Share

Chapter 3

Author: Iamyourhappy
last update publish date: 2026-02-09 16:59:40

Semua orang, seperti Serena, terkejut. Bagaimana bisa pria yang biasanya dikenal dingin dan enggan terlibat dengan wanita tersebut mengutarakan hal semacam itu dengan santai!

Akibatnya, semua orang langsung bersorak-sorai, terutama Max.

“Whooaa!!! Ayo terima, Serena! Terima saja! Tidak ada ruginya!”

“Apa hari ini kita akan menyaksikan persatuan dua musuh bebuyutan?!”

“Aaaaaahh aku terlalu kaget!!”

Seruan-seruan itu membuat Serena panik dan serba salah. Dia bukan hanya gagal menjauh dari masalah, tapi sekarang dia sudah menjadi masalah utama di pesta itu sendiri!

Dada Serena terasa sesak.

“A-aku—”

Belum sempat mengatakan apa pun, Martin tiba-tiba tertawa pelan, membuat Serena mengalihkan pandangan bingung.

“Ah, maaf. Kau terlihat begitu lucu,” ucapnya. “Melihat ekspresimu, sepertinya aku tarik lagi ucapanku. Jangan dijawab.”

Serena membeku. “Hah?” Dia tampak bingung.

Martin memalingkan wajah, dan senyumnya berubah tipis, hampir seperti pasrah, lalu dia menatap teman-teman mereka. “Sebaiknya jangan dibicarakan lagi. Aku takut Serena akan menolakku dan aku tidak bisa bangkit lagi dari rasa sakit hati,” ucapnya, sebelum kemudian senyum cerah kembali. “Ganti topik saja. Kita bahas yang lain.”

Sontak semua orang berseru, “BOOO!”

“Baru nembak udah mundur!”

“Pengecut! Bukan lelaki sejati!”

Tawa pecah lagi. Kali ini Martin yang jadi sasaran. Bahunya ditepuk-tepuk, dicemooh bercanda, dipaksa minum.

Serena hanya diam menatapnya.

Apa pria ini baru saja… membantunya?

Kalau tadi Serena menjawab, apa pun jawabannya pasti jadi bahan olok-olok semalaman. Tapi Martin malah menarik kembali ucapannya sendiri, seolah semua itu hanya candaan.

Seolah memberi Serena jalan keluar.

Kini dia duduk santai, membiarkan dirinya jadi pusat perhatian, pura-pura menerima ejekan teman-teman.

Itu… jelas bantuan, bukan?

Di saat itu, seseorang tiba-tiba menyikut lengan Serena pelan.

Serena menoleh. Bela sudah mencondongkan tubuh, berbisik dekat telinganya.

“Sayang banget, ya. Padahal hampir saja kau pacaran sama pewaris Benson Group.”

Serena mendengus pelan. “Siapa juga yang mau? Dia jelas cuma bercanda buat meramaikan suasana.” Sinis, dia menambahkan, “Atau mempermalukanku saja.”

Kalimat Serena membuat Bela menaikkan alis. “Kau berpikir begitu?” Dia melirik ke arah Martin, lalu kembali menatap Serena. “Tapi kurasa Martin menyukaimu.”

Serena yang baru saja menggigit camilan langsung terbatuk.

“Uhuk-uhuk-uhuk!” Dia langsung meraih gelas minumnya yang berisi air putih. Saat selamat, dia langsung mendelik ke arah Bela. “Hah?!

“Aku serius,” balas Bela lagi penuh penekanan.

Serena menghela napas kasar. “Bela, kau ngomong apa sih? Kami ini musuh bebuyutan. Dari dulu hingga sekarang, setiap kali kami bertemu, kami hanya bisa berdebat! Sifat kami bertolak-belakang. Kami lebih sering saling menghina daripada menyapa!”

Bela memutar bola mata. “Pantas saja kau masih single walaupun cantik. Kau ini nggak peka sama sekali.”

“Apa hubungannya—”

“Diam.”

Bela menjepit dagu Serena pelan dan memaksanya menoleh ke sebelah kanan, tempat Martin sedang berkumpul dengan Max dan beberapa pria lain.

Di antara kawan-kawan sebayanya, Martin tampak paling menonjol tanpa perlu berusaha dengan wibawa dan gestur tenangnya. Khas seorang pria dari keluarga kaya dan terdidik.

Bela berbisik, “Hitung ya. Satu… dua… tiga…”

Tepat di hitungan ketiga, Martin menoleh.

Mata mereka bertemu.

Dan pria itu tersenyum tipis.

Bukan senyum formal. Bukan basa-basi.

Senyum yang terasa… khusus.

Serena refleks menepis tangan Bela dan memalingkan wajah.

“Lihat, kan!” Bela berbisik heboh. “Dari tadi Martin selalu melakukan itu! Dia menatapmu diam-diam setiap dua menit sekali! Kalau bukan suka, apalagi namanya?”

Serena kembali menghela napas kasar, lalu dia menggeleng keras. Bela pasti salah paham.

Dari dulu, Martin hanya senang menjahilinya, menggodanya, menganggapnya sebagai hiburan di tengah kehidupan sekolah yang membosankan. Dan sekarang, mungkin dia juga menganggapnya hiburan di tengah reuni tidak penting!

Jelas bukan suka.

Tidak mungkin.

Tapi… omongan Bela cukup meracuninya, hingga Serena kembali memberanikan diri untuk melirik lagi.

Martin sudah kembali bicara dengan teman-temannya. Tertawa pelan. Lalu, sambil meneguk anggur merah, pria itu kembali melirik ke arahnya.

Untuk kedua kalinya. Sesuai hitungan Bela!

Dada Serena berdebar keras satu kali.

Kali ini, dia tidak bisa menyangkal. Pria itu… memang benar memperhatikannya!

Apa mungkin pria itu—

“Kalau pembayaran Ibu telat, yang datang setelah ini bukan saya…”

Tiba-tiba, kalimat Pak Budi melambung ke dalam benak.

Seketika, Serena tersadarkan akan situasinya yang buruk.

Dia tertawa pahit.

Di tengah situasi seperti ini, beraninya dia berpikir untuk menjalin hubungan?

Tidak bisa, dia harus fokus bekerja untuk melunasi utang. Kalau tidak, jangankan pacaran, mungkin dia akan mati lebih dulu sebelum itu.

Dan lagi… pun Martin memiliki rasa padanya, dunia mereka berbeda jauh.

Pria itu seorang pewaris, sedangkan dirinya hanya pengacara dengan utang keluarga yang menumpuk.

Menghela napas kesal pada dirinya sendiri, Serena buru-buru meraih gelas di depannya dan meneguk isinya sampai habis, seolah ingin menelan semua pikiran aneh itu.

Tapi, baru saja selesai mengosongkan gelas, tiba-tiba—

“Serena!”

Suara Bela terdengar panik, membuat Serena menoleh. “Hah?!”

“Kenapa kau minum dari gelas itu!? Itu gelasku!”

Serena mengerjap, lalu menatap isi gelasnya.

Dan benar saja, warnanya bukan bening seperti air mineral yang seharusnya, melainkan… merah.

Anggur.

Memiliki toleransi alkohol yang rendah, efeknya langsung cepat terasa. Kepala Serena mendadak langsung ringan.

“Ah… sial…”

“Serena—!”

“Aku baik-baik saja.” Serena bangkit dari duduknya, kemudian berjalan dan ingin pergi ke toilet.

Ia sempat berhenti dan menggelengkan kepalanya, berharap ia bisa melihat lebih jelas.

Tetapi karena efek alkohol terlalu kuat, kini penglihatannya terasa kabur. Namun dengan berjalan perlahan, ia berhasil masuk ke dalam toilet.

Tetapi tidak lama, ia menoleh karena ada seseorang yang memanggil namanya.

“Kau baik-baik saja, Serena Jane?” tanya pria itu.

Serena mendongak dan ternyata ada pria tampan yang menjemputnya. Baru saja melangkah lebih dekat, Serena hampir terjatuh jika tidak buru-buru ditangkap pleh pria itu.

Kedua mata mereka bertemu dan Serena gagal menahan diri untuk tidak mencium bibir tebal berwarna merah alami dari pria itu.

Kedua tangannya mengalun dan kakinya berjinjit. Kemudian mendekatkan bibirnya dan mencium bibir pria itu.

“Kau menggodaku hm?” pria itu mendorong tubuh Serena, menghimpitnya di tembok, seakan sedang mengukung Serena supaya tidak bisa pergi.

Bukannya marah, Serena justru merasa ada desir kuat yang menghampirinya, lalu membuatnya kehilangan fokus.

Kepalanya terangkat karena bibir pria itu menyapu lehernya lembut.

Dan setelahnya Serena tidak bisa menolak sentuhan yang membuatnya melayang.

“Ada tempat yang lebih baik dari di sini.” Pria itu diam-diam membawanya pergi, lalu sentuhan pria itu berlanjut dan membuatnya melupakan segala hal menyakitkan di dunia ini.

Dressnya berjatuhan di lantai, pakaiannya musnah, dan tubuhnya hilang kendali.

**

Entah berapa lama Serena telah tertidur. Tapi, saat terbangun, dia merasa kepalanya begitu berat.

Serena mengernyit, pandangannya lumayan kabur. Ia harus mengerjap beberapa kali sampai menyadari bahwa dirinya di tempat asing.

Menatap kamar yang begitu bagus, dia membatin.

Di mana ini? Seperti kamar hotel?

Tunggu.

Kamar hotel?!

Serena langsung bangkit cepat, dan di saat bersamaan selimut yang membungkus tubuhnya langsung melorot, mempertontonkan tubuhnya yang hanya dibalut bathrobe.

Terperangah sesaat, Serena refleks meraba ke dalam. Ternyata, dia tidak mengenakan apa pun!

Dia langsung membeku.

Tapi sebelum otaknya benar-benar memproses, sebuah suara dalam terdengar berkata, “Kau sudah bangun?”

Mendengar suara itu, Serena merasa darahnya berhenti mengalir. Dia cepat menoleh ke kanan, lalu terbelalak mendapati sosok yang baru saja terbangun dan tengah berusaha mendudukkan diri dengan tubuh setengah telanjangnya yang menawan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 278

    Anniversary yang diinginkan Serena adalah makan dengan teman terdekat. Dan hari ini Martin mewujudkannya, memberikan nuansa hangat sebagai perayaan ulang tahun pernikahan mereka. Halaman taman belakang disulap dengan begitu cantik. Meja panjang dilapisi oleh taplak berwarna putih. Lalu sisi kanan dan kirinya terdapat kursi yang digunakan untuk duduk pada tamu. “Cheers untuk Serena dan Martin!” teriak Bela mengangkat gelas yang berisi anggur. Semua orang tertawa dan akhirnya mengangkat gelasnya. Lalu disusul oleh bunyi gelas yang berdenting. Bela menoleh ketika suaminya mengusap pinggangnya pelan. “Kamu bersemangat karena ingin minum bukan?” “Tentu saja.” Bela mengangguk. “Meski Serena bilang hanya makan-makan, tapi sesungguhnya ini pesta.” Menatap sahabatnya sebentar. Sedangkan Serena hanya menggeleng pelan. “Kamu yang menjaga anak-anak,” ucap Bela. “Jangan minum alkohol setetes pun.” Jason meneguk ludahnya mendengar larangan dari istrinya. Tapi ia mengangguk setuju. Bagaimana

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 277

    “Isaac,” lirih Ava menatap seorang pria yang berada di hadapannya sedang mengulurkan tangan.Isaac tersenyum tipis dengan tangan yang masih terulur ingin membantu Ava.Tidak sengaja lewat dan melihat seseorang yang menjadi pusat perhatian. Dan anehnya meski tidak pernah bertemu, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah perempuan yang membuatnya berantakan 5 tahun yang lalu.Isaac menunduk. “Ayo aku bantu.”Ava mengusap pipinya kemudian menerima uluran tangan Isaac. “Aku bisa pulang sendiri.”“Terima kasih.” Ava baru saja ingin berjalan, tapi langkahnya hampir tersandung lagi.Untungnya ada Isaac yang menangkapnya dengan cepat. Isaac merengkuh pinggang Ava untuk membantu. “Hati-hati.”“Aku akan mengantarmu.” Isaac akhirnya membantu Ava untuk masuk ke dalam mobil.Dan ketika berada di dalam mobil, kecanggungan pun terjadi.Ava membuang wajah ke samping, lalu kedua tangannya bersindekap. Sesekali menghembuskan napas kasar.Isaac menoleh ke samping, kemudian menghela napas pelan. “

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 276

    Seorang perempuan tengah mengusap rambutnya kasar keluar dari sebuah rumah besar.Berjalan sendiri dan terburu-buru, namun ada satu pria yang mengejarnya.“Ava tunggu!” Arjuna berlari lalu menangkap tangan Ava. “Tunggu, sebentar.”Ava melepaskan tangan Arjuna. “Aku sudah berusaha membuat orang tuamu senang, tapi mereka tetap tidak merestui kita. Aku tahu aku bukan dari keluarga baik-baik seperti yang orang tuamu inginkan, tapi mereka tidak berhak menghina ibuku yang sedang berjuang di rumah sakit.”“Maafkan aku. Kita nikah lari saja oke?” Arjuna menyentuh kedua bahu kekasihnya.Satu tahun mereka menjalin hubungan asmara. Tetapi, selama setahun itu pula hubungan mereka ditentang oleh keluarga Arjuna.Ava tahu backround keluarganya yang membuat orang tua Arjuna enggan memberi restu.Tapi, ia berusaha memenangkan hati orang tua Arjuna dengan membelikan beberapa barang untuk ibu Arjuna setiap kali dirinya gajian, membawa banyak makanan setiap kali datang ke rumah orang tua Arjuna dan diri

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 275

    Dua anak yang sedang kejar-kejaran itu membuat kedua orang tuanya pusing.Anak kembar yang sedang berlarian itu sedang berebut mainan, tidak ada yang mau mengalah meski mereka saudara. Dan meski masing-masing mereka sudah mendapatkan mainan yang sama.Bela berkacak pinggang. “Berhenti!” ucapnya seperti seorang komando barisan di upara bendera.Dua anak itu akhirnya berhenti, lalu berbaris seperti layaknya barisan.“Jangan bertengkar, mainan kalian sama,” ucap Bela begitu lelah. Kemudian berkacak pinggang dan mengambil sapu panjang yang berada di sampingnya.“Mau ini?” tanyanya.“Tidak,” balas mereka serempak.Tapi itu hanya terjdi beberapa menit setelahnya, mereka sempat kembali bermain dengan tertib tapi setelah itu kembali bertengkar lagi.Bela menggigit bibir bawahnya, kemudian ikut berlari mengejar anaknya sembari membawa sapu panjang.“Mana yang nakal? Sini Mama cambuk!” Bela menggila. Ikut berlarian mengejar dua anaknya yang kini ketakutan dengan sapu panjang.“AAAA MAMA!”“MAMA

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 274

    Mathias berpura-pura tidak mendengar pertanyaan orang tuanya. Ia sibuk memeluk bola dengan pipi yang sudah merah.Persis seperti Serena ketika tersipu.“Sepertinya aku tahu,” ucap Martin tersenyum sembari memandang istrinya.Lalu menatap putranya melalui spion kaca. “Anak baru ‘kan? Dia bilang kamu tampan.”Mathias mendongak dan menatap ayahnya melalui kacanya. Wajahnya tidak bisa berbohong jika ucapan ayahnya memang benar.“Ada murid baru?” tanya Serena menoleh ke belakang. “Sungguh? Seperti apa dia?”Mathias menatap Serena dengan ragu. Kemudian tersenyum. “Dia cantik,” ucapnya sangat pelan, seperti seseorang yang begitu gengsi untuk memuji lawan jenis.Serena tertawa, kemudian menatap lurus ke depan.Martin melirik istrinya lalu menyenggol lengan istrinya pelan.Mereka sama-sama terkejut karena sudah ditahap putra mereka tahu mana yang cantik.“Bertemanlah dengan dia,” ucap Serena menahan senyumnya.Mathias mengangguk pelan, kemudian melompat turun dan mendekati bangku orang tuanya.

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 273

    5 tahun berlalu.“Hai boy!” Martin menyambut putranya yang baru saja keluar dari sekolah.Mathias berlari kecil ke arah ayahnya yang menjemputnya. Dengan senyum sumringah dan tubuh yang begitu ringan, Mathias langsung melompat masuk ke dalam mobil.Martin menatap bola yang dilempar Mathias ke belakang. “Habis main bola?”“Iya,” jawab Mathias kemudian mengulurkan tangannya dan menunjukkan lima jarinya.“Tos!” Martin bertos ria dengan putranya.Ia tidak tahu kenapa Mathias begitu suka dengan sepak bola. Setiap hari selalu membawa bola sendiri ke sekolah. Lalu di bawa pulang dan keesokan harinya di bawa lagi.Saat ditanya kenapa tidak ditinggal di sekolah saja, katanya tidak mau takut bolanya hilang.Yasudah, Martin tidak masalah selagi putranya bisa sekolah dengan baik dan semangat.“Kita jemput Mommy dulu,” ucap Martin menyetir dengan pelan. tidak seperti biasanya, karena sekarang ia menyetir sendiri.“Bagaimana dengan sekolahmu tadi? Ada yang menyenangkan?” tanya Martin.Mathias duduk

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 192

    Martin bukannya tidak ingin menghalangi Serena pergi. Tetapi menurutnya kesalahan Serena benar-benar fatal.Serena menyukai pria lain di saat masih bersamanya.“Aku tidak sedang membohongi diriku, aku juga tidak ingin bercerai tapi Serena memilih pria lain,” balas Martin menatap Jason yang memunggu

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 190

    Bela bersindekap, ada satu papan yang ia baca sebelum masuk ke dalam ruang.‘Staff only.’Lalu pandangan Bela menatap sekitar dan ada banyak rak yang berisi bahan makanan.“Kita tidak bisa di sini lama-lama,” ucap Bela mendorong Jason menjauh darinya.Jason menghela napas pelan, ia terpaksa mengges

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 184

    Kehidupan Serena dan Martin semakin dingin.Entah sudah berapa lama mereka tidak berbicara lebih panjang karena Serena selalu menghindar.Dan Martin mulai menyerah dengan usahanya yang tidak membuahkan hasil.Namun, meski keadaan yang semakin sulit, Martin tetap membantu Serena.Mengirimkan seluruh

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 183

    “Aku tidak bisa,” ucap Martin.Deg!Serena merasa tersadar dari semua khayalannya bersama Martin.Ia kira cukup hidup bersama meski tanpa ungkapan perasaan. Tetapi, ia tidak bisa apalagi mendengar jawaban Martin yang membuatnya langsung tersadar.“Aku tidak bisa memutuskan kerja sama begitu saja, t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status