Mag-log inNathan menghentikan langkahnya, sementara dua Raja Raksasa yang kini telah menjadi bawahannya berdiri sedikit di belakang dengan sikap hormat. “Sekarang aku akan berkunjung ke Sekte Lembah Jiwa,” ujarnya tenang, tanpa menoleh. Keduanya langsung menegakkan tubuh. “Untuk menemui seseorang.” Nada suara Nathan tetap datar, tetapi cukup untuk membuat mereka memahami bahwa tujuan itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Ia kemudian melirik mereka sekilas. “Sebelum itu, bisakah kalian mengubah wujud kalian agar terlihat seperti manusia normal?” Kedua raksasa itu terdiam sesaat, lalu segera mengangguk. “Bisa, Tuan!” Nathan menghela napas pelan. “Aku tidak ingin memancing keributan yang tidak perlu. Ini pertama kalinya aku datang ke sana.” Tanpa menunggu perintah kedua, tubuh kedua raksasa itu mulai berubah. Ukuran mereka menyusut, bentuk kasar mereka perlahan menyesuaikan, hingga akhirnya yang tersisa hanyalah dua pria bertubuh besar dengan aura kuat, namun tidak lag
Keheningan setelah jatuhnya Nara terasa jauh lebih menekan dibandingkan pertarungan itu sendiri. Dua Raja Raksasa Bintang Tiga yang sebelumnya hanya bisa menyaksikan dari kejauhan kini berdiri dalam kondisi mengenaskan. Tubuh mereka dipenuhi luka, napas berat, dan energi yang tersisa tidak lagi stabil. Namun semua itu bukan alasan utama tubuh mereka gemetar. Tatapan mereka tertuju pada satu sosok. Nathan. Pemuda itu berdiri tenang di tengah kehancuran, seolah semua yang baru saja terjadi tidak lebih dari hal biasa. Pedang hitam di tangannya telah kembali tenang, petir biru yang sebelumnya berdenyut kini hanya tersisa samar, hampir menghilang sepenuhnya. Namun justru ketenangan itu yang membuat mereka semakin ketakutan. Di hadapan kekuatan seperti itu, mereka benar-benar menyadari posisi mereka. Tidak lebih dari makhluk lemah. Makhluk yang bisa dihapus kapan saja tanpa perlawanan berarti. Tubuh salah satu dari mereka akhirnya tidak mampu bertahan. Ia berlutut dengan keras, dii
“Kau menilai dirimu terlalu tinggi, anak muda.” Suara Nara terdengar rendah, berat, dan kali ini tidak lagi meledak tanpa arah. Amarahnya masih ada, tetapi sudah dipadatkan menjadi sesuatu yang lebih berbahaya. Tatapannya tajam, mengunci Nathan tanpa sedikit pun bergeser, seolah seluruh dunia di sekitarnya sudah tidak lagi penting. Di hadapannya, Nathan berdiri tanpa perubahan. Tenang. Tatapannya stabil, napasnya teratur, dan pedang hitam di tangannya masih diselimuti petir biru yang bergerak perlahan, seperti makhluk hidup yang sepenuhnya tunduk pada kehendaknya. “Kalau itu yang kau lihat,” jawab Nathan santai, “berarti kau masih belum memahami situasimu.” Kalimat itu jatuh ringan, tetapi cukup untuk membuat otot wajah Nara menegang. Tanpa peringatan, tanah di bawah kaki Nara retak. Sosoknya menghilang. Ledakan suara menyusul sepersekian detik kemudian saat ia muncul tepat di hadapan Nathan, pedangnya turun dengan tekanan yang cukup untuk membelah tanah. Benturan
“Kau begitu marah saat aku menyebut tentang putramu, seolah ucapanku adalah sebuah kesalahan.” Suara Nathan tetap tenang, tidak meninggi, tidak pula mengandung tekanan berlebihan. Namun justru ketenangan itu yang membuat setiap katanya terasa semakin jelas dan sulit diabaikan. Tatapannya tidak lepas dari Nara. “Lalu apakah kau pernah berpikir,” lanjutnya perlahan, “bahwa tindakanmu mengirim Raka ke Bumi Tengah, bahkan sampai menculik istriku, juga merupakan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan?” Untuk pertama kalinya, emosi Nara benar-benar terlihat. “Diam!” Bentakan itu pecah begitu saja, memotong udara di antara mereka. Tidak ada lagi nada santai atau senyum tipis. Wajahnya menegang, sorot matanya dipenuhi amarah yang tidak lagi disembunyikan. Energi di sekitarnya mulai bergetar liar. Namun Nathan tidak bergeming sedikit pun. Ia hanya memandang Nara dengan ekspresi yang sama, seolah ledakan emosi itu tidak lebih dari riak kecil yang tidak berarti. “Menyelesaikan dendam tidak
Nara tidak langsung menjawab. Tangannya yang semula santai kini mengepal perlahan, meskipun gerakan itu begitu halus hingga hampir tidak terlihat. Tatapannya tetap terarah pada Nathan, namun ada perubahan tipis di dalamnya, sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang cukup peka terhadap tekanan semacam itu. Nathan tidak memberi ruang untuk jeda, dia kembali melanjutkan. Ia tetap berdiri dengan tenang, senyum tipis masih bertahan di wajahnya, seolah percakapan ini hanyalah obrolan ringan tanpa makna. Namun di balik ketenangan itu, setiap kata yang keluar darinya terasa seperti bilah tajam yang perlahan menekan. “Memilih wanita yang telah bersuami bukanlah keputusan yang cerdas.” Nada suaranya datar, tanpa emosi yang terlihat, tetapi justru itulah yang membuat kalimat itu terasa semakin menusuk. Ia melangkah sedikit lebih dekat, jarak di antara mereka kini semakin sempit. “Apalagi sampai mempertaruhkan keselamatan seorang gadis yang tidak bersalah demi memenuhi ambisi
Debu perlahan menghilang dari udara, menyisakan hamparan kehancuran yang membentang luas. Tanah yang retak memanjang ke segala arah menjadi saksi dari bentrokan yang baru saja terjadi, sementara sisa energi masih terasa bergetar halus, seolah belum sepenuhnya mereda, menunjukkan betapa dahsyatnya pertarungan yang baru saja terjadi. Nathan berdiri di tengah kehancuran itu dengan tenang. Pedang hitam di tangannya memancarkan cahaya redup, dan aliran petir biru yang menyelimuti bilahnya bergerak perlahan, seakan hidup namun terkendali. Tidak ada ledakan aura yang dilepaskan, tidak ada tekanan berlebihan, tetapi justru ketenangan itu membuat suasana terasa semakin berat. Beberapa meter di depannya, Nara berdiri dengan sikap santai. Tatapannya lurus menatap Nathan, dan senyum tipis yang terukir di wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan, seolah semua yang terjadi sebelumnya hanyalah sesuatu yang biasa. Di sisi lain, dua Raja Raksasa Bintang Tiga masih berdiri, namun kond
Setelah memperingatkan Nasha dan Laqisha, Rabik kembali menemui Nathan, dan latihan untuk keempat kekasihnya pun siap dimulai. Udara di dalam bangunan tua itu masih terasa berat ketika Nathan berdiri menatap empat gadis di hadapannya. Rania, Mila, Alana, dan Alena berdiri sejajar, sementara Rabik,
Tidak… jangan… bukan itu maksudku, jawab Ravina malu-malu sambil meronta dan berusaha menjauh. “Hai… tenanglah, tidak perlu semalu itu, kan. Tidak ada siapa pun di sini, dan sekalipun ada, kenapa harus malu. Kita ini suami istri,” bisik Nathan lembut. Kata-kata itu berhasil menenangkan Ravina d
Tinggal beberapa jam sampai olimpiade antar kampus resmi dibuka. Namun konsentrasi Nathan sedikit terpecah karena aura aneh yang sempat ia rasakan dari Hansen dan Roni. Nathan melamun sendiri, tanpa sadar ia bergumam, "Aura itu terasa familiar, tapi bagaimana mungkin? Bukankah aku sudah melenyap
Api obor bergoyang liar di sepanjang lorong utama Beast Mountain… Alarm markas akhirnya berbunyi. Suara lonceng tua menggema, menandakan satu hal, penyusupan tingkat tertinggi telah terdeteksi. Para petarung League of Assassins bergerak cepat, membentuk formasi di setiap persimpangan… Namun







