MasukBerjuang melahirkan putra mereka di dalam ruangan.Jeritan Serena terdengar menyakitkan bagi Martin.Ia mendampingi istrinya yang tengah berjuang membawa putra mereka keluar untuk melihat dunia.Martin menangis, mengecup punggung tangan yang ia genggam berkali-kali.Sampai akhirnya terdengar bunyi tangisan bayi. Martin menunduk dan mengecup pipi istrinya. “Kamu berhasil.”Serena mengangguk dan tersenyum. “Sayang, aku ngantuk.”“Jangan.” Martin mengusap pipi Serena. “Lihat aku. Jangan tidur ya,” lanjutnya.Serena tidak tahu kenapa rasanya begitu mengantuk, ia hampir tertidur jika bukan Martin yang berusaha agar membuatnya tetap terjaga.Martin yang berbicara, meski pria itu tidak terlalu bisa berbicara panjang dan lebar.“Pak ini bayinya,” ucap dokter membawa bayi mereka mendekat.Akhirnya Martin menggendong anaknya, putranya yang paling ia tunggu. “Sayang,” lirihnya.“Kamu dan Mommy berhasil,” ucapnya dengan lembut. Kemudian menyentuh tangan mungil anaknya.“Mathias Brady Benson,” uca
1 bulan berlalu.“Sayang kamu yakin datang ke pernikahan Bela dan Jason?” tanya Martin memeluk istrinya dari belakang.Serena menatap pantulan dirinya yang siap menggunakan dress berwarna hitam yang tertutup. Dengan perut yang sudah besar.“Yakin, kita sebentar saja. Aku takut kelelahan,” jawab Serena.Martin memandang istrinya tidak yakin. “Aku punya firasat yang..”“Bagus,” lanjut Serena. kemudian berbalik dan menatap suaminya.Tangannya bergerak merapikan dasi Martin yang sedikit miring. “Aku harus datang ke pernikahan sahabatku.”Serena mendengus pelan. “Aku tidak habis pikir dengan mereka, satu bulan? Persiapan mereka terasa terburu-buru. Mereka seperti ‘kebelet kawin’.”Seketika tawa Martin pecah karena mendengar kalimat istrinya. “Pasti mereka seperti itu.”“Aku yakin Jason yang paling parah,” lanjutnya.Serena tertawa, kemudian mengambil tangan Martin, kemudian memeluknya. “Ayo hadiri pernikahan merkea yang kebelet itu.”“Jika Jason mendengarnya dia pasti akan marah-marah.” Ma
“Jangan main-main. Bagaimana mungkin menikah besok. Kita belum persiapan!” Bela memukul Jason pelan.Jason terkekeh pelan. “Baiklah-baiklah.” Kemudian menarik Bela kembali ke dapan pelukannya.Bela tersenyum, kemudian menyandarkan kepalanya di dada Jason. “Jujur padaku, apa kamu pernah bermain dengan perempuan lain selama bersamaku?”“No, tentu saja tidak.” Balas Jason langsung.“Sungguh?” tanya Bela melepaskan pelukannya, kemudian menatap kekasihnya lebih dalam. “Sekalipun tidak?”Jason langsung menggeleng keras. “Tidak.”“Chat?”“Tidak!”Bela tersenyum dengan bahagia. Kemudian mengangguk dengan puas. “Tapi tunggu,” ucapnya.“Kalau begitu kamu tidak pernah melakukannya ‘kan?” tanya Bela memastikan.Jason menyipitkan mata kemudian menggeleng. “Dengan tanganku sendiri.”“Shit, bagus!” Bela memberikan jempolnya kemudian tertawa. “Kerja bagus, Jason.” Lalu menepuk bahu Jason dengan bangga.Jason mendekat, kemudian menarik pinggang Bela. “Ayo menikah besok saja, supaya kamu bisa membantuk
“Huh-huh!” Bela mengeratkan genggaman tangannya pada Jason.Mengambil napas berulang kali karena dirinya benar-benar gugup setengah mati.“Aku di sini, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu,” ucap Jason mengecup punggung tangan Bela.Bela mendekat dan mengecup pipi Jason. “Aku hanya sedikit gugup karena takut, ah bukan takut. Maksudku adalah aku tahu mereka pasti tidak akan menyukaiku, tapi aku—”“Hei-hei.” Jason menangkup wajah Bela. “Tidak masalah, meski mereka tidak merestui hubungan kita. Kita akan tetap bersama, tidak peduli dengan restu atau penilaian mereka.”Bela menatap kekasihnya. Kemudian ia berusaha menyerahkan semuanya pada Jason.Hari ini ayah Jason mengundang Bela makan malam.Bela tahu orang tua Jason terobsesi menikahkan Jason dengan perempuan yang memiliki kriteria tertentu.Dan jika dibandingkan dirinya, dirinya bukan apa-apa karena orang tuanya tidak memiliki apapun sekarang.Dirinya hanya pegawai kantoran.“Tenang, oke?” Jason menunduk dan mencium bibir Bel
Melihat seseorang dari kejauhan dan rasanya tidak asing. Akhirnya memutuskan untuk berhenti.Isaac berlari saat tendakan itu akan segera tiba. Akhirnya ia yang terkena tendangan dari perempuan aneh yang memaki Ava.“Akh!” keluh Isaac mundur sembari memegangi kakinya.“Kau baik-baik saja?” tanya Ava menarik Isaac mundur.“Aku baik-baik saja.” Isaa mengangguk pelan kemudian menatap wanita di hadapannya.“Berhenti mengganggunya! Urusi kasusmu, aku yakin kau tidak akan lolos dengan mudah!” ucap Isaac dengan lantang pada Dina.Akhirnya ia mengingat siapa wanita di hadapannya ini. “Bantu saja orang tuamu dan jangan mengusik Ava.”“Kau!” Dina memandang Isaac. “Kau bocah, kau tidak tahu apapun. Pantas saja kau menjadi angkuh, orang tuamu terlalu memanjakan bocah sepertimu.”Isaac memutar bola matanya malas. “Tidak usah banyak bicara, pergilah!” usirnya.Isaac memberi kode pada satu orang yang bertugas sebagai sopir sekaligus bodyguardnya.Dina menatap kesal pada Ava dan akhirnya memilih pergi
“Salah satu pendiri sekaligus pemegang saham tertinggi di firma hukum BAP, menjadi tersangka atas laporan pelecehan pada beberapa pegawai kasar di kantor.”“Tidak hanya itu, dia juga bersalah atas kasus dulu yang melibatkan dua perusahaan besar. Gunawan menerima suap atas kasus tersebut dan mundur dari persidangan yang tengah berjalan.”Serena menggeleng. “Dasar bajingan gila, menyebarkan gosip putrinya yang berhianat lalu menumbalkanku. Sementara dirinya ada dibalik kekacauan itu. picik sekali!”Presenter kembali berbicara “Sehingga membuat perusahaan D rugi sangat banyak. Sekarang, kasus masih berjalan dan ditangani oleh kejaksaan pusat.”Pembawa berita harian di televisi itu berpindah tempat, kemudian layar menampilkan profil seorang perempuan.“Dari mana kasus ini berasal? Dari seorang perempuan yang bernama Serena Jane, yang merupakan istri dari pengusaha besar, Martin Raxter Benson.”“Serena Jane bekerja di GAP dan mendapatkan banyak diskriminasi, bahkan perundungan kerja dan fi
Serena tidak mengira bahwa Jason akan menyusulnya dan bertanya padanya. Serena masih terdiam di tempat dan menimang ucapan pria itu.“Kau melihatku tadi?” tanya Serena.“Hm.” Jason mengangguk kecil dan kedua tangannya berada di dalam saku, kemudian keningnya mulai mengernyit. “Di tempat golf, saat
“1 jam.”“Hm?” Serena kebingungan. “Yang jelas-jelas saja, Martin. Jangan membuatku bingung, aku sudah lelah belajar dan kau membuatku semakin lelah.”Martin setengah menekuk lututnya untuk menyamakan tingginya dengan Serena. kemudian mendekatkan bibirnya tepat di belakang telinga Serena untuk mema
Serena meyakinkan dirinya sebelum berangkat ke tempat golf karena dia hanya akan menganggap bermain golf sebagai pengalaman. Pertama kali sampai, Serena berkenalan dengan tiga teman-teman Martin yang merupakan pengusaha.Sepertinya usia mereka tidak jauh berbeda dengannya dan Martin.“Serena.” Sere
Krik-krik.Diam, Bela hanya mengedipkan mata beberapa kali sembari menatap Miko. Sedangkan Serena menyipitkan mata dan otaknya berpikir keras untuk membuat alasan masuk akal untuk membantah ucapan Miko.“Kau bilang apa?” tanya Bela seperti baru bangun dari lamunan.“Saya bilang, Pak Martin dan Bu S







