Home / Fantasi / Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz / Bab 49. Melunasi Hutang Pada Keluarga Smith

Share

Bab 49. Melunasi Hutang Pada Keluarga Smith

last update Huling Na-update: 2025-12-07 00:06:09
Mila yang sudah memastikan apa yang sedang terjadi, perlahan tubuhnya mulai gemetar.

"Kakak, kalau begitu, apa kami bisa mulai pertunjukannya sekarang?" tanya Richard tanpa malu-malu.

"Tunggu dulu, kalian bisa nikmati tubuhku, tapi tolong kalian lepaskan kakakku. Aku bersedia melakukannya dengan kalian dan aku tidak akan melawan," pinta Nasha, mencoba mengulur waktu dan mengalihkan perhatian.

"Tidak, Nasha! Jika sesuatu terjadi padamu, aku akan bilang apa pada Kak Nathan?" sahut Mila.

"K
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 220. Malam yang Tidak Lagi Tegang

    Malam itu, asrama utama terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sorakan di aula telah lama menghilang. Lampu-lampu luar hanya menyisakan cahaya keemasan yang jatuh lembut di koridor. Untuk pertama kalinya setelah rangkaian pertandingan yang melelahkan, tidak ada strategi yang perlu dibahas. Tidak ada tekanan klasemen. Tidak ada sorotan ribuan mata. Nathan akhirnya bisa bernapas sebagai dirinya sendiri. Ia berdiri di balkon lantai dua, memandang halaman kampus yang gelap. Angin malam menyentuh rambutnya pelan. “Akhirnya selesai,” suara lembut terdengar dari belakang. Nathan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Maggie. Langkahnya tenang, namun kehadirannya selalu membawa ketenangan yang berbeda. Ia berdiri di samping Nathan, jarak mereka hanya beberapa inci. Tidak bersentuhan, namun cukup dekat untuk merasakan hangat tubuh satu sama lain. “Kakak Nathan lelah?” tanya Maggie pelan. “Sedikit,” jawab Nathan jujur. “Bukan karena pertandingan. Karena semuanya.” Maggie tersenyum

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 219. Sportivitas yang Patut Diberi Pujian

    Aula masih dipenuhi suasana tegang ketika klasemen resmi selesai diumumkan. Beberapa wajah tampak lega. Beberapa lainnya masih memproses semuanya. Namun sebelum panitia menutup sesi, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Kapten CHU B melangkah maju. Tanpa mikrofon. Tanpa aba-aba. Ia berbalik menghadap ke arah bangku BII A. Lalu mulai bertepuk tangan. Satu kali. Dua kali. Kemudian seluruh tim CHU B berdiri. Tepuk tangan mereka menggema di aula yang semula sunyi. Standing applause. Semua mata tertuju pada mereka. Kapten CHU B berbicara dengan suara lantang yang terdengar sampai ke barisan belakang. “Kami kalah dan menang secara sportif di lapangan. Tapi hari ini kami ingin mengatakan satu hal. Tim BII A adalah tim yang tangguh.” Suasana semakin hening. “Kami tahu kondisi kalian saat bertanding melawan kami. Kami tahu beberapa pemain inti kalian bermain dalam keadaan cedera. Tapi kalian tetap bermain profesional. Tidak mencari alasan. Tidak mengeluh.”

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 218. Klasemen yang Berubah

    Dua hari setelah pengumuman diskualifikasi MIU A dan MIU B, aula utama olimpiade kembali dipenuhi peserta.Namun kali ini tidak ada sorakan.Tidak ada ejekan.Hanya ketegangan yang tenang.Layar digital raksasa menyala perlahan. Nama MIU A dan MIU B sudah tidak ada. Semua pertandingan yang melibatkan keduanya resmi dihapus. Poin mereka dianulir. Rekor mereka tidak pernah ada.Ketua panitia berdiri di tengah podium.“Seluruh klasemen telah dihitung ulang. Hanya pertandingan sah antar tim yang tersisa yang menjadi dasar penilaian.”Kini hanya tersisa enam tim.UNS A.UNS B.CHU A.CHU B.BII A.BII B.Semua tim itu memang sudah saling bertemu satu sama lain. Artinya masing-masing menjalani lima pertandingan sah setelah MIU dihapus.Layar mulai menampilkan hasil akhir.Di posisi puncak berdiri UNS A.Lima pertandingan. Lima kemenangan. Tanpa kekalahan.Mereka mengalahkan CHU A, BII A, BII B, CHU B, dan bahkan UNS B. Tidak ada celah dalam catatan mereka.Di bawahnya, UNS B mengamankan pos

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 217. Sanksi dan Kejatuhan Reputasi

    Setelah pertempuran berakhir, arena tidak langsung kembali tenang. Petugas keamanan internal dan tim medis masuk secara terkoordinasi. Area dibersihkan dari puing puing retakan lantai, sisa energi yang masih mengambang dinetralkan oleh divisi pengendali aura. Anggota MIU B yang masih hidup diamankan tanpa perlawanan berarti. Wajah mereka kosong, kehilangan arah setelah runtuhnya seluruh formasi. Beberapa individu yang terlibat dalam manipulasi identitas dan distribusi pil terlarang langsung dipisahkan untuk investigasi khusus. Data rekaman, sensor energi, hingga log administrasi peserta dikumpulkan sebagai bukti resmi. Penonton dipulangkan lebih cepat dari jadwal. Olimpiade dihentikan sementara. Berita menyebar cepat ke seluruh kompleks akademi. Rapat darurat panitia inti digelar malam itu juga. Perwakilan dari setiap akademi utama hadir sebagai saksi transparansi keputusan. Layar besar di ruang sidang menampilkan ulang momen penyamaran Ranggan dan Gandra sebagai mahasiswa MIU A

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 216. Penghancuran Total

    Tubuh Ranggan belum sepenuhnya membisu ketika Gandra meraung. Raungan itu memecah udara arena. Bukan sekadar kemarahan. Itu kehilangan yang merobek kesadaran. Aura raksasanya meledak liar tanpa kendali. Tanah di bawah kakinya pecah membentuk lingkaran retakan besar. “RANGGAN!” Ia menerjang tanpa perhitungan. Rabik mencoba menghadang, tetapi hantaman Gandra kali ini jauh lebih brutal. Roger terdorong mundur. Shadow Chameleon melompat menghindari sapuan lengannya. Nasha dan Chelyna terpaksa membuka jarak. Gandra mengangkat kedua tangannya tinggi. Energi merah tua bergetar tidak stabil di sekeliling tubuhnya. Ia berniat mengakhiri semuanya dalam satu ledakan nekat. Nathan bergerak. Dalam satu kedipan mata ia sudah berada di sisi leher raksasa itu. Satu pukulan pendek menghantam retakan lama di sana. Retakan itu pecah. Gandra tersendat. Nathan berputar dan menghantam sendi lututnya. Raksasa itu roboh keras mengguncang arena. Ia masih mencoba bangkit. Namun Nathan sudah b

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 215. Runtuhnya Sang Pemimpin Raksasa

    Retakan di tubuh Ranggan tidak lagi bisa disembunyikan.Aura merah tua yang menyelimutinya berkedip seperti api yang kehabisan bahan bakar.Namun ia tidak jatuh.Belum.Raksasa itu menarik napas panjang.Tanah di bawah kakinya kembali retak saat ia memaksa tubuhnya berdiri tegak.Di sisi arena, Stuart menyadari perubahan itu.“Ketua mulai melemah!” serunya.Hansen mencoba kembali menghantam barier, tetapi Billy dan Richard kini menekan balik tanpa memberi celah.Roni terdesak mundur oleh kombinasi Seno dan Reno.Marco dan Braga mempersempit ruang gerak mereka.Untuk pertama kalinya…Formasi klan raksasa goyah.Di tengah arena, Ranggan menatap Nathan.Tatapannya tidak lagi penuh keyakinan mutlak.Kini ada sesuatu yang lain.Kesadaran.“Kau pikir… ini akhir dari darah raksasa?” suaranya berat namun stabil.Nathan melangkah mendekat.“Ini akhir dari kesombonganmu.”Ranggan tertawa pelan.Retakan di dadanya semakin melebar.“Kau mengusir Jangga… menghancurkan pengaruh kami… dan sekarang k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status