LOGINGerakan kecil dari Gray membuat Lily yang tertidur lelap seketika terbangun. Mata cantiknya berkedip menyesuaikan cahaya pagi sebelum ia menyadari posisinya.
"Tuan... Anda sudah bangun?" tanya Lily pelan, suaranya sedikit serak khas bangun tidur. Dengan spontan, Lily mengambil handuk kecil dari dahi Gray lalu menggantikannya dengan menempelkan punggung tangannya di sana. "Syukurlah, panasnya sudah reda, Tuan," kata Lily seraya mengulas senyum tipis, sebuah senyuman tulus yang memancarkan rasa lega. Gray terpaku menatap wajah itu. Sebuah kata yang sangat asing mendadak tertahan di tenggorokannya, sebelum akhirnya lolos begitu saja dari bibirnya. "Terima kasih." Kata itu untuk pertama kalinya meluncur dari mulut Gray. Bagi pria dingin, angkuh, dan kejam seperti dirinya, kata itu bak mantra keramat yang tidak pernah sekali pun ia ucapkan kepada siapa pun sepanjang hidupnya. Lily sedikit terkejut mendengar ucapan itu, namun ia segera mengangguk lembut. "Sama-sama, Tuan. M-maaf, kalau boleh... saya izin turun ke bawah untuk buatkan minuman hangat dan bubur untuk Anda?" Gray mengangguk pelan memberi izin. Lily segera bangkit, merapikan bajunya, lalu melangkah ke pintu. Kepada para pengawal yang berjaga ketat di luar kamar, Lily menjelaskan bahwa Gray sudah memberinya izin untuk pergi ke dapur. Tak lama setelah Lily pergi, Tony, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Gray, masuk ke dalam kamar dengan raut wajah serius. "Tuan, orang yang menembak Anda semalam sudah berhasil kami tangkap dan bawa ke ruang bawah tanah," laporkan Tony dengan nada berbisik. Mata Gray yang tadinya redup seketika memancarkan kilat kekejaman. "Ayo ke sana." Tanpa memedulikan kondisinya yang baru saja pulih dari demam, Gray bangkit dan berjalan bersama Tony menuju area terlarang di mansion tersebut. Di saat yang sama, Lily yang baru saja selesai menyiapkan nampan berisi bubur dan teh hangat hendak kembali ke atas. Dari dalam dapur, netranya tak sengaja menangkap punggung Gray dan Tony yang berjalan terburu-buru menuju lorong belakang. "Tuan Gray?" panggil Lily dari dalam dapur. Namun suaranya terlalu pelan, dan Gray terus melangkah tanpa mendengar panggilannya. Merasa cemas dengan kondisi Gray yang belum pulih sepenuhnya dari luka tembak dan demam, Lily nekat meletakkan nampannya lalu mengendap-endap mengejar langkah kedua pria itu. Langkah kakinya membawanya berhenti tepat di ambang pintu besi ruang bawah tanah yang sedikit terbuka. Di dalam ruangan yang remang dan berbau amis itu, seorang pria tampak terikat dalam kondisi babak belur. Tanpa ragu dan tanpa banyak kata, Gray menarik senjata api dari balik jas Tony, mengarahkan moncongnya, dan... Dor! Darah menciprat saat peluru menembus dada pria itu hingga tewas seketika. "Aaa!" jerit Lily histeris, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar hebat, ketakutan setengah mati menyaksikan pembunuhan secara langsung di depan matanya. Suara teriakan itu membuat Gray dan Tony seketika menoleh tajam ke arah pintu. Tatapan mata Gray yang dipenuhi aura membunuh mengunci tubuh mungil Lily yang gemetaran. "M-maaf, Tuan... sa-saya tidak sengaja..." bisik Lily terbata-bata, langkah kakinya perlahan mundur dalam kepanikan luar biasa. Dengan langkah bergetar dan lutut yang terasa lemas, Lily berjalan kembali ke ruang makan tempat ia meletakkan nampan berisi bubur dan teh hangat untuk Gray. Tubuhnya masih terguncang hebat setelah menyaksikan penembakan sadis di ruang bawah tanah. Prok... prok... prok... Suara ketukan sepatu pantofel yang tegas bergaung di lorong, menandakan kehadiran sang pemilik mansion. Gray melangkah masuk dengan santai, seolah baru saja menyelesaikan urusan kecil yang tak berarti. Pria itu menarik salah satu kursi, lalu duduk di hadapan Lily. "Mana buburnya?" titah Gray datar seolah kejadian barusan tak pernah terjadi. Tubuh Lily bergetar makin hebat. Keringat dingin mulai merembes keluar membasahi sekujur tubuhnya, memicu rasa dingin yang membekukan jarinya. "I-ini, Tu-Tuan..." sahut Lily terbata-bata seraya mendorong mangkuk bubur ke dekat tangan Gray. Gray memperhatikan gelagat gadis di depannya. Matanya yang tajam mengunci ekspresi pucat Lily. "Kamu takut?" Lily tidak berani menatap manik mata yang dipenuhi aura membunuh itu. Ia hanya bisa mengangguk pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Dia pantas mati," ucap Gray lagi, suaranya tenang namun mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. Lily kembali mengangguk cepat tanpa berani membantah. Manusia jenis apa yang sedang bersamaku saat ini? batin Lily meratapi nasibnya yang terjebak di tempat berbahaya. Mata Gray beralih ke tangannya yang terbebat perban tebal. "Tanganku sakit. Suapi aku." Lily berusaha sekuat tenaga meredam ketakutan yang menggebu di dadanya. Dengan jemari yang gemetaran hebat, ia mengambil sendok, mengambil sedikit bubur, lalu mengarahkannya ke mulut Gray. Namun, karena rasa panik yang belum reda, tangannya Goyang. Prank..Sebagian bubur panas tumpah dan mengenai bagian depan baju Gray. "M-maaf! Maafkan saya, Tuan!" jerit Lily panik. Ia buru-buru mengambil beberapa lembar tisu dan mengusap noda bubur di kemeja Gray dengan tangan bergetar, takut jika keputusannya itu akan berujung maut seperti pria di ruang bawah tanah tadi. Namun, Gray tidak mengamuk. Ia hanya menahan pergelangan tangan Lily, menghentikan gerakannya, lalu mengambil tisu dari tangan gadis itu untuk mengusap bajunya sendiri. "Lanjutkan," perintah Gray singkat. Lily menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, lalu perlahan kembali menyuapi Gray hingga mangkuk itu kosong. Pria itu menghabiskan seluruh bubur buatan Lily dan meminum teh hangatnya tanpa sisa. "Bawa sisa nampan ini ke dapur, lalu kembali ke kamarku," kata Gray seraya bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Setelah membereskan peralatan makan di dapur, Lily berjalan kembali ke kamar utama dengan langkah berat. Saat pintu dibuka, Gray sudah bersandar di sofa kamar dengan kemeja yang sedikit terbuka di bagian atas. Matanya langsung mengunci presensi Lily yang kini berdiri mematung di dekat pintu. "Mendekatlah," perintah Gray dengan nada berat dan tidak menerima penolakan. "Aku butuh dirimu." DEG! Jantung Lily rasanya berhenti berdetak seketika. Pikiran buruk langsung memenuhi kepalanya. Butuh diriku? Butuh untuk apa?! Apakah dia akan meminta tubuhnya?Sore itu, Lily duduk di teras mansion yang megah. Ia sengaja menunggu kedatangan Gray di luar karena ingin meminta izin untuk mewawancarai Jack demi tugas kampusnya yang ditolak dosen.Beberapa saat menunggu, terdengar suara klakson nyaring di depan gerbang utama. Tak lama kemudian, mobil mewah hitam milik Gray melesat masuk dan terparkir rapi di halaman."Tuan Gray!" panggil Lily antusias, segera bangkit dari duduknya untuk menyambut pria itu.Gray yang baru saja turun dari mobil mengernyit heran. "Tumben kamu berada di luar? Ada apa?""Saya sengaja menunggu Anda, Tuan," jawab Lily jujur."Kenapa tidak tunggu di dalam kamar saja? Udara di luar sangat dingin," ujar Gray lembut seraya merangkul hangat pundak Lily, membawanya berjalan mendekati pintu masuk."Tuan... bolehkah saya meminta izin untuk mewawancarai Tuan Jack?" tanya Lily hati-hati.Mendengar nama asistennya disebut, Gray seketika menghentikan langkah. Ia melepas rangkulannya dari pundak Lily, lalu menatap dua netra g
"Lily, di sini aku dosennya, bukan kamu! Aku perintahkan kamu untuk wawancara ulang, ya wawancara ulang! Atau kalau tidak, nilaimu akan langsung aku beri C!" ancam dosen paruh baya itu tegas, sama sekali tak memberi celah untuk protes.Lily mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak amarah dan kekecewaan yang membakar dadanya. Dengan hati yang remuk, ia menarik kembali lembar laporan wawancaranya lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut. Ia sungguh tak menyangka ada dosen yang sepicik dan tak adil ini. Jelas-jelas hasil wawancaranya sangat sempurna dan valid langsung dari mulut sang bos besar, tapi malah ditolak mentah-mentah hanya demi membela Bianca yang merupakan anak rektor.Setibanya di dalam kelas, Lily menghempaskan tubuhnya dan duduk dengan kasar di kursinya. Raut wajahnya terlipat sedih.Mia yang menyadari ekspresi bersungut-sungut sahabatnya langsung berjalan mendekat. "Kenapa, Li? Ada masalah apa di ruang dosen?" tanyanya cemas."Pak dosen benar-benar pilih kas
"Apa perlu kita kembali, Tuan? Mumpung mobilnya masih belum terlalu jauh," tanya Jack dari balik kemudi, melirik ragu lewat kaca spion.Gray menghela napas panjang, melirik sekilas ke arah Lily yang masih sesenggukan menatap keluar jendela. Harga diri seorang mafia besar memang tinggi, tapi melihat air mata wanitanya jauh lebih menyiksa."Ya sudah, putar arah. Kita kembali saja," sahut Gray akhirnya mengalah.Jack langsung memutar balik mobil mewah itu. Tak butuh waktu lama, mereka kembali tiba di depan food truck penjual burger tersebut. Jack turun atas perintah Gray, lalu tak lama kemudian kembali dengan membawa bungkusan pesanan hangat yang tadi sempat ditinggalkan."Coba kamu makan dulu untuk memastikan makanan ini aman dikonsumsi," ujar Gray dingin kepada asistennya.Tanpa pikir panjang, Jack langsung membuka bungkusan itu dan menggigit satu porsi burger di tangan. Seketika itu juga, mata Jack membelalak lebar."Tuan... Ini ternyata sangat lezat!" seru Jack takjub.Selama
"Maaf, Tuan..." cicit Jack pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyelamatkan nyawanya dari tatapan tajam sang bos."Sudahlah. Ayo kita keluar," ajak Gray seraya berdiri dari kursi kebesarannya dan merapikan kemeja mewahnya.Jack mengernyit bingung. "Ke mana, Tuan? Bukankah jadwal hari ini sudah kosong dan tidak ada meeting dengan siapa pun?""Jemput Lily," jawab Gray singkat sambil melangkah menuju pintu."Jemput Nona Lily?" ulang Jack terperanjat, melirik jam tangannya. "Tapi Tuan... jam pulang kuliah Nona Lily masih dua jam lagi.""Kita berkeliling saja dulu," balas Gray santai.Jack semakin tak mengerti dengan jalan pikiran bosnya akhir-akhir ini. Biasanya, Gray adalah sosok pebisnis yang sangat menghargai waktu secara efisien. Pria itu jauh lebih senang ditunggu daripada harus menunggu orang lain. Bahkan untuk pertemuan bisnis yang sangat penting sekalipun, Gray selalu berangkat pas di menit-menit terakhir. Namun sekarang, demi menjemput gadis kecilnya,
Melihat Lily yang terus menundukkan kepala, Gray sadar bahwa gadis kecilnya merasa tidak nyaman dan malu dengan kehadirannya di tengah koridor kampus. Gray menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat, lalu berbalik menatap Pak Rektor."Aku harus segera kembali ke kantor. Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan," ujar Gray dingin."Baik, Pak Gray. Terima kasih banyak atas kunjungannya hari ini," sahut Pak Rektor dengan tawa semringah. "Mari, saya antar sampai ke area parkiran."Gray dan Jack melangkah lebih dulu di depan, sementara Pak Rektor berjalan mengikut di belakang. Begitu rombongan itu menghilang di ujung koridor, Lily seketika bernapas lega. Ia mengelus dadanya yang tadi berdegup kencang."Syukurlah... dia akhirnya pergi juga," gumam Lily penuh rasa lega."Siapa yang kamu maksud, Li?" sahut Mia yang duduk di sampingnya, menoleh bingung."Tuh... si—eh, maksudku Tuan Gray," potong Lily cepat, hampir saja keceplosan memanggil pria itu dengan sebutan lain.Di dalam ha
Jam istirahat akhirnya tiba. Di ruang rektorat, perbincangan antara Gray dan Pak Rektor baru saja usai. Namun, bukannya langsung pergi meninggalkan area kampus bersama Jack, Gray justru berdiri dan meluruskan kemejanya. Pria itu punya misi tersendiri: ia ingin melihat keberadaan gadis kecilnya."Aku ingin berkeliling kampus ini sebentar. Aku ingin melihat-lihat fasilitasnya," ujar Gray dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi.Pak Rektor seketika terperangah kaget. Ia tak menyangka sosok bos besar yang biasanya sangat sibuk dan tak tersentuh itu mendadak berminat menyusuri koridor kampus. Sesaat kemudian, asumsi liar mendadak melintas di benak Pak Rektor.Apakah ini ada hubungannya dengan Bianca? Apa Pak Gray tadi diam-diam tertarik saat melihat putriku? batin Pak Rektor kegirangan.Dengan senyum merekah penuh percaya diri, Pak Rektor langsung membungkuk hormat. "Tentu saja, Tuan Gray! Merupakan suatu kehormatan. Mari, saya sendiri yang akan mendampingi Anda berkeliling."Gray han







