LOGIN“Erin, jangan marah! Aku benar-benar tidak sengaja!”
Rengekan itu membuat Erin, yang sedang menyantap makan siangnya di klinik, mengangkat pandangan dan menatap ke depan. Seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata biru terang indah tampak memasang wajah memelas di hadapannya. “Tolong, maafkan aku …?” Menatap Cakka Dalziel, sahabat dekat sekaligus partnernya dalam kepemilikan klinik itu, Erin hanya bisa menghela napas pasrah. Tadi, usai Erin menemukan klinik dalam keadaan kosong tanpa terkunci, Cakka baru kembali dan menjelaskan semuanya. Sekitar setengah jam yang lalu, pria itu ingin menerima paket dari kurir yang baru tiba. Tapi, kemudian dia tertarik oleh restoran baru di ujung jalan dan berujung membeli makan siang untuk Erin dari sana. Masalahnya, dia lupa belum mengunci pintu klinik dan baru teringat kembali saat makanan sudah jadi dan Erin sudah tiba! Alhasil, Erin menegur Cakka habis-habisan dan berujung mendiamkannya selama beberapa saat agar pria itu tahu betapa serius kelalaiannya itu. Namun, melihat sahabatnya meminta maaf dengan begitu tulus, juga karena salah satu alasan kecerobohan itu terjadi adalah demi dirinya, Erin akhirnya menghela napas. “Oke, aku tidak marah lagi. Tapi lain kali, lebih berhati-hatilah, mengerti? Kalau ada barang atau dokumen penting yang hilang, kita perlu keluar uang lagi ….” Mendengar itu, Cakka menaikkan tangan kanannya dan meletakkan di dekat pelipis, berpose hormat. “Siap, Bu Erin! Saya akan berusaha untuk tidak ceroboh lagi!” Erin merasa geli dan memukul pundak Cakka pelan. “Jangan cuma usaha! Pastikan jangan sampai kejadian lagi!” “Iya, iyaa!” Sudah hampir sepuluh tahun Erin mengenal Cakka. Dimulai dari bangku kuliah, saat magang di salah satu rumah sakit ibu kota, sampai sekarang mereka membangun bisnis bersama. Demikian, kedekatan mereka membuat Erin sangat sulit terlalu lama marah kepada pria tersebut. Usai menyelesaikan ‘pertengkaran kecil’ mereka, Erin dan Cakka pun bercakap-cakap di tengah makan siang mereka. Sampai akhirnya, Cakka bertanya, “Ah, ya. Bagaimana kunjunganmu tadi ke Gravion? Sudah deal?” Sebelum menjawab pertanyaan Cakka, Erin sempat terdiam sesaat sebelum kembali menjawab, “Cukup lancar. Pak Kepsek bilang kita cukup tunggu kontrak dari sisi Gravion. Mungkin sekitar dua sampai tiga hari lagi.” Mendengar itu, Cakka tersenyum senang. “Oh! Itu kabar bagus!” Senyum Cakka menular pada Erin. Dia mengangguk. “Tidak cuma itu, mereka juga bersedia melunasi pembayaran jasa di awal. Dengan begitu, kamu bisa segera lunasi utangmu di bank itu.” Ucapan Erin membuat Cakka sedikit tersentak, lalu dia menggaruk kepala sambil tersenyum. Seakan baru ingat tanggung jawabnya. “Ah … ya. Itu bagus ….” Melihat sikap sahabatnya, Erin menghela napas. “Aku masih tidak mengerti kenapa kamu bisa berani-beraninya ambil pinjaman untuk bantu aku buka klinik.” Ingatan Erin terlempar ke beberapa bulan lalu. Saat dia menuturkan niatannya untuk kembali ke kota asalnya untuk membuka klinik, semua kenalan dan teman di ibu kota mengatakan itu keputusan bodoh. “Hidupmu sudah nyaman di sini, Erin. Punya pekerjaan dan lingkungan yang setara. Kalau kamu kembali ke kota kecil itu, apa bukan bunuh diri namanya?” Mereka merasa Erin hanya menyia-nyiakan potensinya dengan kembali ke kota kecil itu. Tapi, berbeda dari orang lain, Cakka langsung maju dan membelanya. Erin masih ingat kalimat Cakka saat itu. “Kalau kalian tidak berniat bantu, minimal berikan dukungan, jangan cuma menghina niatan Erin untuk menemani orang tuanya.” Baru pertama kali Erin melihat Cakka yang biasa ramah kepada semua orang memasang wajah marah. Dan kemarahan itu diikuti dengan penawaran mengejutkan. “Erin, jangan ragu. Orang lain mungkin tidak mendukungmu, tapi aku akan mendukungmu. Aku bersedia jadi partnermu dan menginvestasikan dana tiga ratus juta.” Terjepit situasi dan merasa terharu, Erin langsung menerima bantuan Cakka. Tapi, saat kemudian klinik sedang dibangun dan Erin mulai bisa santai, dia baru sadar ada yang salah. Cakka adalah seorang yatim piatu yang dibesarkan kakek-neneknya. Pun kakek-nenek Cakka memiliki usaha, tapi itu pun bukan usaha besar. Jadi, dari mana Cakka, yang pada saat itu baru bekerja beberapa tahun bersama dengan Erin, memiliki dana sebesar itu? Dan saat Erin bertanya, dia baru tahu kalau Cakka mengambil pinjaman demi membantunya. Mengingat hal itu lagi sekarang, Erin menghela napas penuh penyesalan. “Coba saat itu aku tahu lebih awal, sudah pasti aku tolak bantuanmu.” Ucapan Erin membuat Cakka kembali tertawa canggung. “Ayolah, Erin. Itu sudah masalah lalu. Sudah kukatakan itu bukan masalah besar, ‘kan? Aku bisa selesaikan.” Kemudian, lagi-lagi pria itu tersenyum lebar. “Lagi pula, aku percaya padamu. Kamu adalah salah satu fisioterapis terhebat di rumah sakit dulu. Aku yakin berinvestasi padamu tidak ada salahnya! Malah, bisa-bisa aku jadi miliarder instan!” Erin memutar bola mata, merasa Cakka sembarangan bicara. “Sudah, sudah. Kita jangan bicarakan ini.” Cakka mengakhiri pembahasan dan menggantinya dengan topik yang lebih menyenangkan. “Kamu tahu? Tadi saat aku beli bento, kudengar omongan penduduk sekitar bilang katanya Rama Mahanta, si atlet basket internasional itu, lagi ada di sini! Kamu ‘kan fans berat basket, pasti tahu soal Rama Mahanta, ‘kan?” Erin hampir tersedak mendengar nama itu lagi, tapi dia berusaha menjawab tenang. “Ah … ya … aku tahu.” “Kudengar Rama Mahanta kemari untuk buat dokumenter! Dia ….” Cakka terus berceloteh tentang Rama selama sepuluh menit penuh. Dia terdengar sangat bersemangat, sampai akhirnya dia berkata, “Andai klinik kita bisa bekerja sama juga dengan seseorang seperti Rama. Pasti nggak perlu takut sepi sama sekali.” “Mm ….” Menyadari balasan pasif Erin, Cakka mengerutkan kening. “Apa ini perasaanku atau … kamu ada masalah dengan Rama?” Erin tersedak. Dia terbatuk-batuk. Setelah berusaha minum dari gelas yang disodorkan Cakka, Erin baru menjawab, “A-ah? Kenapa kamu bilang begitu?” Tenggorokannya terasa perih karena tersedak. Pria itu mengedikkan bahu. “Ya habis dari tadi aku bicara soal Rama, kamu cuma diam saja dan malah kelihatan … nggak suka.” Satu jentikkan jari terdengar. Cakka langsung teringat satu hal. “Benar juga, kamu dan Rama alumni Gravion ‘kan?” ***“Sekali lagi, saya minta maaf karena kerja sama ini tidak terjadi, Bu Erin. Selamat sore.”BIP.Panggilan itu berakhir sebelum Erin sempat memberikan respons.Tangannya yang memegang ponsel kemudian merosot turun. Dia memejamkan mata dan menghela napas, berusaha menenangkan api kemarahan yang mulai membakar dadanya.Tindakan Rama sudah keterlaluan!Pun mereka pernah memiliki masalah di masa lalu, haruskah Rama membalasnya dengan cara seperti ini?!Tanpa kerja sama dengan Gravion, kliniknya mungkin akan bangkrut dalam hitungan beberapa bulan ke depan.Dan kalau itu terjadi, bukan hanya dirinya, tapi Cakka juga akan berada dalam situasi terpojok!Memikirkan bukan hanya nasib dirinya, melainkan juga sahabatnya, Erin pun bertekad. “Aku harus menemui Rama!” Berdasarkan informasi yang dia terima dari mulut ayahnya sendiri, Erin segera bergegas menuju lapangan basket dekat tempat sang ayah membeli air kelapa tadi. Jika memang pria itu sedang melakukan syuting, seharusnya dia masih berada di
Di sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.“Hachi!”“Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.”“Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak sakit. Erin bersin cuma karena debu,” balas Erin cepat sambil tersenyum hangat.Dia kemudian menaikkan selimut untuk menghangatkan tubuh ibunya yang kini berbaring di ranjang tidur. Menatap sang ibu yang tampak lemas, senyuman Erin sedikit goyah.Hari ini terhitung bulan ketiga sejak dia kembali ke kota asal untuk membangun klinik sekaligus menjaga kedua orang tuanya. Tapi sejauh ini … kondisi ibunya yang didiagnosis Alzheimer tidak menunjukkan perbaikan. Justru semakin menurun.Beberapa saat lalu, saat Erin berjaga di klinik, dia mendadak menerima telepon dari sang ayah yang mengatakan bahwa ibunya keracunan makanan. Panik, Erin langsung pulang dan membawa sang ibu ke rumah sakit. Untungny
Kalimat Cakka membuat jantung Erin berdebar. Dia melirik sang sahabat yang lanjut berkata, “Apa mungkin kalian sebenarnya—” “Kami rival,” sela Erin cepat seraya membasahi bibir bawahnya. “Ah?” Cakka menatap Erin penuh selidik, tidak langsung percaya. “Rival …?” Erin menelan makanannya dan menatap Cakka. “Sifat kami tidak cocok, dan selalu ada saja hal yang kami jadikan kompetisi.” Dia menyendok makanannya lagi. “Intinya, kami tidak akur, tapi tidak sepenuhnya benci. Jadi … rival.” Kerutan di dahi Cakka terlihat dalam. “Hanya itu?” Usai menyuapkan makanan ke dalam mulut dan menelannya, Erin mengalihkan pandangan dari bento yang sudah kosong kembali ke Cakka. “Apa lagi yang kamu harapkan?” Cakka menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas kasar. Raut wajah yang semula tampak antusias pun sirna. “Tidak seru. Kukira kalian mantan pacar, makanya kamu tidak suka saat mendengar namanya.” Erin hampir tersedak mendengar tebakan sahabatnya itu, tapi cepat dia berusaha menj
“Erin, jangan marah! Aku benar-benar tidak sengaja!”Rengekan itu membuat Erin, yang sedang menyantap makan siangnya di klinik, mengangkat pandangan dan menatap ke depan.Seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata biru terang indah tampak memasang wajah memelas di hadapannya.“Tolong, maafkan aku …?”Menatap Cakka Dalziel, sahabat dekat sekaligus partnernya dalam kepemilikan klinik itu, Erin hanya bisa menghela napas pasrah.Tadi, usai Erin menemukan klinik dalam keadaan kosong tanpa terkunci, Cakka baru kembali dan menjelaskan semuanya. Sekitar setengah jam yang lalu, pria itu ingin menerima paket dari kurir yang baru tiba. Tapi, kemudian dia tertarik oleh restoran baru di ujung jalan dan berujung membeli makan siang untuk Erin dari sana. Masalahnya, dia lupa belum mengunci pintu klinik dan baru teringat kembali saat makanan sudah jadi dan Erin sudah tiba!Alhasil, Erin menegur Cakka habis-habisan dan berujung mendiamkannya selama beberapa saat agar pria itu tahu betapa serius
Lahir di keluarga yang cukup harmonis dan penuh cinta kasih, membuat Erin pernah berandai-andai, apa rasanya jatuh cinta dan dicintai seseorang?Sampai ketika dirinya masuk SMA, Erin bertemu dengan seorang Rama Mahanta. Dari sejumlah teman, Erin mengetahui satu-dua hal tentang pemuda itu. Tampan, populer, dan berasal dari keluarga kaya. Hal-hal itu membuat Erin awalnya mengira Rama adalah sosok yang arogan. Akan tetapi, tidak disangka, pria itu jauh berkebalikan dari ekspektasinya. Rama cerdas, hangat, perhatian, dan memiliki empati tinggi. Ditambah beberapa kegiatan yang mengharuskannya menjadi partner Erin, keduanya pun menjadi dekat dengan sangat cepat.Sampai akhirnya, Rama pun mengutarakan perasaannya pada Erin.“Erin, ayo kita pacaran.”Berusia tujuh belas tahun dan mudah terbuai perasaan, Erin pun langsung menerima Rama dengan dasar keduanya nyaman menghabiskan waktu bersama.Di masa-masa itu, Erin merasa sangat bahagia, hidupnya terasa sempurna. Dia bahkan percaya bahwa Ram
Erin Kayonna berdiri di depan gerbang SMA Gravion dengan satu tangan menggenggam erat dokumennya.Setelah sepuluh tahun lalu meninggalkan kota ini dengan memori buruk, Erin tidak menyangka dia malah kembali ke tempat ini lagi. Tapi, keadaan memaksa, jadi Erin tidak memiliki pilihan lain.Kesehatan ibu Erin mulai menurun beberapa bulan terakhir karena usia. Ayahnya pun tidak lagi cukup kuat untuk merawatnya sendiri, sementara adik laki-lakinya masih kuliah di luar kota dan jarang bisa pulang.Akhirnya, Erin memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai fisioterapis di ibu kota dan kembali ke kota asal demi menjaga kedua orang tuanya.Untungnya, teman Erin dari ibu kota, yang berprofesi sama dengannya, menawarkan kerja sama untuk membuka klinik fisioterapi olahraga kecil di kota ini. Dan karena Gravion memang cukup terkenal sebagai penghasil atlet profesional, Erin pun menyetujui ide tersebut.Seperti bunyi peribahasa ‘sambil menyelam minum air’, dia bisa tetap bekerja sekaligus menjag







