FAZER LOGINSerena dan Martin turun bersama. Lalu Serena terdiam di tempat seperti memastikan sesuatu pada dua orang yang sekarang berada di hadapannya.Ava terkekeh pelan, kemudian mendekat dan memeluk Serena. “Good morning, bu Serena.”Serena menggeleng pelan. “Sudah terlalu siang, Ava.”Ava mundur sembari tertawa, kemudian meraih kantong belanjaan yang di bawa oleh Isaac.“Dari kami,” ucap Ava semakin menambah gelengan pada kepala Serena.“Kami?” ulang Serena memastikan.“Iya, kami, kak.” Isaac menjawab sembari tersenyum dengan sangat manis. “Kami datang berdua untuk menjenguk kalian.”Martin memandang Isaac, pemandangan yang aneh. Tapi ia segera merangkul bahu Isaac.“Ayo kalian pasti ingin bertemu dengan Mathias.” Martin mengajak mereka untuk pergi ke kamar Mathias.“Katakan apa yang terjadi?” tanya Serena mendesak Ava. “Kamu berkencan dengan Isaac?”Seperti kakak yang ingin tahu hubungan kencan adiknya. Serena terdengar khawatir namun juga protektif.“Belum sejauh itu,” balas Ava. “Karena s
1 minggu berlalu dan Serena akhirnya pulang.Menggendong Mathias yang berada di tangannya. “Kita pulang,” ucapnya pelan.Serena memandang anaknya yang begitu manis. “Bukankah hidungnya mirip kamu ya?”Martin tersenyum. “Sudah pasti. Lihat wajahnya, nanti pasti akan lebih mirip aku.”Serena mengerucutkan bibirnya. “Mommy tidak kebagian apa-apa ya?” tanyanya pada Mathias yang menggeliat kecil di dalam gendongannya.Martin tertawa pelan. “Nanti sifatnya akan sehangat dirimu.”“Ooo…” Serena menyandarkan tubuhnya pada bahu suaminya. “Jangan pendiam dan sok dingin seperti Dad ya?”“Aku pendiam? Aku sok dingin?” ulang Martin.Serena terkekeh pelan dan berjalan cepat sembari menggendong Mathias menjauh dari Martin.Menaiki tangga dengan cepat.“Sayang! Pelan-pelan! kamu baru sembuh!” teriak Martin melihat Serena yang tengah menaiki tangga dengan cepat.Serena mengedikkan bahu karena merasa tubuhnya ringan dan tidak perlu berjalan dengan lemah lembut.Martin mengejar istrinya, lalu masuk ke da
Bela cepat-cepat mengalihkan kamera pada dirinya sendiri. “Cukup, jangan mengurusi orang lain. Kau harus fokus pada pemulihanmu! Aku akan segera menjengukmu dan memberitahu mereka!”Lalu panggilan mati.Bela menghela napas lega karena sahabatnya baik-baik saja. Karena ia memiliki firasat buruk sejak Martin menjawab pertanyaannya dengan jeda yang cukup lama.Mengenai Isaac dan Ava yang memojok berdua? Entah terserah mereka.“Sayang,” panggil Jason menarik pinggangnya.“Iya suamiku.” Bela tersenyum.Jason mengalihkan pandangannya karena tersipu dengan panggilan itu.Bela menoel pipi Jason berkali-kali karena lucu.“Awas kamu nanti. Berhenti menggodaku.” Jason meremas pelan pinggang Bela.Di sisi lain, yang katanya memojok berdua ternyata sedang membicarakan sesuatu. Isaac memandang Ava yang menggunakan dress berwarna maroon.“Kau cantik,” ucapnya.“Terima kasih.” Ava menunduk sebentar.“Tapi, apa kau memang sesibuk itu sampai tidak bisa makan denganku?” tanya Isaac.Ava menahan senyumny
Alat medis kembali berbunyi dan bunyinya lebih kencang. “Mohon maaf, anda pergi dulu.” Martin digiring keluar sedangkan Serena masih berada di dalam ruangan untuk ditangani. Orang tuanya pun sudah berupaya untuk menenangkan tapi Martin tidak akan bisa tenang dalam keadaan istrinya masih berjuang di dalam sana. Menunggu dalam keadaan yang begitu cemas namun akhirnya dokter keluar beserta perawa yang lain. “Bu Serena sudah membaik, tadi keadaannya sempat drop karena pendarahan yang cukup hebat. Tapi sekarang sudah membaik dan akan kami pindahkan ke ruang biasa.” Martin menghembuskan napas lega dan akhirnya Serena dipindahkan ke ruang inap biasa. “Serena, sayang.” Martin mengambil tangan Serena, menatap istrinya yang membuka mata setelah sekian lama. “I love you,” ucap Martin mengecup dahi Serena beberapa kali. “Terima kasih sudah bertahan.” Serena tersenyum, kemudian menatap langit-langit kamar yang berwarna putih ini. “Aku tadi seperti bertemu dengan mama.” Martin mengangguk se
Berjuang melahirkan putra mereka di dalam ruangan.Jeritan Serena terdengar menyakitkan bagi Martin.Ia mendampingi istrinya yang tengah berjuang membawa putra mereka keluar untuk melihat dunia.Martin menangis, mengecup punggung tangan yang ia genggam berkali-kali.Sampai akhirnya terdengar bunyi tangisan bayi. Martin menunduk dan mengecup pipi istrinya. “Kamu berhasil.”Serena mengangguk dan tersenyum. “Sayang, aku ngantuk.”“Jangan.” Martin mengusap pipi Serena. “Lihat aku. Jangan tidur ya,” lanjutnya.Serena tidak tahu kenapa rasanya begitu mengantuk, ia hampir tertidur jika bukan Martin yang berusaha agar membuatnya tetap terjaga.Martin yang berbicara, meski pria itu tidak terlalu bisa berbicara panjang dan lebar.“Pak ini bayinya,” ucap dokter membawa bayi mereka mendekat.Akhirnya Martin menggendong anaknya, putranya yang paling ia tunggu. “Sayang,” lirihnya.“Kamu dan Mommy berhasil,” ucapnya dengan lembut. Kemudian menyentuh tangan mungil anaknya.“Mathias Brady Benson,” uca
1 bulan berlalu.“Sayang kamu yakin datang ke pernikahan Bela dan Jason?” tanya Martin memeluk istrinya dari belakang.Serena menatap pantulan dirinya yang siap menggunakan dress berwarna hitam yang tertutup. Dengan perut yang sudah besar.“Yakin, kita sebentar saja. Aku takut kelelahan,” jawab Serena.Martin memandang istrinya tidak yakin. “Aku punya firasat yang..”“Bagus,” lanjut Serena. kemudian berbalik dan menatap suaminya.Tangannya bergerak merapikan dasi Martin yang sedikit miring. “Aku harus datang ke pernikahan sahabatku.”Serena mendengus pelan. “Aku tidak habis pikir dengan mereka, satu bulan? Persiapan mereka terasa terburu-buru. Mereka seperti ‘kebelet kawin’.”Seketika tawa Martin pecah karena mendengar kalimat istrinya. “Pasti mereka seperti itu.”“Aku yakin Jason yang paling parah,” lanjutnya.Serena tertawa, kemudian mengambil tangan Martin, kemudian memeluknya. “Ayo hadiri pernikahan merkea yang kebelet itu.”“Jika Jason mendengarnya dia pasti akan marah-marah.” Ma
Air keluar begitu deras dari selang, dan membuat tubuh Serena langsung basah kuyup.Semprotan air itu bukan hanya melunturkan lumpur dari pakaiannya, tetapi juga lumpur di wajahnya. Serena memejamkan mata begitu dorongan air itu mengenai wajahnya.Setelah melihat itu, Martin buru-buru mematikan kra
“Sudah satu jam sejak aku pulang dan dia tidak kunjung pulang juga. Dia juga tidak mengabariku. Bahkan teleponku tidak diangkat.” Martin mengomel pelan namun membawa atmosfer ketegangan.Karena Martin mengumpulkan security yang berjumlah lima untuk ia perintahkan mencari Serena. Security yang berada
Jam berputar sangat cepat dan Serena baru saja menyelesaikan dokumen perjanjiannya dengan Martin. Lalu ketika ia baru bangkit dari kursinya, Serena menghela napas pelan karena langit sudah menggelap.Ia harus secepatnya pulang sebelum gelap karena bisa gawat jika menerima hukuman.Tetapi, Serena be
‘Ada kamar di dalam kamar.’ Serena sudah berada di dalam kamar Martin, tempatnya tertidur tadi malam. Namun pikiran buruk pun melanda, Serena mulai bertanya apakah tadi malam mereka tidur bersama di atas ranjang yang sama?Serena mundur lalu memeluk lengannya sendiri. “Tidak mungkin,” lirihnya deng







