Share

Chapter 4

Author: Iamyourhappy
last update publish date: 2026-02-09 17:00:05

“M-Martin?!” Serena berteriak. “Apa yang kau lakukan di sini?!”

Saat mendengar kalimat Serena, Martin tampak terkejut sesaat, lalu pria itu menyisir rambutnya dengan raut wajah kesal. “Hah… setelah meniduriku, kau ingin pura-pura lupa dan lari dari tanggung jawab ya?”

 “A-apa maksudmu?” Serena turun dari ranjang.

“Kau tidak ingat tadi malam?” tanya Martin. Senyum tipis yang jelas tercetak di bibirnya.

Serena mengernyit. “Ah!” mundur. “Aku tidak ingat. Bisa kau jelaskan?”

“Kau mabuk. Aku berniat membantumu dan mengantarmu pulang, tapi kau malah…” Martin menatap Serena. “Kau menciumku lalu kau meniduriku.”

“Aku?” Serena yang tidak percaya dengan ucapan Martin.

Martin tersenyum dan mengangguk.

Mengusap keningnya yang terasa pening. Serena terdiam.

“Kau harus tanggung jawab, Serena Jane.” Martin turun dari ranjang.

“Tidak ada.” Segera menggeleng keras.

Martin mengambil duduk di dekat ranjang. Tatapannya santai namun intens pada Serena.

“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah menjamah tubuhku yang suci ini?” tanya Martin.

Serena mengerjap. “Memangnya hanya tubuhmu saja yang suci? Tubuhku juga.” Melengos. Matanya bergerak mencari di mana pakaiannya.

“Hm…” Martin mangut-mangut. “Jadi aku juga pertama bagimu. Aku jadi pria pertama yang juga menyentuhmu dan melihat tubuhmu?”

Senyum manis Martin bisa memikat perempuan normal lain di luar sana.

Tapi ini Serena. Serena yang begitu enggan menatap apalagi berdekatan dengan Martin.

“Bukan urusanmu,” balas Serena berkacak pinggang. Dia hanya menemukan tasnya yang berada di meja samping Martin.

“Kau mencari ini?” tanya Martin mengangkat pakaian Serena.

“Berikan padaku.” Serena langsung mendekat dan tidak lupa dengan tangan yang erat memegang bathrobe.

Martin tersenyum. “Jawab aku dulu. Apa aku pria pertama yang kau cium?”

Serena menyipitkan mata. “Bukan urusanmu. Be-berikan pakaianku dulu!” mendadak gugup.

Posisi mereka sama-sama tidak menggunakan apapun dibalik bathrobe.

Martin berdiri lalu mengangkat pakaian Serena ke atas.

Karena tubuhnya yang tinggi dan lengannya yang panjang, Serena tidak akan bisa menjangkau pakaiannya.

Martin menundukkan kepalanya. “Kau lucu.”

“Gak lucu! Aku sedang marah!” Serena berusaha meloncat dan meraih pakaiannya.

Tapi Martin justru senang sekali mempermainkannya.

Tawa Martin semakin terdengar tatkala Serena semakin berusaha meraih dress berwarna merah itu.

Serena mundur. “Aku lelah. Kenapa kau begitu tinggi.” Berkacak pinggang dengan napas yang sedikit terengah.

Martin terkekeh. “Kau hanya melihatku tumbuh tinggi? Kau tidak melihat ketampananku?”

Berdecak kecil. “Kau sangat percaya diri.”

Martin mendekat dan menyisakan jarak yang begitu kecil di antara mereka.

Kemudian Martin menunduk dan menatap wajah Serena lebih dekat.

“Kenapa?” tanya Serena waspada. “Ada sesuatu diwajahku?” mengusap wajahnya.

Tersenyum sampai kedua matanya menyipit. Martin memang susah ditebak. Tidak tahu tujuannya apa menatap Serena seintens itu.

Tapi bagi Serena ini penghinaan.

“Kenapa?” tanya Serena penasaran.

“Tidak.” Martin menggeleng lalu menegakkan tubuhnya kembali.

“Kau!” menunjuk Martin kesal.

“Bagaimana rasanya?” tanya Martin. “Ingin tahu sesuatu tapi malah tidak dijawab?” dengan alis yang terangkat ke atas.

“Baiklah.” Serena mengerti. “Kita sama. Aku tidak pernah bersentuhan siapapun. Kau bilang tubuhmu suci, begitupun tubuhku. Aku juga suci.”

Martin mengangguk dengan puas.

Seringaian senyum lega.

Martin memberikan dress itu pada Serena. “Tapi tadi malam aku menyobek dressmu.”

“Kau bercanda?” tanya Serena. Akhirnya ia membentangkan dress Bela yang sudah menjadi robekan kain tidak berguna yang bisa digunakan untuk mengepel lantai.

“Maaf,” ucap Martin pelan. “Tadi malam aku tidak menemukan resleting dressmu, jadi aku menyobeknya saja supaya kau juga cepat-cepat mendapatkan sentuhanku—"

“Tidak!” Potong Serena. “Tidak usah diteruskan!” tangannya terangkat menutup bibir Martin.

Tapi bibir yang ditutup itu diam-diam tersenyum lagi.

Serena segera menarik tangannya. “Kita lupakan saja hari ini karena kita sama-sama suci dan tidak terjamah. Aku harus segera pergi ke kantorku.”

Serena berbalik. Hendak pergi.

“Bagaimana dengan hutangmu?”

Serena mengernyit. Lalu membalikkan tubuhnya. “Bagaimana kau tahu?”

Martin terdiam sesaat. “Semalam kau mabuk dan memberitahuku.”

“Benarkah…” lirih Serena.

“Semua orang bisa melakukan apa saja saat mabuk.” Martin mengedikkan bahu.

Memejamkan mata.

Perihal hutang memang memalukan.

Begitupun dengan Serena.

“Kau akan kembali ke kantor dan menghadapi penagih hutang lagi?” Martin mengambil pakaiannya sendiri. Menaruhnya di atas ranjang yang berantakan.

Serena menyesal mabuk karena mengungkapkan kelemahannya sendiri.

“Tidak usah dipikirkan. Itu urusanku,” balas Serena.

Pandangannya jatuh pada kasur yang sangat berantakan.  

Dan apakah mereka benar-benar melakukannya tadi malam?

“OH!” Serena mundur dengan tangan yang menutup mata.

Martin terkekeh pelan kemudian menurunkan bathrobe dari tubuhnya dan mulai menggunakan pakaiannya sendiri.

Serena berdehem. “Bagaimana bisa kau sesantai itu berganti pakaian di hadapan orang lain?”

Martin selesai mengancingkan kemejanya.

“Toh kau juga sudah melihatnya,” balas Martin mengedipkan salah satu matanya pada Serena.

“Aku sudah selesai, santai saja.” Martin tertawa ringan.

Serena membuka mata, tapi!

Tidak bisa berkata-kata lagi. “Gu-gunakan celanamu dulu!” karena pria itu hanya menggunakan celana boxer pendek.

Lagi-lagi Serena melengos dan berusaha bersabar dengan kelakuan Martin yang tidak punya malu di hadapannya.

“Kalau mau cepat kau bisa membantuku,” balas Martin dengan santai.

Serena mengambil bantal di atas sofa. Lalu melemparnya pada Martin.

“Puk!”

Bukannya marah setelah mendapat timpukan ringan dari bantal, Martin justru tertawa.

“Aku akan pergi. Bicara denganmu membuat tekanan darahku tinggi!”

Martin memasang jam tangannya. Lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

“Aku akan membantumu melunasi hutangmu.”

Serena berhenti.

Ucapan Martin selanjutnya semakin tidak masuk akal.

“Tapi kau harus menikah denganku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 241

    Martin mengernyit kemudian menunduk dan melihat isi ponselnya lebih jelas.“Kenapa?” tanyanya dengan kebingungan.Serena menggulir layar. “Mereka yang di sini tidak akan memberikan kesaksian apapun tentang pembulian yang ada di firma hukum itu.”“Ada banyak ancaman dan pasti mereka akan berpikir ratusan kali jika berani speak up.”Martin mengusap puncak kepala Serena pelan. “Serahkan padaku. Karena saat ini, fokusku menyerang mereka secara perlahan sembari mengumpulkan bukti tentang kecurangan mereka padamu.”Serena cemas, karena keselamatan banyak orang pasti terlibat dalam pertempuran ini.Tetapi lagi dan lagi, Martin sebagai suaminya berhasil membuatnya tidak gentar.“Jangan khawatir dan jangan takut. Aku ada di sini selalu bersamamu.” Martin menarik tengkuk istrinya dan mencium bibir istrinya itu.Serena terhanyut dan ia membalas ciuman suaminya.Tapi ia masih cukup waras untuk tidak memperdalam ciuman itu karena di depan ada pak sopir.“Sadarlah!” mendorong dada Martin hingga men

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 240

    “Sayang!” Martin menangkap tubuh Serena.Hampir saja tubuh kesayangannya jatuh, dan Martin memeluk erat Serena dengan khawatir.Seolah Serena hampir terjun dari jurang yang begitu tinggi.Serena mengira posisinya tidak seburuk itu, jika Martin tidak datang, mungkin bokongnya akan mendarat bangku seberang.Itupun tidak akan sakit karena bantalan bangku seberang lebih empuk dari bantalan kursinya tadi.“Kamu baik-baik saja, sayang?” Martin melepaskan pelukannya kemudian menangkup wajah istrinya.Memencet pipi Serena kanan dan kiri. “Kamu bisa bernapas? Tidak sakit?”Lalu menunduk dan mendekatkan kepalanya di perut Serena. “Baby kamu baik-baik saja di sana?”Serena hanya mengerjap melihat kehebohan Martin.“Martin sayangku, berhenti.” Serena mengusap rambut Martin dengan canggung karena para mata di kafe ini mulai menatap mereka.Martin mendongak kemudian menatap istrinya. “Kamu baik-baik saja? Ayo kita ke rumah sakit!”“Aku baik-baik saja,” balas Serena.Martin kemudian berdiri dengan t

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 239

    “Selamat atas pernikahanmu dengan pemilik Benson,” ucap seseorang mengulurkan tangannya.Serena menatapnya dalam diam. Kemudian akhirnya menjabat tangan di hadapannya itu.Serena hanya tersenyum tipis kemudian bersindekap. “Tidak ada tujuan mengajakku bertemu setelah sekian lama?”Wanita itu tersenyum, kemudian memandang Serena dari atas hingga bawah.“Penampilanmu jauh berbeda dari lima tahun yang lalu. Oh pantas saja karena kau sekarang istri dari Martin Raxter Benson?”Serena tertawa pelan. “Tentu saja, dari atas hingga bawah semuanya dibiyai oleh suamiku. Aku juga malas-malasan bekerja akhir-akhir ini.”“Kau tahu? Uang bulanan yang diberikan Martin lebih banyak daripada penghasilan kantor hukumku,” lanjut Serena.Tujuannya hanya satu melukai harga diri Dina. “Barang-barang yang aku gunakan, aku tidak pernah minta. Karena suamiku sangat mencintaiku, dia selalu memberikanku. Bahkan dia mendatangkan orang-orang toko untuk membawa barang terbaru.”Serena tersenyum lebar, kemudian bers

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 238

    “Sudah kuduga, dari awal membawamu menjemput Serena, aku tahu kalian pasti akan bersama.” Martin mengamati dua orang yang berada di hadapannya.Bela dan jason yang duduk berdampingan.Namun sayang cara duduk mereka masih sangat canggung, meski dibalik itu semua entah apa saja yang sudah mereka lakukan.Serena mendengus pelan. “Kenapa kau tidak menggandengnya? Coba gandeng di depanku.”Bela berdecak pelan. “Kenapa dengan tatapanmu hah! Kenapa kau galak sekali?” keluhnya.“Kenapa kau ingin melihatnya?” tanya Jason kemudian meraih lengan Bela dan memeluknya. “Seperti ini?”Serena semakin murung, karena ia tidak bisa sepenuhnya melepaskan Bela bersama Jason.Entah kenapa rasanya sangat sulit.Rasanya seperti sedang melepaskan anaknya pada seorang pria brengsek.Bela menyikut Jason namun kekasihnya itu tidak mau melepaskannya sama sekali.“Sabar-sabar…” Martin mengipasi wajah Serena dengan telapak tangannya.Serena mengusap perutnya pelan. Karena diam-diam berdoa agar anaknya tidak seperti

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 237

    “Sayang,” panggil Martin di dalam mobil.Mereka sedang perjalanan pulang, tadi siang Serena menyuruhnya pergi namun Serena juga ingin dijemput Martin.Itulah kenapa mereka pulang bersama.“Maaf aku tidak bercerita,” ucap Serena kemudian.“Aku hanya tidak ingin menyeret kamu ke dalam masalahku. Karena aku pikir semuanya akan semakin rumit jika bertindak dalam masalah itu.”“Jadi apa yang sudah kamu lakukan?” tanya Serena menghadap suaminya.Ternyata istrinya itu belum sepenuhnya memaafkannya, karena yang dilakukan Serena sekarang adalah mencari tahu sekaligus menyelidiki.“Aku belum bertindak apapun tapi aku sudah memikirkan rencana supaya mereka tidak lagi mengganggu kamu.”“Jangan lakukan apapun,” ucap Serena.Martin meminggirkan mobilnya. Kemudian melepaskan sabuk pengamannya dan menatap istri tercintanya.“Sebagai suami dan calon ayah, aku berhak melakukan apapun untuk melindungi kalian,” ucap Martin dengan tegas.Dan Serena menyadari atmosfer yang berbeda.Martin bukan sekedar ora

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 236

    “Kenapa?” tanya Serena dengan kebingungan.Martin lalu melepaskan pelukannya dan menyodorkan makanan yang ia bawa pada Miko yang tengah melihat mereka di ambang pintu.Miko segera menerimanya dan pergi ke dalam.Sedangkan Serena menoleh ke belakang dan gerakan mereka sungguh cepat.“Mulai sekarang aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan orang-orang itu menyerangmu dan membuatmu bersedih lagi.”Serena mengerjap pelan kemudian menatap suaminya dengan penuh waspada.“Siapa yang kamu maksud orang-orang itu?”“Tentu saja orang-orang yang berusaha merusak citramu dan mereka yang berusaha menjatuhkan usahamu. Mereka juga yang membuat karirmu berantakan,” ucap Martin menggebu-gebu dan melupakan satu hal penting.Istrinya pengacara dan Serena belum pernah bercerita apapun tentang hal itu.“Kamu diberitahu Bela?”“Hm—iya!” Balas Martin langsung dengan kedua bola mata yang melotot.Ada y

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 44

    Jantung Serena langsung berdegup dengan kencang seperti sedang tertangkap basah bersama Martin. Lalu Serena segera menggeleng keras untuk menampik segala tuduhan dari Max yang menggunakan setelan kemeja biru elektrik itu. “Tidak! Aku dari kamar mandi!” “Aku dari belakang,” ucap Martin tenang seo

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 43

    Serena kira ia akan jatuh, paling tidak akan sedikit berguling di tanah. Tetapi tidak, tubuhnya mendarat di pangkuan Martin. Bukan kebetulan, karena Martin menarik pinggangnya saat ia akan terjatuh. Sehingga tubuhnya dengan begitu pasti mendarat di pangkuan Martin dan pantatnya mendarat di paha Ma

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 42

    “Ada yang berkelahi.” Ucapan dari seseorang yang berada di belakang membuat Serena dan Bela saling menatap. Kemudian mereka menghadap ke atas dan melihat teman mereka yang akan berkelahi. Karena posisi Martin dan Gilang memang terlihat akan saling memukul. “Martin dan Gilang,” ucap dari seseorang

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 41

    “Ada urusannya denganmu?” tanya Martin santai, kemudian meminum cairan terakhir di gelas kecilnya. Dan hanya meninggalkan satu buah es batu yang menghiasi gelas bening itu. Kemudian meletakkan gelas itu di meja samping. Perhatian Gilang tertuju pada dua perempuan yang berada di bawah. “Mereka cant

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status