LOGINKeesokan harinya, Lily melangkah ke ruang dosen dengan membawa lembar laporan wawancara terbarunya. Dosen paruh baya itu mengerutkan alis begitu melihat nama dan foto sosok yang tertera di sana."Kamu benar-benar bisa mewawancarai orang ini?" tanya dosennya heran."Bisa, Pak. Kemarin saya mewawancarainya langsung," jawab Lily tenang. "Kalau Bapak masih kurang percaya, ini saya ada bukti fotonya."Lily menyodorkan ponselnya, memperlihatkan foto Jack saat diwawancarai kemarin. Dosen itu terkejut, tak bisa lagi berkutik atau mencari-cari alasan. Dengan enggan, ia menerima dan menandatangani hasil laporan Lily.Merasa lega tugasnya akhirnya diterima, Lily berjalan menuju perpustakaan kampus untuk mencari beberapa buku referensi tugas lainnya. Namun, saat menyusuri deretan rak buku, matanya tak sengaja menangkap sosok Justin yang sedang berdiri sangat dekat sambil menggoda seorang mahasiswi.Rasa geram seketika membakar dada Lily. Ia melangkah mendekat tanpa ragu. "Katanya kamu cinta
Sore itu, Lily duduk di teras mansion yang megah. Ia sengaja menunggu kedatangan Gray di luar karena ingin meminta izin untuk mewawancarai Jack demi tugas kampusnya yang ditolak dosen.Beberapa saat menunggu, terdengar suara klakson nyaring di depan gerbang utama. Tak lama kemudian, mobil mewah hitam milik Gray melesat masuk dan terparkir rapi di halaman."Tuan Gray!" panggil Lily antusias, segera bangkit dari duduknya untuk menyambut pria itu.Gray yang baru saja turun dari mobil mengernyit heran. "Tumben kamu berada di luar? Ada apa?""Saya sengaja menunggu Anda, Tuan," jawab Lily jujur."Kenapa tidak tunggu di dalam kamar saja? Udara di luar sangat dingin," ujar Gray lembut seraya merangkul hangat pundak Lily, membawanya berjalan mendekati pintu masuk."Tuan... bolehkah saya meminta izin untuk mewawancarai Tuan Jack?" tanya Lily hati-hati.Mendengar nama asistennya disebut, Gray seketika menghentikan langkah. Ia melepas rangkulannya dari pundak Lily, lalu menatap dua netra g
"Lily, di sini aku dosennya, bukan kamu! Aku perintahkan kamu untuk wawancara ulang, ya wawancara ulang! Atau kalau tidak, nilaimu akan langsung aku beri C!" ancam dosen paruh baya itu tegas, sama sekali tak memberi celah untuk protes.Lily mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak amarah dan kekecewaan yang membakar dadanya. Dengan hati yang remuk, ia menarik kembali lembar laporan wawancaranya lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut. Ia sungguh tak menyangka ada dosen yang sepicik dan tak adil ini. Jelas-jelas hasil wawancaranya sangat sempurna dan valid langsung dari mulut sang bos besar, tapi malah ditolak mentah-mentah hanya demi membela Bianca yang merupakan anak rektor.Setibanya di dalam kelas, Lily menghempaskan tubuhnya dan duduk dengan kasar di kursinya. Raut wajahnya terlipat sedih.Mia yang menyadari ekspresi bersungut-sungut sahabatnya langsung berjalan mendekat. "Kenapa, Li? Ada masalah apa di ruang dosen?" tanyanya cemas."Pak dosen benar-benar pilih kas
"Apa perlu kita kembali, Tuan? Mumpung mobilnya masih belum terlalu jauh," tanya Jack dari balik kemudi, melirik ragu lewat kaca spion.Gray menghela napas panjang, melirik sekilas ke arah Lily yang masih sesenggukan menatap keluar jendela. Harga diri seorang mafia besar memang tinggi, tapi melihat air mata wanitanya jauh lebih menyiksa."Ya sudah, putar arah. Kita kembali saja," sahut Gray akhirnya mengalah.Jack langsung memutar balik mobil mewah itu. Tak butuh waktu lama, mereka kembali tiba di depan food truck penjual burger tersebut. Jack turun atas perintah Gray, lalu tak lama kemudian kembali dengan membawa bungkusan pesanan hangat yang tadi sempat ditinggalkan."Coba kamu makan dulu untuk memastikan makanan ini aman dikonsumsi," ujar Gray dingin kepada asistennya.Tanpa pikir panjang, Jack langsung membuka bungkusan itu dan menggigit satu porsi burger di tangan. Seketika itu juga, mata Jack membelalak lebar."Tuan... Ini ternyata sangat lezat!" seru Jack takjub.Selama
"Maaf, Tuan..." cicit Jack pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyelamatkan nyawanya dari tatapan tajam sang bos."Sudahlah. Ayo kita keluar," ajak Gray seraya berdiri dari kursi kebesarannya dan merapikan kemeja mewahnya.Jack mengernyit bingung. "Ke mana, Tuan? Bukankah jadwal hari ini sudah kosong dan tidak ada meeting dengan siapa pun?""Jemput Lily," jawab Gray singkat sambil melangkah menuju pintu."Jemput Nona Lily?" ulang Jack terperanjat, melirik jam tangannya. "Tapi Tuan... jam pulang kuliah Nona Lily masih dua jam lagi.""Kita berkeliling saja dulu," balas Gray santai.Jack semakin tak mengerti dengan jalan pikiran bosnya akhir-akhir ini. Biasanya, Gray adalah sosok pebisnis yang sangat menghargai waktu secara efisien. Pria itu jauh lebih senang ditunggu daripada harus menunggu orang lain. Bahkan untuk pertemuan bisnis yang sangat penting sekalipun, Gray selalu berangkat pas di menit-menit terakhir. Namun sekarang, demi menjemput gadis kecilnya,
Melihat Lily yang terus menundukkan kepala, Gray sadar bahwa gadis kecilnya merasa tidak nyaman dan malu dengan kehadirannya di tengah koridor kampus. Gray menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat, lalu berbalik menatap Pak Rektor."Aku harus segera kembali ke kantor. Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan," ujar Gray dingin."Baik, Pak Gray. Terima kasih banyak atas kunjungannya hari ini," sahut Pak Rektor dengan tawa semringah. "Mari, saya antar sampai ke area parkiran."Gray dan Jack melangkah lebih dulu di depan, sementara Pak Rektor berjalan mengikut di belakang. Begitu rombongan itu menghilang di ujung koridor, Lily seketika bernapas lega. Ia mengelus dadanya yang tadi berdegup kencang."Syukurlah... dia akhirnya pergi juga," gumam Lily penuh rasa lega."Siapa yang kamu maksud, Li?" sahut Mia yang duduk di sampingnya, menoleh bingung."Tuh... si—eh, maksudku Tuan Gray," potong Lily cepat, hampir saja keceplosan memanggil pria itu dengan sebutan lain.Di dalam ha







