INICIAR SESIÓN“Halo,” sapa Serena ketika masuk ke dalam kantornya.“Bu Serena!” Ava mendekat dan memeluk Serena dengan ceria.Sedangkan Liana, pengacara yang menggantikannya segera berdiri. “Selamat datang dan kembali ke kantormu.”Liana merupakan kenalan Martin.Karir Liana cemerlang di luar negeri dan kembali ke negeri ini ingin mendirikan kantor hukum sendiri. Tapi Martin segera menariknya untuk menggantikan Serena sementara.Dan rencananya ketika Serena sudah benar-benar sembuh, mereka akan mendirikan firma hukum sendiri.Liana memeluk Serena. “Maaf belum bisa menjengukmu sampai kau di sini,” ucapnya.Serena menggeleng. “Tidak masalah. Aku baik-baik saja sekarang.”“Ada yang ingin aku bicarakan, rencananya aku akan cuti bulan depan selama seminggu karena aku ingin mengantar anakku sekolah di sana,” ucap Liana.“Ya,” balas Serena mengangguk. “Kak Liana bisa pergi. Dia sudah kuliah?”“No, dia dapat beasiswa highschool di sana. Jadi aku dan suamiku ingin mengantarnya dan memastikan lingkungannya d
2 bulan berlalu.Serena memutuskan untuk pergi ke kantor setelah sekian lama, tujuannya bukan untuk sepenuhnya kembali bekerja.Ia ingin melihat perkembangan kantornya secara langsung. Dan minggu depan mereka akan pindah ke gedung baru.Omset kantornya melesat, perkembang jauh lebih baik dan merekrut lebih banyak pengacara.Serena mengernyit pelan melihat beberapa orang berjaga di depan kantornya.“Bu Serena,” panggil Miko yang akhirnya mendekat. Dengan cengirannya yang khas ia tersenyum.“Ada apa ini? kenapa banyak orang yang berjaga di depan seperti ini?” tanya Serena menatap tiga orang yang berjaga di depan kantornya.“Martin tidak bilang apa-apa,” lirih Serena. “Seharusnya jika penjagaan dari Martin, mereka akan konfirmasi dulu padaku.”Senyum Miko luntur kemudian pandangan mereka beralih pada mobil yang baru saja berhenti.Keluarlah seorang pria paruh baya dengan tubuh yang tegap. Memakai setelan kemeja yang rapi.“Miko,” panggil bapak itu.“Iya, pa.” Miko mendekat, kemudian mena
Serena dan Martin turun bersama. Lalu Serena terdiam di tempat seperti memastikan sesuatu pada dua orang yang sekarang berada di hadapannya.Ava terkekeh pelan, kemudian mendekat dan memeluk Serena. “Good morning, bu Serena.”Serena menggeleng pelan. “Sudah terlalu siang, Ava.”Ava mundur sembari tertawa, kemudian meraih kantong belanjaan yang di bawa oleh Isaac.“Dari kami,” ucap Ava semakin menambah gelengan pada kepala Serena.“Kami?” ulang Serena memastikan.“Iya, kami, kak.” Isaac menjawab sembari tersenyum dengan sangat manis. “Kami datang berdua untuk menjenguk kalian.”Martin memandang Isaac, pemandangan yang aneh. Tapi ia segera merangkul bahu Isaac.“Ayo kalian pasti ingin bertemu dengan Mathias.” Martin mengajak mereka untuk pergi ke kamar Mathias.“Katakan apa yang terjadi?” tanya Serena mendesak Ava. “Kamu berkencan dengan Isaac?”Seperti kakak yang ingin tahu hubungan kencan adiknya. Serena terdengar khawatir namun juga protektif.“Belum sejauh itu,” balas Ava. “Karena s
1 minggu berlalu dan Serena akhirnya pulang.Menggendong Mathias yang berada di tangannya. “Kita pulang,” ucapnya pelan.Serena memandang anaknya yang begitu manis. “Bukankah hidungnya mirip kamu ya?”Martin tersenyum. “Sudah pasti. Lihat wajahnya, nanti pasti akan lebih mirip aku.”Serena mengerucutkan bibirnya. “Mommy tidak kebagian apa-apa ya?” tanyanya pada Mathias yang menggeliat kecil di dalam gendongannya.Martin tertawa pelan. “Nanti sifatnya akan sehangat dirimu.”“Ooo…” Serena menyandarkan tubuhnya pada bahu suaminya. “Jangan pendiam dan sok dingin seperti Dad ya?”“Aku pendiam? Aku sok dingin?” ulang Martin.Serena terkekeh pelan dan berjalan cepat sembari menggendong Mathias menjauh dari Martin.Menaiki tangga dengan cepat.“Sayang! Pelan-pelan! kamu baru sembuh!” teriak Martin melihat Serena yang tengah menaiki tangga dengan cepat.Serena mengedikkan bahu karena merasa tubuhnya ringan dan tidak perlu berjalan dengan lemah lembut.Martin mengejar istrinya, lalu masuk ke da
Bela cepat-cepat mengalihkan kamera pada dirinya sendiri. “Cukup, jangan mengurusi orang lain. Kau harus fokus pada pemulihanmu! Aku akan segera menjengukmu dan memberitahu mereka!”Lalu panggilan mati.Bela menghela napas lega karena sahabatnya baik-baik saja. Karena ia memiliki firasat buruk sejak Martin menjawab pertanyaannya dengan jeda yang cukup lama.Mengenai Isaac dan Ava yang memojok berdua? Entah terserah mereka.“Sayang,” panggil Jason menarik pinggangnya.“Iya suamiku.” Bela tersenyum.Jason mengalihkan pandangannya karena tersipu dengan panggilan itu.Bela menoel pipi Jason berkali-kali karena lucu.“Awas kamu nanti. Berhenti menggodaku.” Jason meremas pelan pinggang Bela.Di sisi lain, yang katanya memojok berdua ternyata sedang membicarakan sesuatu. Isaac memandang Ava yang menggunakan dress berwarna maroon.“Kau cantik,” ucapnya.“Terima kasih.” Ava menunduk sebentar.“Tapi, apa kau memang sesibuk itu sampai tidak bisa makan denganku?” tanya Isaac.Ava menahan senyumny
Alat medis kembali berbunyi dan bunyinya lebih kencang. “Mohon maaf, anda pergi dulu.” Martin digiring keluar sedangkan Serena masih berada di dalam ruangan untuk ditangani. Orang tuanya pun sudah berupaya untuk menenangkan tapi Martin tidak akan bisa tenang dalam keadaan istrinya masih berjuang di dalam sana. Menunggu dalam keadaan yang begitu cemas namun akhirnya dokter keluar beserta perawa yang lain. “Bu Serena sudah membaik, tadi keadaannya sempat drop karena pendarahan yang cukup hebat. Tapi sekarang sudah membaik dan akan kami pindahkan ke ruang biasa.” Martin menghembuskan napas lega dan akhirnya Serena dipindahkan ke ruang inap biasa. “Serena, sayang.” Martin mengambil tangan Serena, menatap istrinya yang membuka mata setelah sekian lama. “I love you,” ucap Martin mengecup dahi Serena beberapa kali. “Terima kasih sudah bertahan.” Serena tersenyum, kemudian menatap langit-langit kamar yang berwarna putih ini. “Aku tadi seperti bertemu dengan mama.” Martin mengangguk se
“Ya.” Balasan singkat dari Serena yang menutup obrolan. Serena pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri dan meninggalkan Martin begitu saja.Namun setelah itu, Serena keluar dari kamarnya dan mendekati Martin. Ia membawa satu buah guling yang bersarungkan kain berwarna pink.“Mau aku tungg
Serena menepati janjinya, setelah Sidang ia langsung pulang. ia menyerahkan urusan kantor pada Miko dan Ava. Karena ia harus memastikan keadaan Martin.Saat sampai di mansion, Serena kemudian bergegas pergi ke kamar. Ia membuka dengan hati-hati dan berusaha agar suara pintu tidak mengganggu istirah
Mulut Miko benar-benar ember, seember bak yang jebol. Dan Serena harus melakban mulut Miko supaya tidak menceritakan apa yang sudah disepakati mana yang tidak boleh dibahas.Tetapi Miko hampir menceritakan kejadian di klub pada Martin. Namun Serena bergerak dengan cepat menginjak kaki Miko di bawah
Martin mengusap rambutnya pelan, beberapa jam yang lalu rambutnya ditarik Serena dengan sangat kuat sebagai pelampiasan. Dan selain kulit kepalanya sakit, kepalanya juga terasa berat.Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan waktunya untuk beristirahat. Martin akan pergi ke kantor Serena untuk maka







