Share

Bab 23 Luka di Tangan

last update Tanggal publikasi: 2026-06-21 12:00:57

“Rama …,” gumam Erin sambil membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

Pria itu dengan santai duduk di hadapan Erin. “Tidak kusangka kita bertemu di sini,” ucap Rama dengan ringan.

Dengan gerakan tenang, dia mulai menyendok makanannya seakan tidak begitu peduli dengan keadaan di sekitar.

Hal itu berbeda dengan Erin yang langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada siswa atau penggemar yang menyadari keberadaan mereka.

Pasalnya, masih membek
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 29 Solusi

    “Meminta tolong ... tidak ... meminta tolong?” Belum ada satu detik Erin mengambil napas, dia menggeleng cepat. “Tidak, Erin,” bantahnya lirih. Sudah hampir setengah jam sejak Cakka pulang dan meninggalkan klinik, sekarang hanya ada Erin seorang diri yang menunggu kedatangan Rama untuk sesi terapi sore itu. Khusus hari Sabtu, jadwal terapi Rama memang berbeda dari hari Senin dan Kamis, yaitu pukul lima sore. Selagi menunggu, jari-jari Erin terus memainkan bolpoin warna-warni di tangannya. Berkali-kali dia menekan ujung bolpoin itu secara bergantian, seakan berharap salah satunya bisa memberinya jawaban. Namun, setiap kali pilihannya berhenti pada kata meminta tolong, Erin selalu mengurungkan niatnya. Dia tidak yakin bisa meminta bantuan itu kepada Rama. Untuk kesekian kalinya, Erin mengembuskan napas panjangnya. “Sudahlah,” gumamnya pelan. “Pergi sendiri saja.” Lagi pula, dia sudah mencoba mencari cara lain. Beberapa saat yang lalu, Erin sempat mencari nomor telepon bar itu m

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 28 Lanyard

    Huft~Entah sudah berapa kali hari ini Erin mengembuskan napas beratnya tanpa sadar.Setiap kali mengingat apa yang Rama katakan kepada Kepala Sekolah tadi pagi, rasa dongkol itu langsung mencuat di dadanya.Sesaat setelah Kepala Sekolah bertanya apa yang terjadi, Rama dengan enteng menjawab, “Erin bilang padaku kalau dia ingin menarik lagi soal keputusannya tadi.”“Benar 'kan, Fisio Erin?”Tatapan Rama beralih ke arah Erin.Mungkin hanya perasaannya saja, tapi dari cara Rama menatap juga nada bicaranya seakan meminta Erin untuk mengiakan ucapannya tanpa ingin dibantah.Erin yang merasa berada di situasi yang sulit, akhirnya terpaksa mengikuti alur Rama.“I-iya, Pak. Saya mungkin perlu memikirkan ulang keputusan saya soal ikut membantu Camp Training.”Seketika, wajah Kepala Sekolah kembali terlihat cerah. “Benarkah?” Nada suaranya terdengar lega. “Kalau begitu, saya akan tunggu keputusan final dari kamu, Erin. Semoga kamu benar-benar bisa bergabung, ya.”Usai beberapa saat membicaraka

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 27 Aku Pasienmu

    “Erin?” Panggilan itu seketika membuat Erin segera mengalihkan pandangannya dari Rama kepada Kepala Sekolah. “Ayo duduk,” titahnya sambil menunjuk kursi kosong di samping Rama. Erin segera tersadarkan lantas menjawab, “A-ah, ya ... baik, Pak.” Dia mulai melangkah mendekat di tengah rasa canggung yang menyelimutinya setelah menyadari kehadiran Rama di ruangan itu. Sekilas, Erin memperhatikan penampilan pria tersebut. Rama mengenakan setelan training yang dipadukan dengan jaket hitam dan topi yang menutupi sebagian rambutnya. Dalam hatinya, Erin sempat terpikirkan … apa Rama masih ada jadwal syuting di Gravion? Detik berikutnya, buru-buru Erin mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak memikirkan hal yang bukan urusannya. Mau Rama memiliki jadwal syuting, fan meeting, atau sedang membahas apa pun dengan Kepala Sekolah, semua itu tidak ada hubungannya dengan– Belum sempat menyelesaikan isi pikirannya, Erin tersentak saat menyadari senyum tipis yang terangkat di sudut bibir Rama.

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 26 Dititipkan

    Semalam sebelum tidur, Erin sempat berdoa agar pagi harinya, baik Wisam maupun Hera tidak lagi menyinggung soal Rama.Sayangnya, harapan Erin tidak terkabulkan.Sambil masih mengenakan masker di wajah, dia membantu menyiapkan sarapan untuk kedua orang tuanya yang akan berangkat bekerja. Lebih tepatnya, Wisam pergi bekerja sambil mengajak Hera.Kebetulan Hera masih berada di dalam kamar, sementara Wisam sudah duduk di meja makan. Erin baru saja meletakkan sepiring roti panggang di atas meja ketika Wisam membuka suara. “Hari ini kamu ada jadwal terapi Rama lagi, ya?”Demi mendengar nama Rama disebut, napas Erin tercekat di tenggorokan.Entah apa saja yang telah dibicarakan ayahnya dan Rama selama lima menit di panggilan telepon malam itu. Namun, dari pertanyaan Wisam, Erin meyakini bahwa sekarang ayahnya sudah mengetahui jadwal terapi Rama yang berlangsung tiga kali dalam seminggu.Tanpa sadar, Erin mendesah pelan.Meski terapinya hanya tiga kali seminggu, kenapa rasanya Erin malah nya

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 25 Rama Lagi~

    Erin selalu memiliki cara untuk mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang membuat isi kepalanya penuh, salah satunya dengan sibuk bekerja. Yah, meski setelah pekerjaan itu selesai, pikiran-pikiran tersebut akan kembali datang menyerangnya … termasuk kenyataan bahwa Erin harus menghadapi kedua orang tuanya setelah tidak pulang semalam. Huft~ Kini, Erin baru saja tiba di depan rumah dan memarkirkan sepedanya tepat di samping motor sang ayah. Kemudian dia melirik jam digital di pergelangan tangannya yang baru menunjukkan pukul dua puluh lewat dua puluh menit. Padahal Erin sudah mengayuh sepeda dengan sengaja lebih pelan dari biasanya. Akan tetapi, tetap saja, dia tiba di rumah lebih cepat daripada yang diharapkan. “Jam segini, Ibu dan Ayah belum tidur,” gumam Erin setengah cemas. Sejujurnya, Erin sendiri tidak tahu apa yang membuatnya segugup ini untuk menemui Wisam dan Hera. Kalau ini soal masker yang dikenakannya, dia tentu sudah menyiapkan alasan. Andai kata ditanya, Erin akan bi

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 24 Ikut Camp Training?

    Isinya bertulisan, ‘Terima kasih sudah menolongku. Jangan lupa pakai plesternya.’Membaca itu, Rama mendengus pelan. Pandangannya bergeser pada kotak plester di tangannya. Dan tanpa berkomentar apa pun, tangannya melipat kembali struk itu dan memasukkannya ke dalam sana.***Lima belas menit kemudian, Erin sudah kembali ke klinik.Kebetulan di waktu yang bersamaan, Cakka juga baru saja selesai menangani pasien terakhirnya. Demikian, pria itu mengantar pasien tersebut sampai ke meja resepsionis.“Jangan lupa tetap lakukan latihan yang saya ajarkan untuk di rumah. Kalau ada yang membuat tidak nyaman, Bapak bisa hubungi kami.”“Siap, Fisio Cakka.”Pasien itu melempar senyum sebelum akhirnya berbalik menuju pintu keluar.Tepat ketika itu, dia berpapasan dengan Erin yang baru saja masuk. “Eh, Fisio Erin,” sapanya ramah.“Siang, Pak,” sapa Erin balik sambil menganggukkan kepalanya.Keduanya sempat berbasa-basi singkat sebelum akhirnya pasien tadi melanjutkan langkahnya menuju keluar pintu k

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 4 Tanda Tanya Besar

    Kalimat Cakka membuat jantung Erin berdebar. Dia melirik sang sahabat yang lanjut berkata, “Apa mungkin kalian sebenarnya—” “Kami rival,” sela Erin cepat seraya membasahi bibir bawahnya. “Ah?” Cakka menatap Erin penuh selidik, tidak langsung percaya. “Rival …?” Erin menelan makanannya dan mena

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 3 Teman Kandung

    “Erin, jangan marah! Aku benar-benar tidak sengaja!”Rengekan itu membuat Erin, yang sedang menyantap makan siangnya di klinik, mengangkat pandangan dan menatap ke depan.Seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata biru terang indah tampak memasang wajah memelas di hadapannya.“Tolong, maafkan

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 2 Berjodoh?

    Lahir di keluarga yang cukup harmonis dan penuh cinta kasih, membuat Erin pernah berandai-andai, apa rasanya jatuh cinta dan dicintai seseorang?Sampai ketika dirinya masuk SMA, Erin bertemu dengan seorang Rama Mahanta. Dari sejumlah teman, Erin mengetahui satu-dua hal tentang pemuda itu. Tampan,

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 1 Pertemuan di Gravion

    Erin Kayonna berdiri di depan gerbang SMA Gravion dengan satu tangan menggenggam erat dokumennya.Setelah sepuluh tahun lalu meninggalkan kota ini dengan memori buruk, Erin tidak menyangka dia malah kembali ke tempat ini lagi. Tapi, keadaan memaksa, jadi Erin tidak memiliki pilihan lain.Kesehatan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status