Home / Romansa / Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan! / Bab 8. Ilusi Yang Tak Seharusnya

Share

Bab 8. Ilusi Yang Tak Seharusnya

Author: Arga_Re
last update Last Updated: 2025-11-02 19:34:14

Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, mobil yang dikendarai Arnon kini akhirnya tiba di dalam gang yang mengarah pada rumah Giselle. 

Arnon menginjak rem pada mobilnya, berhenti di depan rumah dengan bangunan minimalis yang semula ditunjuk oleh Giselle.

“Ini … rumahmu?” tanya Arnon menyipitkan mata saat memperhatikan rumah Giselle dari jendela mobil. 

Rumah itu tampak sederhana, namun terlihat asri dan rapi dari luar. Dindingnya berwarna putih gading dengan sentuhan abu tua di bagian list jendela, beberapa cat juga terlihat mengelupas seolah tak terawat. 

Di halaman depan beberapa tanaman hijau tumbuh rapi. Memberi kesan jika pemiliknya senang dengan tumbuhan hijau serta berkebun.

“Benar, rumah ini adalah milikku.” jawab Giselle sambil melepaskan safety belt yang melingkar di badannya. 

“Kau tinggal sendiri?”

“Bagaimana Anda menebaknya?” tanya balik Giselle cukup terperangah. 

Mereka baru bertemu dua kali ini namun, Giselle seakan bisa menilai jika Arnon selalu tahu segala hal hanya dengan melihat apa yang ada di depan mata pria itu. 

“Rumahmu tampak tak hidup,” komentar Arnon singkat. 

Giselle mengangguk kala itu juga, “Ya, saya hanya tinggal sendiri.” jawabnya, ada kesedihan yang tak bisa ditahan oleh Giselle saat mengucapkan jawaban tersebut. 

Mungkin, jika orang tuanya meninggal. Giselle tak akan sesedih ini saat mendapatkan pertanyaan dengan siapa ia tinggal. 

Dengan rasa percaya diri, Giselle akan berkata jika kedua orang tuanya sudah bahagia di atas sana. 

Tetapi kenyataannya, ia memiliki seorang ayah. Memiliki tapi tak pernah dianggap ada. 

Dan Arnon cukup sadar saat menangkap kesedihan di bola mata Giselle, dia memutuskan untuk tidak mengorek lebih dalam lagi. 

“Apa rumah ini aman?” tanya Arnon mengalihkan topik.

Benar saja, Giselle cepat menoleh pada Arnon. Namun tak cukup bisa mengartikan maksud pertanyaan dari Arnon. 

“Tidak ada penjaga disini?”

Sontak, Giselle tergelak saat pertanyaan konyol tersebut keluar dari mulut seorang Arnon. 

“Penjaga? Saya sepertinya tidak akan mampu membayar penjaga di rumah ini. Lagi pula, apa yang akan pencuri cari di rumah saya yang kecil ini.” jawab Giselle tersenyum lebar. 

Senyum yang memperlihatkan gigi rapinya, senyum lepas yang terlihat sangat manis. Arnon bahkan baru pertama kali melihat senyum yang menghiasi wajah cantik Giselle. 

Arnon terdiam beberapa saat, tatapan itu meski dingin seolah tak memiliki makna tapi cukup dalam saat menatap Giselle. 

Tadinya Arnon berkata bersungguh-sungguh, yang dimaksud pria itu adalah pagar rumah milik Giselle tak terlalu tinggi. 

Pagar besi hitam yang sudah berkarat itu hanya memiliki tinggi sebatas pinggang orang dewasa. 

Bagi Arnon yang hidupnya selalu berada di lingkaran kemewahan, pagar itu tak bisa dijadikan pelindung bagi seorang gadis yang hanya tinggal sendirian. 

“Aku serius, Giselle. Kau seorang gadis dan tinggal sendirian.” koreksi Arnon, “Sangat tak aman bagimu.” tukasnya serius. 

Giselle menoleh pada Arnon, senyum di bibirnya pudar saat itu juga. 

Apa pria itu mengkhawatirkannya? Pikir Giselle terenyuh. 

Ia memang kerap mendapatkan perhatian dari Marley, tapi perhatian Arnon terasa berbeda. 

Giselle tak bisa menjabarkan perbedaan di antara mereka, hanya saja hatinya mendadak gundah mendengar ujaran Arnon. 

“Marley seharusnya bisa memberikan fasilitas yang layak untukmu.” kata nya lagi. 

Giselle semakin meneguk ludah kepayahan. 

“Saya … saya lebih tenang tinggal disini.”

Arnon diam, memperhatikan mimik wajah Giselle yang kembali disembunyikan. Arnon tak lagi berkomentar mengenai tempat tinggal Giselle yang bagi dia sangat jauh dari kata layak. 

“Tuan, saya permisi. Terima kasih karena telah mengantar saya malam ini.” Pamit Giselle memecah situasi hening yang menerpa beberapa menit. 

Giselle yang sadar saat tadi sempat melamun di mobil Arnon, segera membuka pintu mobil setelah menelan pil pahit mengenai kehidupannya. 

Ketika satu kakinya sudah turun, Arnon kembali memanggil. 

“Giselle.”

“Ya?” Giselle menoleh, menatap wajah maskulin Arnon yang masih tegas dengan serius. 

“Apa Marley memperlakukanmu dengan baik?”

***

Percakapan itu, berakhir dengan Giselle yang melamun saat tubuh lelahnya dibaringkan ke ranjang. Tatapan matanya mengarah pada langit-langit kamarnya. 

“Apa Marley memperlakukanmu dengan baik?”

Kata-kata itu masih terus terngiang di atas kepalanya. Harusnya secara lantang Giselle bisa mengatakan betapa baiknya Marley padanya. 

Betapa Marley sangat perhatian padanya, 

Kekasihnya itu tak jarang mengirim makanan untuknya, 

Membawakan obat walau lewat orang lain saat ia sedang sakit. 

Tetapi setelah mengenal Arnon …. 

Giselle seperti tak mengenal definisi baik sesungguhnya itu seperti apa?! Terlalu sulit untuk menjabarkan kata ‘baik yang tersirat dalam seutas kata Arnon.

Makna ‘baik bagi pria matang dan dewasa seperti Arnon sangat kontras berbeda dengannya saat ini. 

“Apa ini? Kenapa aku jadi memikirkan pria itu.” Giselle menyadarkan dirinya yang larut dalam ilusi yang tak seharusnya. 

“Ingat, Giselle. Pria itu adalah ayah pacarmu sendiri.” gumamnya memperingati sambil menepuk pipinya sedikit keras. 

Tapi sialnya, bayangan mengenai Arnon yang menjaganya malam itu kembali hadir. 

Masih adakah di dunia ini pria sebaik Arnon? Yang tidak memanfaatkan kelemahannya saat ia sendiri sedang di obati. 

Pria itu membantu dengan keras menjaga mahkota miliknya pada malam itu. 

Ah, memikirkannya saja sudah membuat Giselle kesulitan tidur malam ini. 

“Jika dipikir-pikir, kenapa ayah Marley begitu muda. Apa dulunya Tuan Arnon menikah di usia muda?” tanya Giselle kebingungan. 

Dan lagi perkenalan ini hanya untuk ayah Marley saja. Marley hanya menjelaskan jika ibunya sakit keras dan telah lama meninggal. 

Kisah yang sama membuat Giselle dulunya bisa cepat akrab dengan Marley. Tetapi setelah mengenal Arnon, hidup Giselle seakan tak lagi tenang. Ia seolah dihantui oleh sikap dewasa seorang Arnon Theodore. 

Pikiran yang tak seharusnya ada, karena ia telah memutuskan untuk bertunangan dengan Marley. 

Artinya Arnon akan menjadi ayah mertuanya kelak. Bagaimana bisa ia memiliki perasaan tak tentu ini. 

“Giselle, kau sungguh tak tahu diri.” Giselle memaki dirinya sendiri. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 58. Tak Direstui

    Keesokan harinya, pagi membawa sinar yang terang. Sinar jingga menyelinap masuk melalui jendela kaca. Sebuah cahaya yang mengawali aktivitas para pekerja yang memiliki kesibukan.Dunia luar yang penuh dengan cahaya itu, sangat kontras dengan perasaan Giselle saat ini.Dia duduk di tepi ranjang, mengusap kedua tangannya berulang kali. Bukan karena kedinginan, akan tetapi karena Giselle sedang mempersiapkan dirinya untuk menguasai diri dalam dunia asing. ‘Semua akan baik-baik saja, Giselle. Ini tidak menakutkan seperti yang ada dalam bayanganmu.’ batin Giselle bertarung pada pikirannya sendiri. Pikiran yang menjadi momok menakutkan bagi dirinya sendiri. Berulang kali pikiran itu berbicara seperti racun, mengatakan jika dia tidak akan bisa berbaur dengan keluarga Leopold. Tetapi Giselle harus bertahan demi Arnon. Diam-diam, Arnon yang telah keluar dari ruang ganti. Menatap Giselle yang saat ini sedang melamun sambil mendesah panjang. Dari raut wajahnya, seakan sudah menggambarkan ji

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 57. Percaya Padaku

    Giselle serta Arnon langsung kembali ke kamar setelah perdebatan yang membuat suasana tegang di meja makan. Arnon menghempaskan tubuhnya untuk duduk di sofa. Dia mendongakkan kepala dengan raut wajah yang masih tampak mengeras. Dahi pria itu nampak berkerut,Rahangnya mengeras walau wibawanya masih tak berkurang sedikit pun. Sementara Giselle sendiri masih berdiri di depan pintu. Ia diam, pandangannya mengarah pada Arnon dimana mimik wajah Arnon sendiri terlihat kepayahan. Giselle merenung, merasa bersalah dengan kerumitan yang terjadi hari ini. Melihat Arnon saat ini, membuat Giselle sadar sepenuhnya dengan batas diantara mereka. Dunia Arnon jelas berbeda. Pria itu terlalu sempurna bukan hanya dari segi rupa namun, juga dari status sosial. Ia merasa kurang pantas saat ini berdiri di dunia Arnon. Dunia yang penuh dengan kemewahan yang jauh dari kehidupannya dahulu. “Arnon.” panggil Giselle setelah melangkah mendekat, dia berdiri di depan Arnon yang semula memejamkan mata. Mend

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 56. Rencana

    Ruang makan utama keluarga Theodore telah dipersiapkan dengan sempurna. Meja panjang dari kayu gelap membentang di tengah ruangan, permukaannya berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal. Peralatan makan tersusun rapi, simetris, nyaris tanpa cela. Pelayan berdiri berjajar di sisi ruangan, punggung tegak, kepala sedikit tertunduk seolah satu tarikan napas yang salah pun bisa dianggap tidak sopan. Semua orang sudah hadir. Anggota keluarga Theodore memenuhi kursi-kursi mereka, wajah-wajah yang sama dinginnya seperti siang tadi. Di antara mereka, duduk pula keluarga Marquis, termasuk Bella dan Marley. Percakapan pelan sempat terdengar, namun berhenti seketika ketika pintu ruang makan kembali terbuka. Arnon masuk lebih dulu. Dan untuk pertama kalinya dengan sengaja, tanpa keraguan tangannya menggenggam tangan Giselle. Genggaman itu tidak kuat, tidak menekan, namun tegas. Seolah berkata bahwa apa pun yang menanti di ruangan ini, mereka akan menghadapinya bersama. Langkah Gisel

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 55. Aku Khawatir

    Ruang kerja keluarga Theodore tertutup rapat begitu Arnon melangkah masuk. Aroma kayu tua dan kulit memenuhi ruangan itu bau khas kekuasaan dan keputusan besar. Rak buku tinggi menjulang di dinding, meja kerja besar berada di tengah dengan kursi kulit hitam menghadap jendela lebar yang mengarah ke taman belakang. Waktu sudah turun, tapi lampu meja menyala terang, membuat bayangan mereka jatuh tajam di lantai. Arthur Theodore berdiri membelakangi mereka, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursi. Celine menyusul masuk dan menutup pintu perlahan, lalu berdiri di sisi ruangan, melipat tangan di depan dada. Arnon sendiri tetap berdiri, tegap, tenang namun tidak dengan rahangnya yang mengeras. Arthur berbalik. Tatapan ayahnya lurus menembus Arnon, tanpa basa-basi. “Menikah,” ucap Arthur pelan namun berat, “Tanpa satu pun pemberitahuan pada kami.” Arnon tidak langsung menjawab. Ia berdiri dengan kedua tangan di saku celana, posturnya santai, terlalu santai untuk situasi seperti i

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 54. Mengunjungi Keluarga Theodore

    Pagi datang tanpa kompromi. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai vila, menyapu lantai kayu dengan warna keemasan yang dingin. Suara ombak masih terdengar, namun kali ini tidak lagi menenangkan, hanya pengingat bahwa waktu mereka telah habis. Giselle terbangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap koper yang terbuka di lantai. Gaun-gaun ringan yang kemarin terasa indah kini tampak asing, seperti pakaian dari hidup lain yang sebentar lagi harus ia tinggalkan. Arnon masih tertidur di belakangnya, napasnya teratur, wajahnya tenang. Untuk sesaat, Giselle hanya memandangi pria itu, mencoba mengingat detail kecil yang mungkin tak akan lagi ia temui dalam suasana sesantai ini. Ia bangkit perlahan, mulai melipat pakaian dengan gerakan pelan. Setiap helai yang masuk ke dalam koper terasa seperti hitungan mundur. Arnon terjaga tak lama kemudian. “Kita harus berangkat sebelum siang,” katanya, suaranya masih serak oleh sisa tidur. Giselle mengangguk. “Aku tahu.” Tidak banyak

  • Tuan, Calon Menantumu Tak Tahan!   Bab 53. Ambisi

    Marley tiba di kantor tepat waktu, rapi seperti biasa dengan setelan jas gelap, kemeja putih, dasi terikat sempurna. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda. Namun begitu ia melangkah masuk ke ruang kerjanya, pintu tertutup, dan dunia kembali sunyi, kepalanya justru semakin gaduh. Ia menjatuhkan map ke atas meja. “Brengsek…” gumamnya lirih. Kursi berputar sedikit saat Marley duduk. Ia menyalakan laptop membiarkan layar menyala, email terbuka dan laporan, grafik, revisi kontrak yang sekretaris sebutkan pagi tadi, Semua ada di sana. Semua penting, dan pekerjaan yang berat itu seharusnya cukup untuk menyibukkan pikirannya. Nyatanya, tidak satu pun masuk ke kepala Marley. Marley menatap layar tanpa benar-benar membaca. Kursor berkedip di dokumen kontrak, seolah mengejeknya karena diam terlalu lama. Fokus, Marley. Fokus! Ia mengusap wajahnya secara kasar, lalu meraih pulpen. Baru beberapa detik pulpen itu jatuh begitu saja dari jemarinya. “Kenapa selalu harus dia,” gumamnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status