เข้าสู่ระบบValviect Or'goron Silene adalah anggota ras malaikat yang telah kehilangan ingatan dan identitasnya akibat hukuman yang diberikan oleh tetua rasnya sendiri. Di tengah perjalanan sulitnya untuk memulihkan diri dan menemukan kebenaran yang tersembunyi, Valviect harus berhadapan dengan kekuatan jahat yang mengintai dan pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya. Dalam pertempuran antara cahaya dan kegelapan, apakah Valviect akan menemukan jati dirinya dan membebaskan rasnya dari kutukan yang membelenggu?
ดูเพิ่มเติมCamellia's POV
Rain was tapping against the window, a low, steady thrum that made the house feel even more empty.
I sat out on the terrace alone, absentmindedly tracing the tablecloth, my eyes drifting to the empty seat across from me.
Tonight was my third anniversary with Esmond, the Alpha of the Ironclaw pack.
I caught my reflection in the glass. The faint scar on my neck shimmered—the ghost of a bite that never quite took.
He'd never gone deep enough to actually seal our bond.
But he'd promised that tonight, under the Blood Moon, he would finally mark me for real.
He was supposed to be back from a business trip. He wasn't.
The dinner I'd worked so hard on was sitting there cold: roasted venison, stewed veggies, a bottle of Silver Flame. I'd even made a little cake with a "3" candle on top. The flame was flickering, struggling to stay lit in the chilly night air.
Everything I'd put into tonight—all that love and effort—was just being swallowed by the dark.
Time ticked by. The food grew cold, and the candle flicker faded until it was barely there.
My anxiety spiked—the air in the room felt so thick I could hardly breathe.
My phone buzzed. A F******k friend request.
The profile pic was a total stranger, but the message said, "A little surprise for you."
I was about to hit decline when another text popped up. "Still awake? Is it because your mate isn't there to keep you company?"
My gut twisted.
How did this person know Esmond wasn't home?
I didn't accept the request, but a video preview popped up anyway. "Stop acting like you aren't watching."
I clicked it. It was the rooftop restaurant in LA. Fireworks were exploding outside the floor-to-ceiling windows, framing a couple in a perfect, cinematic silhouette.
Esmond, my mate, was leaning in, kissing a woman.
He was holding a piece of lemon cake, gently feeding it to her.
"No... no way," I whispered, the words dying in the empty room.
I scrambled to call his private line.
The first time, he declined it. The second, it went to voicemail.
On the third try, he finally picked up. I heard loud jazz in the background and Esmond' voice, cold and completely over it.
"I'm dealing with an emergency. Can you try being mature for once?"
"Esmond," I said, my nails digging into the wood of the table. "It's a full moon. It's our third anniversary. Where are you? Who are you with?"
There was a beat of dead silence. "We'll make it up some other time," he snapped. "I'm busy."
"Beep—"
In that second, my wolf let out a jagged, soul-crushing howl.
A white-hot pain exploded from the temporary mark on my neck, screaming through my entire body.
It was a bone-deep agony, like a dull saw was trying to rip my soul in half.
The world started to blur. Our weak mating bond had suddenly turned into a cursed live-feed.
Through his eyes, I saw everything: clothes strewn from the hallway to the bedroom, and most gut-wrenching of all, a red lace nightgown ripped to shreds right by the door.
Then, the bed. Esmond was naked, holding that woman.
She was kneeling between his legs, and he had his eyes closed, looking like he was in heaven.
"Yes... just like that. Perfect..."
Then he flipped her over and pinned her down.
The crystal glass in my hand slipped, shattering against the floor. The sound felt like an axe splitting my brain.
Shards sliced into my ankle, blood blooming across the stone, but I didn't feel a thing.
I tried to reach out through our mental link, but there was nothing there. Just a void.
Eight years. We went from college sweethearts to a formal mating.
Everyone in the pack envied us; they called us "Goddess-blessed."
What a joke.
I curled up on the cold floor, the severance of our soul-tie echoing in a scream only I could hear.
I curled up on the cold stone floor, feeling our bond rip apart. A whimper escaped me—one only I could hear.
I grabbed my hair, pulling at it as a strangled, wolf-like howl tore from my throat. Then, the tears just wouldn't stop.
A knock at the door startled me. I struggled to my feet and opened it.
My best friend, Eugenia, stood there, gasping when she saw the state of me. "You're bleeding! Your hands, your feet—Camelia, what happened? Did Esmond do this?"
"Don't," I rasped, the name tasting like ash in my mouth. "Don't say his name."
I swallowed hard, the bitterness coating my throat. "He's cheating, Eugenia. The mating bond... it showed me everything. Every disgusting detail. I can still feel the pain."
Eugenia gripped my hand, her eyes full of pity. "Maybe you two can talk—"
"There's nothing to talk about," I cut her off. I pressed a hand over the stinging mark on my neck, my voice turning to steel. "I'm breaking the contract. I'm done."
Instruktur Yan membungkukkan tubuhnya dengan hormat di hadapan Valviect. Dia menghormati kehadiran dan otoritas Valviect dengan penuh hormat. Gagang pedang berada dalam genggaman erat Valviect, terlihat penuh dengan noda darah yang mengingatkan pada pertempuran yang telah terjadi. Pedang itu menjadi saksi bisu pertarungan. ______ Langit senja menyelimuti perjalanan pulang mereka ke Akademi. Instruktur Yan dan Valviect berjalan beriringan menuju pintu gerbang Akademi. Setelah tiba di halaman Akademi The Thunders Elite, Instruktur Yan memalingkan pandangannya ke arah Valviect "Kembalilah ke asrama dan beristirahat, Valviect," ucap Instruktur Yan dengan suara yang penuh perhatian. Valviect mendengarkan dengan penuh hormat ketika Instruktur Yan memintanya untuk kembali ke asrama dan beristirahat. Dia merespons dengan sikap yang patuh dan mengangguk sebagai tanda pengertian. "Saya mengerti, Instruktur Yan. Saya akan segera kembali ke asrama dan istirahat dengan baik," tutur Valviect s
Valviect merasa tajamnya nafas harimau abadi yang mengintai di balik setiap sudut. Keringat mengalir di wajahnya yang tegang saat dia bersiap menghadapi serangan yang tak terlihat.Dengan gigi yang digertakkan erat, Valviect melaporkan pada Instruktur Yan yang tubuhnya terhempas jauh, "Instruktur Yan, harimau ini dengan tajam mengincarku. Sepertinya ada yang salah!""Ini tantangan untukmu, Valviect! Kita tidak tahu bahaya apa lagi yang akan terjadi di masa depan. Tidak ada celah untuk melarikan diri, satu-satunya jalan adalah menghadapinya!"Saat kata-kata Instruktur Yan masih bergema di telinganya, harimau abadi melompat dengan ganas, mencoba mencabik-cabik Valviect dengan cakarnya yang tajam. Valviect berhasil menghindar, tetapi tidak tanpa mendapatkan luka di lengan kirinya.Dalam kesakitan, Valviect mengerang, "Ini adalah makhluk yang benar-benar tak terkendali! Tentu aku tidak akan menyerah begitu saja."Dengan tegas, Instruktur Yan mengangkat pedangnya sambil berkata, "Bersama-s
Terhampar di hadapan mereka adalah lapangan yang luas dan indah. Matahari pagi menerangi setiap sudut, menciptakan bayangan menarik di permukaan rumput yang hijau.Pada hari itu, lapangan tersebut menjadi tempat latihan bagi para prajurit yang setia. Beberapa kubu berdiri tegak di sepanjang lapangan, mewakili ras yang berbeda dengan gaya bela diri unik yang mereka kuasai.Di kubu pertama, anggota Ras Nymphys berkumpul. Mereka merupakan ras yang terhubung erat dengan sihir. "Panggil elemen air! Tunjukkan kemampuanmu yang mengagumkan!" seru seorang Nymphys sambil berayun lembut dengan tangannya."Aku akan berusaha, tetapi aku masih perlu melatih konsentrasiku," ujar anggota yang lain.Tak jauh dari situ, di kubu kedua, Ras Lunar sedang mengasah keterampilan tombak dan panahan mereka. Pakaian mereka berwarna biru, menyerupai langit pada malam bulan purnama."Aku harus meningkatkan kecepatan menembakku," ujar seorang Lunar sambil memeriksa busurnya dengan cermat. "Kecepatan adalah kunci s
Di ruang megah Akademi Thunders Elite, sinar matahari menyinari ruangan yang luas dengan langit-langit yang tinggi. Dinding-dindingnya dihiasi dengan ukiran indah yang mencerminkan kebesaran dan keanggunan akademi tersebut. Perabotan dan furnitur yang elegan terpampang dengan apik, menciptakan atmosfer yang mewah namun terasa nyaman. Di tengah ruangan, Nona Rexana, pemilik Akademi Thunders Elite, berdiri dengan anggun. Tubuhnya yang ramping dan tinggi menunjukkan keturunan ras Nymphys, ras sihir yang mempesona. Gaun yang dikenakannya terbuat dari kain yang cantik dan sensual, mengikuti lekuk tubuhnya yang sempurna. Dengan rambutnya yang panjang dan mengkilap, mengikatnya dengan mahir dalam sanggul yang cantik. Beberapa helai rambut yang lembut terlepas dari sanggulnya, menambah pesona alami pada penampilannya. Di tangan kanannya, Nona Rexana memegang kipas tangan yang bukan sembarang kipas. Kipas tersebut adalah karya seni yang terbuat dari bahan-bahan pilihan dan dihiasi dengan orn
Gumpalan asap hitam menggelapkan langit biru cerah saat serbuan monster yang menakutkan terjadi. Dengan ukuran yang mencengangkan dan taring yang tajam, monster-monster itu menyerbu akademi dengan keganasan yang belum pernah terjadi sebelumnya."Ini apa?!" seru Valviect, berusaha menghindari gigita
Tahun 1050 Y"Tangkap dia! Jangan biarkan dia melarikan diri! Dia telah melanggar peraturan kami!" teriak para Ansiel sambil mengejar Valviect. Valviect dengan lincah berlari menjauh, melintasi lorong-lorong perpustakaan, melompati rak-rak penuh gulungan kertas, dan menghindari hambatan dengan kece






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.