LOGINUdara dingin menyeruak ke dalam gubuk bambu yang rapuh itu. Angin malam merintikkan hujan di atap dedaunan, menimbulkan suara rintik-rintik seperti bisikan yang tak henti. Api kecil dari tungku perapian menjadi satu-satunya sumber hangat dan cahaya. Bayu duduk menyandarkan tubuhnya, mengenakan celana panjang berbahan kain, bertelanjang dada, mencoba mengeringkan tubuhnya yang lembap karena hujan. Sementara Jifanya, mengenakan sarung hingga dada, menyampirkan kemeja besar milik Bayu, hanya sempat mengancing bagian atasnya.Ia duduk di dekat api, kedua tangannya diarahkan ke hangatnya tungku.“Aku hanya ingin kamu merasa nyaman, Jifanya,” suara Bayu pelan namun tulus.Jifanya menoleh. Senyumnya tipis tapi cukup untuk mengusir dingin dari hati siapa pun. “Aku nyaman, kalau kamu menemaniku di gubuk menyeramkan ini, Bayu. Sudah, jangan memperpanjang lagi.”Diam-diam, hati Bayu bergetar. Kata-kata Jifanya seperti panah yang
Proyek yang sedang mereka jalankan menuntut kehadiran Jifanya di lokasi pembangunan yang cukup jauh di luar kota. Sebuah desa di Parung yang masih dikelilingi hutan bambu dan perbukitan. Perjalanan panjang dan cukup berbahaya jika dilalui oleh seorang perempuan hamil. Apalagi, Jifanya bukan sekadar rekan kerja. Ia, lebih dari itu. Namun, ia juga istri dari kakaknya, Kenan.Tadinya, ia sudah mencoba meminta izin pada pihak perusahaan untuk mewakili Jifanya, namun ditolak. Mereka menginginkan pemilik desain datang langsung. Bayu kesal, marah, frustrasi. Ia mengacak rambutnya, memukul meja, hingga tak sengaja menjatuhkan map berisi dokumen kontrak yang pernah ditandatangani Jifanya."Kenapa waktu itu kamu harus memberikan gambar yang bukan milikmu, Jifanya, kenapa?" gumam Bayu dengan raut wajah suram. Ia mencengkeram kepalanya. Kepalanya penuh tekanan, pikirannya kusut."Harusnya tadi kita mundur saja dari proyek ini,” ujar BayuJifanya t
Pagi itu, embun masih menggantung di daun-daun ketika Bayu duduk termenung di balkon apartemennya. Hatinya penuh gundah. Kata-kata sang ayah semalam terus terngiang, memaksanya membuat pilihan yang sangat berat. Mengikhlaskan Jifanya untuk Kenan."Bagaimana mungkin, Ayah," gumamnya lirih. "Bagaimana aku harus melupakan seseorang yang setiap harinya kutatap, kudengar tawanya, kulihat senyumnya?"Bayu tahu, Jifanya bukan perempuan biasa. Ia adalah sosok kuat yang meski masa lalunya penuh luka, tetap menebar ceria dan harapan. Tapi justru itu yang membuatnya makin sulit mengabaikan perasaannya.Mustofa yang baru saja menyeduh kopi pagi datang menghampiri."Nak, bagaimana kalau kamu pergi ke London sementara waktu? Hingga Jifanya melahirkan," saran ayahnya."Aku tidak bisa, proyek kerja sama baru saja ditandatangani. Banyak yang harus kuselesaikan sendiri."Mustofa menatap putranya lekat-lekat. Ia tahu Bayu tengah berperang dengan
Suasana mall sore itu masih riuh dengan alunan musik dan gelak tawa anak-anak yang bermain di lantai bawah. Di area atrium, panggung kecil yang dihiasi lampu-lampu gantung memancarkan cahaya hangat. Jifanya berdiri di sana, di balik keyboard digital, suaranya yang merdu mengalun membawakan lagu berbahasa Turki “Hüsran” karya Mustafa Ceceli. Nada-nadanya melodius, menyayat hati, seolah menyuarakan duka yang tersembunyi di balik senyum manisnya.Duduk di antara penonton, Bayu menatap Jifanya tanpa berkedip. Ia mengenali getaran luka dalam suara wanita yang ia cintai, meski tak pernah ia miliki. Di sampingnya, ayahnya, Mustofa Lesmana, menggenggam botol minum dengan tangan yang sedikit bergetar.Namun seseorang di antara kerumunan mulai memperhatikan lebih dalam. Seorang pria berdiri tegak, dengan jas abu lembut dan wajah oriental yang mencuri perhatian. Pria itu tidak lain adalah Kuret Lesmana, musisi kelas dunia yang malam itu dijadwalkan tampil di hote
Pagi itu Jakarta belum benar-benar terbangun. Embun masih melekat di dedaunan balkon apartemen, ketiks Jifanya menarik selimut lebih rapat ke tubuhnya. Ia enggan bangun, padahal biasanya ia adalah orang pertama yang bersemangat memulai hari. Tapi tidak hari ini.Sikap dingin Bayu kemarin masih membekas. Tatapan sinis pria itu, kata-katanya yang menusuk, membuat semangat Jifanya menguap. Ia tak punya tenaga untuk berpura-pura lagi.Suara langkah kaki menghampiri. Kenan duduk di samping tempat tidur, kaos singletnya memperlihatkan tubuh atletis, dengan kulit sawo matang yang kontras dengan mata tajam khas pria keturunan Arab. Ia baru saja selesai berolahraga.“Ada yang terjadi?” tanyanya, matanya lurus menatap Jifanya.Jifanya menggeleng, menatap suaminya dengan pandangan yang entah apa artinya. Ia tahu Kenan pria tampan, dan secara lahiriah, ia adalah paket lengkap yang diidamkan banyak perempuan. Tapi kenap
Sore itu langit Jakarta berwarna jingga lembut. Di dalam mall elite yang berdiri megah di tengah kota, langkah kaki Jifanya terasa ringan saat menyusuri lorong-lorong toko bayi. Bersamanya, Bayu, pria yang selama ini menjadi bayang-bayang diam dalam hidupnya, berjalan perlahan, mendampinginya memilih pakaian untuk calon bayi perempuan mereka.Menurut hasil USG, janin yang tumbuh di rahim Jifanya adalah seorang perempuan. Dan meskipun Bayu tidak pernah menyuarakan cinta, kehadirannya yang tenang adalah sandaran paling nyata yang bisa Jifanya genggam.“Bagaimana menurutmu dengan yang ini?” tanya Jifanya, mengangkat baju bayi berwarna pink pucat.Bayu mengangkat alis, menatap pakaian mungil itu. “Warna pink? Memangnya cuma itu warna yang cocok buat bayi perempuan? Coba lihat yang biru, siapa tahu lebih segar.”Jifanya tersenyum. “Aku suka biru juga. Tapi.” Ia meletakkan baju itu kembali ke rak. “Bukanka







