LOGINVivian menatap aneh pada Damian yang menghentikan langkah. Apalagi pria ini menatap ke satu arah tanpa berkedip sama sekali, bahkan ekspresi wajah Damian berubah tegang.Vivian mengarahkan pandangannya ke arah Damian menatap. Sampai dia melihat sosok wanita yang sedang berbicara sambil tersenyum pada seorang pria.Vivian menyipitkan matanya sedikit. Ingatannya yang tajam langsung mengenali sosok wanita itu. Foto-foto pernikahan rahasia Damian yang sempat dia lacak melalui koneksinya sebelum kembali seketika berputar di kepalanya.Sienna Hayes. Wanita yang selama satu tahun terakhir ini menyandang status sebagai istri sah Damian Blackwell.Dan, fakta bahwa Damian menunjukkan reaksi emosional yang begitu kentara saat melihat Sienna bersama pria lain membuat naluri persaingan Vivian membara. Vivian tidak tahu apa maksud reaksi Damian saat ini, tetapi dia tak senang mengetahui Damian kesal melihat wanita itu bersama pria lain. Bukankah mereka sudah bercerai, lalu kenapa Damian terlihat
Damian dan Vivian sudah duduk di dalam restoran. Mereka memesan makanan, walau Vivian lah yang sepenuhnya memesan karena Damian memilih ikut apa yang Vivian inginkan.“Damian, apa kamu mau memesan yang lain?” tanya Vivian setelah selesai memesan.Damian tampak seperti terkejut. Dia menggeleng pelan, matanya menyorot rasa malas yang tertutup sikap dinginnya.Vivian mengangguk. Dia meminta pelayan segera menyajikan makanan yang dia pesan.Vivian menatap Damian yang hanya diam, membuatnya menjaga sikap dengan tak terlalu banyak bicara agar Damian tetap nyaman bersama.Sampai makanan disajikan. Damian masih tak mengatakan sepatah kata pun. Vivian juga tak bicara dan hanya meminta Damian segera menyantap makan siangnya.Damian memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang sangat teratur. Matanya menatap lurus ke arah makanan, tetapi pandangannya kosong seperti ada ruang hampa yang tak mampu dia isi dengan segala pikiran yang bisa masuk ke kepalanya. Beberapa kali jemarinya yang p
Di Mall.Langkah kaki Damian bergaung tegas membelah lantai marmer mall yang dia datangi. Di sampingnya, Vivian melangkah anggun sambil membahas apa saja yang dia lakukan di Prancis untuk mencoba membangun kembali kehangatan yang pernah ada di antara mereka.Namun, fokus Damian sama sekali tidak berada pada cerita wanita di sebelahnya. Damian memiliki niatnya sendiri mengajak Vivian makan di restoran Fine dining mall ini, daripada makan di restoran bintang lima lainnya.Secara teknis, restoran fine dining yang mereka tuju berada di lantai lima. Pria itu bisa saja menggunakan lift VIP langsung dari area parkir untuk menuju ke sana tanpa harus melintasi atrium utama di lantai dasar. Akan tetapi, dorongan impulsif dan ego yang tersulut sejak pagi memaksa Damian memilih rute ini—rute yang sengaja membawanya melintasi area tempat Sienna bekerja.Saat mereka semakin mendekati booth pameran produk kecantikan, mata tajam Damian seketika menangkap sosok Sienna.Wanita itu berdiri anggun dala
Damian hendak melangkahkan kaki untuk mendekat, sampai dia melihat kursi di depan mejanya berputar pelan. Sosok yang semula membelakangi pintu kini menghadap lurus ke arah Damian.Namun, bukan Sienna yang menyambut pandangannya.Vivian Bennett duduk di sana dengan sikap anggun, tubuhnya berbalut gaun elegan yang mempertegas lekuk tubuhnya. Senyum manis terukir halus di bibirnya saat menatap pria yang baru saja melangkah masuk.“Damian.” Suara Vivian terdengar begitu manja.Sedang Damian berdiri dengan kilat mata yang tak terbaca. Ekspresinya sempat menyiratkan sebuah kekecewaan, tetapi hanya dalam hitungan detik, ekspresi itu lenyap tak berbekas, tergantikan oleh topeng dingin yang tak tersentuh.Vivian berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat lembut, lalu dia melangkah menghampiri Damian dengan anggun."Apakah rapatmu sudah selesai, Damian?" tanya Vivian, suaranya terdengar hangat dan menenangkan, seolah-olah waktu tidak pernah memisahkan mereka.Damian menatap Vivian dengan
Di ruang kerja Damian.Jari-jari Damian mengerat di tepian ponselnya. Di balik meja kerja megahnya, raut wajah CEO itu menegang kaku, meski dia berusaha keras menutupi gelombang kekesalan yang mendadak membakar dadanya."Aku tidak peduli," balas Damian dingin, suaranya datar dan tajam. "Sienna bebas pergi dengan siapa saja. Itu bukan urusanku lagi."Suara tawa terkekeh pelan dari Edward terdengar jelas memecah keheningan di saluran telepon. Tawa yang terasa begitu menyindir di telinga Damian."Jika kamu memang sudah benar-benar tidak peduli, Damian..." ujar Edward santai di seberang sana, "maka sebaiknya kamu segera membubuhkan tanda tanganmu di atas surat cerai itu. Bebaskan dia secara resmi."Klik.Panggilan telepon terputus. Edward mengakhiri sambungan telepon itu begitu saja.Damian membeku. Tiba-tiba, jemarinya mencengkeram ponsel berbalut casing titanium itu begitu erat, seolah ingin meremukkannya saat itu juga. Dadanya bergemuruh hebat oleh amarah yang tidak beralasan. Dia ti
Sienna tersentak mendengar ucapan Edward. Matanya sampai membola lebar menatap Edward dengan raut wajah yang memancarkan kebingungan."Maksudmu apa, Edward?" tanya Sienna, nada suaranya diwarnai ketidakpahaman. Kedua alisnya berkerut sampai saling bertautan.Edward menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya pada sofa seraya menatap Sienna dengan pandangan penuh pertimbangan."Kalian berdua sudah hidup di bawah satu atap yang sama selama satu tahun penuh, Sienna," tutur Edward pelan dan hati-hati. "Bukankah ada kemungkinan... jika dalam kurun waktu yang cukup lama itu, tumbuh perasaan di antara kalian berdua? Perasaan yang mungkin membuat proses perpisahan ini jadi terasa lebih berat dari bayangan awal?"Mulut Sienna sedikit terbuka mendengar ucapan Edward, lalu dia tersenyum getir."Tidak." Sienna membalas tanpa ada keraguan sedikit pun dalam suaranya.Tatapan mata Sienna lantas menajam, memancarkan ketegasan yang dingin dan tak tergoyahkan. Pria di hadapannya perlu memahami real







