MasukSemua orang, seperti Serena, terkejut. Bagaimana bisa pria yang biasanya dikenal dingin dan enggan terlibat dengan wanita tersebut mengutarakan hal semacam itu dengan santai!
Akibatnya, semua orang langsung bersorak-sorai, terutama Max.
“Whooaa!!! Ayo terima, Serena! Terima saja! Tidak ada ruginya!”
“Apa hari ini kita akan menyaksikan persatuan dua musuh bebuyutan?!”
“Aaaaaahh aku terlalu kaget!!”
Seruan-seruan itu membuat Serena panik dan serba salah. Dia bukan hanya gagal menjauh dari masalah, tapi sekarang dia sudah menjadi masalah utama di pesta itu sendiri!
Dada Serena terasa sesak.
“A-aku—”
Belum sempat mengatakan apa pun, Martin tiba-tiba tertawa pelan, membuat Serena mengalihkan pandangan bingung.
“Ah, maaf. Kau terlihat begitu lucu,” ucapnya. “Melihat ekspresimu, sepertinya aku tarik lagi ucapanku. Jangan dijawab.”
Serena membeku. “Hah?” Dia tampak bingung.
Martin memalingkan wajah, dan senyumnya berubah tipis, hampir seperti pasrah, lalu dia menatap teman-teman mereka. “Sebaiknya jangan dibicarakan lagi. Aku takut Serena akan menolakku dan aku tidak bisa bangkit lagi dari rasa sakit hati,” ucapnya, sebelum kemudian senyum cerah kembali. “Ganti topik saja. Kita bahas yang lain.”
Sontak semua orang berseru, “BOOO!”
“Baru nembak udah mundur!”
“Pengecut! Bukan lelaki sejati!”
Tawa pecah lagi. Kali ini Martin yang jadi sasaran. Bahunya ditepuk-tepuk, dicemooh bercanda, dipaksa minum.
Serena hanya diam menatapnya.
Apa pria ini baru saja… membantunya?
Kalau tadi Serena menjawab, apa pun jawabannya pasti jadi bahan olok-olok semalaman. Tapi Martin malah menarik kembali ucapannya sendiri, seolah semua itu hanya candaan.
Seolah memberi Serena jalan keluar.
Kini dia duduk santai, membiarkan dirinya jadi pusat perhatian, pura-pura menerima ejekan teman-teman.
Itu… jelas bantuan, bukan?
Di saat itu, seseorang tiba-tiba menyikut lengan Serena pelan.
Serena menoleh. Bela sudah mencondongkan tubuh, berbisik dekat telinganya.
“Sayang banget, ya. Padahal hampir saja kau pacaran sama pewaris Benson Group.”
Serena mendengus pelan. “Siapa juga yang mau? Dia jelas cuma bercanda buat meramaikan suasana.” Sinis, dia menambahkan, “Atau mempermalukanku saja.”
Kalimat Serena membuat Bela menaikkan alis. “Kau berpikir begitu?” Dia melirik ke arah Martin, lalu kembali menatap Serena. “Tapi kurasa Martin menyukaimu.”
Serena yang baru saja menggigit camilan langsung terbatuk.
“Uhuk-uhuk-uhuk!” Dia langsung meraih gelas minumnya yang berisi air putih. Saat selamat, dia langsung mendelik ke arah Bela. “Hah?!
“Aku serius,” balas Bela lagi penuh penekanan.
Serena menghela napas kasar. “Bela, kau ngomong apa sih? Kami ini musuh bebuyutan. Dari dulu hingga sekarang, setiap kali kami bertemu, kami hanya bisa berdebat! Sifat kami bertolak-belakang. Kami lebih sering saling menghina daripada menyapa!”
Bela memutar bola mata. “Pantas saja kau masih single walaupun cantik. Kau ini nggak peka sama sekali.”
“Apa hubungannya—”
“Diam.”
Bela menjepit dagu Serena pelan dan memaksanya menoleh ke sebelah kanan, tempat Martin sedang berkumpul dengan Max dan beberapa pria lain.
Di antara kawan-kawan sebayanya, Martin tampak paling menonjol tanpa perlu berusaha dengan wibawa dan gestur tenangnya. Khas seorang pria dari keluarga kaya dan terdidik.
Bela berbisik, “Hitung ya. Satu… dua… tiga…”
Tepat di hitungan ketiga, Martin menoleh.
Mata mereka bertemu.
Dan pria itu tersenyum tipis.
Bukan senyum formal. Bukan basa-basi.
Senyum yang terasa… khusus.
Serena refleks menepis tangan Bela dan memalingkan wajah.
“Lihat, kan!” Bela berbisik heboh. “Dari tadi Martin selalu melakukan itu! Dia menatapmu diam-diam setiap dua menit sekali! Kalau bukan suka, apalagi namanya?”
Serena kembali menghela napas kasar, lalu dia menggeleng keras. Bela pasti salah paham.
Dari dulu, Martin hanya senang menjahilinya, menggodanya, menganggapnya sebagai hiburan di tengah kehidupan sekolah yang membosankan. Dan sekarang, mungkin dia juga menganggapnya hiburan di tengah reuni tidak penting!
Jelas bukan suka.
Tidak mungkin.
Tapi… omongan Bela cukup meracuninya, hingga Serena kembali memberanikan diri untuk melirik lagi.
Martin sudah kembali bicara dengan teman-temannya. Tertawa pelan. Lalu, sambil meneguk anggur merah, pria itu kembali melirik ke arahnya.
Untuk kedua kalinya. Sesuai hitungan Bela!
Dada Serena berdebar keras satu kali.
Kali ini, dia tidak bisa menyangkal. Pria itu… memang benar memperhatikannya!
Apa mungkin pria itu—
“Kalau pembayaran Ibu telat, yang datang setelah ini bukan saya…”
Tiba-tiba, kalimat Pak Budi melambung ke dalam benak.
Seketika, Serena tersadarkan akan situasinya yang buruk.
Dia tertawa pahit.
Di tengah situasi seperti ini, beraninya dia berpikir untuk menjalin hubungan?
Tidak bisa, dia harus fokus bekerja untuk melunasi utang. Kalau tidak, jangankan pacaran, mungkin dia akan mati lebih dulu sebelum itu.
Dan lagi… pun Martin memiliki rasa padanya, dunia mereka berbeda jauh.
Pria itu seorang pewaris, sedangkan dirinya hanya pengacara dengan utang keluarga yang menumpuk.
Menghela napas kesal pada dirinya sendiri, Serena buru-buru meraih gelas di depannya dan meneguk isinya sampai habis, seolah ingin menelan semua pikiran aneh itu.
Tapi, baru saja selesai mengosongkan gelas, tiba-tiba—
“Serena!”
Suara Bela terdengar panik, membuat Serena menoleh. “Hah?!”
“Kenapa kau minum dari gelas itu!? Itu gelasku!”
Serena mengerjap, lalu menatap isi gelasnya.
Dan benar saja, warnanya bukan bening seperti air mineral yang seharusnya, melainkan… merah.
Anggur.
Memiliki toleransi alkohol yang rendah, efeknya langsung cepat terasa. Kepala Serena mendadak langsung ringan.
“Ah… sial…”
Hal terakhir yang Serena dengar… adalah seruan khawatir seseorang.
“Serena—!”
Lalu semuanya berubah gelap.
**
Entah berapa lama Serena telah tertidur. Tapi, saat terbangun, dia merasa kepalanya begitu berat.
Serena mengernyit, pandangannya lumayan kabur. Ia harus mengerjap beberapa kali sampai menyadari bahwa dirinya di tempat asing.
Menatap kamar yang begitu bagus, dia membatin.
Di mana ini? Seperti kamar hotel?
Tunggu.
Kamar hotel?!
Serena langsung bangkit cepat, dan di saat bersamaan selimut yang membungkus tubuhnya langsung melorot, mempertontonkan tubuhnya yang hanya dibalut bathrobe.
Terperangah sesaat, Serena refleks meraba ke dalam. Ternyata, dia tidak mengenakan apa pun!
Dia langsung membeku.
Tapi sebelum otaknya benar-benar memproses, sebuah suara dalam terdengar berkata, “Kau sudah bangun?”
Mendengar suara itu, Serena merasa darahnya berhenti mengalir. Dia cepat menoleh ke kanan, lalu terbelalak mendapati sosok yang baru saja terbangun dan tengah berusaha mendudukkan diri dengan tubuh setengah telanjangnya yang menawan.
Martin.
“M-Martin?!” Serena berteriak. “Apa yang kau lakukan di sini?!”
Saat mendengar kalimat Serena, Martin tampak terkejut sesaat, lalu pria itu menyisir rambutnya dengan raut wajah kesal. “Hah… setelah meniduriku, kau ingin pura-pura lupa dan lari dari tanggung jawab ya?”
Serena kira pakaian atau dress yang cantik, tetapi bukan. Cassie memberinya sebuah dress yang terbuat dari jaring-jaring transparan dan tertutup pada bagian tubuh tertentu.“Lingerie!” Serena terpaku sejenak.Ia bukan ingin menunjukkan pada Martin, tetapi pria itu lebih dulu keluar dari toilet dan melihat lingerie itu.“Kau ingin menggodaku dengan itu, Serena Jane?” tanya Martin yang saat ini berada di ambang pintu toilet.Martin tidak kuasa menahan senyumnya sembari bersandar di dinding, kemudian mulai menyadari Serena yang salah tingkah.Gerakan Serena cepat karena ingin segera memasukkan kembali pakaian seksi itu ke dalam paper bag. Dan lebih lucunya lagi, Serena begitu gugup sampai pakaian itu terjatuh ke lantai.“Santai saja,” ucap Martin akhirnya mendekat kemudian memungut pakaian itu. “Kalau kau sangat ingin menggunakannya aku akan senang hati melihatmu.”“Tidak mungkin!” Serena segera merebut pakaian itu dan memasukkannya kembali ke dalam paper bag.Ingin mengumpat tapi yang d
After wedding.“Katanya privat dan tidak mengundang banyak orang. Tapi, aku hitung ada banyak orang dan kayaknya 200 orang!” keluh Serena menyeret gaun pernikahan.Martin hanya mendengarkan omelan Serena dengan tenang. Namun reaksi Martin tidak membuat Serena ikut tenang juga. Justru Serena menjadi kesal karena Martin terkesan tidak memedulikannya.Acara pernikahan baru saja usai dan saat ini mereka menuju kamar hotel di mana mereka menginap. Lorong hotel ini terasa begitu panjang dan Serena hanya bertelanjang kaki sembari menyeret gaunnya yang panjang.“Martin!” keluh Serena.“Kenapa? mau aku gendong?” tawar Martin berbaik hati dan sebenarnya sudah menawarkan untuk menggendong Serena sejak mereka keluar dari ruang acara pernikahan tetapi Serena menolaknya.“Tidak mau ‘kan? Kau ingin aku apa?” lanjut Martin.Serena mengerucutkan bibirnya dan dalam hatinya kini bertanya apa Martin marah?“Kau marah?”“Tidak.” Martin melangkah lebih dekat dan hal itu membuat Serena terkesiap.Serena ber
Serena tidak mengindahkan ajakan gila Martin meskipun ia juga tidak begitu nyaman tinggal di apartemennya yang sekarang. Kemarin malam, Serena sampai harus mengusir pria itu agar pergi.Tetapi Martin tidak langsung pergi melainkan mengantarnya sampai ke Apartemen. Dan pria itu memastikan bahwa pintu apartemennya tidak bisa dibuka sembarangan dari luar.Perhatian yang perlu karena Serena mengerti Martin harus memastikannya baik-baik saja sebelum pernikahan berlangsung.Hari ini adalah fitting gaun untuk pernikahan mereka dan Serena kira ia akan pergi sendiri. Tetapi ternyata bersama Martin.“Kau luang?” tanya Serena.Martin keluar dari mobil. “Seperti yang kau lihat.”Serena menurunkan pandangannya kemudian mengamati penampilan Martin dari bawah sampai atas. “Rapi sekali, setelah ini pasti kau akan pergi rapat.”“Ti—”“HAYOO!”Serena memejamkan mata, lalu menggigit bibir bawahnya karena lelah. Seseorang yang datang tanpa diundang adalah Lia, tetangganya kemarin malam yang mabuk dan mem
“KYAAAK!”Teriakan itu membuat Serena mendorong Martin. Kali ini Serena berhasil melepaskan diri dari Martin, tetapi sepertinya Martin enggan melepaskannya.“KALIAN BERHENTILAH PACARAN DI TAMAN!” suara Cassie menggelegar sehingga terdengar marah.Cassie bukannya marah, tetapi kesal pada mereka berdua. Bisa-bisanya masih meneruskan pacaran setelah dirinya dan Mommy jatuh setelah mengintai mereka.Cassie merasa tidak adil sama sekali karena dirinya tidak ada kekasih untuk diajak bermain dan berlarian di taman seperti Martin dan Serena!Serena terkekeh pelan dan menyingkirkan tangan Martin yang berusaha menyentuh pinggangnya kembali.Plak!Suara renyah itu berasal dari tangan Serena yang berhasil menampol tangan Martin. Bukannya marah, Martin meringis pelan sembari tersenyum.Setelah kejadian memalukan itu, Serena dan Martin memutuskan untuk pergi. Dan Martin mengantarkan Serena pulang.Serena mengalami berbagai kejadian dalam hitungan sehari sehingga benar-benar kelelahan dan berakhir t
Bruk! Brak!Akh!Suara teriakan itu membuat Serena membuka mata dan tersadar dengan apa yang terjadi dengannya. Sedangkan Martin masih saja menikmati bibirnya tanpa sadar bahwa terjadi sesuatu.Serena menangkap dua orang di ujung sana yaitu jendela. Kemudian matanya melebar saat mengenali Cassie dan Elara.Plak!Serena mendorong Martin sekuat tenaga.“Ka-kau tidak mendengar?” Serena berdiri dengan wajahnya yang merah dan bibir yang basah. Mencoba baik-baik saja di hadapan Martin, meskipun jantungnya berdetak dengan kencang karena gugup.Martin menoleh ke samping, tepatnya pada kedua orang yang sedari tadi mengintipnya dan Serena.“Aku tahu,” ucap Martin santai dan mengedikkan bahu.“Kau tahu?” tanya Serena.Martin berdiri dan menghadap Serena. Lalu menundukkan tubuhnya yang jangkung itu untuk menyamakan tingginya dengan Serena.“Aku menciummu karena aku tahu mereka di sana,” ucap Martin.Akhirnya Serena tahu dibalik alasan Martin menciumnya adalah untuk meyakinkan kakak dan ibu pria i
Serena baru saja keluar dari kamar Cassie, kakak Martin, karena sebuah insiden memalukan yang membuatnya harus berganti pakaian. Namun untungnya, Cassie berbaik hati menawarkan dress.“Ikut denganku.” Martin langsung menggandeng tangan Serena, membuat perempuan itu terserentak kecil kemudian mengangguk ringan.Tidak ada kata di antara mereka, hanya sebuah keheningan. Karena kemewahan mansion benar-benar diluar bayangan Serena. Mansion tampak megah namun tetap memancarkan kehangatan dengan kesan klasik. Serena merasa diajak berkeliling di sebuah istana mewah.Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya sampai di sebuah pintu besar yang merupakan pintu keluar. Dan, di sanalah mereka berdua seolah berada di dunia yang berbeda.Taman yang dipenuhi bunga, ada pancuran air di tengah dan beberapa pohon besar yang mengelilingi taman.“Ini..” lirih Serena. “Seperti dalam dongeng.”Martin tersenyum kecil lalu menarik Serena lagi. Sampai mereka duduk di sebuah bangku.Serena menghela napas pelan. “







