LOGINUdara yang semula dipenuhi tekanan kini berubah menjadi sunyi yang sangat menekan. Nathan melangkah maju satu langkah, cukup untuk membuat perhatian seluruh medan tertuju padanya. Tatapannya lurus mengarah pada Shen Ryu, tanpa sedikit pun keraguan. "Kalau dendam yang kau bawa sebesar itu," ucapnya tenang, "maka hadapi aku sendiri." Nada suaranya tidak tinggi, namun cukup untuk terdengar jelas oleh semua orang. Shen Ryu menyipitkan mata. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Namun alih-alih maju, ia justru tersenyum tipis dan mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu langsung ditangkap oleh semua orang. Irish mengangkat alis. Ravina memiringkan kepala. Laqisha bahkan langsung tersenyum mengejek. "Jadi itu jawabannya?" ujarnya ringan. "Banyak bicara tentang dendam, tapi saat ditantang langsung, malah mundur?" Wajah Shen Ryu menegang. "Diam kau," balasnya dingin. "Aku tidak perlu membuktikan apa pun pada kalian." Ia mengangkat tangannya sedikit, lalu melir
Udara malam terasa berat, bukan hanya karena tekanan kultivasi yang saling berbenturan, tetapi juga karena kebencian yang terkumpul dari masa lalu yang belum pernah benar-benar selesai. Setiap tatapan membawa luka, setiap napas menyimpan dendam yang menunggu untuk diluapkan. Nasha berdiri di sisi Nathan dengan mata dingin yang tidak pernah lepas dari Shen Ryu. Di dalam benaknya, nama itu kembali terngiang dengan jelas, Jangga. Wanita yang telah menghancurkan hidupnya dari akar. Dengan licik, Jangga memanipulasi Gan Ryu hingga mengkhianati keluarga Ryoho. Malam itu menjadi akhir dari segalanya bagi Nasha. Ayahnya, ibunya, bahkan kakeknya, semuanya hilang dalam satu malam yang sama. Sejak saat itu, ia hidup sendiri, tanpa keluarga, tanpa tempat kembali. Luka itu tidak pernah sembuh. "Sudah lama aku menunggu hari ini," ucap Nasha pelan, suaranya rendah namun penuh tekanan. Di sisi lain, Maggie melangkah maju dengan tangan mengepal erat. Tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena taku
Ancaman Rabik menggantung di udara. Nama Nathan yang baru saja disebut menciptakan jeda singkat, cukup untuk membuat sebagian orang menahan napas. Namun... Shen Ryu tidak peduli. Tatapannya tetap dingin, penuh kebencian yang tidak tergoyahkan sedikit pun. "Ancaman kosong," ujarnya pelan. Tombak hitam di tangannya kembali bergetar, energi mengalir semakin ganas. Di hadapannya, Laqisha berdiri tegak, napasnya mulai berat, namun sorot matanya tetap tajam. Shen Ryu melangkah maju. Perlahan. Setiap langkahnya menekan tanah di bawah kakinya. "Kalau begitu… mari kita lihat…" Ia mengangkat tombaknya. "Seberapa besar harga yang harus dibayar Nathan… untuk melindungi orang-orang yang ia cintai." Laqisha bersiap. Aura di tubuhnya kembali naik. Namun sebelum serangan itu dilepaskan... Sebuah tekanan muncul. Tiba-tiba. Tanpa peringatan. Udara membeku. Langit seolah runtuh dalam satu detik. Semua orang berhenti. Gerakan Shen Ryu terhenti di tengah ayunan.
Rabik tetap berdiri tenang. Sangat kokoh. Tidak bergeser satu langkah pun meski tekanan dari sosok raksasa di hadapannya terasa seperti gunung yang menindih dari segala arah. Tatapannya dingin, stabil, tanpa sedikit pun tanda ketakutan. Raja Raksasa Ilusi menatapnya dari atas, sorot matanya datar, namun penuh penghinaan. "Kau… manusia." Suaranya menggema pelan, tetapi cukup untuk membuat tanah bergetar. "Berani berdiri di hadapanku tanpa berlutut?" Rabik tidak menjawab. Sikap diamnya justru menjadi jawaban paling jelas. Raksasa itu mengangkat tangannya. Gerakannya tampak lambat. Namun dalam sekejap... Boom! Sebuah tekanan tak kasat mata menghantam tubuh Rabik. Tanah di bawah kakinya hancur. Tubuhnya terdorong mundur beberapa meter, jejak kakinya meninggalkan retakan panjang di tanah. Darah mengalir dari sudut bibirnya, namun ia tetap berdiri tegak. Shen Ryu tertawa puas. "Itu baru permulaan." Namun sebelum serangan berikutnya datang... Ravina berg
"B-bagaimana mungkin..." Suara Shen Ryu bergetar. Matanya membelalak, napasnya tidak lagi teratur seperti sebelumnya. Aura yang tadi ia banggakan kini terasa goyah di hadapan tekanan yang dilepaskan Ravina dan Irish. "I-ini mustahil..." Laqisha menguap ringan. Seolah apa yang terjadi di hadapannya hanyalah hal biasa. "Dari pukulanmu tadi," ujarnya santai sambil melirik Shen Ryu, "aku bisa menebak kau berada di Alam Raja Suci tahap puncak." Ia memiringkan kepala, senyumnya tipis namun penuh ejekan. "Aku tidak tertarik bertanya bagaimana kau bisa sampai ke sana, atau berapa banyak keberuntungan yang kau telan." Tatapannya menjadi sedikit tajam. "Tapi yang ingin kutahu…" Ia melangkah satu langkah maju. "Apakah kau masih cukup optimis untuk mengalahkan kami sekarang?" Tubuh Shen Ryu gemetar. Bukan karena takut. Melainkan karena marah. "T-tidak mungkin!" Energinya meledak liar, membuat tanah di sekitarnya retak. "Aku sudah menunggu hari ini terlalu lama!
Shen Ryu tersenyum sinis. Tatapannya menyapu keempat sosok di hadapannya dengan penuh penghinaan, seolah mereka hanyalah serangga yang siap diinjak kapan saja. "Seperti biasa," ujarnya pelan namun tajam, "manusia rendahan tidak akan pernah mengenaliku… sampai mereka mengalami sendiri kehancuran." Aura hitam keemasan di sekeliling tubuhnya berdenyut semakin kuat. "Kalian pikir kalian pantas bersaing denganku? Pantas melawanku?" Ia tertawa rendah. "Bahkan jika Nathan sendiri berada di sini, dia belum tentu mampu bertarung seimbang denganku yang sekarang." Angin malam berputar liar. "Aku datang membawa dendam dari masa lalu. Pembalasan atas kematian ibuku… dan kedua pamanku… yang mati kaerna ulah Nathan." Suasana menjadi dingin. Namun sebelum siapa pun bergerak, suara santai Laqisha terdengar. "Kau bodoh atau bagaimana?" Semua mata langsung tertuju padanya. Laqisha berdiri dengan ekspresi datar, bahkan sedikit bosan. "Bukankah ibumu dan kedua pamanmu yang sela
Getaran itu tidak lagi bisa disamarkan. Kuarter keempat baru berjalan lima menit ketika lampu arena berkedip sekali. Hanya sekali. Namun cukup untuk membuat seluruh tribun hening sepersekian detik. Nathan berdiri di garis tiga angka, bola di tangannya. Ranggan tepat di depannya. Gandra menutup
Kuarter ketiga belum berjalan tiga menit ketika perubahan itu terjadi. Bukan pada skor. Bukan pada strategi. Melainkan pada ritme. MIU A tiba-tiba melakukan pergantian pemain. Dua sosok masuk menggantikan Ronie dan salah satu forward mereka. Wajahnya tidak asing, tetapi juga tidak sepenuhnya j
Pertandingan kedua hari keempat segera dimulai. MIU B berhadapan dengan BII A. Jika melihat klasemen sementara setelah tiga hari pertandingan, posisi mereka cukup kontras. UNS B memimpin dengan tiga kemenangan sempurna. MIU B mengoleksi dua kemenangan dari tiga laga. UNS A juga dua kemenangan
Pertandingan UNS A melawan BII A berjalan dengan tempo yang berbeda sejak awal. Bukan lambat, melainkan terukur. Nathan berdiri di lapangan dengan ekspresi tenang, matanya tajam mengamati setiap pergerakan. Sejak kuarter pertama, ia sudah menangkap tanda-tanda yang ia khawatirkan. Beberapa pemain







