Share

Bab 50. Hotel

Author: Arga_Re
last update Last Updated: 2025-12-30 20:17:02

Hotel, dimana Marley menginap selepas mabuk.

Kesadaran datang perlahan disertai denyutan tumpul di pelipis.

Marley mengerang pelan saat matanya terbuka. Langit-langit putih dengan lampu gantung modern langsung menyambut pandangannya yang terasa asing.

Dan Marley baru sadar jika ini bukan kamarnya,

Bukan Apart yang biasa ia tinggali.

Ia berusaha mengerjap beberapa kali, mencoba fokus dengan sekitarnya. Ketika pandangan difokuskan saat itu juga ia difokuskan dengan nuansa kamar yang tak asing.

Hotel.

“Ah.” Marley mendesah berat saat sadar berada dimana ia saat ini.

Ia mencoba bangkit namun, semua terasa berat. Kepalanya pening, tenggorokannya kering. Tetapi Marley tetap memaksa bangkit menjadi setengah duduk, napasnya tertahan ketika ia menyadari dirinya masih mengenakan pakaian semalam, hanya saja jaketnya sudah dikupas dan diletakkan rapi di kursi dekat ranjang.

“Brengsek …” gumamnya serak.

Ingatan datang terputus-putus ketika dia datang ke klub lalu meminum alkohol, mendengar a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 58. Tak Direstui

    Keesokan harinya, pagi membawa sinar yang terang. Sinar jingga menyelinap masuk melalui jendela kaca. Sebuah cahaya yang mengawali aktivitas para pekerja yang memiliki kesibukan.Dunia luar yang penuh dengan cahaya itu, sangat kontras dengan perasaan Giselle saat ini.Dia duduk di tepi ranjang, mengusap kedua tangannya berulang kali. Bukan karena kedinginan, akan tetapi karena Giselle sedang mempersiapkan dirinya untuk menguasai diri dalam dunia asing. ‘Semua akan baik-baik saja, Giselle. Ini tidak menakutkan seperti yang ada dalam bayanganmu.’ batin Giselle bertarung pada pikirannya sendiri. Pikiran yang menjadi momok menakutkan bagi dirinya sendiri. Berulang kali pikiran itu berbicara seperti racun, mengatakan jika dia tidak akan bisa berbaur dengan keluarga Leopold. Tetapi Giselle harus bertahan demi Arnon. Diam-diam, Arnon yang telah keluar dari ruang ganti. Menatap Giselle yang saat ini sedang melamun sambil mendesah panjang. Dari raut wajahnya, seakan sudah menggambarkan ji

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 57. Percaya Padaku

    Giselle serta Arnon langsung kembali ke kamar setelah perdebatan yang membuat suasana tegang di meja makan. Arnon menghempaskan tubuhnya untuk duduk di sofa. Dia mendongakkan kepala dengan raut wajah yang masih tampak mengeras. Dahi pria itu nampak berkerut,Rahangnya mengeras walau wibawanya masih tak berkurang sedikit pun. Sementara Giselle sendiri masih berdiri di depan pintu. Ia diam, pandangannya mengarah pada Arnon dimana mimik wajah Arnon sendiri terlihat kepayahan. Giselle merenung, merasa bersalah dengan kerumitan yang terjadi hari ini. Melihat Arnon saat ini, membuat Giselle sadar sepenuhnya dengan batas diantara mereka. Dunia Arnon jelas berbeda. Pria itu terlalu sempurna bukan hanya dari segi rupa namun, juga dari status sosial. Ia merasa kurang pantas saat ini berdiri di dunia Arnon. Dunia yang penuh dengan kemewahan yang jauh dari kehidupannya dahulu. “Arnon.” panggil Giselle setelah melangkah mendekat, dia berdiri di depan Arnon yang semula memejamkan mata. Mend

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 56. Rencana

    Ruang makan utama keluarga Theodore telah dipersiapkan dengan sempurna. Meja panjang dari kayu gelap membentang di tengah ruangan, permukaannya berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal. Peralatan makan tersusun rapi, simetris, nyaris tanpa cela. Pelayan berdiri berjajar di sisi ruangan, punggung tegak, kepala sedikit tertunduk seolah satu tarikan napas yang salah pun bisa dianggap tidak sopan. Semua orang sudah hadir. Anggota keluarga Theodore memenuhi kursi-kursi mereka, wajah-wajah yang sama dinginnya seperti siang tadi. Di antara mereka, duduk pula keluarga Marquis, termasuk Bella dan Marley. Percakapan pelan sempat terdengar, namun berhenti seketika ketika pintu ruang makan kembali terbuka. Arnon masuk lebih dulu. Dan untuk pertama kalinya dengan sengaja, tanpa keraguan tangannya menggenggam tangan Giselle. Genggaman itu tidak kuat, tidak menekan, namun tegas. Seolah berkata bahwa apa pun yang menanti di ruangan ini, mereka akan menghadapinya bersama. Langkah Gisel

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 55. Aku Khawatir

    Ruang kerja keluarga Theodore tertutup rapat begitu Arnon melangkah masuk. Aroma kayu tua dan kulit memenuhi ruangan itu bau khas kekuasaan dan keputusan besar. Rak buku tinggi menjulang di dinding, meja kerja besar berada di tengah dengan kursi kulit hitam menghadap jendela lebar yang mengarah ke taman belakang. Waktu sudah turun, tapi lampu meja menyala terang, membuat bayangan mereka jatuh tajam di lantai. Arthur Theodore berdiri membelakangi mereka, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursi. Celine menyusul masuk dan menutup pintu perlahan, lalu berdiri di sisi ruangan, melipat tangan di depan dada. Arnon sendiri tetap berdiri, tegap, tenang namun tidak dengan rahangnya yang mengeras. Arthur berbalik. Tatapan ayahnya lurus menembus Arnon, tanpa basa-basi. “Menikah,” ucap Arthur pelan namun berat, “Tanpa satu pun pemberitahuan pada kami.” Arnon tidak langsung menjawab. Ia berdiri dengan kedua tangan di saku celana, posturnya santai, terlalu santai untuk situasi seperti i

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 54. Mengunjungi Keluarga Theodore

    Pagi datang tanpa kompromi. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai vila, menyapu lantai kayu dengan warna keemasan yang dingin. Suara ombak masih terdengar, namun kali ini tidak lagi menenangkan, hanya pengingat bahwa waktu mereka telah habis. Giselle terbangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap koper yang terbuka di lantai. Gaun-gaun ringan yang kemarin terasa indah kini tampak asing, seperti pakaian dari hidup lain yang sebentar lagi harus ia tinggalkan. Arnon masih tertidur di belakangnya, napasnya teratur, wajahnya tenang. Untuk sesaat, Giselle hanya memandangi pria itu, mencoba mengingat detail kecil yang mungkin tak akan lagi ia temui dalam suasana sesantai ini. Ia bangkit perlahan, mulai melipat pakaian dengan gerakan pelan. Setiap helai yang masuk ke dalam koper terasa seperti hitungan mundur. Arnon terjaga tak lama kemudian. “Kita harus berangkat sebelum siang,” katanya, suaranya masih serak oleh sisa tidur. Giselle mengangguk. “Aku tahu.” Tidak banyak

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 53. Ambisi

    Marley tiba di kantor tepat waktu, rapi seperti biasa dengan setelan jas gelap, kemeja putih, dasi terikat sempurna. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda. Namun begitu ia melangkah masuk ke ruang kerjanya, pintu tertutup, dan dunia kembali sunyi, kepalanya justru semakin gaduh. Ia menjatuhkan map ke atas meja. “Brengsek…” gumamnya lirih. Kursi berputar sedikit saat Marley duduk. Ia menyalakan laptop membiarkan layar menyala, email terbuka dan laporan, grafik, revisi kontrak yang sekretaris sebutkan pagi tadi, Semua ada di sana. Semua penting, dan pekerjaan yang berat itu seharusnya cukup untuk menyibukkan pikirannya. Nyatanya, tidak satu pun masuk ke kepala Marley. Marley menatap layar tanpa benar-benar membaca. Kursor berkedip di dokumen kontrak, seolah mengejeknya karena diam terlalu lama. Fokus, Marley. Fokus! Ia mengusap wajahnya secara kasar, lalu meraih pulpen. Baru beberapa detik pulpen itu jatuh begitu saja dari jemarinya. “Kenapa selalu harus dia,” gumamnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status