แชร์

Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!
Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!
ผู้แต่ง: Noona Aurora

Bab 1: Tak Dianggap

ผู้เขียน: Noona Aurora
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-06 13:41:39

"Sudah hampir satu tahun ternyata, dan semua terlewat begitu saja."

Gumaman lirih itu lolos begitu saja dari bibir Sienna Hayes–wanita 30 tahun yang terjebak dalam pernikahan dingin satu tahun ini.

Suaranya yang pelan hampir tenggelam di antara denting gelas kristal dan tawa rendah para elite ibu kota yang memenuhi ballroom hotel bintang lima malam ini. 

Tatapan mata Sienna kosong, lurus menembus kaca jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu di luar gedung yang begitu benderang. 

Dadanya terasa sesak oleh beban yang tak kasat mata.

"Jaga ekspresi wajahmu, Sienna. Tersenyumlah, kamera wartawan sedang mengarah ke arah kita."

Suara bariton yang rendah, dingin, dan penuh perintah itu seketika memutus lamunan Sienna. 

Damian Blackwell–suami kontraknya, pria berusia 35 tahun yang dingin dan ambisius.

Damian berdiri tegak di samping Sienna, dia menggeser tubuh sedikit merapat pada Sienna, tangan Damian bergerak melingkar di pinggang Sienna dengan begitu posesif, sebuah sentuhan yang terasa sangat hangat di kulit, tapi sangat dingin di hati.

Sienna tersentak kecil, tapi dengan cepat menguasai diri. 

Sienna menoleh ke arah Damian, dia membalas tatapan suaminya ini dengan senyuman formal yang sudah dia latih dan perankan dengan sempurna selama 365 hari terakhir.

"Lakukan tugasmu seperti biasa. Jangan biarkan dewan direksi menangkap ekspresi tak senang sekecil apa pun di wajahmu," bisik Damian dengan nada penuh penekanan. Cara bicaranya nyaris tanpa menggerakkan bibir, matanya lurus menatap ke depan menyapa para kolega bisnis.

Bibir Sienna tersenyum, menutup ketidaknyamanan yang dirasakannya.

Di depan kilatan lampu kamera fotografer, mereka adalah potret pasangan sempurna yang membuat iri siapa saja. 

CEO Blackwell Group yang tampan, tegas, dan ambisius, berdampingan dengan istri cantiknya yang lemah lembut.

Namun, di balik kemegahan itu, keduanya tahu persis bahwa pernikahan ini tak lebih dari sebuah transaksi hitam di atas putih. Satu tahun lalu, mereka mengikat janji di depan altar bukan karena cinta, melainkan kontrak satu tahun demi kepentingan masing-masing. 

Damian membutuhkan citra seorang pria berkeluarga yang stabil untuk meyakinkan dewan direksi demi mengamankan posisi CEO dan memenangkan mega proyek mall baru ini. Sementara Sienna, yang terdesak oleh kekejaman keluarga kandungnya sendiri, membutuhkan kekuatan finansial dan pengaruh hukum Damian untuk menebus kembali rumah tua peninggalan ibu kandungnya.

Begitu fotografer menurunkan kamera dan membungkuk hormat memberi jalan, kehangatan di pinggang Sienna seketika menguap. 

Damian menarik tangannya seolah kulit Sienna baru saja menyengatnya dengan listrik tegangan tinggi. Pria itu merapikan lipatan jas rancangan desainer ternama yang melekat sempurna di tubuh tegaknya, bahkan tanpa sudi melirik ke arah istrinya.

"Tetap di sini. Jangan membuat gerakan terburu-buru yang memancing pertanyaan wartawan," ucap Damian datar tanpa menatap Sienna sama sekali.

Setelah sejak tadi hanya diam dan tersenyum, suara Sienna akhirnya terdengar dari bibirnya. "Damian, kepalaku sedikit–" Kalimat Sienna terputus di udara. 

Damian sudah membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar menghampiri jajaran komisaris utama yang baru saja tiba di pintu masuk. 

Pria itu tidak menanti penjelasannya, tidak pula peduli dengan wajah pucat istrinya. 

Bagi Damian, kehadiran Sienna malam ini sudah memenuhi fungsinya secara maksimal, menjadi pajangan hidup yang menyempurnakan reputasinya malam ini.

Sienna mengembuskan napas pelan. Jari-jemarinya yang saling bertautan di depan gaun satin berwarna gading miliknya mulai memutih, dia menahan rasa pening yang perlahan merayap di pelipisnya.

"Lihat siapa yang berdiri sendirian di sudut seperti pajangan murah."

Suara sinis yang sangat familier itu membuat Sienna menoleh. 

Beatrice Blackwell, ibu mertuanya, berjalan mendekat bersama Elena, adik perempuan Damian. Keduanya memegang gelas sampanye dengan tatapan mata yang menilai dari ujung kepala hingga ujung kaki Sienna.

"Mama, Elena," sapa Sienna, dia membungkuk kecil dengan selembut mungkin. 

Selama setahun ini, dia selalu berusaha menjaga tata kramanya di depan keluarga Blackwell, menelan semua keangkuhan dan pandangan remeh mereka bulat-bulat.

Beatrice mendengus, matanya tertuju pada kalung mutiara tipis yang melingkari leher Sienna. "Keluarga Blackwell memenangkan proyek triliunan rupiah malam ini, Sienna. Dan kamu memilih memakai perhiasan lama yang bahkan tidak lebih mahal dari sebotol sampanye di meja itu? Kau ingin membuat relasi kami mengira Damian tidak menafkahimu?"

Jari kanan Sienna terangkat menyentuh kalung yang menggantung di lehernya. Bibirnya dipaksa mengulas senyum kecil lalu dia membalas, "Ini peninggalan ibuku, Ma. Aku merasa ini paling cocok dengan–"

"Ibumu yang sudah lama meninggal dari keluarga Hayes yang hampir bangkrut itu?" potong Elena dengan tawa kecil yang sengaja ditahan. 

Wanita berusia dua puluh tujug tahun itu melirik gaun Sienna dengan mata berkilat remeh. "Damian terlalu baik padamu, Sienna.”

Sienna diam menatap Elena yang selalu membahas kebaikan keluarga Blackwell setiap ingin menyudutkannya.

Belum juga Sienna membalas, dia kembali mendengar Elena bicara.

“Kalau bukan karena Damian yang menebus rumah tua peninggalan ibumu dari tangan ayahmu yang tidak berguna itu, kamu mungkin sudah menggelandang di jalanan sekarang. Tahu dirilah sedikit. Setidaknya jangan permalukan nama Blackwell di acara sebesar ini."

Kata-kata Elena menusuk tepat di dada Sienna. 

Perih, tapi tidak berdarah. 

Sienna melirik ke arah tengah ruangan. Di sana, Damian sedang tertawa kecil sambil bersulang dengan seorang menteri, pemandangan langkah yang sangat jarang Sienna lihat. 

Sienna melihat Damian yang sempat menoleh ke arahnya sebelum kembali memalingkan muka.

Sienna tersenyum getir. Bahkan meski Damian tahu kalau ibu dan adiknya tak menyukai Sienna, tapi pria ini tak pernah melindunginya sebagaimana mestinya seorang suami.

Hah! Bagaimana bisa Sienna berharap seperti itu, sedang pernikahan mereka hanyalah sebuah kontrak.

Sienna memejamkan mata sesaat. 

Rasa sakit di kepalanya kini kalah dengan rasa lelah yang mendera jiwanya. Setahun ini Sienna bertahan dalam diam. 

Dia menerima tatapan merendahkan dari pelayan rumah Blackwell, sindiran tajam Beatrice, dan sikap manja Elena yang selalu memperlakukannya seperti asisten pribadi tanpa bayaran. 

Semua itu dia lakukan karena dia berutang budi pada Damian yang telah menyelamatkan memori terakhir tentang ibunya dari keserakahan ibu tirinya.

Namun malam ini, melihat bagaimana Damian mengabaikannya demi sebuah relasi bisnis, sesuatu di dalam diri Sienna pecah. Retakan yang selama ini dia tambal dengan kesabaran, kini runtuh sepenuhnya.

Sienna membuka matanya. Tatapannya tidak lagi seteduh biasanya. Dia menatap Beatrice dan Elena yang masih berdiri dengan sinis di hadapannya, lalu dia tersenyum sangat tipis tapi sarat akan ketegasan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Terima kasih atas teguran Anda, Mama, Elena," ucap Sienna dengan suara yang begitu tenang. Ucapan Sienna berubah formal. "Saya permisi ke kamar mandi sebentar."

Sienna berbalik tanpa menunggu izin dari Beatrice. Dia berjalan tegak, membelah kerumunan dengan langkah pasti. 

Begitu tiba di dalam toilet wanita yang sepi, kedua telapak tangan Sienna bertumpu pada pinggiran wastafel marmer. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar.

Wajahnya pucat. Jemari kanannya meraba kalung mutiara di lehernya. 

Tepat satu minggu dari sekarang, masa berlakunya di rumah itu habis. Dokumen kepemilikan rumah ibunya pun sudah resmi berpindah atas namanya dua hari lalu. 

Kewajibannya sebagai istri pajangan sudah selesai.

Sienna meraba tas kecilnya, mengeluarkan ponsel, dan menatap kalender digital.

"Cukup, Sienna. Jangan biarkan dirimu kehilangan harga diri lebih jauh lagi," bisik Sienna pada pantulan dirinya sendiri. 

Air matanya tidak jatuh. Rasa sedihnya telah berubah menjadi tekad yang dingin.

Saat dia keluar dari toilet, Damian sudah berdiri di koridor yang agak sepi, bersedekap dengan wajah tidak sabar.

"Kenapa lama sekali? Acara utama hampir selesai, kita harus berpamitan dengan keluarga besar," tegur Damian dengan nada menuntut.

Sienna menatap mata hitam Damian yang tajam. Pria ini tidak pernah bertanya apakah dia lelah, apakah kepalanya sakit, atau mengapa dia pergi begitu lama.

"Ayo," jawab Sienna pendek. Dia tidak lagi tersenyum. 

Sienna berjalan mendahului Damian, mengabaikan pria ini untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Dan, setelah ini untuk selamanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 35: Tak Percaya

    Nyonya Stevani merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah kartu nama beraksen hitam elegan dengan cetakan tulisan emas yang berkilau di bawah lampu ruang tamu. Dia mengulurkan kartu tersebut ke arah Sienna."Nama pemilik barunya adalah Damian Blackwell," jawab Nyonya Stevani santai tanpa beban. "Pria itu mengutus asisten pribadinya tadi pagi untuk menyelesaikan seluruh transaksi secara tunai. Jadi, urusan perpanjangan sewa, biaya, atau keberlanjutan panti ini... silakan kamu urus langsung dengannya."Deg.Sienna membeku. Nama itu bergaung begitu keras di dalam dadanya, membuat sekujur tubuhnya mendadak kaku. Jemarinya yang memegang kartu nama itu bergetar halus saat matanya membaca deretan huruf bertuliskan Blackwell Group.‘Damian? Kenapa Damian mendadak membeli panti asuhan ini?’ batin Sienna bingung.Berbagai spekulasi berputar liar di dalam kepala Sienna. Rasa bingung, curiga, dan panik berbaur menjadi satu gejolak yang membakar benaknya. Apakah pria itu sengaja membeli panti asu

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 34: Pemilik Baru

    Sienna melangkah tergesa-gesa memasuki pagar besi panti asuhan yang sedikit berkarat. Langkah kakinya yang semula memburu mendadak melambat saat matanya menangkap keceriaan beberapa anak kecil yang sedang berlarian mengejar bola di halaman depan."Sienna datang!" seru salah satu anak laki-laki bertubuh mungil seraya melambaikan tangannya gembira.Sienna mengulas senyum paling hangat yang dia miliki, berusaha keras menyembunyikan kepanikan yang sejak tadi bergulat di dalam dadanya. Dia berjongkok sejenak, mengusap lembut kepala anak itu. "Pagi, Sayang. Mainnya hati-hati, ya?"Anak-anak yang mengerumuni Sienna mengangguk, lalu mereka kembali berhamburan untuk bermain lagi.Setelah menyapa anak-anak, Sienna segera memutar langkah masuk ke dalam bangunan panti. Dia menyusuri lorong yang agak temaram menuju kamar pengurus di lantai dasar.Klek.Sienna mendorong pintu kamar. Di sana, Naomi sedang duduk di tepi ranjang dengan jemari yang saling bertaut kaku. Wajah wanita muda itu tampak san

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 33: Perhitungan dan Keputusan

    Di dalam mobil Julian.Keheningan menyelimuti kabin sedan putih yang sedang membelah jalanan malam yang sepi. Julian mengendalikan kemudi dengan tenang, sampai dia menoleh sekilas ke arah Sienna duduk, lalu mencoba memecah keheningan di antara mereka."Sienna... apa kamu baru saja keluar dari klub malam itu?" tanya Julian santai. Dia sekilas melirik lagi ke Sienna setelah bicara.Sienna tersentak kaget. Matanya melebar menatap Julian yang kembali fokus ke jalanan. Sienna tidak bisa bohong, tetapi dia juga tak bisa langsung jujur. "A-apa? Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?" Sienna lebih dulu memastikan. Dia mencoba tersenyum untuk menutupi kegugupannya.Julian tersenyum kecil mendengar nada suara Sienna yang dia ketahui tak jujur tetapi juga tak bohong. "Hanya menebak. Aroma alkohol samar dan asap rokok cukup tercium di baju dan rambutmu saat masuk ke mobil."Sienna langsung mencium lengannya, dia baru sadar jika bau-bau di dalam klub memang menempel di tubuhnya.Sienna menggigi

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 32: Jejak yang Memicu Amarah

    Sienna melangkah keluar dari pintu belakang klub malam dengan bahu yang terkulai lelah. Udara malam yang dingin langsung menyapa kulitnya, membuat wanita itu merapatkan kemejanya. Dia melangkah menuju sebuah bangku di trotoar pinggir jalan yang sepi, lalu mendudukkan dirinya di sana berteman cahaya lampu jalan yang temaram.Sienna membuka telapak tangannya, menatap lembaran uang tunai yang tadi diserahkan oleh sang manajer. Alisnya bertaut erat. Dia baru menyadari jika jumlah uang di tangannya terlalu besar jika dibandingkan dengan dua jam kerja yang baru saja dia jalani.‘Ini terlalu banyak…,’ batin Sienna cemas sambil menghitung ulang uang yang ada di tangannya.Benar, jumlah uangnya memang terlalu banyak.Sienna sempat berdiri dan berniat melangkah kembali ke dalam klub untuk mengembalikan kelebihannya. Namun, gerakan kakinya mendadak terhenti. Dia teringat ucapan manajer soal sistem komisi dari penjualan botol wine mahal di ruang VIP tadi."Mungkin ini komisi dari dua botol mah

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 31: Tidak Terima

    Mendengar Sienna memangilnya dengan nama lengkap dan formal, entah kenapa rasanya menghantam egonya.Dada Damian naik turun memburu. Tatapan matanya yang pekat merujuk lurus ke manik mata Sienna, mengurung wanita itu rapat-rapat di antara dinding dingin dan kungkungan kedua lengannya."Apa yang sedang kamu lakukan di tempat murahan seperti ini, Sienna?" bisik Damian, nada suaranya rendah namun penuh dengan hinaan yang menusuk.Sienna mengeratkan giginya mendengar ucapan Damian. Namun, sebelum dia menjawab, Damian sudah lebih dulu kembali bicara."Pengantar minuman? Apa kamu sudah sangat miskin dan begitu terdesak butuh uang sampai harus merendahkan dirimu di sini?" Suara Damian pelan tetapi begitu tajam menusuk.Sienna mengepalkan tangannya di samping tubuh, mencoba menahan gejolak rasa terkejut dan gemetar di dadanya. Apalagi mendengar ucapan Damian yang seolah menghina kondisinya saat ini.Damian menyunggingkan senyum miring yang sarat akan kesombongan. "Kenapa? Kalau kamu butuh uan

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 30 Kenapa Bertemu di Sini?

    Beberapa puluh menit sebelum pintu ruang VIP 01.Damian duduk di sofa dengan tenang. Di sekeliling meja kaca yang dipenuhi gelas-gelas kristal, beberapa rekan bisnis eksekutifnya saling bertukar kelakar hangat seraya membahas kelanjutan proyek ekspansi pelabuhan. Damian hanya menanggapi seadanya, sesekali menyesap minuman beralkohol tinggi di tangannya dengan raut wajah yang tetap kaku dan tak tersentuh.Hingga kemudian, pintu ruangan terdorong pelan."Permisi, saya mengantarkan pesanan minuman..."Suara lembut yang sangat familier itu bergaung halus memotong alunan musik lembut di dalam ruangan. Tatapan Damian terangkat ke arah sumber suara dan detik itu juga, gerakan tangannya yang memegang gelas membeku seketika.Mata tajam Damian terkunci pada sosok wanita yang berdiri kaku di ambang pintu.Sienna.Penampilan wanita itu kini jauh berbeda dari saat Damian melihat Sienna di mall tadi siang. Sekarang, Sienna memakai seragam kemeja hitam yang pas membalut tubuhnya, dipadu celana k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status