LOGINhmm, yakin banget yaaa . . maaf kemaleman up nya
Semalam sebelum tidur, Erin sempat berdoa agar pagi harinya, baik Wisam maupun Hera tidak lagi menyinggung soal Rama.Sayangnya, harapan Erin tidak terkabulkan.Sambil masih mengenakan masker di wajah, dia membantu menyiapkan sarapan untuk kedua orang tuanya yang akan berangkat bekerja. Lebih tepatnya, Wisam pergi bekerja sambil mengajak Hera.Kebetulan Hera masih berada di dalam kamar, sementara Wisam sudah duduk di meja makan. Erin baru saja meletakkan sepiring roti panggang di atas meja ketika Wisam membuka suara. “Hari ini kamu ada jadwal terapi Rama lagi, ya?”Demi mendengar nama Rama disebut, napas Erin tercekat di tenggorokan.Entah apa saja yang telah dibicarakan ayahnya dan Rama selama lima menit di panggilan telepon malam itu. Namun, dari pertanyaan Wisam, Erin meyakini bahwa sekarang ayahnya sudah mengetahui jadwal terapi Rama yang berlangsung tiga kali dalam seminggu.Tanpa sadar, Erin mendesah pelan.Meski terapinya hanya tiga kali seminggu, kenapa rasanya Erin malah nya
Erin selalu memiliki cara untuk mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang membuat isi kepalanya penuh, salah satunya dengan sibuk bekerja. Yah, meski setelah pekerjaan itu selesai, pikiran-pikiran tersebut akan kembali datang menyerangnya … termasuk kenyataan bahwa Erin harus menghadapi kedua orang tuanya setelah tidak pulang semalam. Huft~ Kini, Erin baru saja tiba di depan rumah dan memarkirkan sepedanya tepat di samping motor sang ayah. Kemudian dia melirik jam digital di pergelangan tangannya yang baru menunjukkan pukul dua puluh lewat dua puluh menit. Padahal Erin sudah mengayuh sepeda dengan sengaja lebih pelan dari biasanya. Akan tetapi, tetap saja, dia tiba di rumah lebih cepat daripada yang diharapkan. “Jam segini, Ibu dan Ayah belum tidur,” gumam Erin setengah cemas. Sejujurnya, Erin sendiri tidak tahu apa yang membuatnya segugup ini untuk menemui Wisam dan Hera. Kalau ini soal masker yang dikenakannya, dia tentu sudah menyiapkan alasan. Andai kata ditanya, Erin akan bi
Isinya bertulisan, ‘Terima kasih sudah menolongku. Jangan lupa pakai plesternya.’Membaca itu, Rama mendengus pelan. Pandangannya bergeser pada kotak plester di tangannya. Dan tanpa berkomentar apa pun, tangannya melipat kembali struk itu dan memasukkannya ke dalam sana.***Lima belas menit kemudian, Erin sudah kembali ke klinik.Kebetulan di waktu yang bersamaan, Cakka juga baru saja selesai menangani pasien terakhirnya. Demikian, pria itu mengantar pasien tersebut sampai ke meja resepsionis.“Jangan lupa tetap lakukan latihan yang saya ajarkan untuk di rumah. Kalau ada yang membuat tidak nyaman, Bapak bisa hubungi kami.”“Siap, Fisio Cakka.”Pasien itu melempar senyum sebelum akhirnya berbalik menuju pintu keluar.Tepat ketika itu, dia berpapasan dengan Erin yang baru saja masuk. “Eh, Fisio Erin,” sapanya ramah.“Siang, Pak,” sapa Erin balik sambil menganggukkan kepalanya.Keduanya sempat berbasa-basi singkat sebelum akhirnya pasien tadi melanjutkan langkahnya menuju keluar pintu k
“Rama …,” gumam Erin sambil membasahi tenggorokannya yang terasa kering.Pria itu dengan santai duduk di hadapan Erin. “Tidak kusangka kita bertemu di sini,” ucap Rama dengan ringan.Dengan gerakan tenang, dia mulai menyendok makanannya seakan tidak begitu peduli dengan keadaan di sekitar.Hal itu berbeda dengan Erin yang langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada siswa atau penggemar yang menyadari keberadaan mereka.Pasalnya, masih membekas di ingatannya soal kejadian di lapangan basket beberapa waktu lalu.Dan sekarang, Rama duduk di sini, tepat di hadapannya. Tidak ada Manajer Lee ataupun kru syuting yang ikut dengannya.Rama benar-benar sendirian. Apa … tidak terlalu berisiko?Seakan menyadari kekhawatiran Erin, Rama pun membuka suaranya, “Di sini berbeda dengan di luar.”Mendengar penjelasan singkat itu, Erin menoleh dan memperhatikan lekat-lekat wajah Rama sampai akhirnya pria itu balas m
Setiap hari selalu saja ada hal tak terduga yang datang ke dalam hidup Erin. Salah satunya adalah seperti hal barusan, tawaran–ralat, ucapan Kepala Sekolah tidak terdengar seperti sebuah tawaran, melainkan tugas yang harus Erin laksanakan. Melihat keterdiaman Erin, Kepala Sekolah menganggukkan kepalanya. “Kamu boleh memikirkannya dulu, lagi pula acaranya masih lama. Tapi, secepatnya konfirmasi saya.” “Kalau kamu berhalangan hadir, saya akan mencari alumni lain.” Erin menggigit pipi bagian dalamnya sebelum berkata, “Baik, Pak. Saya akan memberikan keputusannya minggu depan.” “Baik, saya tunggu.” Erin mengira semua pembicaraan siang itu sudah selesai. Akan tetapi, dugaannya salah saat Kepala Sekolah kembali berkata, “Begini, Erin … sebenarnya masih ada satu program lagi yang ingin saya bicarakan.” Seketika Erin mengerutkan keningnya. Jujur saja, dia sedikit bingung. Apa perlu dirinya sampai harus mendengarkan penjelasan mengenai program sekolah sementara statusnya tak leb
Terlanjur mengiakan, maka siang harinya, Erin segera meluncur pergi menuju Gravion di sela-sela jam istirahat kliniknya.Kepala sekolah memintanya datang untuk membicarakan sesuatu yang tampaknya cukup penting untuk sekadar dibicarakan melalui panggilan telepon saja.Saat Erin memberitahu Cakka perihal itu, dia menyuruhnya pergi.“Siapa tahu ini soal mitra kerja sama kita. Jadi, temui saja Kepala Sekolah. Urusan klinik biar aku yang tangani, Erin.”Dan seperti biasa, Cakka bersedia menjaga klinik sendirian kalau-kalau Erin harus pergi lebih lama.Setelah turun dari bus, Erin langsung menuju pos satpam untuk melapor soal janjinya dengan Kepala Sekolah.“Eh, Bu Erin!” sapa Satpam yang masih dia kenal sejak kunjungan sebelumnya. “Silakan, sudah ditunggu Pak Kepsek.”“Terima kasih, Pak," angguk Erin sambil berlalu masuk.Namun, baru beberapa langkah, sang Satpam itu kembali memanggilnya. “Bu Erin, tunggu sebentar!”Erin menoleh dan sedikit bingung saat satpam tersebut tergopoh-gopoh mengh
Sayangnya … jawaban Rama adalah, ya. Pria itu menganggukkan kepalanya. “Mmm, aku menjawab teleponnya.” Begitu mendengar itu, hati Erin mencelos. Buru-buru dia meraih ponsel yang layarnya sudah retak di beberapa bagian. Kemungkinan akibat dilempa
Erin mengedipkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan pencahayaan di sekitarnya. Dan pemandangan pertama yang tertangkap oleh Erin adalah sosok Rama yang tengah berdiri sambil bersandar pada dinding di hadapannya. Satu tangan pria itu memegang
Beberapa detik kemudian, perlahan napas Erin kembali beraturan, dan wanita itu kembali tenang. Usai memastikan kondisi Erin aman, Rama beranjak pergi melangkahkan kaki keluar dari kamar tersebut. Begitu langkahnya tiba di ruangan depan, Manajer Lee yang sudah menunggu di sofa seketika menegakkan
Tepat ketika Rama keluar dari bangunan bar tersebut, sebuah mobil yang tampak familier masuk dan terparkir di depan bar. Begitu pintu pengemudi terbuka, sosok itu langsung turun dan berseru, “Rama!” Manajer Lee menghampiri Rama dan tampak terkejut dengan kondisi Erin







