LOGINMartin mengernyit kemudian menunduk dan melihat isi ponselnya lebih jelas.“Kenapa?” tanyanya dengan kebingungan.Serena menggulir layar. “Mereka yang di sini tidak akan memberikan kesaksian apapun tentang pembulian yang ada di firma hukum itu.”“Ada banyak ancaman dan pasti mereka akan berpikir ratusan kali jika berani speak up.”Martin mengusap puncak kepala Serena pelan. “Serahkan padaku. Karena saat ini, fokusku menyerang mereka secara perlahan sembari mengumpulkan bukti tentang kecurangan mereka padamu.”Serena cemas, karena keselamatan banyak orang pasti terlibat dalam pertempuran ini.Tetapi lagi dan lagi, Martin sebagai suaminya berhasil membuatnya tidak gentar.“Jangan khawatir dan jangan takut. Aku ada di sini selalu bersamamu.” Martin menarik tengkuk istrinya dan mencium bibir istrinya itu.Serena terhanyut dan ia membalas ciuman suaminya.Tapi ia masih cukup waras untuk tidak memperdalam ciuman itu karena di depan ada pak sopir.“Sadarlah!” mendorong dada Martin hingga men
“Sayang!” Martin menangkap tubuh Serena.Hampir saja tubuh kesayangannya jatuh, dan Martin memeluk erat Serena dengan khawatir.Seolah Serena hampir terjun dari jurang yang begitu tinggi.Serena mengira posisinya tidak seburuk itu, jika Martin tidak datang, mungkin bokongnya akan mendarat bangku seberang.Itupun tidak akan sakit karena bantalan bangku seberang lebih empuk dari bantalan kursinya tadi.“Kamu baik-baik saja, sayang?” Martin melepaskan pelukannya kemudian menangkup wajah istrinya.Memencet pipi Serena kanan dan kiri. “Kamu bisa bernapas? Tidak sakit?”Lalu menunduk dan mendekatkan kepalanya di perut Serena. “Baby kamu baik-baik saja di sana?”Serena hanya mengerjap melihat kehebohan Martin.“Martin sayangku, berhenti.” Serena mengusap rambut Martin dengan canggung karena para mata di kafe ini mulai menatap mereka.Martin mendongak kemudian menatap istrinya. “Kamu baik-baik saja? Ayo kita ke rumah sakit!”“Aku baik-baik saja,” balas Serena.Martin kemudian berdiri dengan t
“Selamat atas pernikahanmu dengan pemilik Benson,” ucap seseorang mengulurkan tangannya.Serena menatapnya dalam diam. Kemudian akhirnya menjabat tangan di hadapannya itu.Serena hanya tersenyum tipis kemudian bersindekap. “Tidak ada tujuan mengajakku bertemu setelah sekian lama?”Wanita itu tersenyum, kemudian memandang Serena dari atas hingga bawah.“Penampilanmu jauh berbeda dari lima tahun yang lalu. Oh pantas saja karena kau sekarang istri dari Martin Raxter Benson?”Serena tertawa pelan. “Tentu saja, dari atas hingga bawah semuanya dibiyai oleh suamiku. Aku juga malas-malasan bekerja akhir-akhir ini.”“Kau tahu? Uang bulanan yang diberikan Martin lebih banyak daripada penghasilan kantor hukumku,” lanjut Serena.Tujuannya hanya satu melukai harga diri Dina. “Barang-barang yang aku gunakan, aku tidak pernah minta. Karena suamiku sangat mencintaiku, dia selalu memberikanku. Bahkan dia mendatangkan orang-orang toko untuk membawa barang terbaru.”Serena tersenyum lebar, kemudian bers
“Sudah kuduga, dari awal membawamu menjemput Serena, aku tahu kalian pasti akan bersama.” Martin mengamati dua orang yang berada di hadapannya.Bela dan jason yang duduk berdampingan.Namun sayang cara duduk mereka masih sangat canggung, meski dibalik itu semua entah apa saja yang sudah mereka lakukan.Serena mendengus pelan. “Kenapa kau tidak menggandengnya? Coba gandeng di depanku.”Bela berdecak pelan. “Kenapa dengan tatapanmu hah! Kenapa kau galak sekali?” keluhnya.“Kenapa kau ingin melihatnya?” tanya Jason kemudian meraih lengan Bela dan memeluknya. “Seperti ini?”Serena semakin murung, karena ia tidak bisa sepenuhnya melepaskan Bela bersama Jason.Entah kenapa rasanya sangat sulit.Rasanya seperti sedang melepaskan anaknya pada seorang pria brengsek.Bela menyikut Jason namun kekasihnya itu tidak mau melepaskannya sama sekali.“Sabar-sabar…” Martin mengipasi wajah Serena dengan telapak tangannya.Serena mengusap perutnya pelan. Karena diam-diam berdoa agar anaknya tidak seperti
“Sayang,” panggil Martin di dalam mobil.Mereka sedang perjalanan pulang, tadi siang Serena menyuruhnya pergi namun Serena juga ingin dijemput Martin.Itulah kenapa mereka pulang bersama.“Maaf aku tidak bercerita,” ucap Serena kemudian.“Aku hanya tidak ingin menyeret kamu ke dalam masalahku. Karena aku pikir semuanya akan semakin rumit jika bertindak dalam masalah itu.”“Jadi apa yang sudah kamu lakukan?” tanya Serena menghadap suaminya.Ternyata istrinya itu belum sepenuhnya memaafkannya, karena yang dilakukan Serena sekarang adalah mencari tahu sekaligus menyelidiki.“Aku belum bertindak apapun tapi aku sudah memikirkan rencana supaya mereka tidak lagi mengganggu kamu.”“Jangan lakukan apapun,” ucap Serena.Martin meminggirkan mobilnya. Kemudian melepaskan sabuk pengamannya dan menatap istri tercintanya.“Sebagai suami dan calon ayah, aku berhak melakukan apapun untuk melindungi kalian,” ucap Martin dengan tegas.Dan Serena menyadari atmosfer yang berbeda.Martin bukan sekedar ora
“Kenapa?” tanya Serena dengan kebingungan.Martin lalu melepaskan pelukannya dan menyodorkan makanan yang ia bawa pada Miko yang tengah melihat mereka di ambang pintu.Miko segera menerimanya dan pergi ke dalam.Sedangkan Serena menoleh ke belakang dan gerakan mereka sungguh cepat.“Mulai sekarang aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan orang-orang itu menyerangmu dan membuatmu bersedih lagi.”Serena mengerjap pelan kemudian menatap suaminya dengan penuh waspada.“Siapa yang kamu maksud orang-orang itu?”“Tentu saja orang-orang yang berusaha merusak citramu dan mereka yang berusaha menjatuhkan usahamu. Mereka juga yang membuat karirmu berantakan,” ucap Martin menggebu-gebu dan melupakan satu hal penting.Istrinya pengacara dan Serena belum pernah bercerita apapun tentang hal itu.“Kamu diberitahu Bela?”“Hm—iya!” Balas Martin langsung dengan kedua bola mata yang melotot.Ada y
Jantung Serena langsung berdegup dengan kencang seperti sedang tertangkap basah bersama Martin. Lalu Serena segera menggeleng keras untuk menampik segala tuduhan dari Max yang menggunakan setelan kemeja biru elektrik itu. “Tidak! Aku dari kamar mandi!” “Aku dari belakang,” ucap Martin tenang seo
Serena kira ia akan jatuh, paling tidak akan sedikit berguling di tanah. Tetapi tidak, tubuhnya mendarat di pangkuan Martin. Bukan kebetulan, karena Martin menarik pinggangnya saat ia akan terjatuh. Sehingga tubuhnya dengan begitu pasti mendarat di pangkuan Martin dan pantatnya mendarat di paha Ma
“Ada yang berkelahi.” Ucapan dari seseorang yang berada di belakang membuat Serena dan Bela saling menatap. Kemudian mereka menghadap ke atas dan melihat teman mereka yang akan berkelahi. Karena posisi Martin dan Gilang memang terlihat akan saling memukul. “Martin dan Gilang,” ucap dari seseorang
“Ada urusannya denganmu?” tanya Martin santai, kemudian meminum cairan terakhir di gelas kecilnya. Dan hanya meninggalkan satu buah es batu yang menghiasi gelas bening itu. Kemudian meletakkan gelas itu di meja samping. Perhatian Gilang tertuju pada dua perempuan yang berada di bawah. “Mereka cant







