ANMELDEN"Aku tidak pendek, Tuan," cicit Lily pelan, menolak menyerah karena gengsi. Dengan gigih, Lily kembali berjinjit sekuat tenaga, mengulurkan kedua tangannya tinggi-tinggi untuk menyelipkan buku tebal itu ke tempat semula. Namun, baru saja ujung buku menyentuh selipan rak, jemarinya yang kaku kehilangan cengkeraman. Buku tebal itu merosot turun, dan keseimbangan tubuh mungil Lily seketika hilang. "Ah!" Lily memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan dingin dan kerasnya lantai menghantam tubuhnya. Namun, sebelum tubuhnya tersungkur, sebuah lengan kokoh berotot menyapu pinggangnya dengan cepat, membanting arah jatuhnya dan menarik tubuh Lily merapat ke dada tegap yang hangat. BRUK! Buku tebal jatuh menghantam lantai, memecah keheningan kamar. Lily perlahan membuka mata, napasnya memburu berpacu dengan detak jantungnya yang melonjak hebat. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Manik mata hitam milik Gray menatap lurus ke dalam matanya, tajam dan pe
"Butuh diriku? Apakah malam ini dia benar-benar akan mengambil paksa segalanya dariku?"Dengan tubuh gemetaran dan langkah yang terasa sangat berat, Lily berjalan mendekati sofa tempat Gray bersandar. Setiap jengkal jarak rasanya seperti langkah menuju kebinasaan. Ia berhenti tepat di hadapan Gray, menundukkan kepala rapat-rapat, tak berani menatap manik mata pria yang baru saja merenggut nyawa seseorang beberapa jam lalu."T-Tuan... saya mohon..." suara Lily terdengar serak, tercekik oleh rasa takut yang memuncak. Jari mungilnya yang gemetar perlahan terangkat ke dada, memegang kancing bajunya sendiri dengan pasrah. Air mata mulai merembes di sudut matanya.Gray menyipitkan mata, mengamati tingkah gadis di depannya dengan dahi berkerut. "Apa yang kamu lakukan?""B-bukannya Tuan..." Lily memejamkan mata erat-erat, menahan tangisnya agar tidak pecah. "Bukannya Anda bilang... butuh saya?"Hening sejenak melingkupi ruangan raksasa itu.Gray membuang napas kasar lewat hidung. "Apa
Gerakan kecil dari Gray membuat Lily yang tertidur lelap seketika terbangun. Mata cantiknya berkedip menyesuaikan cahaya pagi sebelum ia menyadari posisinya."Tuan... Anda sudah bangun?" tanya Lily pelan, suaranya sedikit serak khas bangun tidur.Dengan spontan, Lily mengambil handuk kecil dari dahi Gray lalu menggantikannya dengan menempelkan punggung tangannya di sana."Syukurlah, panasnya sudah reda, Tuan," kata Lily seraya mengulas senyum tipis, sebuah senyuman tulus yang memancarkan rasa lega.Gray terpaku menatap wajah itu. Sebuah kata yang sangat asing mendadak tertahan di tenggorokannya, sebelum akhirnya lolos begitu saja dari bibirnya."Terima kasih."Kata itu untuk pertama kalinya meluncur dari mulut Gray. Bagi pria dingin, angkuh, dan kejam seperti dirinya, kata itu bak mantra keramat yang tidak pernah sekali pun ia ucapkan kepada siapa pun sepanjang hidupnya.Lily sedikit terkejut mendengar ucapan itu, namun ia segera mengangguk lembut. "Sama-sama, Tuan. M-maaf, kal
"Kalau kamu berani kabur sekali lagi," bisik Gray dengan suara berat penuh ancaman, "jangan salahkan aku kalau tubuhmu ini ku hancurkan!" Tanpa memberi kesempatan pada Lily untuk membela diri, Gray menyeret lengan gadis itu dan kembali mengurungnya di dalam kamar. BAM! Pintu terkunci rapat dari luar. Lily merosot di balik pintu, merengkuh kedua lututnya rapat-rapat. Tangisnya pecah memecah keheningan kamar raksasa itu. Harapannya hancur berkeping-keping. Cita-citanya untuk bisa lulus kuliah dan memiliki kehidupan normal kini terasa makin jauh dari jangkauan. Lelah menangis hingga kehabisan air mata, tawa sumbang perlahan lolos dari bibir Lily. Tawa frustrasi atas nasibnya yang malang. Ia kemudian bangkit dengan langkah gontai. Pikirannya melayang pasrah. Daripada terus meronta dan menyiksa diri sendiri, mungkin sudah saatnya ia menerima takdir ini. Hari-hari berikutnya, Lily benar-benar dikurung. Pintu kamar selalu terkunci, bahkan untuk urusan makan pun pelayan yang memba
"Kamu sudah kubeli mahal! Kamu tidak punya hak untuk menolak!" geram Gray, hendak melancarkan aksinya kembali."T-Tuan, saya mohon... kasihanilah saya!" tangis Lily pecah, suaranya melengking pilu memenuhi seluruh ruangan. Kedua tangannya terangkat gemetaran, memohon di hadapan dada bidang Gray. "Saya cuma anak yatim piatu, Tuan... Saya hidup sendirian, berjuang sendiri hanya demi bertahan hidup dan bisa kuliah... Tolong jangan rusak saya..."Kata-kata itu menghantam Gray tepat di dadanya.Gerakan Gray seketika membeku. Tatapan matanya yang tadi dipenuhi amarah murka mendadak meredup, tergantikan oleh kilatan bayangan masa lalu yang paling ingin ia lupakan.Anak yatim piatu... Hidup sendirian...Kalimat itu memicu ingatan kelam dalam kepalanya. Gray teringat pada dirinya sendiri di masa kecil—saat sang ibu tega pergi meninggalkannya begitu saja demi pria lain, meninggalkan ia dan sang ayah dalam kemelaratan hingga ayahnya jatuh stres parah lalu meninggal dunia. Gray tahu betul b
"Ini, Tuan, gadis virgin yang saya janjikan," kata Justin seraya sedikit mendorong tubuh Lily.Rasa takut membakar dada Lily seketika. Dia enggan melepas genggamannya, justru semakin erat memeluk lengan Justin."Justin, aku takut! Kenapa kamu bawa aku ke sini?" bisik Lily."Duduk di sana bersama Tuan Muda Gray! Jangan bikin malu aku dengan sikap kamu," bisik Justin penuh penekanan sambil menahan geram.Lily menggeleng kuat. "Ngapain duduk di sana, Justin? Ayo kita pulang! Ini sudah malam!"Justin menghempaskan cengkeraman tangan Lily secara kasar, membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan. "Tuan Gray sudah menunggu. Jangan buat dia murka!""Aku nggak mau!" tolak Lily tegas.Melihat penolakan itu, Justin berbalik menatap pria berjas mahal yang duduk di sofa mewah. Pria itu sibuk menyesap cerutunya dengan aura yang sangat mengintimidasi."Dia baru berusia dua puluh tahun, Tuan Gray. Masih kuliah semester empat dan sangat polos," ujar Justin dengan menyunggingkan senyum l







