LOGINHening beberapa saat karena Rama tak langsung menjawab pertanyaan Erin.Pria itu melipat satu kakinya sambil bersedekap dada. Matanya tak lepas dari Erin yang terlihat jelas sedang menunggu dirinya membuka suara.Sekon berikutnya, Rama akhirnya menyampaikan solusi yang sejak tadi Erin tunggu-tunggu. “Aku akan mengirim orang kepercayaanku untuk menjaga ibumu.”Mendengar itu, Erin mengernyitkan dahinya heran. “Maksudmu bodyguard? Petugas keamanan?” cecarnya.Setahu Erin, orang kepercayaan seperti yang dimaksud Rama biasanya tidak jauh dari profesi itu. Lagi pula, beberapa waktu lalu saat Rama menjalani syuting, dia juga melihat sejumlah petugas keamanan berjaga di sekitar lokasi.“Bisa dibilang begitu,” jawab Rama sambil menganggukkan kepalanya pelan, seakan mempertimbangkan pertanyaan Erin.Sepasang matanya lalu menatap wanita itu lekat-lekat. “Tapi, ini orang kepercayaanku. Dia sangat bisa diandalkan.”Meski Rama mengatakannya dengan nada tegas dan terdengar begitu yakin, Erin jelas t
“Meminta tolong ... tidak ... meminta tolong?” Belum ada satu detik Erin mengambil napas, dia menggeleng cepat. “Tidak, Erin,” bantahnya lirih. Sudah hampir setengah jam sejak Cakka pulang dan meninggalkan klinik, sekarang hanya ada Erin seorang diri yang menunggu kedatangan Rama untuk sesi terapi sore itu. Khusus hari Sabtu, jadwal terapi Rama memang berbeda dari hari Senin dan Kamis, yaitu pukul lima sore. Selagi menunggu, jari-jari Erin terus memainkan bolpoin warna-warni di tangannya. Berkali-kali dia menekan ujung bolpoin itu secara bergantian, seakan berharap salah satunya bisa memberinya jawaban. Namun, setiap kali pilihannya berhenti pada kata meminta tolong, Erin selalu mengurungkan niatnya. Dia tidak yakin bisa meminta bantuan itu kepada Rama. Untuk kesekian kalinya, Erin mengembuskan napas panjangnya. “Sudahlah,” gumamnya pelan. “Pergi sendiri saja.” Lagi pula, dia sudah mencoba mencari cara lain. Beberapa saat yang lalu, Erin sempat mencari nomor telepon bar itu m
Huft~Entah sudah berapa kali hari ini Erin mengembuskan napas beratnya tanpa sadar.Setiap kali mengingat apa yang Rama katakan kepada Kepala Sekolah tadi pagi, rasa dongkol itu langsung mencuat di dadanya.Sesaat setelah Kepala Sekolah bertanya apa yang terjadi, Rama dengan enteng menjawab, “Erin bilang padaku kalau dia ingin menarik lagi soal keputusannya tadi.”“Benar 'kan, Fisio Erin?”Tatapan Rama beralih ke arah Erin.Mungkin hanya perasaannya saja, tapi dari cara Rama menatap juga nada bicaranya seakan meminta Erin untuk mengiakan ucapannya tanpa ingin dibantah.Erin yang merasa berada di situasi yang sulit, akhirnya terpaksa mengikuti alur Rama.“I-iya, Pak. Saya mungkin perlu memikirkan ulang keputusan saya soal ikut membantu Camp Training.”Seketika, wajah Kepala Sekolah kembali terlihat cerah. “Benarkah?” Nada suaranya terdengar lega. “Kalau begitu, saya akan tunggu keputusan final dari kamu, Erin. Semoga kamu benar-benar bisa bergabung, ya.”Usai beberapa saat membicaraka
“Erin?” Panggilan itu seketika membuat Erin segera mengalihkan pandangannya dari Rama kepada Kepala Sekolah. “Ayo duduk,” titahnya sambil menunjuk kursi kosong di samping Rama. Erin segera tersadarkan lantas menjawab, “A-ah, ya ... baik, Pak.” Dia mulai melangkah mendekat di tengah rasa canggung yang menyelimutinya setelah menyadari kehadiran Rama di ruangan itu. Sekilas, Erin memperhatikan penampilan pria tersebut. Rama mengenakan setelan training yang dipadukan dengan jaket hitam dan topi yang menutupi sebagian rambutnya. Dalam hatinya, Erin sempat terpikirkan … apa Rama masih ada jadwal syuting di Gravion? Detik berikutnya, buru-buru Erin mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak memikirkan hal yang bukan urusannya. Mau Rama memiliki jadwal syuting, fan meeting, atau sedang membahas apa pun dengan Kepala Sekolah, semua itu tidak ada hubungannya dengan– Belum sempat menyelesaikan isi pikirannya, Erin tersentak saat menyadari senyum tipis yang terangkat di sudut bibir Rama.
Semalam sebelum tidur, Erin sempat berdoa agar pagi harinya, baik Wisam maupun Hera tidak lagi menyinggung soal Rama.Sayangnya, harapan Erin tidak terkabulkan.Sambil masih mengenakan masker di wajah, dia membantu menyiapkan sarapan untuk kedua orang tuanya yang akan berangkat bekerja. Lebih tepatnya, Wisam pergi bekerja sambil mengajak Hera.Kebetulan Hera masih berada di dalam kamar, sementara Wisam sudah duduk di meja makan. Erin baru saja meletakkan sepiring roti panggang di atas meja ketika Wisam membuka suara. “Hari ini kamu ada jadwal terapi Rama lagi, ya?”Demi mendengar nama Rama disebut, napas Erin tercekat di tenggorokan.Entah apa saja yang telah dibicarakan ayahnya dan Rama selama lima menit di panggilan telepon malam itu. Namun, dari pertanyaan Wisam, Erin meyakini bahwa sekarang ayahnya sudah mengetahui jadwal terapi Rama yang berlangsung tiga kali dalam seminggu.Tanpa sadar, Erin mendesah pelan.Meski terapinya hanya tiga kali seminggu, kenapa rasanya Erin malah nya
Erin selalu memiliki cara untuk mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang membuat isi kepalanya penuh, salah satunya dengan sibuk bekerja. Yah, meski setelah pekerjaan itu selesai, pikiran-pikiran tersebut akan kembali datang menyerangnya … termasuk kenyataan bahwa Erin harus menghadapi kedua orang tuanya setelah tidak pulang semalam. Huft~ Kini, Erin baru saja tiba di depan rumah dan memarkirkan sepedanya tepat di samping motor sang ayah. Kemudian dia melirik jam digital di pergelangan tangannya yang baru menunjukkan pukul dua puluh lewat dua puluh menit. Padahal Erin sudah mengayuh sepeda dengan sengaja lebih pelan dari biasanya. Akan tetapi, tetap saja, dia tiba di rumah lebih cepat daripada yang diharapkan. “Jam segini, Ibu dan Ayah belum tidur,” gumam Erin setengah cemas. Sejujurnya, Erin sendiri tidak tahu apa yang membuatnya segugup ini untuk menemui Wisam dan Hera. Kalau ini soal masker yang dikenakannya, dia tentu sudah menyiapkan alasan. Andai kata ditanya, Erin akan bi
“Akh!” Satu ringisan lolos dari bibir Erin bersamaan darah segar keluar dari sudut bibir kanannya. Di tengah kepanikan dan rasa takutnya, Erin sempat menghubungi nomor Rama sebelum pria itu merebut paksa ponselnya. “Sudah aku bilang jangan macam-macam!
Detik berikutnya, Rama sudah berlutut di hadapan Erin. “Apa yang terjadi?” Pria itu bertanya. Diletakkannya ponsel secara sembarang, meski fungsi senternya masih menyala. Erin tidak menjawab. Wanita itu masih sibuk mengatur napasnya yang berantakan, membuat Rama mengernyit tidak paham. “Tidak
“Erin, aku pulang duluan, ya!” Sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, hari ini adalah pertama kalinya Erin melaksanakan tugas sebagai fisioterapis pribadinya Rama. Saat ini, dia sedang menunggu kehadiran pria itu di klinik kecilnya. “Hati-hati,” ucap Erin, membalas Cakka yang barusan berpami
*Dua hari sebelumnya, tepat setelah pembahasan kerja sama Erin dengan Rama* “Rama, kamu benar-benar sudah gila!” Manajer Lee berjalan mondar-mandir di dalam ruang apartemen itu sebelum akhirnya berhenti dan menatap Rama tajam. Baru selesai mandi malam, Rama tampak duduk santai di sofa sambil men







