Compartir

Bab 3 Teman Kandung

last update Fecha de publicación: 2026-04-09 11:08:18

“Erin, jangan marah! Aku benar-benar tidak sengaja!”

Rengekan itu membuat Erin, yang sedang menyantap makan siangnya di klinik, mengangkat pandangan dan menatap ke depan.

Seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata biru terang indah tampak memasang wajah memelas di hadapannya.

“Tolong, maafkan aku …?”

Menatap Cakka Dalziel, sahabat dekat sekaligus partnernya dalam kepemilikan klinik itu, Erin hanya bisa menghela napas pasrah.

Tadi, usai Erin menemukan klinik dalam keadaan kosong tanpa terkunci, Cakka baru kembali dan menjelaskan semuanya. 

Sekitar setengah jam yang lalu, pria itu ingin menerima paket dari kurir yang baru tiba. Tapi, kemudian dia tertarik oleh restoran baru di ujung jalan dan berujung membeli makan siang untuk Erin dari sana. Masalahnya, dia lupa belum mengunci pintu klinik dan baru teringat kembali saat makanan sudah jadi dan Erin sudah tiba!

Alhasil, Erin menegur Cakka habis-habisan dan berujung mendiamkannya selama beberapa saat agar pria itu tahu betapa serius kelalaiannya itu.

Namun, melihat sahabatnya meminta maaf dengan begitu tulus, juga karena salah satu alasan kecerobohan itu terjadi adalah demi dirinya, Erin akhirnya menghela napas. 

“Oke, aku tidak marah lagi. Tapi lain kali, lebih berhati-hatilah, mengerti? Kalau ada barang atau dokumen penting yang hilang, kita perlu keluar uang lagi ….”

Mendengar itu, Cakka menaikkan tangan kanannya dan meletakkan di dekat pelipis, berpose hormat. “Siap, Bu Erin! Saya akan berusaha untuk tidak ceroboh lagi!”

Erin merasa geli dan memukul pundak Cakka pelan. “Jangan cuma usaha! Pastikan jangan sampai kejadian lagi!”

“Iya, iyaa!”

Sudah hampir sepuluh tahun Erin mengenal Cakka. Dimulai dari bangku kuliah, saat magang di salah satu rumah sakit ibu kota, sampai sekarang mereka membangun bisnis bersama. 

Demikian, kedekatan mereka membuat Erin sangat sulit terlalu lama marah kepada pria tersebut.

Usai menyelesaikan ‘pertengkaran kecil’ mereka, Erin dan Cakka pun bercakap-cakap di tengah makan siang mereka. 

Sampai akhirnya, Cakka bertanya, “Ah, ya. Bagaimana kunjunganmu tadi ke Gravion? Sudah deal?”

Sebelum menjawab pertanyaan Cakka, Erin sempat terdiam sesaat sebelum kembali menjawab, “Cukup lancar. Pak Kepsek bilang kita cukup tunggu kontrak dari sisi Gravion. Mungkin sekitar dua sampai tiga hari lagi.”

Mendengar itu, Cakka tersenyum senang. “Oh! Itu kabar bagus!”

Senyum Cakka menular pada Erin. Dia mengangguk. “Tidak cuma itu, mereka juga bersedia melunasi pembayaran jasa di awal. Dengan begitu, kamu bisa segera lunasi utangmu di bank itu.”

Ucapan Erin membuat Cakka sedikit tersentak, lalu dia menggaruk kepala sambil tersenyum. Seakan baru ingat tanggung jawabnya. “Ah … ya. Itu bagus ….”

Melihat sikap sahabatnya, Erin menghela napas. “Aku masih tidak mengerti kenapa kamu bisa berani-beraninya ambil pinjaman untuk bantu aku buka klinik.”

Ingatan Erin terlempar ke beberapa bulan lalu. Saat dia menuturkan niatannya untuk kembali ke kota asalnya untuk membuka klinik, semua kenalan dan teman di ibu kota mengatakan itu keputusan bodoh.

“Hidupmu sudah nyaman di sini, Erin. Punya pekerjaan dan lingkungan yang setara. Kalau kamu kembali ke kota kecil itu, apa bukan bunuh diri namanya?”

Mereka merasa Erin hanya menyia-nyiakan potensinya dengan kembali ke kota kecil itu. Tapi, berbeda dari orang lain, Cakka langsung maju dan membelanya.

Erin masih ingat kalimat Cakka saat itu.

“Kalau kalian tidak berniat bantu, minimal berikan dukungan, jangan cuma menghina niatan Erin untuk menemani orang tuanya.” 

Baru pertama kali Erin melihat Cakka yang biasa ramah kepada semua orang memasang wajah marah. Dan kemarahan itu diikuti dengan penawaran mengejutkan.

“Erin, jangan ragu. Orang lain mungkin tidak mendukungmu, tapi aku akan mendukungmu. Aku bersedia jadi partnermu dan menginvestasikan dana tiga ratus juta.”

Terjepit situasi dan merasa terharu, Erin langsung menerima bantuan Cakka. Tapi, saat kemudian klinik sedang dibangun dan Erin mulai bisa santai, dia baru sadar ada yang salah.

Cakka adalah seorang yatim piatu yang dibesarkan kakek-neneknya. Pun kakek-nenek Cakka memiliki usaha, tapi itu pun bukan usaha besar. Jadi, dari mana Cakka, yang pada saat itu baru bekerja beberapa tahun bersama dengan Erin, memiliki dana sebesar itu?

Dan saat Erin bertanya, dia baru tahu kalau Cakka mengambil pinjaman demi membantunya.

Mengingat hal itu lagi sekarang, Erin menghela napas penuh penyesalan. “Coba saat itu aku tahu lebih awal, sudah pasti aku tolak bantuanmu.”

Ucapan Erin membuat Cakka kembali tertawa canggung. “Ayolah, Erin. Itu sudah masalah lalu. Sudah kukatakan itu bukan masalah besar, ‘kan? Aku bisa selesaikan.” 

Kemudian, lagi-lagi pria itu tersenyum lebar. “Lagi pula, aku percaya padamu. Kamu adalah salah satu fisioterapis terhebat di rumah sakit dulu. Aku yakin berinvestasi padamu tidak ada salahnya! Malah, bisa-bisa aku jadi miliarder instan!”

Erin memutar bola mata, merasa Cakka sembarangan bicara.

“Sudah, sudah. Kita jangan bicarakan ini.” Cakka mengakhiri pembahasan dan menggantinya dengan topik yang lebih menyenangkan. “Kamu tahu? Tadi saat aku beli bento, kudengar omongan penduduk sekitar bilang katanya Rama Mahanta, si atlet basket internasional itu, lagi ada di sini! Kamu ‘kan fans berat basket, pasti tahu soal Rama Mahanta, ‘kan?”

Erin hampir tersedak mendengar nama itu lagi, tapi dia berusaha menjawab tenang. “Ah … ya … aku tahu.”

“Kudengar Rama Mahanta kemari untuk buat dokumenter! Dia ….”

Cakka terus berceloteh tentang Rama selama sepuluh menit penuh. Dia terdengar sangat bersemangat, sampai akhirnya dia berkata, “Andai klinik kita bisa bekerja sama juga dengan seseorang seperti Rama. Pasti nggak perlu takut sepi sama sekali.”

“Mm ….”

Menyadari balasan pasif Erin, Cakka mengerutkan kening. “Apa ini perasaanku atau … kamu ada masalah dengan Rama?”

Erin tersedak. Dia terbatuk-batuk. Setelah berusaha minum dari gelas yang disodorkan Cakka, Erin baru menjawab, “A-ah? Kenapa kamu bilang begitu?”

Tenggorokannya terasa perih karena tersedak.

Pria itu mengedikkan bahu. “Ya habis dari tadi aku bicara soal Rama, kamu cuma diam saja dan malah kelihatan … nggak suka.”

Satu jentikkan jari terdengar. Cakka langsung teringat satu hal.

“Benar juga, kamu dan Rama alumni Gravion ‘kan?”

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 60 Posisi itu Lagi

    “Kalau memang tidak menghindar, kenapa sampai melewatkan makan malam?” dengus Rama.Dia sendiri sebenarnya yakin kalau Erin memang menghindarinya. Setelah dari ruang rapat, Rama bahkan tidak melihat keberadaan fisioterapis pribadinya itu lagi.Kakinya yang panjang kembali melangkah mendekat. Tangannya kemudian meletakkan kotak makanan yang sedari tadi dibawanya ke atas meja.Melihat kotak makanan itu, Erin mengernyitkan dahi. Dia sampai tidak menyadari kalau Rama membawa sesuatu di tangannya.Baru akan bertanya, pria itu lebih dulu menjelaskan, “Dokter Tim menitipkan makanan untukmu. Sekalian aku diminta mengambil obat.”Tadi di kafetaria Rama sempat bertemu dengan Dokter Tim. Setelah memeriksa lututnya yang kembali terasa nyeri, dokter itu menyuruh Rama mengambil obat ke ruang fisioterapi. Kebetulan, Dokter Tim juga menitipkan satu kotak makanan untuk Erin yang sejak tadi belum terlihat di kafetaria.“Obat apa?” tanya Erin. Dia langsung bangkit dari duduknya. “Biar aku ambilkan.”“Pe

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 59 Hilang Satu Tumbuh Seribu

    Menyadari dirinya baru saja membaca pesan yang bukan untuknya, Erin buru-buru menutup ruang percakapan itu. Telapak tangan yang tengah memegang ponsel mulai terasa lembap oleh keringat.“Apa ini? Kenapa aku malah membuka pesan ini?” tanyanya pada diri sendiri dengan perasaan yang gelisah.Erin kembali melihat ke arah layar ponsel. Di sudut percakapan tertera keterangan bahwa pesan tersebut hanya dapat dilihat dalam waktu tertentu. Ya … pesan berwaktu.Tanpa sadar, Erin menggigit pipi bagian dalamnya.Bagaimana sekarang? Pesan itu jelas ditujukan untuk Rama. Itu berarti … Rama harus melihatnya.Tapi, bagaimana? Erin baru saja membuka pesan itu tanpa sengaja. Kalau pesan berwaktu itu hilang dalam waktu dua puluh empat jam, bukankah itu artinya Rama tidak akan sempat membacanya?“Astaga … tidak bisakah satu hari saja berlalu tanpa masalah?” gerutu Erin.Biasanya Erin tidak terbiasa menyalahkan orang lain. Tapi, kali ini dia sangat ingin menyalahkan dirinya sendiri.Dilihat dari isi pesan

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 58 Pesan Tanpa Nama

    Usai ke luar dari ruangan rapat, Erin tersentak saat tahu-tahu lengannya disambar Rama. “Ikut aku.” Tanpa menunggu persetujuannya, pria itu langsung membawanya menuju sebuah ruangan di samping yang letaknya tidak jauh dari ruang rapat. Erin meringis pelan. Dia tidak berusaha melepaskan diri karena memang ada sesuatu yang sejak tadi ingin dia bicarakan dengan Rama. Begitu keduanya masuk, Rama menutup pintu setelah memastikan tidak ada yang melihat keberadaan mereka. Dia juga menguncinya dari dalam. “Apa tidak sebaiknya pintunya dibiarkan terbuka saja?” tanya Erin ragu-ragu. Jari-jari tangannya meremas sisi celana. “Supaya tidak ada orang yang salah paham melihat kita.” Urusannya bisa panjang kalau kejadian seperti kemarin terulang lagi. “Silakan kalau kamu ingin mereka juga tahu kalau semalam kita melakukan–” Mengetahui arah pembicaraan Rama akan mengarah ke mana, Erin refleks mendekat dan menutup mulut pria itu dengan telapak tangannya. Matanya membelalak. “Rama!” d

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 57 Dimintai Keterangan

    “Semalam aku jogging dan tidak sengaja bertemu Fisio Erin. Saat itu Coach Sena juga ada bersama kami,” Rama memulai penjelasannya. Sekilas, ekor matanya melirik ke arah Erin yang sejak tadi hanya menundukkan kepala sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Penjelasan Rama tidak jauh berbeda dengan kronologi yang sebelumnya disampaikan Erin. “Fisio Erin memang menemuiku untuk menanyakan sesuatu. Kebetulan aku juga meminjamkan ponselku karena ponselnya sedang bermasalah.” Rama mengisyaratkan dagunya ke arah ponsel yang kini tergeletak di atas meja di hadapan wanita itu. Kepala Pelatih lantas mengangguk pelan. Samar-samar dia teringat percakapannya dengan Rama beberapa waktu lalu. “Ah, benar. Kamu memang sempat bilang ponsel Fisioterapis kita rusak.” Rama mengembuskan napas pendek lalu kembali melanjutkan, “Setelah itu hujan badai turun. Kami berteduh di gudang lama tanpa tahu pintunya macet, dan tidak bisa dibuka dari dalam.” Sampai pada titik itu, Erin semakin dib

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 56 Bagian Yang Terlewatkan Part 2

    Ditodong pertanyaan seperti itu, jujur saja nyali Erin menciut. Namun, meski begitu Erin tetap memaksa dirinya menatap Rama dan memberikan penjelasan, “Kamu kedinginan dan aku ... aku cuma mau membantumu.” Setelah itu, Erin membasahi bibir bawahnya. “Kamu tahu metode skin to skin? A–aku … kalau kamu tidak keberatan– Ucapan Erin terputus begitu saja bersamaan dengan tangan Rama yang menahan pergelangan tangannya perlahan mengendur hingga akhirnya terlepas begitu saja. Dalam kondisi hujan badai yang tidak kunjung berhenti ditambah menghadapi situasi di hadapannya membuat perasaan Erin tidak karuan. Rama tidak mengatakan apa-apa lagi dan kembali memejamkan matanya seakan menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada Erin. Dan saat itu Erin menganggapnya sebagai bentuk persetujuan. Maka, kali ini dia kembali mendekat ke arah Rama untuk membantu melepaskan kaus dari tubuhnya. Begitu kaus itu terangkat, udara dingin segera menyapu kulit Rama hingga tubuhnya kembali menggigil. Erin sendir

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 55 Bagian yang Terlewatkan Part 1

    \queenie/ Pasukan R-Mates, tunjukkan spek intel kalian!! Cari tahu siapa wanita ini sampai ketemu \gilagilarmates/ Jangan-jangan rumornya bener ya? Rama kita sengaja nggak punya pacar biar bebas jalan sama siapa aja? Hu hu kecewa berat :( \ch0ibaby/ Info lokasinya dongs \blackcattie/ Ceweknya pake piyama? What the hell!! Mereka semaleman bareng?? \b0la0range/ Eh, kirain Rama absen di liga musim terakhir tahun ini karena beneran lagi cedera, eh taunya … \erieon/ Maksud up foto ini tapi wajah jalang itu diblur fungsinya apa? Diblur atau nggak sama aja jeleknya. Yakan gais?! “Siapa yang menyuruhmu membaca komentar?” Suara berat itu membuat jari Erin yang semula hendak menggulir layar ponsel nyaris tergelincir. Begitu mendongakkan wajah, pandangannya langsung bersirobok dengan sepasang mata hitam milik Rama yang menatapnya lurus-lurus. Tanpa perlu meminta izin, pria itu menarik kursi di samping Erin lalu duduk dengan tenang. Sekon berikutnya, Rama menggeser pelan tangan

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 8 Membuang Harga Diri

    Ditanya tanpa basa-basi seperti itu, Erin berusaha menjawab dengan tenang selagi menggenggam ujung bajunya sendiri, “Aku ke sini untuk bicara padamu.” Rama tidak langsung membalas. Pria itu hanya diam menatap Erin, menunggu lanjutan penjelasannya. “Aku dengar … kamu merekomendasikan fisioterapis

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 4 Tanda Tanya Besar

    Kalimat Cakka membuat jantung Erin berdebar. Dia melirik sang sahabat yang lanjut berkata, “Apa mungkin kalian sebenarnya—” “Kami rival,” sela Erin cepat seraya membasahi bibir bawahnya. “Ah?” Cakka menatap Erin penuh selidik, tidak langsung percaya. “Rival …?” Erin menelan makanannya dan mena

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 2 Berjodoh?

    Lahir di keluarga yang cukup harmonis dan penuh cinta kasih, membuat Erin pernah berandai-andai, apa rasanya jatuh cinta dan dicintai seseorang?Sampai ketika dirinya masuk SMA, Erin bertemu dengan seorang Rama Mahanta. Dari sejumlah teman, Erin mengetahui satu-dua hal tentang pemuda itu. Tampan,

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 1 Pertemuan di Gravion

    Erin Kayonna berdiri di depan gerbang SMA Gravion dengan satu tangan menggenggam erat dokumennya.Setelah sepuluh tahun lalu meninggalkan kota ini dengan memori buruk, Erin tidak menyangka dia malah kembali ke tempat ini lagi. Tapi, keadaan memaksa, jadi Erin tidak memiliki pilihan lain.Kesehatan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status