LOGINSinar matahari pagi menembus celah gorden kamar, menyapa mata Damian yang perlahan terbuka. Damian memegangi pelipisnya yang berdenyut hebat. Efek minuman keras semalam masih menyisakan rasa pening yang menusuk di kepalanya.Damian bangun dengan perlahan lalu mendudukkan diri di tepi ranjang, dia menekan tombol interkom untuk memanggil pelayan. "Bawakan aku sup pengar ke meja makan," perintahnya pada pelayan di dapur. Beberapa menit kemudian. Damian keluar dari kamar masih memakai kemeja dan celana panjang semalam.Dia masuk ke dalam ruang makan, lalu mendudukkan tubuhnya di meja makan panjang yang hampa. Joana segera menyajikan semangkuk sup hangat di hadapan Damian dengan sopan.Damian meraih sendok dan menyesap kuah sup tersebut. Namun, saat cairan hangat itu menyentuh lidahnya, dahi Damian seketika berkerut samar.Rasa sup itu berbeda. Tidak ada sentuhan rasa gurih yang pas dan aroma rempah lembut yang dulu selalu disajikan Sienna setiap kali dia bangun dalam keadaan mabuk.D
Damian terkekeh sinis, dia menyandarkan punggungnya ke belakang dengan tatapan mengejek. "Mencintai? Kamu terlalu jauh menyimpulkan, Edward. Aku hanya tidak suka ada hal yang lepas dari kendaliku. Itu saja."Edward menatap Damian selama beberapa detik dengan tatapan kasihan yang tak berusaha dia sembunyikan, sahabatnya ini jelas-jelas kehilangan, tetapi terlalu malu untuk mengakui. Edward menghela napas panjang, lalu perlahan berdiri dari duduknya dan merapikan kancing jasnya."Terserah kamu mau mengelak seperti apa, Damian," ujar Edward tenang namun penuh penegasan. "Aku di sini hanya sebagai teman yang mengingatkan. Jangan sampai keangkuhanmu ini memakan dirimu sendiri, sampai akhirnya kamu tersadar saat semuanya sudah terlambat... dan kamu menyesal."Edward menatap Damian yang diam, lalu kembali bicara. “Dan, jangan menyesal jika suatu hari nanti, Sienna benar-benar didapatkan oleh pria lain.”Setelah bicara, Edward berbalik melangkah pergi meninggalkan area VIP tersebut. Sedangk
Di Klub malam.Dentum musik bertempo rendah bergaung samar di sudut area VIP sebuah klub eksklusif. Di balik pendar cahaya temaram, Damian duduk sendirian di sofa. Gelas kristal berisi whisky dalam genggamannya bergemericik pelan saat dia menggoyangkannya tanpa minat, sebelum kemudian meneguk habis sisanya dalam satu tegukan kasar.Rasa hangat minuman keras yang membakar tenggorokannya sama sekali tidak mampu meredakan gejolak panas di dadanya. Bayangan Sienna yang berdiri tegap di tengah lobi kantornya—menolak tunduk di depan puluhan pasang mata bawahannya—terus berputar menari-nari di kepalanya, menghantam egonya tanpa ampun.Klak.Sebuah gelas lain diletakkan di atas meja kaca di hadapan Damian, membuat tatapannya terangkat, memandang siapa yang berani mengganggu keheningannya.Edward. Dia duduk di seberang sofa tempat Damian berada, lalu menuang minuman ke dalam gelasnya yang kosong.Damian menatap Edward dengan mata yang sedikit menggelap. "Siapa yang memberitahumu aku ada di s
Sienna melangkah masuk ke dalam ruang istirahat karyawan pameran dengan dada yang naik turun tak beraturan menahan sesak. Begitu pintu tertutup rapat dan menyisakan dirinya seorang diri, Sienna mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di atas meja pantry."Dasar pria gila egois!" umpat Sienna lirih, suaranya bergetar oleh amarah yang membakar dada.Sienna menyandarkan pinggang di tepian meja pantry, kedua tangannya terlipat di dada dengan bibir bawah yang dia gigit kuat.Kemarahannya pada Vivian kini sepenuhnya berbalik menyalahkan Damian. Jika bukan karena sikap Damian yang sengaja menahan proses perceraian dan terus-menerus menampakkan diri di kehidupannya, wanita angkuh seperti Vivian tidak akan pernah datang menyerang dan menghinanya."Untuk apa menahan surat cerai itu kalau hanya untuk membuat hidup orang lain kacau?" bisik Sienna pada dirinya sendiri, matanya memerah menahan kekecewaan. "Dia yang menahan semuanya, tapi aku yang terus disalahkan dan diinjak-injak!"Sienna mendongak
Sienna ikut Vivian ke kafe yang ditunjuk.Suasana kafe di lantai dasar mall siang itu tergolong tenang. Suara alunan musik instrumental lembut mengudara, berbanding terbalik dengan ketegangan pekat yang menggantung di meja sudut dekat jendela kaca.Vivian duduk anggun dengan satu kaki bersilang, melayangkan pandangan menilai yang sarat akan penumpukan rasa jijik ke arah Sienna. Sementara itu, Sienna duduk di seberangnya dengan posisi tubuh tegap. Tidak ada raut takut, panik, apalagi rendah diri di wajah wanita itu—murni hanya sorot mata tenang yang dingin dan tidak gentar.Vivian mengetukkan kuku berpoles nail art mewahnya ke atas meja kayu. "Kamu pasti tahu betul siapa aku, kan, Sienna?" tanyanya membuka percakapan dengan nada suara meremehkan.Sienna tidak menjawab. Dia hanya menatap Vivian lurus tanpa berkedip.Vivian menyunggingkan senyum miring yang congkak. Dia memajukan tubuhnya sedikit, menatap Sienna dari jarak dekat. "Aku hanya ingin memperingatkanmu satu hal. Sebaiknya ka
Maya tersentak kaget melihat perubahan ekspresi di wajah Sienna yang mendadak pucat kaku. "I-iya, Sienna. Itu yang dikatakan manajer ke temanku. Ada apa? Kamu kenal dengan tamu VVIP itu?"Sienna terdiam seribu bahasa. Suara di sekitarnya seolah mengabur saat otaknya mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Maya.‘Damian! Apa maunya yang sebenarnya?’ batin Sienna menjerit.Selama ini dia mengira dipecat karena pria mabuk yang memegang kakinya melaporkan hal buruk tentangnya. Namun kenyataannya justru jauh lebih menyakitkan, Damian-lah yang menggunakan kekuasaannya untuk menendangnya keluar dari klub malam itu. Pria itu sengaja memotong jalan mata pencariannya hanya karena keinginan pribadinya.Ingin rasanya Sienna tertawa keras, menertawakan sikap angkuh Damian yang benar-benar tak pernah berubah.Maya menatap Sienna yang terus mematung dengan pandangan kosong. Rasa khawatir terpancar jelas di wajah rekan kerjanya itu. "Sienna? Kamu baik-baik saja?"Sienna menarik napas panjang, ber







