Home / Romansa / Tuan Rama, Aku Menolak Balikan! / Bab 4 Tanda Tanya Besar

Share

Bab 4 Tanda Tanya Besar

last update publish date: 2026-04-09 11:09:33

Kalimat Cakka membuat jantung Erin berdebar. Dia melirik sang sahabat yang lanjut berkata, “Apa mungkin kalian sebenarnya—”

“Kami rival,” sela Erin cepat seraya membasahi bibir bawahnya.

“Ah?” Cakka menatap Erin penuh selidik, tidak langsung percaya. “Rival …?”

Erin menelan makanannya dan menatap Cakka. “Sifat kami tidak cocok, dan selalu ada saja hal yang kami jadikan kompetisi.” Dia menyendok makanannya lagi. “Intinya, kami tidak akur, tapi tidak sepenuhnya benci. Jadi … rival.”

Kerutan di dahi Cakka terlihat dalam. “Hanya itu?”

Usai menyuapkan makanan ke dalam mulut dan menelannya, Erin mengalihkan pandangan dari bento yang sudah kosong kembali ke Cakka. “Apa lagi yang kamu harapkan?”

Cakka menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas kasar. Raut wajah yang semula tampak antusias pun sirna. “Tidak seru. Kukira kalian mantan pacar, makanya kamu tidak suka saat mendengar namanya.”

Erin hampir tersedak mendengar tebakan sahabatnya itu, tapi cepat dia berusaha menjawab tenang, “Jangan mengada-ada.”

Balasan tegas Erin membuat Cakka langsung percaya. “Ya, masuk akal juga. Kalau kamu ada kenalan sehebat Rama Mahanta, kenapa kamu takut klinik ini tidak terkenal dan repot-repot bekerja sama dengan Gravion? Cukup minta bantuannya saja ‘kan bisa!”

Erin hanya tersenyum canggung untuk membalas ucapan temannya itu. Dalam hati, dia sedikit memaki insting sahabatnya yang sangat akurat itu.

Sungguh, tidak bisa Erin bayangkan kalau Cakka tahu tentang hubungannya dengan Rama di masa lalu. Bisa-bisa Cakka terus menginterogasi dan menghantuinya soal itu! Terlebih karena Cakka adalah fans berat seorang Rama Mahanta!

‘Hah … Rama … semoga kita tidak saling terlibat lagi.’

*Tiga hari kemudian*

Thump! Thump! Thump!

Suara langkah sepatu yang mantap terdengar bergema di lorong sekolah Gravion.

Pria dengan seragam basket putih bernomor punggung sebelas itu berjalan penuh percaya diri, membuatnya memancarkan aura maskulinitas kuat. Di depannya, sang manajer berpenampilan selayaknya bodyguard dengan sigap membukakan pintu, mempersilakan Rama masuk ke satu ruangan khusus yang diperuntukkan baginya selama berada di Gravion.

Rama kemudian duduk di kursi rehatnya diikuti sang manajer yang duduk di kursi lain. Keduanya tampak berbincang tentang sesuatu yang serius hingga akhirnya manajer Rama menyerahkan dokumen padanya.

“Ini hasil investigasi yang kamu minta tadi.”

“Mm, oke.”

Selagi menunggu kabar dari kru syuting untuk adegan selanjutnya, Rama tampak serius membaca dokumen tersebut.

David Lee atau yang lebih akrab disapa manajer Lee memperhatikan lekat-lekat sosok Rama. Tak bisa menahan rasa ingin tahunya, dia pun memilih bertanya, “Kenapa kamu begitu ingin tahu soal orang ini? Bukannya hubungan kalian sudah berakhir?”

“Kata siapa?” dengus Rama.

Sontak manajer Lee terkejut mendengar jawaban itu. “Hah?”

Rama kemudian menatap manajernya dan mengulangi ucapannya. Penuh penekanan. “Siapa yang bilang hubungan kami sudah berakhir?”

Manajer Lee kemudian menghela napas dan menyisir rambut frustrasi. “Rama, kalian sudah putus lama! Saat kalian bertemu kemarin, dia bahkan ingin cepat-cepat menjauh darimu! Apa kurang kentara kalau dia tidak ingin lagi ada hubungan denganmu?”

Ekspresi manajer yang telah mendampingi Rama sejak pria itu berusia dua puluh tahun tersebut tampak rumit. “Dan lagi, setelah yang dia lakukan padamu dulu, akan lebih pantas kalau kamu—”

“Jaga batasanmu,” potong Rama selagi menatap manajernya dingin. “Apa yang kulakukan di luar karir sama sekali tidak perlu campur tanganmu, Manajer Lee.”

Ketegangan di udara membuat sang manajer menelan ludah, terutama karena tatapan Rama yang seperti ingin menelan seseorang.

Sesungguhnya, Manajer Lee tidak tahu jelas detail masa lalu Rama dengan wanita bernama Erin itu. Yang dia tahu … adalah keduanya pernah memiliki hubungan, tapi berakhir begitu buruk karena alasan yang tidak diketahui.

Masalahnya sekarang, di saat karir Rama sedang berada di puncak tertinggi, masa paling bersinar–sekaligus paling berbahaya—kenapa wanita itu malah muncul dan menjadi ancaman terhadap kestabilan emosi Rama?!

Apa tidak cukup perbuatannya di masa lalu yang membuat Rama sempat berada di titik kelam hidupnya?!

Sebagai seorang manajer, bagaimana mungkin Manajer Lee diam saja? Ini juga menyangkut karir dan tanggung jawabnya!

Tepat di saat ini, seseorang dari kru film mengetuk pintu dan masuk ke dalam. “Rama, ayo kita lanjut lagi!” serunya.

Panggilan itu membuat Rama mengalihkan pandangan lalu menganggukkan kepala. Dia kemudian berdiri dari kursi rehatnya dan membuang dokumen di tangan ke tong sampah.

“Manajer Lee.”

Panggilan Rama membuat sang manajer tersentak.

“Pastikan segala urusan menyangkut wanita itu, entah itu hari ini maupun nanti, hanya diketahui kita berdua. Mengerti?”

Ditatap intens penuh ancaman oleh Rama, manajer Lee menjawab dengan terpaksa, “Aku mengerti.”

Ekspresi gelap Rama perlahan menghilang. Dia berkata, “Bagus.”

Sebelum dia benar-benar menghilang ke balik pintu, Rama mendadak berhenti dan berkata, “Kudengar wanita itu sempat bertemu Kepala Sekolah untuk sebuah kerja sama.”

Manajer Lee tersentak. “Ah? Ah … ya ….”

Rama lanjut berkata, “Kamu tahu apa yang harus dilakukan, bukan?”

“... Ya.”

Mendengar jawaban itu, Rama pun cepat berbalik dan pergi untuk melanjutkan syutingnya.

Manajer Lee menghela napas dan langsung berbalik untuk menghampiri ruang kepala sekolah.

Di dalam hati, dia hanya bisa mengasihani sosok Erin—pun mereka tidak pernah saling mengenal—dan membatin, ‘Dosa apa yang sebenarnya sudah kamu perbuat pada iblis itu, Erin Kayonna?’

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 60 Posisi itu Lagi

    “Kalau memang tidak menghindar, kenapa sampai melewatkan makan malam?” dengus Rama.Dia sendiri sebenarnya yakin kalau Erin memang menghindarinya. Setelah dari ruang rapat, Rama bahkan tidak melihat keberadaan fisioterapis pribadinya itu lagi.Kakinya yang panjang kembali melangkah mendekat. Tangannya kemudian meletakkan kotak makanan yang sedari tadi dibawanya ke atas meja.Melihat kotak makanan itu, Erin mengernyitkan dahi. Dia sampai tidak menyadari kalau Rama membawa sesuatu di tangannya.Baru akan bertanya, pria itu lebih dulu menjelaskan, “Dokter Tim menitipkan makanan untukmu. Sekalian aku diminta mengambil obat.”Tadi di kafetaria Rama sempat bertemu dengan Dokter Tim. Setelah memeriksa lututnya yang kembali terasa nyeri, dokter itu menyuruh Rama mengambil obat ke ruang fisioterapi. Kebetulan, Dokter Tim juga menitipkan satu kotak makanan untuk Erin yang sejak tadi belum terlihat di kafetaria.“Obat apa?” tanya Erin. Dia langsung bangkit dari duduknya. “Biar aku ambilkan.”“Pe

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 59 Hilang Satu Tumbuh Seribu

    Menyadari dirinya baru saja membaca pesan yang bukan untuknya, Erin buru-buru menutup ruang percakapan itu. Telapak tangan yang tengah memegang ponsel mulai terasa lembap oleh keringat.“Apa ini? Kenapa aku malah membuka pesan ini?” tanyanya pada diri sendiri dengan perasaan yang gelisah.Erin kembali melihat ke arah layar ponsel. Di sudut percakapan tertera keterangan bahwa pesan tersebut hanya dapat dilihat dalam waktu tertentu. Ya … pesan berwaktu.Tanpa sadar, Erin menggigit pipi bagian dalamnya.Bagaimana sekarang? Pesan itu jelas ditujukan untuk Rama. Itu berarti … Rama harus melihatnya.Tapi, bagaimana? Erin baru saja membuka pesan itu tanpa sengaja. Kalau pesan berwaktu itu hilang dalam waktu dua puluh empat jam, bukankah itu artinya Rama tidak akan sempat membacanya?“Astaga … tidak bisakah satu hari saja berlalu tanpa masalah?” gerutu Erin.Biasanya Erin tidak terbiasa menyalahkan orang lain. Tapi, kali ini dia sangat ingin menyalahkan dirinya sendiri.Dilihat dari isi pesan

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 58 Pesan Tanpa Nama

    Usai ke luar dari ruangan rapat, Erin tersentak saat tahu-tahu lengannya disambar Rama. “Ikut aku.” Tanpa menunggu persetujuannya, pria itu langsung membawanya menuju sebuah ruangan di samping yang letaknya tidak jauh dari ruang rapat. Erin meringis pelan. Dia tidak berusaha melepaskan diri karena memang ada sesuatu yang sejak tadi ingin dia bicarakan dengan Rama. Begitu keduanya masuk, Rama menutup pintu setelah memastikan tidak ada yang melihat keberadaan mereka. Dia juga menguncinya dari dalam. “Apa tidak sebaiknya pintunya dibiarkan terbuka saja?” tanya Erin ragu-ragu. Jari-jari tangannya meremas sisi celana. “Supaya tidak ada orang yang salah paham melihat kita.” Urusannya bisa panjang kalau kejadian seperti kemarin terulang lagi. “Silakan kalau kamu ingin mereka juga tahu kalau semalam kita melakukan–” Mengetahui arah pembicaraan Rama akan mengarah ke mana, Erin refleks mendekat dan menutup mulut pria itu dengan telapak tangannya. Matanya membelalak. “Rama!” d

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 57 Dimintai Keterangan

    “Semalam aku jogging dan tidak sengaja bertemu Fisio Erin. Saat itu Coach Sena juga ada bersama kami,” Rama memulai penjelasannya. Sekilas, ekor matanya melirik ke arah Erin yang sejak tadi hanya menundukkan kepala sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Penjelasan Rama tidak jauh berbeda dengan kronologi yang sebelumnya disampaikan Erin. “Fisio Erin memang menemuiku untuk menanyakan sesuatu. Kebetulan aku juga meminjamkan ponselku karena ponselnya sedang bermasalah.” Rama mengisyaratkan dagunya ke arah ponsel yang kini tergeletak di atas meja di hadapan wanita itu. Kepala Pelatih lantas mengangguk pelan. Samar-samar dia teringat percakapannya dengan Rama beberapa waktu lalu. “Ah, benar. Kamu memang sempat bilang ponsel Fisioterapis kita rusak.” Rama mengembuskan napas pendek lalu kembali melanjutkan, “Setelah itu hujan badai turun. Kami berteduh di gudang lama tanpa tahu pintunya macet, dan tidak bisa dibuka dari dalam.” Sampai pada titik itu, Erin semakin dib

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 56 Bagian Yang Terlewatkan Part 2

    Ditodong pertanyaan seperti itu, jujur saja nyali Erin menciut. Namun, meski begitu Erin tetap memaksa dirinya menatap Rama dan memberikan penjelasan, “Kamu kedinginan dan aku ... aku cuma mau membantumu.” Setelah itu, Erin membasahi bibir bawahnya. “Kamu tahu metode skin to skin? A–aku … kalau kamu tidak keberatan– Ucapan Erin terputus begitu saja bersamaan dengan tangan Rama yang menahan pergelangan tangannya perlahan mengendur hingga akhirnya terlepas begitu saja. Dalam kondisi hujan badai yang tidak kunjung berhenti ditambah menghadapi situasi di hadapannya membuat perasaan Erin tidak karuan. Rama tidak mengatakan apa-apa lagi dan kembali memejamkan matanya seakan menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada Erin. Dan saat itu Erin menganggapnya sebagai bentuk persetujuan. Maka, kali ini dia kembali mendekat ke arah Rama untuk membantu melepaskan kaus dari tubuhnya. Begitu kaus itu terangkat, udara dingin segera menyapu kulit Rama hingga tubuhnya kembali menggigil. Erin sendir

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 55 Bagian yang Terlewatkan Part 1

    \queenie/ Pasukan R-Mates, tunjukkan spek intel kalian!! Cari tahu siapa wanita ini sampai ketemu \gilagilarmates/ Jangan-jangan rumornya bener ya? Rama kita sengaja nggak punya pacar biar bebas jalan sama siapa aja? Hu hu kecewa berat :( \ch0ibaby/ Info lokasinya dongs \blackcattie/ Ceweknya pake piyama? What the hell!! Mereka semaleman bareng?? \b0la0range/ Eh, kirain Rama absen di liga musim terakhir tahun ini karena beneran lagi cedera, eh taunya … \erieon/ Maksud up foto ini tapi wajah jalang itu diblur fungsinya apa? Diblur atau nggak sama aja jeleknya. Yakan gais?! “Siapa yang menyuruhmu membaca komentar?” Suara berat itu membuat jari Erin yang semula hendak menggulir layar ponsel nyaris tergelincir. Begitu mendongakkan wajah, pandangannya langsung bersirobok dengan sepasang mata hitam milik Rama yang menatapnya lurus-lurus. Tanpa perlu meminta izin, pria itu menarik kursi di samping Erin lalu duduk dengan tenang. Sekon berikutnya, Rama menggeser pelan tangan

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 8 Membuang Harga Diri

    Ditanya tanpa basa-basi seperti itu, Erin berusaha menjawab dengan tenang selagi menggenggam ujung bajunya sendiri, “Aku ke sini untuk bicara padamu.” Rama tidak langsung membalas. Pria itu hanya diam menatap Erin, menunggu lanjutan penjelasannya. “Aku dengar … kamu merekomendasikan fisioterapis

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 7 Bantuan

    Wanita berambut ikal itu langsung tersentak dan buru-buru melepaskan lengan Erin. “Ka-Kak Rama, aku cuma—” wanita itu buru-buru memasang senyum canggung. “Tadi dia bikin rusuh, jadi aku—” Namun, Rama bahkan tidak meliriknya. Pria itu langsung berjalan mendekati Erin dan berhenti tepat di depanny

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 6 Kerumunan Penggemar

    “Sekali lagi, saya minta maaf karena kerja sama ini tidak terjadi, Bu Erin. Selamat sore.”BIP.Panggilan itu berakhir sebelum Erin sempat memberikan respons.Tangannya yang memegang ponsel kemudian merosot turun. Dia memejamkan mata dan menghela napas, berusaha menenangkan api kemarahan yang mulai

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 5 Rama Lagi?!

    Di sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.“Hachi!”“Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.”“Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status