LOGIN21++Aktivitas panas seharusnya tidak terjadi di ruang terbuka dan kegiatan yang seharusnya berada di dalam ruang nyaman.Tetapi, Serena menginginkan sentuhan Martin tanpa memedulikan tempatnya sekarang.Tubuhnya berada di atas meja bundar yang baru saja tadi digunakan untuk makan bersama.Lalu Martin mendorongnya perlahan sampai ia terlentang di atas meja. Dan bibir mereka menyatu, saling menyesap.Martin menunduk lalu memposisikan dirinya setengah menindih tubuh Serena. Sedangkan tangannya berada di belakang mencari resleting.“Martin,” lirih Serena menghela napas. Kemudian dengan mata yang meremang, ia menatap wajah Martin yang tepat berada di atasnya.“Kita tidak sopan.”Martin mengernyit. “Apa katamu?”“Meja ini besok digunakan untuk sarapan, kita tidak boleh mengotori meja ini.” tangan Serena terulur dan mengusap meja yang begitu besar.Tangan Martin mengusap pipi Serena lembut. “Kita buang mejanya setelah ini.”Serena mengerutkan keningnya, otaknya yang hampir lumpuh karena alk
Ketika Serena pergi, Martin menyibukkan diri dengan membaca buku. Tetapi ia hampir ketiduran karena Serena benar-benar lama, padahal tadi bilang sebentar.Martin akhirnya keluar, ia hanya ingin memastikan Serena benar-benar bersama Bela. Tetapi, ketika ia sampai di depan kamar.Justru ia melihat Bela yang bersama Jason di samping kolam renang.Martin mengernyit dan dugaannya benar, Serena membohonginya.Martin pergi untuk mengecek cctv dan Serena berada di restoran sedang minum anggur!“Kau membohongiku, Serena Jane?” Suara berat seseorang yang akhirnya membuat Serena berhenti.Martin merebut botol anggur yang sudah kosong dari Serena. kemudian menyingkirkannya dan menjauhkannya.“Kenapa kau di sini?” Martin memejamkan mata sebentar untuk meredam kemarahannya.Wajahnya yang datar mengeras, lalu kedua matanya masih memejamkan mata dan pada akhirnya hembusan napasnya terdengar pasrah.Serena mendengus dan tidak menjawab ucapan Martin.Kemudian menelungkupkan wajahnya pada meja.Martin a
Martin menatap jam tangan sebentar, Martin kemudian bangkit dari duduknya. “Sudah malam.”“Bilang saja ingin bermesraan dengan Serena.” Jason berdecih pelan lalu menggeleng.Martin berjalan masuk ke dalam Vila lalu membuka kamar. Di sanalah Serena, sedang duduk dan bermain ponsel.Martin mendekat lalu mengambil duduk di samping Serena. “Kau sedang apa?”Dengan sengaja mencondongkan tubuhnya untuk melihat apa yang sedang dilihat oleh Serena.Serena mematikan ponselnya, kemudian menatap Martin. “Aku akan pergi ke kamar Bela.”Martin menyipitkan mata, kemudian menarik pinggang Serena mendekat. “Kau bilang apa? Aku tidak dengar.” Sembari mendekatkan wajahnya.Serena memutar bola matanya malas namun ia tidak bisa menyingkirkan tangan Martin dari pinggangnya.Dan dalam sekali gerakan saja, tubuh Serena sudah terangkat ke pangkuan Martin.“Kyaak!” Serena memukul pelan dada Martin. “Kau semakin berani ya?”Martin terkekeh pelan, kemudian menyentuh helaian rambut Serena, lalu membawanya ke bel
Beberapa saat yang lalu.Setelah selesai makan, semuanya berpencar, mungkin kembali ke kamar masing-masing. Sedangkan Serena memilih untuk berbicara lebih dulu dengan Bela sembari berjalan menuju Villa.“Bagaimana?” Bela menyenggol lengan Serena kemudian tersenyum menggoda. “Sepertinya terjadi sesuatu di antara kalian tadi.”Serena tidak bisa menahan senyumnya kemudian mengangguk.Bela mengguncang lengan Serena dengan antusias. “Kau sudah mengungkapkan perasaanmu?”Serena menggeleng. “Belum, mungkin malam ini.”Kemudian mengeratkan jaket Martin yang berada di tubuhnya. Jaket berwarna hitam yang diberikan Martin padanya sebelum mereka berjalan menuju restoran.Serena menunduk kemudian mencium aroma jaket yang memang persis aroma Martin. Lalu diam-diam tersenyum, namun Bela menangkap senyumnya lebih dulu.“Kau benar-benar menyukainya,” ucap Bela berjalan lebih dulu kemudian memutar tubuhnya dan berjalan mundur.“Bagaimana kau akan mengungkapkan perasanmu?” tanya Bela yang sangat penasar
“Kau ingin tahu? Haruskah kami memberitahumu dengan detail apa saja yang kami lakukan?” Martin kelewat santai sedangkan Serena yang berada di sampingnya mulai melebarkan mata.Bela bertopang dagu dengan senyum yang tidak bisa ditahan. “Aku akan mendengarkannya dengan baik apa saja yang kau lakukan pada sahabatku ini.”“Coba ceritakan,” lanjut Bela semakin nyaman dengan posisinya.Karena ia ingin mendengar cerita kenapa Serena telat kembali ke Villa.“Bagaimana kalau kau iri setelah ini?” tanya Martin yang semakin meledeni ucapan Bela.Sedangkan Serena yang berada di tengah mereka mulai mengeluarkan tanduk kemarahan. “Martin, berhenti,” ucap Serena mendelik pada Martin.Lalu mengusap kepalanya. “Kalian sama saja.” Kemudian melirik Bela yang berada di samping kanannya.Bela tertawa pelan. kemudian menatap Martin. “Mari berhenti, kau membuat Serena malu.”“Serena tidak malu kok.” Martin mencolek pipi Serena dari samping.“Kalian berhenti,” ucap Serena mulai lelah. Martin dan Bela tidak a
Villa yang benar-benar mewah untuk ukuran jarang ditempati karena semua fasilitas hampir ada.Kamar yang begitu banyak, kolam renang, ruang olahraga dan taman. Sedangkan di dekat pantai ada restoran yang ada pegawai beserta chefnya.Bela mengeratkan jaketnya, ia berjalan bersama Isaac. Karena Jason dan Alvin berada di belaknagnya.“Kau sudah lama berteman dengan Martin?” tanya Bela membuka obrolan.“Oh kak Martin, sudah lama. Ada 5 atau 6 tahun, kalau kak Bela sendiri?” tanya Isaac menoleh pada Bela dan tersenyum.Manis sekali karena bagi Bela senyum pria muda nan tampan seperti Isaac adalah sesuatu yang berharga.“Jangan memanggilku, kak. Aku tidak sekaku Serena dan Martin.” Bela berjalan dengan pelan, ia berharap tidak cepat sampai di restoran dan ingin lebih banyak mengobrol dengan Isaac.“Seperti Serena, aku berteman dengan Martin sejak kami di bangku Sekolah. Lalu setelah lulus kami jarang bertemu dan sesekali bertemu saat reuni, itupun juga diadakan setiap setahun sekali,” jelas







