로그인Tentu, ini adalah hasil penyempurnaan cerita dengan penulisan nama yang sudah disesuaikan menjadi Lily:Mendengar itu, Lily pun terperangah. "Anda, Tuan?" tanyanya tak percaya, matanya mengerjap cepat menatap pria di hadapannya."Apa kamu pikir Tuanmu ini bukan pebisnis yang terkenal?" balas Gray dengan nada bangga, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman arogan namun menawan. "Siapa di negara ini yang tidak tahu seorang Gray?"Lily langsung tersenyum lebar, beban berat di pundaknya seolah lenyap seketika. "Kalau begitu... bisakah saya mewawancarai Anda untuk tugas kampus saya?" tanyanya dengan antusias yang meluap-luap.Gray menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah sang gadis. "Tentu saja bisa. Tapi tentu saja, ada syaratnya," bisik Gray dengan tatapan licik yang sarat akan makna tersembunyi.Lily menghela napas panjang, lemas seketika. "Ya ampun... Syaratnya apa lagi, Tuan?" keluhnya pelan."Selama kamu bisa menyenangkan aku di atas sana," jawab Gray santai sambil menunj
Hari ini, Lily tampak murung di mejanya. Tugas kuliah terbaru benar-benar membuat kepalanya terasa mau pecah: wawancara eksklusif dengan tokoh pebisnis penting.Sebuah tepukan pelan mendarat di pundaknya. "Sudah, ayo kita keluar sebentar," ajak Mia melihat wajah frustrasi sahabatnya.Lily menghela napas berat. "Aku masih bingung, Mi... Kamu sendiri rencananya mau mewawancarai siapa?""Jujur, aku juga tidak tahu. Aku tidak kenal dengan siapapun di kalangan pebisnis terkenal," sahut Mia ikut melempar pandangan lesu."Kalau kita nekat datang langsung ke kantor-kantor besar dan minta wawancara, kira-kira mereka bakal memberikan izin tidak, ya?" tanya Lily penuh keraguan."Entahlah, aku bingung juga..." desah Mia.Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, Bianca dan gengnya melangkah anggun menghampiri meja mereka dengan senyum meremehkan."Kasihan sekali... Pasti bingung mau mewawancarai siapa, kan?" ejek Bianca sambil bersedekap dada."Tidak!" sahut Lily tegas, menatap lurus m
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Gray dingin sambil mengarahkan tatapan tajamnya kepada Jack."T-tidak ada masalah, Tuan," sahut Jack buru-buru menundukkan kepala."Kalau begitu, sekarang beri tahu pihak kampus kalau aku sendiri yang akan datang ke sana," perintah Gray tanpa bantahan."Baik, Tuan."Jack segera melangkah keluar dari ruangan megah itu, kembali ke mejanya untuk langsung menghubungi pihak rektorat kampus. Begitu sambungan telepon terhubung dan Jack menyampaikan niat Gray, seluruh jajaran pimpinan kampus seketika dilanda kehebohan besar.Semenjak kepemilikan dan penyokong dana utama kampus beralih ke tangan Gray beberapa tahun lalu, pria itu tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana. Setiap acara penting selalu diwakilkan oleh Jack atau jajaran direksinya. Pihak kampus bertanya-tanya, entah angin apa yang tiba-tiba membuat seorang Gray ingin hadir secara langsung—apakah murni karena perayaan abad ke-100 ini, atau ada alasan terselubung lainnya.Di ruang rektorat, Pa
Lily terus berlari hingga langkahnya terhenti di sebuah bangku taman kampus yang sepi. Ia menyandarkan tubuhnya, mencoba menenangkan dada yang bergemuruh. Lily hanya tidak ingin Natasya menjadi korban kelakuan jahat Justin selanjutnya. Bagaimanapun juga, Natasya adalah teman masa kecilnya."Kamu kenapa, Li?"Sebuah tangan tiba-tiba menepuk pelan pundaknya. Lily terkejut, bergegas mengusap air matanya sebelum menoleh dan memasang senyum tipis. "Eh, Mia..." sapanya pelan.Mia mendudukkan diri di samping Lily dengan raut cemas. "Kamu kenapa menangis?""Aku hanya sedih... Natasya malah berhubungan dengan Justin," jawab Lily menunduk.Mia menghela napas panjang, melipat kedua tangannya. "Pria seperti Justin itu memang tidak tahu malu! Bisa-bisanya dia mendekati Natasya setelah apa yang terjadi di antara kalian.""Bukan sekadar masalah itu, Mia. Ada hal yang jauh lebih buruk dari sekadar urusan asmara," kata Lily lirih."Memangnya kenapa, Li? Coba cerita padaku," desak Mia penasaran.
Erangan dan desahan Lily maupun Gray menggema di kamar mandi, untung saja kamar mandi Gray kedap suara, jadi hanya mereka berdua yang mendengar suara-suara merdu mereka. Setelah mandi, Lily langsung bersiap-siap, dia memasukkan buku serta laptopnya ke dalam tas. Wajahnya panik saat melirik jam dinding. "Tuan, saya sudah terlambat!" seru Lily gusar.Gray yang sedang mengancingkan kemejanya bersikap sangat tenang. "Tenang saja. Kamu tidak akan terlambat.""Tapi ini sudah terlambat, Tuan! Kelas pertama saya mulai jam delapan tepat," protes Lily panik.Gray tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, pria itu mengambil ponselnya lalu mengetik pesan singkat untuk asisten pribadinya. "Undurkan kelas pertama Lily menjadi jam sepuluh pagi."Hanya dalam hitungan detik, Gray memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Sudah kuundur jadi jam sepuluh."Mata Lily memelotot sempurna. Ia terpaku menatap pria di hadapannya dengan perasaan campur aduk. Sampai jam kuliah pun bisa dia atur seenaknya, gumam
Napas Lili masih terengah-engah. Pelepasan tadi malam benar-benar menguras seluruh tenaganya. Di sampingnya, Gray terkapar terlentang dengan satu lengan menutupi dahi, berusaha mengatur napasnya sendiri."Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba kamu merindukanku?" tanya Gray tanpa menatap Lili.Wajah Lili memanas. Ia menolak berterus terang tentang alasan di balik sikap agresifnya malam ini. "Tidak kenapa-kenapa Tuan, memangnya tidak boleh ya merindukan anda?" tanyanya."Boleh." Jawab Gray. Wajah Lili memerah lalu dia beranjak untuk membersihkan diri dan mengenakan pakaian tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, waktunya dia tidur karena besok harus bangun pagi untuk kuliah."Kamu tidur dulu, aku ingin merokok sebentar." Sementara Lili berbaring di tempat tidur, Gray duduk di sofa kamar, menyesap minumannya sambil menyalakan sebatang rokok.Tatapan pria itu terus menatap sang gadis, melihat gadis kecilnya telah tertidur Gray pun menyunggingkan senyuman. Kini pan







