Share

Bab 6. Dipaksa Makan

Lukas mengerutkan dahi saat melihat raut wajah Evelyn yang terlihat begitu terkejut.

"Apa ada sesuatu yang salah? Tanya Lukas yang diliputi perasaan heran.

"Tidak, aku hanya tiba-tiba teringat sesuatu," jawab Evelyn, mengusap bulir bening di matanya.

"Apa itu sesuatu yang menyedihkan?" Lukas merasa tidak nyaman dengan ekspresi Evelyn. Ia takut disalahkan oleh atasannya jika sampai perempuan itu terlihat murung.

"Aku tidak tahu, entah ini sesuatu yang menyedihkan atau malah membahagiakan," jawab Evelyn dengan tatapan sendu.

Evelyn teringat kembali kenangan bersama Leon yang selalu memberikannya boneka beruang biru. Padahal boneka tersebut termasuk sedikit langka mengingat yang dijual kebanyakan berwarna coklat.

Lukas tidak berani menanyakan lebih jauh lagi. Setidaknya ia sudah tahu alasan Evelyn bersedih itu bukanlah tentang sesuatu yang berhubungan dengan dirinya atau sang atasan.

Merasa sudah terlalu lama bersama Evelyn, Lukas pun berniat untuk membiarkannya beristirahat.

"Aku keluar dulu, jika butuh sesuatu gunakan saja telepon yang ada di samping kasur!" Lukas menunjuk ke arah sebuah telepon yang berada di atas nakas.

Evelyn tersenyum simpul sambil berkata, "Terima kasih untuk semuanya."

Lukas membalas senyum Evelyn "Tidak masalah, ini sudah menjadi tugasku."

Lukas bergegas keluar kemudian menutup pintu kamar sedangkan Evelyn yang ingin memiliki privasi pun segera mengunci pintu dan buru-buru berjalan mendekati kasur lalu sedikit menghempaskan tubuh ke atasnya.

"Akhirnya aku bisa merasakan kasur empuk lagi," gumam Evelyn seraya meregangkan tubuhnya.

Entah kenapa kamar tersebut membuatnya merasa sangat nyaman.

Semua yang ada di ruangan itu penuh dengan sesuatu yang sangat ia sukai, dari mulai cat dinding berwarna biru muda, beberapa lukisan bunga matahari, dan juga boneka beruang biru muda yang baru saja Sean berikan seakan menambah lengkap kebahagiaannya.

Sekilas terbesit dalam benaknya, apakah mungkin Sean menyukaiku? kenapa dia tahu semua tentangku? dan yang lebih parah adalah ketika terlintas dalam pikiran Evelyn jika pria tersebut ternyata adalah seorang penggemar rahasianya. Namun, ia segera menepis pikiran itu karena rasanya sedikit tidak mungkin mengingat sikap Sean sangatlah arogan seolah menganggapnya sebagai musuh.

"Bodoh kenapa aku memiliki pikiran konyol seperti itu," ucap Evelyn sambil memukul pelan kepalanya.

Tanpa sadar Evelyn yang telah melewati hari-hari menyedihkan pun terlelap di tengah kebahagiaan kecil dalam suasana kamar. Sampai ia terbangun karena mendengar seseorang mengetuk pintu.

"Buka pintunya!" bentak Sean dengan wajah merah karena kesal sejak tadi Evelyn begitu sulit dibangunkan, sampai para pelayan memintanya untuk turun tangan mengingat mereka sendiri tidak berani mengusik perempuan milik tuannya itu.

Dengan perasaan malas Evelyn yang baru saja membuka mata memilih untuk meregangkan tubuhnya terlebih dahulu baru kemudian ia beranjak dan berjalan perlahan menuju pintu.

"Iya, sebentar," jawab Evelyn, pelan.

Evelyn memutar kunci lalu menarik gagang pintu dengan perlahan, lalu tampaklah wajah Sean yang tengah diliputi emosi.

"Apa Kamu tuli?" hardik Sean yang raut dengan sorot mata tajam.

"Maaf tadi saya sedang tidur, ini pertama kalinya saya tidur di kasur yang empuk setelah sekian lama berada di rumah lelang," terang Evelyn.

Lukas yang merasa cemas dengan pertikaian kecil tersebut buru-buru mendekati Evelyn seraya sedikit menariknya. "Sudah waktunya makan malam."

Dari belakang muncul beberapa pelayan yang mendorong troli sambil membawa beberapa jenis makanan, dari mulai sayuran, buah-buahan, bahkan beberapa jenis daging baik ayam maupun ikan terhidang dengan penampakan yang menggoda.

"Apa ini semua untukku?" Evelyn menatap makanan-makanan itu sambil mengerutkan kening.

"Benar, ini semua baik untuk kesehatan janin," jawab Lukas tersenyum simpul.

"Aku tidak bisa menghabiskan semua, ini terlalu banyak! makan sedikit saja sudah membuatku kenyang," jawab Evelyn yang matanya terus menatap makanan.

"Tidak masalah makanlah makanan yang paling kamu sukai." Lukas berusaha membujuk Evelyn. Ia tidak ingin Sean marah padanya hanya karena perkara makanan.

Evelyn ragu, bukan berniat menolak, tetapi di menurutnya makanan tersebut terlalu banyak, membuatnya sedikit kebingungan untuk memilih.

"Tapi …." Evelyn masih terlihat ragu.

"Ini bukan pilihan," bentak Sean yang terlalu kesal karena dalam pandangannya Evelyn sangatlah pemilih, tidak memikirkan bayi dalam kandungan.

"I-iya." Evelyn menatap Sean dengan perasaan tidak nyaman. "Aku makan sekarang?"

Sean tak menjawab dan hanya menatap Evelyn dengan tatapan dingin menusuk hati.

Evelyn mulai mengerti dengan sikap diam Sean yang menandakan jika ia harus segera makan saat itu juga. Namun, situasi tersebut membuatnya merasa tidak nyaman. Bagaimana mungkin dia bisa makan di saat beberapa orang malah mengawasinya.

"Apa kamu perlu sesuatu?" Lukas menghampiri Evelyn yang masih belum mulai makan.

"Aku tidak nyaman mereka terus memperhatikanku, apalagi …." Evelyn melirik ke arah Sean yang terus menatapnya dengan tajam

Lukas lagi-lagi kebingungan, tidak mungkin jika ia harus mengusir atasannya tersebut. Namun ia juga ingin agar Evelyn bisa segera makan, benar-benar seperti memakan buah simalakama.

Lain dengan Sean yang tak mengerti jika Evelyn malu terus diperhatikan dan hanya berpikir jika dia wajib mengawasi perempuan tersebut untuk makan.

"Apa aku boleh makan sendiri?" Evelyn menatap Sean dengan sorot mata penuh harap.

"Tidak," jawab Sean, ketus.

Pada akhirnya Evelyn hanya bisa menghela napas dalam. Mau tak mau ia harus segera makan daripada berakhir diusir dari rumah yang sudah membuatnya nyaman.

Meski tak selera, Evelyn memaksakan dirinya untuk makan beberapa potong sayur dan juga daging ayam. Jika tidak ada siapa pun, perempuan itu pasti hanya akan memakan buah saja karena yang lain membuatnya mual.

"Aku sudah kenyang," ucap Evelyn yang sudah melahap setengah potong paha ayam, tiga iris wortel, dan satu buah apel.

Sean tak mengatakan apa pun dan bergegas keluar. Entah kenapa perhatian dan ucapan pria itu terlihat begitu berlawanan, membuat Evelyn sampai bingung dibuatnya.

Setelah Sean pergi, Lukas dan para pelayan pun satu persatu keluar dari kamar. Kemudian Evelyn buru-buru mengunci pintu lagi.

Baru saja lima belas menit berlalu, lagi-lagi terdengar suara ketukan dari arah luar. Mata Evelyn memutar sekilas, meski malas, ia tetap berjalan menuju pintu dan memutar engselnya.

"Siapa?" Evelyn sedikit waspada saat melihat pria dengan setelan jas rapi berdiri di hadapannya.

Komen (6)
goodnovel comment avatar
L.A. Zahra
terima kasih kakak ...
goodnovel comment avatar
Jandra Rambing
Bagus aku suka
goodnovel comment avatar
L.A. Zahra
bisa buka pake iklan atau klaim bonus koin harian qo kak..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status