MasukSerena menggunting tali pita yang terbentang ke sisi kanan dan kiri. Tujuannya sebagai perayaan pembukaan gedung baru yang akan digunakan sebagai kantor barunya.Dan sekarang bukan kantor, tapi firma hukumnya yang ia dirikan bersama Liana.Tentu saja ada bapak Martin yang terhormat sebagai investor utama firma hukum ini.“Terima kasih semua,” ucap Serena tersenyum, tangannya meraih lengan suaminya yang berada di sampingnya. memeluknya dengan bangga.Serena tidak pernah bermimpi di titik saat ini.Dua tahun lalu ia masih sibuk berlari dari kejaran rentenir, menghindari teman-teman sekolahnya dan meratapi nasibnya yang ditinggali banyak hutang.Tapi sekarang, ia berdiri dengan percaya diri di depan firma hukumnya dan memiliki banyak pegawai.Serena tahu semua yang ia raih saat ini tidak terlepas dari kerja keras suaminya.Martin, suaminya yang telah melindungi dan membelanya mati-matian dari orang-orang yang berusaha mencelakainya.“Terima kasih,” ucap Serena suaminya.Martin menunduk d
“Ada apa?” Serena mendongak, di atas tubuh suaminya yang telanjang, ia bertopang dagu.“Cassie tidak jelas, tiba-tiba menelepon dan ingin membatalkan kerja sama dengan perusahaan kekasihnya. Padahal aku sudah meninjau proposalnya,” jelas Martin. lalu tangannya mengusap dagu istrinya pelan.Setelah percintaan hebat mereka, teleponnya berbunyi dan ternyata dari kakaknya.Sebenarnya Martin ingin menolak panggilan dari kakaknya itu. karena sekarang adalah waktunya bermesraan dengan istrinya, tapi kakaknya itu mengganggunya.Namun karena ia mengingat jasa kakaknya yang menyatukannya dengan Serena, akhirnya ia mengangkat panggilan telepon di waktu hampir tengah malam ini.“Ada masalah?” tanya Serena. “Apa mereka bertengkar dan putus sampai kak Cassie memutuskan untuk membatalkan kerja sama saja?”Serena berguling ke samping, kemudian memeluk lengan suaminya.“Mungkin.” Martin mengernyit pelan. “Tadi saat aku tanya apa dia baik-baik saja? Dia bilang dia baik-baik saja dan,”“Dan?” ulang Sere
Ciiit! Mobil langsung berdecit karena Alvin menginjak pedal rem dengan keras. Tidak ada mobil atau kucing yang harus dihindari, karena kejadian itu murni karena perbuatan Alvin yang terkejut. “Alvin!” Cassie setengah berteriak. “Kau gila?” Alvin mengerjap pelan, kemudian menghadap Cassie. “Maaf, kak. Aku terkejut jadi..” “Kau terkejut hanya karena aku tanya kau sudah memiliki kekasih?” tanya Cassie tidak percaya. Alvin mengangguk pelan. “Aku hanya terkejut jadi aku sangat bodoh dan—” “Karena kau menyukaiku?” tanya Cassie langsung to the point. Cassie bukan orang yang memendam dan lebih suka berterus terang daripada bingung sendiri. “Kau menyukaiku ‘kan?” Alvin menghela napas kemudian meremas stir mobilnya. “Ya, tapi seharusnya bukan seperti ini.” “Sebenarnya,” lirih Alvin. Kemudian melepaskan sabuk pengamannya dan menghadap Cassie. “Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di acara perusahaan. Aku tidak berani mendekat karena kak Cassie adalah kakak sahabatk
Seorang pria tengah minum sendiri di sebuah bar. Tidak ada yang bersamanya karena teman-temannya kini sudah sibuk dengan dunia masing-masing.Alvin memandang gelasnya yang sudah kosong. “Isaac, bocah kecil itu sudah memikirkan perempuan sampai diajak minum tidak mau.”“Alvin,” panggil seseorang.Alvin menoleh kemudian mengernyit dan setelah tahu langsung memasang senyumnya.“Halo, kak.” Alvin tersenyum pada Cassie yang berada di hadapannya.“Kenapa kau di sini sendiri?” tanya Cassie menatap sekitar. “Kau patah hati?” guraunya.Alvin berdiri kemudian menggeleng. “Tidak, aku hanya bosan dan tidak memiliki teman untuk aku ajak minum.”“Kak Cassie sendiri?” tanya Alvin.“Aku habis bertemu dengan temanku,” ucap Cassie, kemudian menatap Alvin karena menurutnya menyedihkan.“Kau sudah makan? Mau makan bersamaku?” tanya Cassie.Alvin mengangguk. “Hm, aku juga lapar. Mau ke bawah? Di sana ada restoran.”Cassie mengeleng. “Tidak, aku punya tempat rekomendasi untuk makan. Ayo ikut denganku.”Alv
“Sayang kamu kenapa sibuk sekali?” Martin memeluk pinggang Serena dari belakang. menatap layar ponsel Serena yang masih menyala.“Apa? Kamu chat dengan Isaac?” Mata Martin langsung melotot melihat aplilkasi pesan teks di ponsel Serena.Tertulis jelas di sana nama ISAAC!“Apa yang kalian bicarakan.” Martin langsung menunduk dan melihat lebih dekat apa yang dibicarakan mereka berdua.“Aku hanya menyuruhnya menjemput Ava,” jawab Serena menunjukkan isi pesannya dengan Isaac.“Kenapa?” tanya Martin mengambil ponsel Serena, kemudian membacanya sampai akhirnya.“Ava menjenguk pria itu,” lirih Martin akhirnya mengerti.“Aku menyuruh Miko, tapi Miko tidak bisa jadi orang terakhir yang bisa aku mintai bantuan hanyalah Isaac,” lanjut Serena kemudian mengambil ponselnya kembali.“Tapi bukankah seharusnya itu bagus? Ava dan Isaac bisa bersama.” Marti menganggukan kepalanya dengan santai.“Tidak seperti bayangan kamu. Hubungan mereka rumit dan aku terpaksa meminta bantuan Isaac,” jelas Serena.“Tid
“Kau ingin memberiku uang?” tanya Gunawan yang berada di balik kaca.Sedangkan di hadapannya adalah putrinya yang ia telantarkan. Mereka dipisahkan oleh tembok kaca yang begitu kokoh dan tebal.Dan mereka hanya bisa berhadapan dan saling berbicara tanpa bisa menyentuh.“Berapa?” tanya Ava berusaha tenang.Gunawan tertawa pelan. “Kalau kau ingin berbakti padaku berikan yang banya, karena kau aku bangkrut dan berada di sini.”“Kau pantas mendapatkannya,” ucap Ava. “Aku ke sini hanya ingin melihatmu menderita.”“Dasar kurang ajar!” umpat Gunawan terlihat marah dengan garis wajah yang sudah tua itu menegas.“Beri aku uang!” teriaknya mulai hilang kendali.Ava tertawa pelan. “Andai aku bisa memilih, aku lebih baik tidak punya ayah daripada punya ayah sepertimu. Dan jika aku bisa memilih aku lebih memilih tidak pernah bertemu denganmu.”“Kau benar-benar kurang ajar,” desis Gunawan mulai tidak terkendali mendengar ucapan Ava.“Aku sangat senang kau bangkrut dan dipenjara. Aku berharap kau me
Kejadiannya begitu cepat ketika tubuhnya dan tubuh Martin seperti saling tertarik bak magnet.*Beberapa menit yang lalu, sebelum ciuman mereka dimulai, Serena berlari pergi ke toilet karena pusing.Tentunya karena efek alkohol yang berada di dalam tubuhnya. Dan benar kata Bela, Serena tidak boleh me
Jantung Serena langsung berdegup dengan kencang seperti sedang tertangkap basah bersama Martin. Lalu Serena segera menggeleng keras untuk menampik segala tuduhan dari Max yang menggunakan setelan kemeja biru elektrik itu. “Tidak! Aku dari kamar mandi!” “Aku dari belakang,” ucap Martin tenang seo
Serena kira ia akan jatuh, paling tidak akan sedikit berguling di tanah. Tetapi tidak, tubuhnya mendarat di pangkuan Martin. Bukan kebetulan, karena Martin menarik pinggangnya saat ia akan terjatuh. Sehingga tubuhnya dengan begitu pasti mendarat di pangkuan Martin dan pantatnya mendarat di paha Ma
“Ada yang berkelahi.” Ucapan dari seseorang yang berada di belakang membuat Serena dan Bela saling menatap. Kemudian mereka menghadap ke atas dan melihat teman mereka yang akan berkelahi. Karena posisi Martin dan Gilang memang terlihat akan saling memukul. “Martin dan Gilang,” ucap dari seseorang







