Masuk“M-Martin?!” Serena berteriak. “Apa yang kau lakukan di sini?!”
Saat mendengar kalimat Serena, Martin tampak terkejut sesaat, lalu pria itu menyisir rambutnya dengan raut wajah kesal. “Hah… setelah meniduriku, kau ingin pura-pura lupa dan lari dari tanggung jawab ya?”
“A-apa maksudmu?” Serena turun dari ranjang.
“Kau tidak ingat tadi malam?” tanya Martin. Senyum tipis yang jelas tercetak di bibirnya.
Serena mengernyit. “Ah!” mundur. “Aku tidak ingat. Bisa kau jelaskan?”
“Kau mabuk. Aku berniat membantumu dan mengantarmu pulang, tapi kau malah…” Martin menatap Serena. “Kau menciumku lalu kau meniduriku.”
“Aku?” Serena yang tidak percaya dengan ucapan Martin.
Martin tersenyum dan mengangguk.
Mengusap keningnya yang terasa pening. Serena terdiam.
“Kau harus tanggung jawab, Serena Jane.” Martin turun dari ranjang.
“Tidak ada.” Segera menggeleng keras.
Martin mengambil duduk di dekat ranjang. Tatapannya santai namun intens pada Serena.
“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah menjamah tubuhku yang suci ini?” tanya Martin.
Serena mengerjap. “Memangnya hanya tubuhmu saja yang suci? Tubuhku juga.” Melengos. Matanya bergerak mencari di mana pakaiannya.
“Hm…” Martin mangut-mangut. “Jadi aku juga pertama bagimu. Aku jadi pria pertama yang juga menyentuhmu dan melihat tubuhmu?”
Senyum manis Martin bisa memikat perempuan normal lain di luar sana.
Tapi ini Serena. Serena yang begitu enggan menatap apalagi berdekatan dengan Martin.
“Bukan urusanmu,” balas Serena berkacak pinggang. Dia hanya menemukan tasnya yang berada di meja samping Martin.
“Kau mencari ini?” tanya Martin mengangkat pakaian Serena.
“Berikan padaku.” Serena langsung mendekat dan tidak lupa dengan tangan yang erat memegang bathrobe.
Martin tersenyum. “Jawab aku dulu. Apa aku pria pertama yang kau cium?”
Serena menyipitkan mata. “Bukan urusanmu. Be-berikan pakaianku dulu!” mendadak gugup.
Posisi mereka sama-sama tidak menggunakan apapun dibalik bathrobe.
Martin berdiri lalu mengangkat pakaian Serena ke atas.
Karena tubuhnya yang tinggi dan lengannya yang panjang, Serena tidak akan bisa menjangkau pakaiannya.
Martin menundukkan kepalanya. “Kau lucu.”
“Gak lucu! Aku sedang marah!” Serena berusaha meloncat dan meraih pakaiannya.
Tapi Martin justru senang sekali mempermainkannya.
Tawa Martin semakin terdengar tatkala Serena semakin berusaha meraih dress berwarna merah itu.
Serena mundur. “Aku lelah. Kenapa kau begitu tinggi.” Berkacak pinggang dengan napas yang sedikit terengah.
Martin terkekeh. “Kau hanya melihatku tumbuh tinggi? Kau tidak melihat ketampananku?”
Berdecak kecil. “Kau sangat percaya diri.”
Martin mendekat dan menyisakan jarak yang begitu kecil di antara mereka.
Kemudian Martin menunduk dan menatap wajah Serena lebih dekat.
“Kenapa?” tanya Serena waspada. “Ada sesuatu diwajahku?” mengusap wajahnya.
Tersenyum sampai kedua matanya menyipit. Martin memang susah ditebak. Tidak tahu tujuannya apa menatap Serena seintens itu.
Tapi bagi Serena ini penghinaan.
“Kenapa?” tanya Serena penasaran.
“Tidak.” Martin menggeleng lalu menegakkan tubuhnya kembali.
“Kau!” menunjuk Martin kesal.
“Bagaimana rasanya?” tanya Martin. “Ingin tahu sesuatu tapi malah tidak dijawab?” dengan alis yang terangkat ke atas.
“Baiklah.” Serena mengerti. “Kita sama. Aku tidak pernah bersentuhan siapapun. Kau bilang tubuhmu suci, begitupun tubuhku. Aku juga suci.”
Martin mengangguk dengan puas.
Seringaian senyum lega.
Martin memberikan dress itu pada Serena. “Tapi tadi malam aku menyobek dressmu.”
“Kau bercanda?” tanya Serena. Akhirnya ia membentangkan dress Bela yang sudah menjadi robekan kain tidak berguna yang bisa digunakan untuk mengepel lantai.
“Maaf,” ucap Martin pelan. “Tadi malam aku tidak menemukan resleting dressmu, jadi aku menyobeknya saja supaya kau juga cepat-cepat mendapatkan sentuhanku—"
“Tidak!” Potong Serena. “Tidak usah diteruskan!” tangannya terangkat menutup bibir Martin.
Tapi bibir yang ditutup itu diam-diam tersenyum lagi.
Serena segera menarik tangannya. “Kita lupakan saja hari ini karena kita sama-sama suci dan tidak terjamah. Aku harus segera pergi ke kantorku.”
Serena berbalik. Hendak pergi.
“Bagaimana dengan hutangmu?”
Serena mengernyit. Lalu membalikkan tubuhnya. “Bagaimana kau tahu?”
Martin terdiam sesaat. “Semalam kau mabuk dan memberitahuku.”
“Benarkah…” lirih Serena.
“Semua orang bisa melakukan apa saja saat mabuk.” Martin mengedikkan bahu.
Memejamkan mata.
Perihal hutang memang memalukan.
Begitupun dengan Serena.
“Kau akan kembali ke kantor dan menghadapi penagih hutang lagi?” Martin mengambil pakaiannya sendiri. Menaruhnya di atas ranjang yang berantakan.
Serena menyesal mabuk karena mengungkapkan kelemahannya sendiri.
“Tidak usah dipikirkan. Itu urusanku,” balas Serena.
Pandangannya jatuh pada kasur yang sangat berantakan.
Dan apakah mereka benar-benar melakukannya tadi malam?
“OH!” Serena mundur dengan tangan yang menutup mata.
Martin terkekeh pelan kemudian menurunkan bathrobe dari tubuhnya dan mulai menggunakan pakaiannya sendiri.
Serena berdehem. “Bagaimana bisa kau sesantai itu berganti pakaian di hadapan orang lain?”
Martin selesai mengancingkan kemejanya.
“Toh kau juga sudah melihatnya,” balas Martin mengedipkan salah satu matanya pada Serena.
“Aku sudah selesai, santai saja.” Martin tertawa ringan.
Serena membuka mata, tapi!
Tidak bisa berkata-kata lagi. “Gu-gunakan celanamu dulu!” karena pria itu hanya menggunakan celana boxer pendek.
Lagi-lagi Serena melengos dan berusaha bersabar dengan kelakuan Martin yang tidak punya malu di hadapannya.
“Kalau mau cepat kau bisa membantuku,” balas Martin dengan santai.
Serena mengambil bantal di atas sofa. Lalu melemparnya pada Martin.
“Puk!”
Bukannya marah setelah mendapat timpukan ringan dari bantal, Martin justru tertawa.
“Aku akan pergi. Bicara denganmu membuat tekanan darahku tinggi!”
Martin memasang jam tangannya. Lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
“Aku akan membantumu melunasi hutangmu.”
Serena berhenti.
Ucapan Martin selanjutnya semakin tidak masuk akal.
“Tapi kau harus menikah denganku.”
Anniversary yang diinginkan Serena adalah makan dengan teman terdekat. Dan hari ini Martin mewujudkannya, memberikan nuansa hangat sebagai perayaan ulang tahun pernikahan mereka. Halaman taman belakang disulap dengan begitu cantik. Meja panjang dilapisi oleh taplak berwarna putih. Lalu sisi kanan dan kirinya terdapat kursi yang digunakan untuk duduk pada tamu. “Cheers untuk Serena dan Martin!” teriak Bela mengangkat gelas yang berisi anggur. Semua orang tertawa dan akhirnya mengangkat gelasnya. Lalu disusul oleh bunyi gelas yang berdenting. Bela menoleh ketika suaminya mengusap pinggangnya pelan. “Kamu bersemangat karena ingin minum bukan?” “Tentu saja.” Bela mengangguk. “Meski Serena bilang hanya makan-makan, tapi sesungguhnya ini pesta.” Menatap sahabatnya sebentar. Sedangkan Serena hanya menggeleng pelan. “Kamu yang menjaga anak-anak,” ucap Bela. “Jangan minum alkohol setetes pun.” Jason meneguk ludahnya mendengar larangan dari istrinya. Tapi ia mengangguk setuju. Bagaimana
“Isaac,” lirih Ava menatap seorang pria yang berada di hadapannya sedang mengulurkan tangan.Isaac tersenyum tipis dengan tangan yang masih terulur ingin membantu Ava.Tidak sengaja lewat dan melihat seseorang yang menjadi pusat perhatian. Dan anehnya meski tidak pernah bertemu, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah perempuan yang membuatnya berantakan 5 tahun yang lalu.Isaac menunduk. “Ayo aku bantu.”Ava mengusap pipinya kemudian menerima uluran tangan Isaac. “Aku bisa pulang sendiri.”“Terima kasih.” Ava baru saja ingin berjalan, tapi langkahnya hampir tersandung lagi.Untungnya ada Isaac yang menangkapnya dengan cepat. Isaac merengkuh pinggang Ava untuk membantu. “Hati-hati.”“Aku akan mengantarmu.” Isaac akhirnya membantu Ava untuk masuk ke dalam mobil.Dan ketika berada di dalam mobil, kecanggungan pun terjadi.Ava membuang wajah ke samping, lalu kedua tangannya bersindekap. Sesekali menghembuskan napas kasar.Isaac menoleh ke samping, kemudian menghela napas pelan. “
Seorang perempuan tengah mengusap rambutnya kasar keluar dari sebuah rumah besar.Berjalan sendiri dan terburu-buru, namun ada satu pria yang mengejarnya.“Ava tunggu!” Arjuna berlari lalu menangkap tangan Ava. “Tunggu, sebentar.”Ava melepaskan tangan Arjuna. “Aku sudah berusaha membuat orang tuamu senang, tapi mereka tetap tidak merestui kita. Aku tahu aku bukan dari keluarga baik-baik seperti yang orang tuamu inginkan, tapi mereka tidak berhak menghina ibuku yang sedang berjuang di rumah sakit.”“Maafkan aku. Kita nikah lari saja oke?” Arjuna menyentuh kedua bahu kekasihnya.Satu tahun mereka menjalin hubungan asmara. Tetapi, selama setahun itu pula hubungan mereka ditentang oleh keluarga Arjuna.Ava tahu backround keluarganya yang membuat orang tua Arjuna enggan memberi restu.Tapi, ia berusaha memenangkan hati orang tua Arjuna dengan membelikan beberapa barang untuk ibu Arjuna setiap kali dirinya gajian, membawa banyak makanan setiap kali datang ke rumah orang tua Arjuna dan diri
Dua anak yang sedang kejar-kejaran itu membuat kedua orang tuanya pusing.Anak kembar yang sedang berlarian itu sedang berebut mainan, tidak ada yang mau mengalah meski mereka saudara. Dan meski masing-masing mereka sudah mendapatkan mainan yang sama.Bela berkacak pinggang. “Berhenti!” ucapnya seperti seorang komando barisan di upara bendera.Dua anak itu akhirnya berhenti, lalu berbaris seperti layaknya barisan.“Jangan bertengkar, mainan kalian sama,” ucap Bela begitu lelah. Kemudian berkacak pinggang dan mengambil sapu panjang yang berada di sampingnya.“Mau ini?” tanyanya.“Tidak,” balas mereka serempak.Tapi itu hanya terjdi beberapa menit setelahnya, mereka sempat kembali bermain dengan tertib tapi setelah itu kembali bertengkar lagi.Bela menggigit bibir bawahnya, kemudian ikut berlari mengejar anaknya sembari membawa sapu panjang.“Mana yang nakal? Sini Mama cambuk!” Bela menggila. Ikut berlarian mengejar dua anaknya yang kini ketakutan dengan sapu panjang.“AAAA MAMA!”“MAMA
Mathias berpura-pura tidak mendengar pertanyaan orang tuanya. Ia sibuk memeluk bola dengan pipi yang sudah merah.Persis seperti Serena ketika tersipu.“Sepertinya aku tahu,” ucap Martin tersenyum sembari memandang istrinya.Lalu menatap putranya melalui spion kaca. “Anak baru ‘kan? Dia bilang kamu tampan.”Mathias mendongak dan menatap ayahnya melalui kacanya. Wajahnya tidak bisa berbohong jika ucapan ayahnya memang benar.“Ada murid baru?” tanya Serena menoleh ke belakang. “Sungguh? Seperti apa dia?”Mathias menatap Serena dengan ragu. Kemudian tersenyum. “Dia cantik,” ucapnya sangat pelan, seperti seseorang yang begitu gengsi untuk memuji lawan jenis.Serena tertawa, kemudian menatap lurus ke depan.Martin melirik istrinya lalu menyenggol lengan istrinya pelan.Mereka sama-sama terkejut karena sudah ditahap putra mereka tahu mana yang cantik.“Bertemanlah dengan dia,” ucap Serena menahan senyumnya.Mathias mengangguk pelan, kemudian melompat turun dan mendekati bangku orang tuanya.
5 tahun berlalu.“Hai boy!” Martin menyambut putranya yang baru saja keluar dari sekolah.Mathias berlari kecil ke arah ayahnya yang menjemputnya. Dengan senyum sumringah dan tubuh yang begitu ringan, Mathias langsung melompat masuk ke dalam mobil.Martin menatap bola yang dilempar Mathias ke belakang. “Habis main bola?”“Iya,” jawab Mathias kemudian mengulurkan tangannya dan menunjukkan lima jarinya.“Tos!” Martin bertos ria dengan putranya.Ia tidak tahu kenapa Mathias begitu suka dengan sepak bola. Setiap hari selalu membawa bola sendiri ke sekolah. Lalu di bawa pulang dan keesokan harinya di bawa lagi.Saat ditanya kenapa tidak ditinggal di sekolah saja, katanya tidak mau takut bolanya hilang.Yasudah, Martin tidak masalah selagi putranya bisa sekolah dengan baik dan semangat.“Kita jemput Mommy dulu,” ucap Martin menyetir dengan pelan. tidak seperti biasanya, karena sekarang ia menyetir sendiri.“Bagaimana dengan sekolahmu tadi? Ada yang menyenangkan?” tanya Martin.Mathias duduk
Dulu melihat Darissa dengan perasaan yang iba dan kasihan. Tetapi sekarang, ada perasaan tidak suka yang tidak bisa Serena ungkapkan.Mungkin karena dirinya yang merasa tidak percaya diri.Atau, cemburu yang berlebihian.Serena menggeser tubuhnya dari tubuh Martin. Dan menciptakan jarak di antara m
“Bu Serena baik-baik saja?” tanya Ava lagi sembari memperhatikan wajah Serena yang berubah menjadi mendung.Serena menghembuskan napas pelan kemudian mengangguk.“Ayo makan siang!” Ava memeluk lengan Serena, kemudian menariknya untuk berjalan.Sedangkan Miko memperhatikan mereka berdua sembari meng
“Apa ini, kau menangis?” tanya Gideon memandangi wajah Serena lebih jelas.Kemudian Gideon tertawa. reaksi yang tidak diduga dan tidak diharapkan oleh Serena.“Kau menangis setelah aku mengutarakan perasaanku padamu?” tanya Gideon kemudian mengambil duduk di samping Serena.“Benar, pasti kau bingun
“Bela pulang bersama Jason.” Serena tidak berhenti menggerutu.“Mereka akan baik-baik saja,” balas Martin.“Jadi kau menyetujui Jason bersama Bela?” tanya Serena memutar tubuhnya. Kemudian berhadapan dengan Martin.“Tidak sepenuhnya, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan jika mereka ingin bersama,”







