Home / Fantasi / Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz / Bab 180. Musuh Kuat yang Bermain di Balik Layar

Share

Bab 180. Musuh Kuat yang Bermain di Balik Layar

last update Last Updated: 2026-02-05 01:08:11

Sore tadi…

Setelah pertandingan antara MIU A dan BII A usai, Stuart segera meninggalkan area olimpiade. Langkahnya cepat, terukur, tanpa sisa emosi, seolah tidak terjadi apa pun di lapangan.

Ia hampir berhasil mengelabui semua orang.

Hampir.

Kecuali satu.

Nathan.

Sejak menerima informasi tentang Stuart dari Elvira, Nathan tidak pernah benar-benar melepas perhatiannya. Setiap gerak, setiap jeda, setiap pilihan arah.

Sore itu, laporan Maggie telah sampai padanya. Pria berhoodie itu tidak k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 180. Musuh Kuat yang Bermain di Balik Layar

    Sore tadi… Setelah pertandingan antara MIU A dan BII A usai, Stuart segera meninggalkan area olimpiade. Langkahnya cepat, terukur, tanpa sisa emosi, seolah tidak terjadi apa pun di lapangan. Ia hampir berhasil mengelabui semua orang. Hampir. Kecuali satu. Nathan. Sejak menerima informasi tentang Stuart dari Elvira, Nathan tidak pernah benar-benar melepas perhatiannya. Setiap gerak, setiap jeda, setiap pilihan arah. Sore itu, laporan Maggie telah sampai padanya. Pria berhoodie itu tidak kembali ke penginapan MIU A. Ia pergi bersama kendaraan panitia, tepat setelah pertandingan berakhir. Itu bukan kebetulan. Nathan tidak memberi perintah terbuka. Tidak ada instruksi yang terdengar. Tidak ada nama yang disebut. Namun beberapa menit setelah laporan itu diterima, sebuah keputusan telah dibuat. Rabik bergerak. Tidak sendiri. Dua bayangan lain mengikuti dari jarak aman, langkah mereka menyatu dengan gelap. Mereka tidak perlu diperkenalkan. Cukup ada. Cukup setia. Stuart bergerak

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 179. Klasemen Sementara dan Jadwal Liga

    Selama waktu itu, dua pertandingan lain telah terlaksana, menutup hari kedua Liga basket antar kampus. Sorak sorai yang sebelumnya memenuhi arena perlahan mereda. Para pemain meninggalkan lapangan dengan napas masih berat, sementara bangku penonton mulai kosong satu per satu. Namun di balik kelelahan fisik, sesuatu yang lain mulai mengambil alih pikiran semua orang. Liga ini baru berjalan dua hari, tetapi dampaknya sudah terasa nyata. Liga tidak mengenal sistem gugur. Tidak ada istilah hidup atau mati dalam satu pertandingan. Semua tim akan saling bertemu, membawa setiap hasil hingga fase liga benar-benar berakhir. Karena itu, saat papan digital di aula utama menyala, perhatian langsung tertuju ke satu titik. Klasemen sementara. Delapan nama tersusun dalam satu kolom panjang. Tidak ada pembagian wilayah, tidak ada pemisahan tingkat. Semua berada dalam satu arena persaingan yang sama. Di posisi teratas, MIU B dan UNS B berdiri berdampingan. Dua pertandingan, dua kemenangan. C

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 178. Pencarian Berlanjut

    Peluit panjang akhirnya mengakhiri pertandingan. Bukan sorak kemenangan yang langsung mengisi arena. Melainkan kelegaan yang pahit. Pemain-pemain BII A berjalan tertatih meninggalkan lapangan. Beberapa harus dipapah. Beberapa lainnya hanya menunduk, menahan rasa sakit yang belum sepenuhnya muncul. Skor akhir terpampang besar di layar. MIU A unggul jauh. Namun kemenangan itu terasa dingin. Tanpa selebrasi berlebihan. Tanpa pelukan euforia. Hanya langkah-langkah tenang menuju bench. Stuart berjalan paling depan. Handuk tersampir di lehernya, wajahnya datar, napasnya teratur. Seolah pertandingan barusan hanyalah sesi latihan yang sedikit lebih intens. Ia berhenti sejenak di tepi lapangan. Menoleh ke arah tribun VIP. Tatapannya singkat. Namun cukup. Nathan berdiri tanpa ekspresi. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada senyum. Tidak ada provokasi. Hanya pengakuan diam-diam. Ini belum selesai. Stuart lalu berbalik dan pergi, menghilang ke lorong pemain bersama timnya. Sora

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 177. Permainan yang Mulai Melukai

    Peluit panjang menandai dimulainya kuarter kedua. Skor masih berpihak pada MIU A. Namun suasana di lapangan perlahan berubah. Jika pada kuarter pertama permainan MIU A terlihat rapi dan efisien, maka kini, keras. Bukan keras yang kasar secara terang-terangan, melainkan keras yang disamarkan oleh ritme cepat dan kontak wajar menurut aturan. Sikut yang “tak sengaja” terlambat ditarik. Bahunya yang “terlalu dekat” saat screen. Langkah yang sedikit menutup ruang pendaratan lawan. Tidak cukup jelas untuk disebut pelanggaran berat. Namun cukup untuk menyakiti. Nathan memperhatikan semuanya dari tribun. Satu pemain BII A terjatuh saat mencoba melakukan lay-up. Ia bangkit dengan meringis, memegangi pergelangan tangannya. Wasit hanya meniup peluit singkat, foul ringan. Permainan berlanjut. “Ini bukan kebetulan,” gumam Roger pelan. Nathan tidak menjawab. Matanya tertuju pada Stuart. Kapten MIU A itu tidak terlihat emosional. Tidak terprovokasi. Bahkan nyaris tidak berbicara. Ia h

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 176. Pencarian Sang Presiden Mahasiswa yang Menghilang Tiba-tiba

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Kompleks penyelenggara olimpiade masih ramai sejak subuh. Beberapa panitia terlihat mondar-mandir dengan wajah letih, sementara aparat keamanan kampus berdiri lebih banyak dari biasanya. Tidak ada pengumuman resmi, namun satu nama terus beredar pelan di antara bisikan. Virellia Astor. Presiden mahasiswa UNS. Masih belum ditemukan. Nathan berdiri di balkon penginapan atlet, menatap area lapangan latihan dari kejauhan. Tangannya bertumpu di pagar besi, wajahnya tenang, namun matanya dingin dan terfokus. Malam sebelumnya tidak menghasilkan apa pun selain satu kesimpulan... Virellia tidak dibawa secara paksa. Dan itu jauh lebih berbahaya. “Belum ada kabar?” tanya Roger dari belakang. Nathan menggeleng pelan. “Belum.” Billy datang menyusul, membawa tablet. “Semua titik yang kita periksa bersih. Tidak ada jejak perlawanan. Tidak ada rekaman baru.” Nathan mengangguk tipis. Itu berarti waktu sudah terbuang cukup banyak.

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 175. Tanda Terima Kasih yang Salah

    Langkah-langkah tergesa memenuhi lorong penginapan atlet. Roger, Billy, Richard, Reno, dan Seno sudah lebih dulu bergerak keluar kamar Rania. Para gadis berpencar cepat, membawa peralatan dan pesan ke titik-titik yang sudah ditentukan. Suasana berubah tegang, bukan lagi kepanikan, melainkan kesiagaan terlatih. Nathan baru saja hendak melangkah keluar ketika sebuah tangan menarik lengannya. Pelan, namun penuh urgensi. Nathan menoleh. ‘Elvira.’ Wajah gadis itu masih pucat. Handuk melilit tubuhnya, rambutnya masih sedikit lembap. Namun sorot matanya tajam, seolah ia baru saja mengambil sebuah keputusan besar. “Hati-hati,” ucapnya pelan. Nathan berhenti sepenuhnya. “Ada apa, Elvira?” Elvira menelan ludah. Jemarinya mencengkeram lengan Nathan sedikit lebih kuat. “Hati-hati dengan kapten tim MIU A,” katanya cepat. “Dia itu Stuart, sepupuku. Dia yang merancang rencana balas dendam ini, dan target utamanya adalah kau. Sepertinya… dendamnya padamu jauh lebih besar dari yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status