Share

Bab 5: Akhirnya Pergi

Author: Noona Aurora
last update publish date: 2026-09-06 13:44:12

Matahari pagi baru saja terbit, memancarkan semburat jingga di langit timur saat jam dinding besar di lorong rumah Blackwell menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit.

Damian terbangun dengan rasa tidak nyaman yang pekat di dadanya. Semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan tanda tangan Sienna di surat cerai itu terus membayangi pikirannya. 

Damian membuang jauh apa yang mengganjal di pikirannya. Dia bangkit dari ranjang dan segera mandi, lalu memakai kemeja kerjanya, dan turun ke lantai bawah dengan langkah yang sedikit lebih terburu-buru dari biasanya.

“Joana!" panggil Damian begitu tiba di ruang tengah. Dia mencari keberadaan kepala pelayan rumahnya.

Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa sangat lenggang, seolah seluruh energinya telah tersedot keluar. 

Damian melangkah menuju dapur, menemukan Joana sedang berdiri di dekat meja makan dengan wajah mendung dan mata yang sedikit sembap.

"Di mana Sienna?" tanya Damian, nadanya menuntut, berusaha mengusir firasat buruk yang mulai mencengkeram hatinya.

Joana tidak menjawab dengan kata-kata. Wanita tua itu hanya menunjuk ke arah meja makan dengan tangan yang sedikit bergetar.

Damian melangkah mendekat. Di atas permukaan meja marmer yang bersih, tergeletak sebuah map dokumen berwarna biru tua. 

Di atas map itu, sebuah kunci gerbang rumah, sebuah kartu kredit hitam fasilitas dari Blackwell Group yang masih terbungkus plastik rapi karena tidak pernah digesek, dan sebuah nota kecil bertuliskan tangan.

Damian menyambar nota tersebut.

Damian,

Tepat pukul 07.30, satu tahun kontrak kita telah genap. Semua dokumen kepemilikan rumah ibuku sudah kupastikan legal dan bersih melalui notaris independen, sehingga tidak akan membebani Blackwell Group di kemudian hari.

Surat perceraian yang sudah kutandatangani ada di dalam map ini. Silakan serahkan pada pengacaramu untuk diproses di pengadilan. Aku tidak menuntut apa pun, karena bagiku, rumah masa kecilku sudah lebih dari cukup sebagai bayaran atas satu tahun ini.

Terima kasih atas kerjasamanya. Semoga Blackwell Group semakin sukses.

Sienna Hayes.

Damian meremas kertas catatan itu dalam genggamannya hingga hancur. Matanya berkilat tajam, bercampur dengan rasa tidak percaya yang begitu dalam.

"Kapan dia pergi?!" Suara Damian meninggi, menggema di ruang makan yang sunyi.

"Nyonya ... Nyonya Muda sudah pergi sekitar lima belas menit yang lalu, Tuan," jawab Joanna dengan suara gemetar, air matanya mulai menetes. "Nyonya tidak mau diantar oleh sopir rumah. Nyonya hanya membawa satu kardus kecil dan satu koper tua, lalu berjalan kaki keluar menuju gerbang depan untuk mencari taksi. Saya sudah mencoba menahan beliau, tapi Nyonya hanya tersenyum dan memeluk saya ...."

Damian tidak mendengarkan kelanjutan cerita Joana. Dia berbalik arah dengan cepat, melangkah lebar menuju pintu utama, lalu berlari menuju gerbang depan kompleks perumahan elitenya. 

Langkah kakinya terdengar memburu di atas jalanan aspal yang sepi.

Namun, begitu tiba di depan gerbang utama, jalanan raya di depannya sudah dipadati oleh kendaraan pagi hari. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Sienna. Taksi yang membawa wanita itu sudah melebur di tengah riuhnya kota.

Sienna telah pergi. Benar-benar pergi tanpa suara, tanpa drama, dan tanpa meninggalkan jejak emosi apa pun di rumah mewah itu.

Damian berdiri di tepi jalan dengan napas terengah-engah. Tangannya mencengkeram ponselnya, segera mendial nomor Sienna.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Suara operator wanita itu terdengar seperti ejekan di telinga Damian. Pria itu menurunkan ponselnya perlahan. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh lima tahun hidupnya, Damian Blackwell merasa kehilangan pijakan. 

Sesuatu yang selama ini dia anggap sebagai "pajangan" di sudut hidupnya, kini telah menghilang, meninggalkan lubang hitam yang teramat besar dan dingin di dalam dadanya.

Sementara itu, di sebuah taksi yang melaju menjauhi kawasan elite tersebut, Sienna duduk di kursi belakang. Dia menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang perlahan berganti menjadi perumahan padat penduduk.

Ponsel lamanya sudah dia matikan dan kartunya sudah dia patahkan, diganti dengan nomor baru yang hanya diketahui oleh beberapa orang kepercayaannya di yayasan. 

Tangan Sienna meraba sebuah kunci kecil di dalam sakunya, kunci rumah tua peninggalan ibunya di pinggiran kota, tempat dia akan memulai sebuah kedai kopi kecil dan ruang baca untuk anak-anak, merintis usahanya sendiri dari bawah.

Napas Sienna berembus lega, senyumnya terangkat kecil. Untuk pertama kalinya dalam setahun, dadanya tidak lagi terasa sesak. Dia bebas.

**

Di rumah Damian.

Damian baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Tangan kirinya memegang keningnya yang mendadak pening. Sedangkan tatapannya tertuju pada map yang ditinggalkan Sienna.

Jemarinya sesekali memijat perlahan, tapi itu tak mampu menghilangkan rasa nyeri yang mendadak muncul di kepalanya.

Kenapa Damian harus bersusah payah mengejar Sienna? Apa Damian sudah gila?

Bukankah memang ini kesepakatannya? Apa yang dia inginkan sampai berlari mencari keberadaan wanita itu, yang bahkan tak memiliki beban saat meninggalkan rumah ini!

Baru beberapa detik Damian merasakan ketenangan, suara pintu terbanting keras mengejutkannya.

Tatapan Damian kini tertuju pada Beatrice dan Elena yang masuk ke rumah dengan langkah tergesa-gesa.

“Damian, apa benar kalau Sienna akhirnya pergi?” Tatapan Beatrice seperti menyimpan keraguan saat menatap pada Damian.

“Akhirnya dia pergi juga. Dia ternyata masih tahu diri dengan tidak terus bergantung pada kita.” Elena melipat kedua tangan di depan dada setelah bicara.

Beatrice menatap Damian yang hanya diam, sampai dia kembali bertanya, “Apa rencanamu sekarang? Apa kamu akan kembali pada Vivian? Dia akhirnya pulang, kamu jangan menyiakan kesempatan untuk–”

"Diam," ucap Damian, suaranya sangat rendah tapi sarat akan ancaman yang membuat Beatrice dan Elena seketika bungkam.

Beatrice dan Elena sampai saling tatap beberapa saat. Mereka tak berani bicara lagi.

Damian tak menatap pada ibu dan adiknya.

Justru, tatapan Damian tertuju ke map biru di atas meja makan. Dia meraih map itu, lalu membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya sendiri. Mengabaikan keberadaan Beatrice dan Elena. 

Begitu tiba di dalam ruang kerjanya. Dia melempar map tersebut ke dalam laci paling bawah, lalu menguncinya rapat-rapat.

"Aku tidak akan menandatanganinya," bisik Damian dengan tatapan terus tertuju ke laci yang baru saja dikuncinya. 

Rasa penyangkalan di dalam hatinya masih menolak untuk kalah. "Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Sienna. Kita belum selesai. Harusnya, aku yang memutuskan, kamu boleh pergi dari rumah ini, bukan kamu, Sienna."

Tangan Damian mengepal, dia harus mendapatkan kembali kendalinya yang sudah diambil Sienna tanpa dia sadari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 7: Butuh Sienna

    Ruangan ini semakin membeku. Kata "Sienna" yang diucapkan di depan Damian terasa seperti pemicu bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.Damian menatap manajer divisi dengan tatapan membunuh. Keheningan berlangsung selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya Damian menegakkan tubuhnya, merapikan kancing jasnya dengan jari yang sedikit tegang."Perusahaan ini dibayar dengan angka triliunan rupiah untuk mempekerjakan tim profesional, bukan untuk bergantung pada seorang wanita yang bahkan tidak masuk dalam struktur organisasi," kata Damian dengan suara rendah dan penuh penekanan.Tidak ada yang tahu soal pernikahan kontrak mereka, dan karena itu tidak ada yang boleh tahu soal akhir dari kontrak pernikahan Damian dengan Sienna.Damian bangkit dari duduknya dengan cepat, lalu dia menyambar ponselnya dengan kasar."Rapat selesai," ucap Damian tanpa menoleh lagi. "Saya tidak mau mendengar kalian bergentu pada Sienna. Jika besok pagi laporan ini belum sempurna, Anda dan seluruh ti

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 6: Pulang

    Sienna tiba di rumah peninggalan ibunya.Tatapannya penuh haru, setelah satu tahun bersabar dalam pernikahan kontrak yang menyesakkan. Akhirnya Sienna bebas.Sienna melangkah menuju pintu utama rumah tua ini. Dia membuka pintu ini dengan kunci yang dimilikinya.Aroma debu dan kayu lapuk menyambut Sienna begitu daun pintu kayu ini terbuka.Sienna melangkah masuk, meletakkan koper tua dan kardus kecilnya di lantai ruang tamu yang berdebu tebal. Dia berdiri sejenak di tengah ruangan, memandangi sekeliling. Selapis debu tipis menutupi perabotan yang ditinggalkan terbungkus kain putih sejak bertahun-tahun lalu.Sienna menarik napas panjang, meresapi bau udara lembap yang terasa begitu jujur di hidungnya."Aku pulang, Ibu," bisik Sienna dengan suara serak.Senyum Sienna membalut kepedihan. Mulai sekarang, dia akan tinggal di sini, sendiri. Tanpa tekanan, dan tanpa ikatan yang membelenggunya, yang memintanya berpura-pura dalam kepalsuan.Sienna menyingsingkan lengan kemeja putihnya hingga k

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 5: Akhirnya Pergi

    Matahari pagi baru saja terbit, memancarkan semburat jingga di langit timur saat jam dinding besar di lorong rumah Blackwell menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit.Damian terbangun dengan rasa tidak nyaman yang pekat di dadanya. Semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan tanda tangan Sienna di surat cerai itu terus membayangi pikirannya. Damian membuang jauh apa yang mengganjal di pikirannya. Dia bangkit dari ranjang dan segera mandi, lalu memakai kemeja kerjanya, dan turun ke lantai bawah dengan langkah yang sedikit lebih terburu-buru dari biasanya.“Joana!" panggil Damian begitu tiba di ruang tengah. Dia mencari keberadaan kepala pelayan rumahnya.Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa sangat lenggang, seolah seluruh energinya telah tersedot keluar. Damian melangkah menuju dapur, menemukan Joana sedang berdiri di dekat meja makan dengan wajah mendung dan mata yang sedikit sembap."Di mana Sienna?" tanya Damian, nadanya menuntut, berusaha mengusir firasat b

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 4: Surat Cerai

    Sienna menatap Damian yang berdiri di ambang pintu dengan napas yang sedikit memburu. Ketegangan langsung memenuhi ruangan kecil itu. Sienna tidak mencoba menyembunyikan berkas di atas meja atau kardus di bawahnya. Dia meletakkan buku yang dipegangnya dengan perlahan, lalu berdiri tegak menghadapi suaminya."Ini bukan di belakangmu, Damian," ucap Sienna, suaranya tetap terjaga di nada yang datar dan tenang. "Besok adalah hari terakhir kontrak kita. Aku hanya mempersiapkan apa yang sudah menjadi kesepakatan tertulis kita sejak satu tahun lalu."Damian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga dia bisa melihat dengan jelas guratan kelelahan tapi sekaligus ketetapan hati di wajah Sienna."Kesepakatan kita adalah berpisah secara baik-baik setelah tujuan masing-masing tercapai," kata Damian, suaranya rendah dan tajam. "Tapi sikapmu beberapa hari ini seolah-olah aku adalah penjahat di sini. Kamu menarik diri dari rumah, mengabaikan keluargaku, dan sekarang kamu menyiapkan ber

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 3: Perlahan Berubah

    Tiga hari kemudian.Suasana di ruang rapat utama Blackwell Group terasa mencekam. Damian Blackwell duduk di ujung meja, menatap tajam ke arah jajaran direksi yang tertunduk lesu. Laporan analisis pasar untuk proyek Mall baru di wilayah selatan menunjukkan angka yang tidak stabil."Hanya ini yang bisa kalian lakukan?" Suara Damian memotong keheningan seperti belati. "Analisis ini tidak memiliki dasar mitigasi risiko yang kuat. Jika kita mengeksekusi ini sekarang, Blackwell Group akan kehilangan momentum dalam tiga bulan pertama."Seorang manajer senior berdehem gugup. "Maaf, Pak Damian. Biasanya ... Nyonya Sienna yang membantu merapikan catatan sekunder dan analisis perilaku konsumen dari perspektif yayasan dan komunitas lokal sebelum rapat besar seperti ini. Kali ini, kami tidak menerima data tambahan dari beliau."Damian terdiam. Tangannya yang memegang pena perak berhenti bergerak.Logikanya menolak mengakui, tapi fakta berbicara. Selama setahun ini, Sienna dengan latar belakang

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 2: Membangun Batas

    Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman mewah Blackwell. Biasanya, jam tujuh pagi adalah waktu di mana Sienna sibuk di dapur, memastikan kopi hitam tanpa gula kesukaan Damian diseduh dengan suhu yang tepat, dan dasi pria itu sudah disiapkan di kursi dekat pintu.Namun pagi ini, ruang makan itu sunyi.Damian turun dengan langkah tegap, manik kemejanya sudah terkancing, tapi ada sesuatu yang mengganjal di lehernya. Dasinya belum terpasang. Matanya langsung tertuju pada meja makan. Di sana hanya ada sepiring roti bakar dan secangkir kopi yang mengepul, tapi suasana sekelilingnya kosong. Tidak ada Sienna yang berdiri menyambutnya dengan senyuman lembut.Damian menarik kursi dengan kasar, menciptakan bunyi berdecit yang memecah keheningan. Dia menoleh pada kepala pelayan yang sedang merapikan meja pantry."Di mana Sienna?" tanya Damian, suaranya terdengar dingin dan penuh penekanan.Kepala Pelayan membungkuk gugup. "Nyonya Muda sudah sarapan lebih awal d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status