登入"Buka matamu, Lily. Lihat aku," bisik Gray dengan suara serak.Lily perlahan membuka mata yang masih berkabut. Tatapannya bertemu dengan iris kelam Gray yang mengawasinya lekat-lekat."Tarik napas, Sayang," ujar Gray rendah. Ia memperlambat gerakannya sejenak, lalu kembali bergerak dengan ritme yang membuat napas Lily tersengal."Oh, Tuan Gray..." Lily mencengkeram seprai, suaranya bergetar.Suara itu seolah menyulut gairah Gray. Ia menggeram pelan, lalu merengkuh pinggang Lily agar tubuh mereka semakin dekat."T-Tuan... saya tidak tahan lagi..." seru Lily tertahan."Jangan ditahan. Lepaskan semuanya bersamaku," bisik Gray. Ia menunduk dan mengecup bibir Lily dengan dalam.Lily hanya mampu mengeluarkan erangan kecil sebelum tubuhnya menegang dalam pelukan Gray.Beberapa saat kemudian, kamar penthouse kembali sunyi. Hanya napas mereka yang terdengar berat dan teratur. Gray menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka, lalu mengecup pelipis Lily dengan lembut."Terima kasih, Lily," bisi
Napas Lily masih naik turun tak beraturan, dadanya kempas-kempis menatap pria tegap yang kini mengungkung tubuhnya kembali. Wajahnya merona merah padam, bercampur antara rasa malu, gairah, dan ketakutan yang mendalam saat mendapati tubuh polos Gray berada tepat di atasnya.Ketika Gray perlahan mulai memposisikan pinggulnya, Lily refleks memegang kedua lengan kokoh pria itu. Matanya berkedip panik dengan sorot kepasrahan yang polos."T-Tuan... tolong pelan-pelan," cicit Lily dengan suara bergetar dan hampir berbisik. "Ini... ini yang pertama kalinya bagi saya."Gray menghentikan gerakannya sejenak. Sorot matanya yang pekat menggelap menatap lekat-lekat netra jernih di bawahnya. Rasa posesif yang pekat membuncah di dadanya menyadari kenyataan bahwa ia adalah pria pertama dan satu-satunya yang menyentuh keindahan gadis ini.Pria itu menunduk, menekan sebuah kecupan hangat dan lama di kening Lily, mengusap bulir keringat dingin yang muncul di sana."Iya, aku janji akan pelan," balas
Gray tidak menjawab dengan kata-kata. Sorot matanya yang biasanya sedingin es kini mencair, berganti dengan tatapan intens yang seolah hendak menelan Lily bulat-bulat. Pria itu menunduk, mengikis jarak di antara wajah mereka yang hanya tinggal beberapa sentimeter.Lily bisa merasakan nafas Gray yang hangat dan berbau whisky menerpa wajahnya. Jantungnya berpacu liar, detaknya terdengar keras di telinganya sendiri. Alih-alih takut, perasaan aneh yang mendebarkan justru makin menguasai dirinya.Jemari kekar Gray bergerak pelan, menelusuri rahang Lily lalu turun ke leher jenjang gadis itu, membuat Lily merinding halus. Pria itu kemudian menyelipkan tangannya di bawah lipatan lutut Lily, sementara tangan satunya menyangga punggung gadis itu kuat-kuat.Dalam satu gerakan mulus dan tak terduga, Gray mengangkat tubuh Lily ke dalam gendongannya. Lily refleks memekik pelan karena terkejut, namun ia semakin mengeratkan kalungan tangannya di leher Gray, menyembunyikan wajahnya yang memerah di
Napas Gray masih tersengal berat saat Lily dengan susah payah menarik tubuh tegap itu menaiki tangga samping kapal. Setelah berhasil merayap naik ke atas dek, Gray langsung terbaring terlentang di atas lantai kayu. Kemeja mewahnya basah kuyup menempel pada dada bidangnya yang naik turun tak beraturan, sementara rambut hitamnya yang basah berantakan menutupi dahi."Tuan! Tuan tidak apa-apa?" panggil Lily panik.Dengan sisa tenaga yang ada, Lily memapah lengan kekar Gray, membimbing langkah pria itu masuk ke dalam kabin kapal yang lebih hangat. Lily merebahkan tubuh Gray secara perlahan di atas tempat tidur kecil yang ada di kabin.Gray menyandarkan kepalanya pada bantal, memejamkan mata sejenak sambil terkekeh rendah—kekehan serak yang penuh kepasrahan atas kebodohannya sendiri."Sepertinya memang aku sudah gila," bisik Gray dengan suara yang masih agak serak karena kemasukan air asin. "Rela membahayakan nyawaku sendiri demi kamu."Mendengar ucapan jujur pria itu, mata Lily seketi
Keesokan harinya, langit di atas laut terlihat sangat cerah tanpa setitik awan pun. Gray menyewa sebuah kapal kecil untuk mengajak Lily menikmati angin laut yang segar, jauh dari kebisingan kota dan hiruk-pikuk kesibukan biasanya.Lily berdiri di dekat pagar pembatas kapal, membiarkan angin laut memainkan helai-helai rambut panjangnya. Matanya berbinar menatap lautan luas yang membiru."Tuan, lautnya indah sekali ya?" panggil Lily tanpa menoleh.Gray yang sedang bersandar santai sambil memegang segelas minuman dingin meliriknya sekilas. "Indah? Hanya hamparan air asin yang luas."Lily memutar badannya, menatap Gray dengan cemberut tipis. "Tuan ini tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Kalau di laut begini, saya jadi teringat film jadul romantis yang sangat terkenal.""Film apa?" tanya Gray acuh tak acuh."Titanic! Tuan pernah nonton, kan?" tanya Lily antusias. "Saya sangat suka karakter tokoh utama wanitanya, Rose. Demi cinta sejati, dia rela memutuskan pertunangannya dan
Langkah kaki Gray yang lebar menuntun Lily menyusuri kawasan pertokoan tua berarsitektur Eropa klasik. Sinar matahari sore berganti menjadi pendar lampu-lampu jalanan yang hangat, menambah kesan romantis kota itu."Tuan, bau ini wangi sekali!" celetuk Lily tiba-tiba, menghentikan langkahnya di depan sebuah kedai kecil beraroma karamel dan mentega yang kuat.Gray melirik kedai itu sekilas. "Itu stroopwafel hangat dan churros. Kamu mau?"Lily mengangguk cepat dengan mata berbinar. "Mau, Tuan! Boleh?""Tunggu di sini," perintah Gray.Pria itu melangkah menuju antrean kedai, membuat beberapa pengunjung wanita di sekitarnya berbisik-bisik mengagumi ketampanan dan perawakannya yang tegap. Tak butuh waktu lama, Gray kembali membawa sekotak jajanan lokal yang masih mengepul hangat."Nih, makan," ujar Gray menyodorkan kotak itu.Lily mengambil sepotong kue berbalur kayu manis dan gula halus, lalu menggigitnya pelan. Matanya seketika membulat lebar. "Enak banget, Tuan! Ini manis sekali!"







