Home / Romansa / Tuan Perkasa, Aku Kecanduan / Gadis Ini Merawatku?

Share

Gadis Ini Merawatku?

Author: DewaRa
last update publish date: 2026-08-21 15:46:47

​"Kalau kamu berani kabur sekali lagi," bisik Gray dengan suara berat penuh ancaman, "jangan salahkan aku kalau tubuhmu ini ku hancurkan!"

​Tanpa memberi kesempatan pada Lily untuk membela diri, Gray menyeret lengan gadis itu dan kembali mengurungnya di dalam kamar.

​BAM!

​Pintu terkunci rapat dari luar. Lily merosot di balik pintu, merengkuh kedua lututnya rapat-rapat. Tangisnya pecah memecah keheningan kamar raksasa itu. Harapannya hancur berkeping-keping. Cita-citanya untuk bisa lulus kuliah dan memiliki kehidupan normal kini terasa makin jauh dari jangkauan.

​Lelah menangis hingga kehabisan air mata, tawa sumbang perlahan lolos dari bibir Lily. Tawa frustrasi atas nasibnya yang malang. Ia kemudian bangkit dengan langkah gontai. Pikirannya melayang pasrah. Daripada terus meronta dan menyiksa diri sendiri, mungkin sudah saatnya ia menerima takdir ini.

​Hari-hari berikutnya, Lily benar-benar dikurung. Pintu kamar selalu terkunci, bahkan untuk urusan makan pun pelayan yang membawakannya ke dalam.

​Rasa bosan yang membunuh membuat Lily mulai mengamati sudut-sudut kamar. Mata sembapnya menangkap sebuah rak buku kayu yang berdiri megah di sudut ruangan. Rasa ingin tahunya muncul, melangkah mendekat dan menelusuri deretan buku di sana.

​Sebagai mahasiswi jurusan bisnis, mata Lily seketika berbinar. Rak itu dipenuhi koleksi buku bisnis level atas dan literatur langka—buku-buku mahal yang bahkan tak pernah ia temukan di perpustakaan kampusnya. Tanpa sadar, Lily larut dalam bacaannya, menenggelamkan diri hingga rasa takutnya menguap sejenak.

​CKLEK!

​"Apa yang kamu lakukan?" suara berat yang familier bergetar dari arah belakang.

​Sontak Lily tersentak kaget. Dengan tangan bergetar, ia buru-buru mengembalikan buku itu ke rak lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"M-maaf, Tuan... saya sudah lancang," cicit Lily ketakutan.

​Gray tak membalas. Ia hanya menatapnya sejenak, membalikkan badan, lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Lily menarik napas lega dan kembali duduk diam di sofa. Tak lama kemudian, Gray keluar dengan kimono mandi putih yang membalut tubuh tegapnya.

​"Tidurlah, sudah malam," titah Gray dingin.

​"Baik, Tuan..." sahut Lily pelan.

​Gray merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang luas, sementara Lily membaringkan diri di atas sofa. AC kamar yang disetel terlalu rendah membuat suhu ruangan terasa menusuk tulang. Lily meringkuk erat, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetaran.

​"Dingin sekali..." bisiknya lirih seraya menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mencari kehangatan. Ia hanya bisa pasrah menahan dingin hingga akhirnya tertidur lelap.

​Keesokan paginya, suara gemericik air dari kamar mandi membangunkan Lily. Saat ia membuka mata, Gray sudah selesai mandi dan sedang berjalan menuju lemari pakaian. Lily duduk tegak di sofa, menunduk sambil terus menggosok tangannya yang kaku karena kedinginan.

​Melihat hal itu saat memilih kemeja, Gray berucap datar tanpa menoleh, "Kalau kedinginan, ambil selimut di lemari."

​Lily mendongak kaget, namun dengan cepat menunduk lagi. "B-baik, Tuan... terima kasih."

​Malam berikutnya, suasana mansion mendadak tegang. Gray pulang dengan luka tembak di lengan kirinya. Dokter pribadi keluarga kerajaan bisnis itu baru saja selesai merawat lukanya, mengeluarkan peluru, dan mewanti-wanti agar Gray beristirahat total.

​Setelah dokter pergi, Gray berniat mengganti pakaiannya. Namun, dengan satu tangan yang terbebat kasa ketat, jemarinya kesulitan memasangkan kancing kemeja. Ia menggeram kesal.

​melihat kepayahan pria itu, Lily memberanikan diri melangkah mendekat.

​"B-boleh saya bantu, Tuan?" tanyanya pelan.

​Gray tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menghentikan gerakannya dan sedikit merentangkan tangannya, memberi izin secara tersirat.

​Dengan jemari mungil yang masih sedikit cemas, Lily mulai memasangkan kancing kemeja Gray satu per satu dari bawah ke atas. Jarak yang sangat dekat membuat Lily bisa merasakan hangat tubuh pria itu. Setelah selesai, Lily mengambilkan segelas air dan obat dari meja.

​"Diminum dulu obatnya, Tuan," ujar Lily lembut. Gray menerima gelas itu dan meminum obatnya tanpa protes.

​"Anda sebaiknya istirahat dulu, Tuan. Kalau butuh apa-apa, bangunkan saja saya," lanjut Lily pelan sebelum beranjak menuju sofa.

​Di tengah malam, Lily terbangun karena mendesak ingin buang air kecil. Usai dari kamar mandi, langkahnya terhenti saat melewati area tempat tidur. Suara erangan halus dan igauan tidak jelas terdengar dari bibir Gray.

​Lily mendekat dengan ragu. Wajah tegas pria itu tampak sangat pucat dan pelipisnya dibasahi keringat dingin. Dengan hati-hati, Lily menyentuhkan punggung tangannya ke dahi Gray.

​"Astaga... badannya panas sekali!" bisik Lily panik.

Lily panik. Napas Gray terdengar berat, dan suhu tubuhnya terasa sangat panas saat kulit mereka bersentuhan. Tanpa berpikir panjang, mata Lily memutar ke sekeliling ruangan, mencari apa pun yang bisa digunakan untuk meredakan demam pria itu.

​Dia bergegas berlari ke kamar mandi. Di sana, ia mengambil sebuah handuk kecil dan langsung membasahinya dengan air dingin di bawah kucuran keran. Setelah memerasnya perlahan, Lily kembali ke sisi tempat tidur dan membaringkan handuk basah itu tepat di dahi Gray.

​Malam semakin larut, namun demam Gray belum sepenuhnya turun. Karena harus merawat Gray sepanjang malam, dia akhirnya tertidur di lantai dingin dengan posisi yang canggung, tangannya tetap terulur menggenggam tepi handuk di dahi Gray, kepala dan dadanya bersandar di tepi ranjang, sementara seluruh kakinya selonjoran di atas lantai.

​Esok paginya, Gray perlahan membuka matanya.

Kepalanya terasa berat, namun rasa panas yang membakar tubuhnya semalam kini telah mereda. Ketika ia membuka mata, pandangannya langsung tertuju pada sesosok tubuh kecil di samping tempat tidurnya.

​Gray terdiam, memperhatikan Lily yang tertidur pulas dengan posisi yang pasti sangat tidak nyaman.

​Tatapannya tertuju pada wajah Lily yang tampak lelah namun tenang. Sebuah desiran hangat yang tak asing menyusup ke dalam dadanya, menyisakan satu pertanyaan samar yang terngiang di dalam benaknya:

​Gadis ini semalam merawatku?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
waw mulai niii lily nerima keadaan ny
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Bak Diwawancarai Dosen Killer

    Sore itu, Lily duduk di teras mansion yang megah. Ia sengaja menunggu kedatangan Gray di luar karena ingin meminta izin untuk mewawancarai Jack demi tugas kampusnya yang ditolak dosen.​Beberapa saat menunggu, terdengar suara klakson nyaring di depan gerbang utama. Tak lama kemudian, mobil mewah hitam milik Gray melesat masuk dan terparkir rapi di halaman.​"Tuan Gray!" panggil Lily antusias, segera bangkit dari duduknya untuk menyambut pria itu.​Gray yang baru saja turun dari mobil mengernyit heran. "Tumben kamu berada di luar? Ada apa?"​"Saya sengaja menunggu Anda, Tuan," jawab Lily jujur.​"Kenapa tidak tunggu di dalam kamar saja? Udara di luar sangat dingin," ujar Gray lembut seraya merangkul hangat pundak Lily, membawanya berjalan mendekati pintu masuk.​"Tuan... bolehkah saya meminta izin untuk mewawancarai Tuan Jack?" tanya Lily hati-hati.​Mendengar nama asistennya disebut, Gray seketika menghentikan langkah. Ia melepas rangkulannya dari pundak Lily, lalu menatap dua netra g

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Jangan Lupa Traktirannya

    "Lily, di sini aku dosennya, bukan kamu! Aku perintahkan kamu untuk wawancara ulang, ya wawancara ulang! Atau kalau tidak, nilaimu akan langsung aku beri C!" ancam dosen paruh baya itu tegas, sama sekali tak memberi celah untuk protes.​Lily mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak amarah dan kekecewaan yang membakar dadanya. Dengan hati yang remuk, ia menarik kembali lembar laporan wawancaranya lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut. Ia sungguh tak menyangka ada dosen yang sepicik dan tak adil ini. Jelas-jelas hasil wawancaranya sangat sempurna dan valid langsung dari mulut sang bos besar, tapi malah ditolak mentah-mentah hanya demi membela Bianca yang merupakan anak rektor.​Setibanya di dalam kelas, Lily menghempaskan tubuhnya dan duduk dengan kasar di kursinya. Raut wajahnya terlipat sedih.​Mia yang menyadari ekspresi bersungut-sungut sahabatnya langsung berjalan mendekat. "Kenapa, Li? Ada masalah apa di ruang dosen?" tanyanya cemas.​"Pak dosen benar-benar pilih kas

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Harga Diri Mafia Dingin Dikuliti Habis Tanpa Sisa

    "Apa perlu kita kembali, Tuan? Mumpung mobilnya masih belum terlalu jauh," tanya Jack dari balik kemudi, melirik ragu lewat kaca spion.​Gray menghela napas panjang, melirik sekilas ke arah Lily yang masih sesenggukan menatap keluar jendela. Harga diri seorang mafia besar memang tinggi, tapi melihat air mata wanitanya jauh lebih menyiksa.​"Ya sudah, putar arah. Kita kembali saja," sahut Gray akhirnya mengalah.​Jack langsung memutar balik mobil mewah itu. Tak butuh waktu lama, mereka kembali tiba di depan food truck penjual burger tersebut. Jack turun atas perintah Gray, lalu tak lama kemudian kembali dengan membawa bungkusan pesanan hangat yang tadi sempat ditinggalkan.​"Coba kamu makan dulu untuk memastikan makanan ini aman dikonsumsi," ujar Gray dingin kepada asistennya.​Tanpa pikir panjang, Jack langsung membuka bungkusan itu dan menggigit satu porsi burger di tangan. Seketika itu juga, mata Jack membelalak lebar.​"Tuan... Ini ternyata sangat lezat!" seru Jack takjub.​Selama

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Kenapa Anda Tidak Mengerti!

    "Maaf, Tuan..." cicit Jack pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyelamatkan nyawanya dari tatapan tajam sang bos.​"Sudahlah. Ayo kita keluar," ajak Gray seraya berdiri dari kursi kebesarannya dan merapikan kemeja mewahnya.​Jack mengernyit bingung. "Ke mana, Tuan? Bukankah jadwal hari ini sudah kosong dan tidak ada meeting dengan siapa pun?"​"Jemput Lily," jawab Gray singkat sambil melangkah menuju pintu.​"Jemput Nona Lily?" ulang Jack terperanjat, melirik jam tangannya. "Tapi Tuan... jam pulang kuliah Nona Lily masih dua jam lagi."​"Kita berkeliling saja dulu," balas Gray santai.​Jack semakin tak mengerti dengan jalan pikiran bosnya akhir-akhir ini. Biasanya, Gray adalah sosok pebisnis yang sangat menghargai waktu secara efisien. Pria itu jauh lebih senang ditunggu daripada harus menunggu orang lain. Bahkan untuk pertemuan bisnis yang sangat penting sekalipun, Gray selalu berangkat pas di menit-menit terakhir. Namun sekarang, demi menjemput gadis kecilnya,

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Apa Kamu Sudah Tidak Sayang Dengan Nyawamu!

    Melihat Lily yang terus menundukkan kepala, Gray sadar bahwa gadis kecilnya merasa tidak nyaman dan malu dengan kehadirannya di tengah koridor kampus. Gray menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat, lalu berbalik menatap Pak Rektor.​"Aku harus segera kembali ke kantor. Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan," ujar Gray dingin.​"Baik, Pak Gray. Terima kasih banyak atas kunjungannya hari ini," sahut Pak Rektor dengan tawa semringah. "Mari, saya antar sampai ke area parkiran."​Gray dan Jack melangkah lebih dulu di depan, sementara Pak Rektor berjalan mengikut di belakang. Begitu rombongan itu menghilang di ujung koridor, Lily seketika bernapas lega. Ia mengelus dadanya yang tadi berdegup kencang.​"Syukurlah... dia akhirnya pergi juga," gumam Lily penuh rasa lega.​"Siapa yang kamu maksud, Li?" sahut Mia yang duduk di sampingnya, menoleh bingung.​"Tuh... si—eh, maksudku Tuan Gray," potong Lily cepat, hampir saja keceplosan memanggil pria itu dengan sebutan lain.​Di dalam ha

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Berkeliling Kampus

    Jam istirahat akhirnya tiba. Di ruang rektorat, perbincangan antara Gray dan Pak Rektor baru saja usai. Namun, bukannya langsung pergi meninggalkan area kampus bersama Jack, Gray justru berdiri dan meluruskan kemejanya. Pria itu punya misi tersendiri: ia ingin melihat keberadaan gadis kecilnya.​"Aku ingin berkeliling kampus ini sebentar. Aku ingin melihat-lihat fasilitasnya," ujar Gray dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi.​Pak Rektor seketika terperangah kaget. Ia tak menyangka sosok bos besar yang biasanya sangat sibuk dan tak tersentuh itu mendadak berminat menyusuri koridor kampus. Sesaat kemudian, asumsi liar mendadak melintas di benak Pak Rektor.​Apakah ini ada hubungannya dengan Bianca? Apa Pak Gray tadi diam-diam tertarik saat melihat putriku? batin Pak Rektor kegirangan.​Dengan senyum merekah penuh percaya diri, Pak Rektor langsung membungkuk hormat. "Tentu saja, Tuan Gray! Merupakan suatu kehormatan. Mari, saya sendiri yang akan mendampingi Anda berkeliling."​Gray han

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status