Masuk2 bulan berlalu.Serena memutuskan untuk pergi ke kantor setelah sekian lama, tujuannya bukan untuk sepenuhnya kembali bekerja.Ia ingin melihat perkembangan kantornya secara langsung. Dan minggu depan mereka akan pindah ke gedung baru.Omset kantornya melesat, perkembang jauh lebih baik dan merekrut lebih banyak pengacara.Serena mengernyit pelan melihat beberapa orang berjaga di depan kantornya.“Bu Serena,” panggil Miko yang akhirnya mendekat. Dengan cengirannya yang khas ia tersenyum.“Ada apa ini? kenapa banyak orang yang berjaga di depan seperti ini?” tanya Serena menatap tiga orang yang berjaga di depan kantornya.“Martin tidak bilang apa-apa,” lirih Serena. “Seharusnya jika penjagaan dari Martin, mereka akan konfirmasi dulu padaku.”Senyum Miko luntur kemudian pandangan mereka beralih pada mobil yang baru saja berhenti.Keluarlah seorang pria paruh baya dengan tubuh yang tegap. Memakai setelan kemeja yang rapi.“Miko,” panggil bapak itu.“Iya, pa.” Miko mendekat, kemudian mena
Serena dan Martin turun bersama. Lalu Serena terdiam di tempat seperti memastikan sesuatu pada dua orang yang sekarang berada di hadapannya.Ava terkekeh pelan, kemudian mendekat dan memeluk Serena. “Good morning, bu Serena.”Serena menggeleng pelan. “Sudah terlalu siang, Ava.”Ava mundur sembari tertawa, kemudian meraih kantong belanjaan yang di bawa oleh Isaac.“Dari kami,” ucap Ava semakin menambah gelengan pada kepala Serena.“Kami?” ulang Serena memastikan.“Iya, kami, kak.” Isaac menjawab sembari tersenyum dengan sangat manis. “Kami datang berdua untuk menjenguk kalian.”Martin memandang Isaac, pemandangan yang aneh. Tapi ia segera merangkul bahu Isaac.“Ayo kalian pasti ingin bertemu dengan Mathias.” Martin mengajak mereka untuk pergi ke kamar Mathias.“Katakan apa yang terjadi?” tanya Serena mendesak Ava. “Kamu berkencan dengan Isaac?”Seperti kakak yang ingin tahu hubungan kencan adiknya. Serena terdengar khawatir namun juga protektif.“Belum sejauh itu,” balas Ava. “Karena s
1 minggu berlalu dan Serena akhirnya pulang.Menggendong Mathias yang berada di tangannya. “Kita pulang,” ucapnya pelan.Serena memandang anaknya yang begitu manis. “Bukankah hidungnya mirip kamu ya?”Martin tersenyum. “Sudah pasti. Lihat wajahnya, nanti pasti akan lebih mirip aku.”Serena mengerucutkan bibirnya. “Mommy tidak kebagian apa-apa ya?” tanyanya pada Mathias yang menggeliat kecil di dalam gendongannya.Martin tertawa pelan. “Nanti sifatnya akan sehangat dirimu.”“Ooo…” Serena menyandarkan tubuhnya pada bahu suaminya. “Jangan pendiam dan sok dingin seperti Dad ya?”“Aku pendiam? Aku sok dingin?” ulang Martin.Serena terkekeh pelan dan berjalan cepat sembari menggendong Mathias menjauh dari Martin.Menaiki tangga dengan cepat.“Sayang! Pelan-pelan! kamu baru sembuh!” teriak Martin melihat Serena yang tengah menaiki tangga dengan cepat.Serena mengedikkan bahu karena merasa tubuhnya ringan dan tidak perlu berjalan dengan lemah lembut.Martin mengejar istrinya, lalu masuk ke da
Bela cepat-cepat mengalihkan kamera pada dirinya sendiri. “Cukup, jangan mengurusi orang lain. Kau harus fokus pada pemulihanmu! Aku akan segera menjengukmu dan memberitahu mereka!”Lalu panggilan mati.Bela menghela napas lega karena sahabatnya baik-baik saja. Karena ia memiliki firasat buruk sejak Martin menjawab pertanyaannya dengan jeda yang cukup lama.Mengenai Isaac dan Ava yang memojok berdua? Entah terserah mereka.“Sayang,” panggil Jason menarik pinggangnya.“Iya suamiku.” Bela tersenyum.Jason mengalihkan pandangannya karena tersipu dengan panggilan itu.Bela menoel pipi Jason berkali-kali karena lucu.“Awas kamu nanti. Berhenti menggodaku.” Jason meremas pelan pinggang Bela.Di sisi lain, yang katanya memojok berdua ternyata sedang membicarakan sesuatu. Isaac memandang Ava yang menggunakan dress berwarna maroon.“Kau cantik,” ucapnya.“Terima kasih.” Ava menunduk sebentar.“Tapi, apa kau memang sesibuk itu sampai tidak bisa makan denganku?” tanya Isaac.Ava menahan senyumny
Alat medis kembali berbunyi dan bunyinya lebih kencang. “Mohon maaf, anda pergi dulu.” Martin digiring keluar sedangkan Serena masih berada di dalam ruangan untuk ditangani. Orang tuanya pun sudah berupaya untuk menenangkan tapi Martin tidak akan bisa tenang dalam keadaan istrinya masih berjuang di dalam sana. Menunggu dalam keadaan yang begitu cemas namun akhirnya dokter keluar beserta perawa yang lain. “Bu Serena sudah membaik, tadi keadaannya sempat drop karena pendarahan yang cukup hebat. Tapi sekarang sudah membaik dan akan kami pindahkan ke ruang biasa.” Martin menghembuskan napas lega dan akhirnya Serena dipindahkan ke ruang inap biasa. “Serena, sayang.” Martin mengambil tangan Serena, menatap istrinya yang membuka mata setelah sekian lama. “I love you,” ucap Martin mengecup dahi Serena beberapa kali. “Terima kasih sudah bertahan.” Serena tersenyum, kemudian menatap langit-langit kamar yang berwarna putih ini. “Aku tadi seperti bertemu dengan mama.” Martin mengangguk se
Berjuang melahirkan putra mereka di dalam ruangan.Jeritan Serena terdengar menyakitkan bagi Martin.Ia mendampingi istrinya yang tengah berjuang membawa putra mereka keluar untuk melihat dunia.Martin menangis, mengecup punggung tangan yang ia genggam berkali-kali.Sampai akhirnya terdengar bunyi tangisan bayi. Martin menunduk dan mengecup pipi istrinya. “Kamu berhasil.”Serena mengangguk dan tersenyum. “Sayang, aku ngantuk.”“Jangan.” Martin mengusap pipi Serena. “Lihat aku. Jangan tidur ya,” lanjutnya.Serena tidak tahu kenapa rasanya begitu mengantuk, ia hampir tertidur jika bukan Martin yang berusaha agar membuatnya tetap terjaga.Martin yang berbicara, meski pria itu tidak terlalu bisa berbicara panjang dan lebar.“Pak ini bayinya,” ucap dokter membawa bayi mereka mendekat.Akhirnya Martin menggendong anaknya, putranya yang paling ia tunggu. “Sayang,” lirihnya.“Kamu dan Mommy berhasil,” ucapnya dengan lembut. Kemudian menyentuh tangan mungil anaknya.“Mathias Brady Benson,” uca
“Kakiku?” Martin kembali bertanya sembari menunduk dan melihat kedua kakinya. Kemudian terdiam sesaat lalu berkata. “Aku baik-baik saja.”Serena mundur dua langkah kemudian mengamati Martin dari atas hingga bawah dengan tidak yakin. “Ah! Kau memang baik-baik saja.”“Maksudku sekarang baik-baik saja
Tidak ada penolakan yang berarti, karena Serena mendongak dan bibirnya secara otomatis membalas ciuman Martin.Dengan Martin yang bertopang pada sandaran sofa di belakangnya, Martin mengurung Serena dengan tubuhnya yang besar.Martin mengangkat tangannya untuk mengusap pinggang Serena karena Serena
Serena kira pakaian atau dress yang cantik, tetapi bukan. Cassie memberinya sebuah dress yang terbuat dari jaring-jaring transparan dan tertutup pada bagian tubuh tertentu.“Lingerie!” Serena terpaku sejenak.Ia bukan ingin menunjukkan pada Martin, tetapi pria itu lebih dulu keluar dari toilet dan m
Setelah menikah.“Katanya privat dan tidak mengundang banyak orang. Tapi, aku hitung ada banyak orang dan kayaknya 200 orang!” keluh Serena menyeret gaun pernikahan.Martin hanya mendengarkan omelan Serena dengan tenang. Namun reaksi Martin tidak membuat Serena ikut tenang juga. Justru Serena menjad







