berdiri menyambutnya dengan senyuman lembut.

Damian menarik kursi dengan kasar, menciptakan bunyi berdecit yang memecah keheningan. Dia menoleh pada kepala pelayan yang sedang merapikan meja pantry.

"Di mana Sienna?" tanya Damian, suaranya terdengar dingin dan penuh penekanan.

Kepala Pelayan membungkuk gugup. "Nyonya Muda sudah sarapan lebih awal di kamarnya, Tuan. Beliau berpesan agar keperluan Tuan diserahkan kepada saya mulai pagi ini."

Damian menyipitkan mata. Kerutan di dahinya semakin dalam. "Di kamarnya?"

Sejak awal pernikahan kontrak mereka, atas permintaan Damian demi kepraktisan dan privasi masing-masing, mereka memang tidur di kamar terpisah. 

Namun, Sienna tidak pernah absen dari ruang makan. Wanita itu selalu menjalankan perannya sebagai "istri yang berbakti" di dalam rumah ini dengan sangat tekun, hampir menyerupai rutinitas sebuah mesin yang patuh.

Damian meraih cangkir kopinya, menyesapnya sekali, lalu langsung meletakkannya kembali dengan ketukan keras. 

Rasanya terlalu manis. Kepala Pelayan meletakkan gula, sesuatu yang paling dibenci Damian di pagi hari.

"Buang. Buat yang baru," perintah Damian tajam, lalu dia berdiri dan melangkah menuju lantai dua, tempat kamar Sienna berada.

Tanpa mengetuk, Damian memutar knop pintu kamar Sienna dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Langkahnya terhenti di ambang pintu.

Sienna sedang duduk di depan meja riasnya. Dia memakai pakaian kasual yang sangat sederhana, hanya kemeja katun putih dan celana jeans. 

Rambut panjangnya yang biasa disanggul rapi kini dibiarkan tergerai bebas, jatuh bergelombang di bahunya. 

Pemandangan itu membuat Damian terpaku sesaat. Sienna tampak ... berbeda. Lebih lepas.

Beberapa saat terdiam. Kesadaran Damian kembali membuka pikirannya. Mengingatkan maksud kedatangannya di kamar ini.

"Kenapa kamu tidak turun?" tanya Damian, suaranya bergema di dalam kamar yang rapi itu. "Dan apa-apaan dengan kopi di bawah? Kamu tahu aku tidak suka orang lain yang menyentuh urusan pribadiku."

Sienna menaruh sisirnya perlahan. Dia berbalik di kursi riasnya, menatap Damian dengan mata yang jernih, tanpa ada ketakutan atau ekspresi emosi di dalamnya.

"Selamat pagi, Damian," sapa Sienna dengan nada suara yang sangat formal, persis seperti sekretaris di kantor Blackwell Group. "Mulai hari ini, semua urusan rumah tangga dan kebutuhan pribadimu sudah dialihkan kepada kepala pelayan. Aku sudah menuliskan daftar detail preferensimu secara tertulis dan memberikannya pada mereka."

Damian mendengkus remeh, dia melangkah masuk ke dalam kamar dan bersedekap saat berdiri di dekat Sienna. 

"Kamu sedang merajuk karena kejadian di pesta semalam? Karena Mama dan Elena? Bukankah sudah kukatakan sejak awal, abaikan saja mereka. Jangan kekanak-kanakan, Sienna." Suara Damian datar tanpa simpati.

Sienna tidak membalas dengan kemarahan. Dia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat berjarak.

"Aku tidak merajuk, Damian. Aku hanya sedang meninjau kembali isi kontrak kita," jawab Sienna tenang. 

Dia mengambil sebuah map bening dari meja, lalu bangkit dari duduknya dan mulai membacanya sekilas. "Dalam pasal tiga ayat dua tertulis: Pihak Kedua wajib mendampingi Pihak Pertama dalam acara publik dan menjaga reputasi Pihak Pertama sebagai kepala keluarga. Tidak ada satu pun pasal yang menyatakan aku harus menjadi pelayan pribadimu di dalam rumah ini."

Damian tertegun. Rahangnya mengeras. "Sienna."

"Kontrak kita akan berakhir dalam tigahari," lanjut Sienna, dia menatap langsung ke dalam manik mata hitam Damian yang mulai berkilat marah. "Semua kewajibanku di luar rumah sudah terpenuhi dengan baik. Jadi, mari kita habiskan sisa tigahari ini dengan profesional. Aku tidak akan mengganggu ruangmu, dan aku harap kamu juga menghormati batasanku."

Atmosfer di dalam kamar itu mendadak sedingin kutub. 

Damian merasa egonya ditampar. Wanita yang biasanya selalu berbicara dengan nada lembut penuh kepatuhan, kini berdiri tegak di depannya, memasang dinding pembatas yang sangat tebal dan tinggi.

"Kamu berani menentangku sekarang karena rumah ibumu sudah kembali atas namamu?" tanya Damian dengan nada menyindir yang tajam, mencoba mengembalikan dominasinya.

Sienna merasakan cubitan perih di dadanya, tapi dia menahannya dengan baik. "Ya. Rumah itu sudah aman. Dan utang budi ku padamu akan lunas dalam tigahari. Jadi, silakan kembali ke kamarmu, Tuan Blackwell. Aku harus bersiap-siap."

Damian tersentak mendengar nama panggilan yang Sienna ucapkan.

Damian mengepalkan tangannya di samping tubuh. Amarahnya memuncak bukan hanya karena kata-kata Sienna, melainkan karena dia tidak menemukan celah kelemahan lagi di mata wanita itu. 

Dengan kemarahan yang tertahan di tenggorokan, Damian berbalik dan membanting pintu kamar Sienna dengan keras.

Sienna mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Tangannya sedikit gemetar, tapi senyuman lega perlahan terbit di bibirnya. 

Batasan itu telah dibuat, dan dia tidak akan pernah melangkah mundur lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 104: Umpan untuk Julian

    Siang hari, di sebuah restoran kecil di pusat kota tampak ramai oleh pengunjung yang sedang menikmati jam makan siang. Julian duduk sendirian di salah satu meja dekat jendela, sesekali memeriksa ponselnya sambil menunggu pesanan yang baru saja dia buat.Belum lama menunggu, sebuah suara riang menyapa dari samping mejanya."Tuan Mercer?"Julian menoleh, mendapati seorang wanita muda berpenampilan modis berdiri tak jauh darinya, tersenyum seolah mengenalinya dengan baik. Julian mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat wajah itu."Maaf, apa kita pernah bertemu?" tanya Julian sopan, meski nada suaranya tetap berjarak."Zoe Hayes," ucap wanita itu memperkenalkan diri, tersenyum manis sambil duduk di kursi kosong seberang Julian tanpa diminta. "Kita memang belum pernah bertemu, tapi aku kenal siapa kamu. Aku adik Sienna."Julian tersentak mendengar nama itu disebutkan. Dia mengingat samar-samar sosok Zoe, apakah dia pernah melihat wanita ini selama Julian mengenal Sienna? Sayangnya Jul

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 103: Masih Terus Mengejar

    Pagi itu, matahari baru saja menyingsing ketika Damian melangkah keluar dari kamarnya, sudah rapi dengan setelan jas kerja lengkap dengan tas kerja di tangannya. Baru saja dia menuruni tangga, suara ketukan pintu depan yang cukup keras terdengar menggema di seluruh rumah.Joana bergegas membukakan pintu, dan tak lama, sosok Vivian sudah melangkah masuk dengan senyum lebar, membawa sebuah kotak kado yang sama dengan yang tadi malam ditinggalkan begitu saja oleh Damian di meja rumah Beatrice."Damian," sapa Vivian riang, matanya berbinar melihat pria itu sudah berada di anak tangga terakhir. "Untung kamu belum berangkat. Aku bawakan kadomu yang semalam kamu tinggal."Vivian melangkah mendekat. “Kamu lupa membawanya, hm? Padahal aku sudah memilihkan hadiah ini dengan serius agar kamu suka.”Damian melirik kotak itu sekilas, tidak menunjukkan antusiasme sedikit pun. "Taruh saja di meja," ucapnya datar, melangkah melewati Vivian menuju ruang tengah.Vivian tidak menyerah begitu saja. Dia

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 102: Rencana Lain Vivian

    Simon terkejut mendengar pengakuan itu. Dia menegakkan posisi duduknya, menatap Damian dengan sorot mata penuh selidik. "Apa tujuanmu, Damian?" tanya Simon, suaranya tenang namun serius. "Papa hanya ingin memastikan, apa yang sebenarnya kamu inginkan dari semua ini? Setelah membiarkan Sienna pergi seolah kamu tak butuh, sekarang kamu ingin mengejarnya? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"Damian terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. Namun tak lama, sebuah senyum kecil terbit di sudut bibirnya, dan dia menatap ayahnya dengan mata yang begitu jujur."Aku memang tidak bisa hidup tanpa Sienna, Pa," ucap Damian pelan. "Papa dulu berkata benar. Aku yang tidak bisa lepas darinya, sementara dia... dia bisa dengan mudah melepaskanku."Simon diam, menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan putranya. Dia mengamati raut wajah Damian yang begitu berbeda dari biasanya—tidak ada lagi keangkuhan atau kesombongan yang biasa menyelimuti setiap ucapannya, hanya kejujuran polos yang jarang

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 101: Pengakuan pada Simon

    "Tidak perlu," ucap Damian datar, menggeleng pelan tanpa terlihat berpikir panjang apalagi mempertimbangkan.Vivian tersentak mendengar penolakan itu, senyumnya sempat memudar sesaat sebelum dia buru-buru menguasai ekspresinya kembali. Damian sebelumnya tak pernah menolak ucapan atau sarannya, tapi sekarang berbeda.Tidak hanya Vivian, Beatrice dan Elena yang duduk di sisi lain meja juga menatap Damian dengan raut tidak percaya."Kenapa tidak perlu?" tanya Beatrice, alisnya terangkat heran. "Pesta seperti itu bukankah bagus untukmu? Kamu bisa mengundang lebih banyak relasi bisnis, mempererat hubungan dengan investor-investor penting. Bukankah itu menguntungkan untuk perusahaan?"Damian tidak langsung menjawab. Dia menyendok makanannya dengan gerakan malas, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak layak untuk ditanggapi serius. "Tidak perlu repot-repot," jawab Damian akhirnya, singkat dan datar, tanpa memberikan alasan lebih lanjut.Beatrice mengerutkan kening, jelas tidak puas dengan j

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 100: Makan Malam Keluarga

    Damian baru saja melajukan mobilnya beberapa ratus meter dari rumah Sienna ketika ponsel yang sejak tadi dia tinggalkan di dashboard bergetar nyaring. Dia meliriknya sekilas, mendapati nama Beatrice terpampang di layar.Damian meraih ponsel itu dan menjawab panggilan tersebut sambil tetap fokus pada jalanan."Ya, Ma?" sapa Damian singkat."Damian!" Suara Beatrice terdengar tinggi dari seberang telepon, penuh kekesalan yang tertahan. "Ke mana saja kamu seharian ini? Mama sudah menelepon berkali-kali, mengirim pesan berulang-ulang, tapi kamu sama sekali tidak membalasnya!"Damian sengaja meninggalkan ponselnya di dalam mobil sepanjang hari ini, tidak ingin ada gangguan apa pun yang bisa merusak waktunya bersama Sienna. Namun, dia tidak berniat menjelaskan alasan itu pada ibunya."Ada apa, Ma?" tanya Damian datar, mengalihkan topik tanpa menjawab pertanyaan itu.Beatrice menghela napas kesal di seberang telepon, namun akhirnya melanjutkan. "Datanglah ke rumah utama sekarang. Kami sudah

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 99: Detak yang Berbeda

    "Tidak apa-apa," jawab Damian pelan, senyum tipis terukir di bibirnya. "Aku hanya senang."Sienna terdiam sejenak, wajahnya kembali merona mendengar jawaban jujur itu. Dia buru-buru mengalihkan pandangan kembali ke luar jendela, meski senyum kecil tidak bisa dia sembunyikan.Sebelum meninggalkan taman bermain, mereka berhenti di depan sebuah photo booth kecil yang berdiri di sudut area permainan. Sienna menarik Damian masuk ke dalam bilik itu, keduanya masih memakai bando bertelinga hewan yang tadi mereka beli."Ayo foto," ajak Sienna riang, mengatur posisi duduk mereka berdua agar pas dalam bingkai kamera.Damian duduk canggung di sebelah Sienna, namun tidak menolak sedikit pun. Begitu hitungan mundur kamera dimulai, Sienna tersenyum lebar menghadap lensa, sementara Damian—meski awalnya terlihat kaku—akhirnya ikut tersenyum tulus, sesuatu yang jarang sekali terekam dalam bingkai foto mana pun sepanjang hidupnya.Klik.Beberapa kali jepretan terus berlanjut, menangkap berbagai ekspre

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status