LOGINSerena tahu, ia menjadi anak yang durhaka pada ayahnya karena jarang sekali menjenguk. Tetapi, Serena juga tidak ingin melihat ayahnya sakit. Ketika perawat ayahnya menghubunginya ia berada di ruang sidang. Bahkan Martin juga menghubunginya, tapi meski Serena mengerti situasi ayahnya ia juga tidak bisa meninggalkan ruang sidang. Serena sangat-sangat bersyukur ada Martin yang membantunya. Martin membawa ayahnya ke rumah sakit yang lebih baik. “Dokter bilang jika ayahmu membaik malam ini, dia bisa dipindahkan ke ruang biasa.” Martin mendampingi Serena pergi ke ruangan Wijaya, ayah Serena. Serena menatap ayahnya yang terbaring di atas ranjang dengan alat medis yang menancap di tubuh. Melalui jendela yang terbuat dari kaca, tubuh ayahnya terlihat semakin kurus. Serena berjalan mendekat, kemudian tangannya terangkat dan menyentuh kaca itu. “Menyebalkan,” lirihnya. Martin menoleh, kemudian menatap Serena yang terdiam setelah mengeluh. “Aku tidak bisa membencinya dan mengabaikannya,”
Beberapa menit yang lalu. Bela terpaksa berdiri di tepi jalan karena mobilnya mogok. Bela bersandar di mobilnya sembari menunggu bantuan datang. Namun tidak lama Ia mengangkat tangannya ketika melihat temannya yang keluar dari mobil dan masuk ke dalam sebuah rumah sakit. Bibir Bela sudah terbuka dan hampir berteriak memanggil temannya yang sedang berlari masuk ke dalam rumah sakit. Serena terlihat seperti orang yang begitu ketakutan. “Kenapa dia?” tanya Bela mulai kalut. Kemudian melebarkan mata dan pikirannya mulai mengarah pada keadaan ayah Serena. karena ia tahu bahwa keadaan ayah Serena sering melemah. Bela berlari mengikuti Serena, tetapi ia langsung berhenti ketika melihat Martin di sana. Mereka nampak berbicara dengan serius sehingga Bela ingin segera mendekat dan menanyakan keadaan. Tetapi langkahnya berhenti karena mendengar ucapan Martin yang menyebut Serena sebagai istrinya. “Tidak mungkin,” lirih Bela menyipitkan mata. Tetapi interaksi mereka lebih dari sekedar tema
“Laba bulan ini menunjukkan penurunan,” ujar Martin yang duduk di tengah meja panjang. Di sisi kanan dan kiri diisi oleh kepala Divisi. “Ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Saya tidak ingin bulan depan terjadi seperti ini lagi. Perhitungan angkanya juga banyak yang salah.” Martin membolak-balikkan dokumen yang sedang berada di tangannya. Setelah rapat itu, akhirnya ia keluar dengan sedikit keringat yang berada di dahi. Martin berjalan dengan langkahnya yang tegap menuju ruangannya sendiri. lalu tangannya menarik dasinya yang terasa mencekik. Setelah masuk ke dalam ruangan, Martin kemudian duduk, memejamkan mata untuk memulihkan energinya sebentar. Tetapi Dariel mengetuk pintu dan masuk. “Tuan, ada telepon yang masuk. Dari sebuah panti jompo.” “Panti jompo?” ulang Martin. “Iya tuan dan setelah saya mengonfirmasi, katanya dari panti jompo ayah nyonya Serena. Sekarang keadaannya sedang membutuhkan penanganan medis. Sehingga harus ada tandatangan wali. Pihak pantai jompo sudah
Serena terpaku, terlebih karena efek alkohol yang memang masih bersarang di tubuhnya. Otaknya serasa tidak bisa berfungsi dengan benar. seharusnya untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, ia bisa mendorong Martin menjauh.Tetapi tubuhnya kaku, apalagi saat napas Martin yang terasa di lehernya. Serena juga menahan napas karena Martin seperti menciumnya tanpa menyentuh. Membauinya dan mengendusnya dengan samar.Serena mencengkram lengan Martin dan cengkramannya itu begitu kuat. Tetapi tidak membuat Martin mengeluh.“Bau alkohol,” bisik Martin selesai dengan pekerjaannya. “Sebaiknya kau segera membersihkan diri, sebelum aku yang turun tangan.”Tangan Serena bergerak di dada Martin dan mendorongnya. Tetapi entah kenapa tubuh Martin menjelma menjadi batu. Susah dan sangat keras, sehingga usahanya mendorong tidak membuahkan hasil.“Kruk!” suara salah satu perut yang membutuhkan makanan. Antara Martin dan Serena.Serena menggigit bibir bawahnya dan mendorong Martin sampai terlepas. “A
Jarak Martin dengan Serena cukup jauh, namun Martin masih bisa menangkap suara Serena yang begitu cempreng. Martin menghentikkan langkahnya, kemudian memutar tubuhnya dan melihat Serena yang masih berada di luar Mansion.“Kenapa lagi?” Martin menyipitkan mata kemudian berjalan mendekat.Serena kemudian mendengus pelan, tatapannya menyelidik. Tetapi tidak mendapatkan apapun karena ekspresi Martin yang datar, tidak marah tidak pula senang.“Kau marah?” tanya Serena.“Untuk apa aku marah?” Martin mendekat, kemudian tangannya terulur dan menangkap pergelangan tangan Serena. menariknya perlahan sampai mereka berjalan bersama masuk ke dalam Mansion.Martin seperti menggelandang kambing kecil yang penurut, kambing yang angkuh namun cukup penurut.“Mau aku buatkan susu? Atau mau aku mandikan agar kau cepat tidur?” tanya Martin tanpa melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Serena.Kemudian menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan Serena. tidak lupa senyum manis yang menghasi wajahnya memb
“Minggir!” Serena mendorong Martin kemudian bangkit dan berjalan. Sedangkan Martin hanya menggeleng pelan dan akhirnya menyusul Serena.Serena menoleh ke belakang karena Martin berada di belakangnya. “Bagaimana dengan Isaac dan Alvin?” tanya Serena penasaran apakah teman-teman Martin masih berada di rumah.“Mereka sudah pulang karena tidak bisa masak dan aku tinggal pergi.” Martin membukakan pintu untuk Serena karena takutnya sempoyongan dan jatuh lagi.Seharusnya sudah tidak ada yang dikhawatirkan. Tetapi Serena masih kepikiran oleh Bela dan Jason. Bagaimana jika Bela sadar dan menyekap Jason di Apartemen. Bagaimana jika Bela tidak membiarkan Jason pulang.Serena sudah duduk di atas bangku mobil, namun pikirannya begitu penuh dengan praduga keadaan sahabatnya.Dan Martin yang baru masuk mobil melihat Serena melamun seperti orang linglung. “Serena,” panggil Martin.“Kau pasti mabuk berat sampai melamun seperti ini,” lanjut Martin lalu menjalankan mobil dengan tenang.“Aku tidak mabuk.







