LOGINSienna menatap Damian yang berdiri di ambang pintu dengan napas yang sedikit memburu.
Ketegangan langsung memenuhi ruangan kecil itu. Sienna tidak mencoba menyembunyikan berkas di atas meja atau kardus di bawahnya. Dia meletakkan buku yang dipegangnya dengan perlahan, lalu berdiri tegak menghadapi suaminya.
"Ini bukan di belakangmu, Damian," ucap Sienna, suaranya tetap terjaga di nada yang datar dan tenang. "Besok adalah hari terakhir kontrak kita. Aku hanya mempersiapkan apa yang sudah menjadi kesepakatan tertulis kita sejak satu tahun lalu."
Damian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga dia bisa melihat dengan jelas guratan kelelahan tapi sekaligus ketetapan hati di wajah Sienna.
"Kesepakatan kita adalah berpisah secara baik-baik setelah tujuan masing-masing tercapai," kata Damian, suaranya rendah dan tajam. "Tapi sikapmu beberapa hari ini seolah-olah aku adalah penjahat di sini. Kamu menarik diri dari rumah, mengabaikan keluargaku, dan sekarang kamu menyiapkan berkas ini bahkan sebelum kita duduk bersama membicarakannya dengan pengacaraku!"
Sienna melepaskan tawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat getir di telinga Damian.
"Duduk bersama? Dengan pengacaramu?" Sienna menatap mata Damian dengan berani. "Untuk apa, Damian? Agar pengacaramu bisa membuat klausul baru yang memastikan aku tidak menuntut sepeser pun harta dari keluarga Blackwell?” Tatapan Sienna sekilas menajam, lalu dia kembali bicara. “Kamu tidak perlu khawatir. Lihat ini."
Sienna mengambil map di atas meja dan menyodorkan ke depan dada Damian.
"Aku sudah menandatanganinya. Di situ tertulis dengan jelas, aku melepaskan semua hak tunjangan pasca-nikah. Aku tidak meminta satu meter persegi pun tanah milik Blackwell, dan aku tidak mengambil keuntungan satu sen pun dari proyek mall yang berhasil kamu menangkan berkat bantuan campur tanganku di dokumen kerja sama aset tempo hari. Aku pergi dengan apa yang kubawa saat pertama kali datang ke sini."
Damian menatap lembaran kertas itu. Tanda tangan Sienna tertera di sana, rapi dan tegas.
Tidak ada keraguan di goresan tintanya. Melihat hal itu, ada rasa hampa yang mendadak menghantam ulu hati Damian. Pria yang terbiasa mengendalikan segala hal di atas meja bisnis ini, kini merasa kendali itu terlepas sepenuhnya.
"Kenapa kamu terburu-buru sekali?" tanya Damian, suaranya melembut tanpa dia sadari, ada nada kegelisahan yang terselubung di sana. "Rumah ibumu sudah kembali. Posisi yayasanmu ... jika kamu mau, aku bisa bicara pada Mama untuk mengembalikannya ke acara amal."
"Tidak perlu," potong Sienna cepat. "Ibumu benar, Damian. Aku memang tidak setara dengan lingkaran kalian. Dan aku sudah lelah berpura-pura memakai sepatu yang kekecilan hanya agar terlihat menarik walau kakiku lecet saat berjalan di depan media. Tugas pajanganku sudah selesai. Kontrakku genap satu tahun besok pagi pukul delapan."
Damian menatap kardus di lantai.
Di dalamnya hanya ada beberapa buku tua, kalung mutiara peninggalan ibu Sienna, dan beberapa pakaian sederhana yang dibeli Sienna sebelum menikah dengannya.
Semua gaun mewah, perhiasan berlian yang pernah dibelikannya untuk acara formal, tetap tersimpan rapi di lemari kamar utama. Sienna benar-benar tidak menyentuhnya.
"Kamu pikir merintis hidup dari nol dengan kondisi keluargamu yang seperti itu akan mudah?" Damian mencoba menggunakan logika bisnisnya lagi untuk menahan Sienna, menyembunyikan ego dan rasa tidak relanya. "Ayahmu dan ibu tirimu tidak akan membiarkanmu tenang setelah tahu kau tidak lagi didukung oleh Blackwell Group. Zoe pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkanmu lagi."
Sienna tersenyum, kali ini sebuah senyuman yang penuh dengan rasa percaya diri yang baru tumbuh. "Aku tahu. Menghadapi mereka akan sulit. Tapi setidaknya, di sana aku akan bertarung untuk diriku sendiri, bukan untuk menjadi tameng reputasi seorang pria yang bahkan tidak pernah menoleh saat keluarganya menginjak harga diriku."
Kata-kata itu menghantam Damian tepat di wajahnya. Kenangan malam pesta itu kembali berputar di otaknya. Saat Sienna menatapnya memohon bantuan dari sudut ruangan, dan dia memilih untuk memalingkan muka demi menyapa seorang menteri.
Damian terdiam, lidahnya mendadak kelu. Pria ambisius itu tidak menemukan satu pun argumen logis untuk membalas ucapan Sienna.
Sienna kembali membungkuk, mengambil buku terakhir, dan memasukkannya ke dalam kardus. "Sudah larut, Damian. Silakan istirahat. Besok adalah hari besar untuk Blackwell Group, dan hari baru untukku."
Damian berdiri mematung selama beberapa saat di tengah ruangan yang sunyi itu, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dengan perasaan campur aduk yang membakar dadanya.
Dia masih meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah masalah "ketergantungan rutinitas". Dia hanya terbiasa dilayani dengan baik, tidak lebih.
Besok, setelah wanita itu pergi, semuanya pasti akan kembali normal. Begitu pikirnya dalam penyangkalan yang rapat.
Vivian menatap aneh pada Damian yang menghentikan langkah. Apalagi pria ini menatap ke satu arah tanpa berkedip sama sekali, bahkan ekspresi wajah Damian berubah tegang.Vivian mengarahkan pandangannya ke arah Damian menatap. Sampai dia melihat sosok wanita yang sedang berbicara sambil tersenyum pada seorang pria.Vivian menyipitkan matanya sedikit. Ingatannya yang tajam langsung mengenali sosok wanita itu. Foto-foto pernikahan rahasia Damian yang sempat dia lacak melalui koneksinya sebelum kembali seketika berputar di kepalanya.Sienna Hayes. Wanita yang selama satu tahun terakhir ini menyandang status sebagai istri sah Damian Blackwell.Dan, fakta bahwa Damian menunjukkan reaksi emosional yang begitu kentara saat melihat Sienna bersama pria lain membuat naluri persaingan Vivian membara. Vivian tidak tahu apa maksud reaksi Damian saat ini, tetapi dia tak senang mengetahui Damian kesal melihat wanita itu bersama pria lain. Bukankah mereka sudah bercerai, lalu kenapa Damian terlihat
Damian dan Vivian sudah duduk di dalam restoran. Mereka memesan makanan, walau Vivian lah yang sepenuhnya memesan karena Damian memilih ikut apa yang Vivian inginkan.“Damian, apa kamu mau memesan yang lain?” tanya Vivian setelah selesai memesan.Damian tampak seperti terkejut. Dia menggeleng pelan, matanya menyorot rasa malas yang tertutup sikap dinginnya.Vivian mengangguk. Dia meminta pelayan segera menyajikan makanan yang dia pesan.Vivian menatap Damian yang hanya diam, membuatnya menjaga sikap dengan tak terlalu banyak bicara agar Damian tetap nyaman bersama.Sampai makanan disajikan. Damian masih tak mengatakan sepatah kata pun. Vivian juga tak bicara dan hanya meminta Damian segera menyantap makan siangnya.Damian memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang sangat teratur. Matanya menatap lurus ke arah makanan, tetapi pandangannya kosong seperti ada ruang hampa yang tak mampu dia isi dengan segala pikiran yang bisa masuk ke kepalanya. Beberapa kali jemarinya yang p
Di Mall.Langkah kaki Damian bergaung tegas membelah lantai marmer mall yang dia datangi. Di sampingnya, Vivian melangkah anggun sambil membahas apa saja yang dia lakukan di Prancis untuk mencoba membangun kembali kehangatan yang pernah ada di antara mereka.Namun, fokus Damian sama sekali tidak berada pada cerita wanita di sebelahnya. Damian memiliki niatnya sendiri mengajak Vivian makan di restoran Fine dining mall ini, daripada makan di restoran bintang lima lainnya.Secara teknis, restoran fine dining yang mereka tuju berada di lantai lima. Pria itu bisa saja menggunakan lift VIP langsung dari area parkir untuk menuju ke sana tanpa harus melintasi atrium utama di lantai dasar. Akan tetapi, dorongan impulsif dan ego yang tersulut sejak pagi memaksa Damian memilih rute ini—rute yang sengaja membawanya melintasi area tempat Sienna bekerja.Saat mereka semakin mendekati booth pameran produk kecantikan, mata tajam Damian seketika menangkap sosok Sienna.Wanita itu berdiri anggun dala
Damian hendak melangkahkan kaki untuk mendekat, sampai dia melihat kursi di depan mejanya berputar pelan. Sosok yang semula membelakangi pintu kini menghadap lurus ke arah Damian.Namun, bukan Sienna yang menyambut pandangannya.Vivian Bennett duduk di sana dengan sikap anggun, tubuhnya berbalut gaun elegan yang mempertegas lekuk tubuhnya. Senyum manis terukir halus di bibirnya saat menatap pria yang baru saja melangkah masuk.“Damian.” Suara Vivian terdengar begitu manja.Sedang Damian berdiri dengan kilat mata yang tak terbaca. Ekspresinya sempat menyiratkan sebuah kekecewaan, tetapi hanya dalam hitungan detik, ekspresi itu lenyap tak berbekas, tergantikan oleh topeng dingin yang tak tersentuh.Vivian berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat lembut, lalu dia melangkah menghampiri Damian dengan anggun."Apakah rapatmu sudah selesai, Damian?" tanya Vivian, suaranya terdengar hangat dan menenangkan, seolah-olah waktu tidak pernah memisahkan mereka.Damian menatap Vivian dengan
Di ruang kerja Damian.Jari-jari Damian mengerat di tepian ponselnya. Di balik meja kerja megahnya, raut wajah CEO itu menegang kaku, meski dia berusaha keras menutupi gelombang kekesalan yang mendadak membakar dadanya."Aku tidak peduli," balas Damian dingin, suaranya datar dan tajam. "Sienna bebas pergi dengan siapa saja. Itu bukan urusanku lagi."Suara tawa terkekeh pelan dari Edward terdengar jelas memecah keheningan di saluran telepon. Tawa yang terasa begitu menyindir di telinga Damian."Jika kamu memang sudah benar-benar tidak peduli, Damian..." ujar Edward santai di seberang sana, "maka sebaiknya kamu segera membubuhkan tanda tanganmu di atas surat cerai itu. Bebaskan dia secara resmi."Klik.Panggilan telepon terputus. Edward mengakhiri sambungan telepon itu begitu saja.Damian membeku. Tiba-tiba, jemarinya mencengkeram ponsel berbalut casing titanium itu begitu erat, seolah ingin meremukkannya saat itu juga. Dadanya bergemuruh hebat oleh amarah yang tidak beralasan. Dia ti
Sienna tersentak mendengar ucapan Edward. Matanya sampai membola lebar menatap Edward dengan raut wajah yang memancarkan kebingungan."Maksudmu apa, Edward?" tanya Sienna, nada suaranya diwarnai ketidakpahaman. Kedua alisnya berkerut sampai saling bertautan.Edward menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya pada sofa seraya menatap Sienna dengan pandangan penuh pertimbangan."Kalian berdua sudah hidup di bawah satu atap yang sama selama satu tahun penuh, Sienna," tutur Edward pelan dan hati-hati. "Bukankah ada kemungkinan... jika dalam kurun waktu yang cukup lama itu, tumbuh perasaan di antara kalian berdua? Perasaan yang mungkin membuat proses perpisahan ini jadi terasa lebih berat dari bayangan awal?"Mulut Sienna sedikit terbuka mendengar ucapan Edward, lalu dia tersenyum getir."Tidak." Sienna membalas tanpa ada keraguan sedikit pun dalam suaranya.Tatapan mata Sienna lantas menajam, memancarkan ketegasan yang dingin dan tak tergoyahkan. Pria di hadapannya perlu memahami real







