Home / Romansa / Tuan Rama, Aku Menolak Balikan! / Bab 1 Pertemuan di Gravion

Share

Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!
Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!
Author: catatanintrovert

Bab 1 Pertemuan di Gravion

last update publish date: 2026-04-09 11:06:39

Erin Kayonna berdiri di depan gerbang SMA Gravion dengan satu tangan menggenggam erat dokumennya.

Setelah sepuluh tahun lalu meninggalkan kota ini dengan memori buruk, Erin tidak menyangka dia malah kembali ke tempat ini lagi.

Tapi, keadaan memaksa, jadi Erin tidak memiliki pilihan lain.

Kesehatan ibu Erin mulai menurun beberapa bulan terakhir karena usia. Ayahnya pun tidak lagi cukup kuat untuk merawatnya sendiri, sementara adik laki-lakinya masih kuliah di luar kota dan jarang bisa pulang.

Akhirnya, Erin memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai fisioterapis di ibu kota dan kembali ke kota asal demi menjaga kedua orang tuanya.

Untungnya, teman Erin dari ibu kota, yang berprofesi sama dengannya, menawarkan kerja sama untuk membuka klinik fisioterapi olahraga kecil di kota ini. Dan karena Gravion memang cukup terkenal sebagai penghasil atlet profesional, Erin pun menyetujui ide tersebut.

Seperti bunyi peribahasa ‘sambil menyelam minum air’, dia bisa tetap bekerja sekaligus menjaga orang tuanya.

“Bu Erin?”

Panggilan itu membuat tubuh Erin menoleh. Ternyata, satpam yang tadi memintanya menunggu untuk mengonfirmasi kehadirannya sebagai tamu telah kembali.

“Silakan masuk, Bu. Pak Kepsek sudah menunggu.”

Erin pun mengangguk dan berjalan mengikuti sang satpam yang mengantarnya menuju ruang kepala sekolah.

Memasuki koridor, dua lemari kaca setinggi langit-langit koridor memperlihatkan piala-piala kebanggaan yang berhasil diraih oleh para atlet berprestasi Gravion.

Hal itu membuat Erin sedikit lebih bersemangat. Dia yakin keputusannya untuk menawarkan kerja sama antara kliniknya dengan Gravion sudah sangat tepat. Kliniknya akan berkembang lebih pesat dan memiliki penghasilan lebih stabil.

Tapi, saat matanya melihat satu piala itu ….

“He he, pialanya besar banget ya, Bu?”

Ucapan satpam membuyarkan lamunan Erin. Dia cepat-cepat menetralkan ekspresi dan berkata dengan senyum tipis, “Ah … ya. Pialanya paling mencolok dari yang lain.”

Sang satpam ikut menatap piala tersebut di sebelah Erin dan tersenyum lebar, seakan ikut bangga. “Itu dari alumni kita yang paling berhasil loh, Bu! Rama Mahanta, si atlet nasional itu! Ibu tahu, ‘kan?”

DEG!

Satu kali, jantung Erin berdetak sangat kencang dalam dada hingga napasnya sesak.

Rama Mahanta.

Sudah lama sekali semenjak ada yang membicarakan nama tersebut secara langsung di depannya.

“Bu Erin?”

Panggilan sang satpam menyentak Erin lagi dari lamunan. Lalu, dia tersenyum profesional dan berkata, “Tentu saja, Pak. Rama Mahanta itu atlet kebanggaan negara lulusan SMA Gravion. Masa saya tidak tahu?”

Erin sama sekali tidak berbohong. Siapa yang tidak tahu soal seorang Rama Mahanta?

Lahir di keluarga terpandang, Rama Mahanta mencetak rekor sebagai atlet basket termuda yang berhasil menembus tim nasional junior. Saat usianya baru dua puluh satu tahun, dia sudah dinobatkan sebagai pemain inti tim nasional basket kebanggaan negara. Di usianya ke dua puluh dua, dia berhasil membawa pulang medali emas pertama untuk Nusantara di ajang Kejuaraan Asia Tenggara.

Dan sekarang, menginjak usia dua puluh delapan, dia sudah menjadi salah satu atlet basket paling bersinar secara internasional. Namanya hampir selalu muncul di berita olahraga, di iklan televisi, bahkan di poster-poster besar yang dipasang di berbagai kota.

Mendengar kalimat Erin, sang satpam tampak kagum. “Wah, sepertinya Bu Erin fans berat Pak Rama, ya? Ha ha ha. Dari A sampai Z, semua tahu!”

Ucapan sang satpam membuat Erin tersenyum canggung, “Ha ha ha … ya, begitulah.”

Untungnya, perjalanan menuju ruang kepsek tidak begitu jauh, jadi perbincangan Erin dan sang satpam mengenai Rama bisa cepat berakhir.

“Kapan-kapan, kalau Bu Erin datang lagi, kita ngobrol tentang Pak Rama lagi, ya!” ucap sang satpam, seakan baru saja mendapatkan rekan satu idola, membuat Erin hanya bisa tersenyum tidak berdaya.

Masuk ke dalam ruang kepsek, Erin tidak lagi membuang waktu dan langsung membicarakan perihal penawaran kerja samanya dengan kepala sekolah.

Erin menawarkan agar klinik fisioterapinya bisa membantu menangani cedera dan pemulihan fisik para atlet Gravion. Jika kerja sama itu berhasil, kliniknya akan mendapatkan sumber pasien yang stabil sekaligus membangun reputasi sebagai pusat fisioterapi olahraga di kota ini.

Setelah kurang-lebih satu jam pembahasan, akhirnya sang kepala sekolah mengulurkan tangan dan berkata, “Semoga kerja sama kita lancar, Erin.”

Mendengar hal tersebut, pancaran mata Erin bersinar dan dia pun menerima jabatan sang kepala sekolah. “Tentu, Pak! Terima kasih!”

“Untuk kontraknya nanti akan kami siapkan dulu sesuai poin-poin yang kita bahas hari ini,” lanjut kepala sekolah. “Biasanya perlu waktu dua atau tiga hari karena harus kami ajukan ke yayasan sekolah dan bagian administrasi untuk disetujui.”

Erin mengangguk. “Tidak masalah, Pak. Saya tunggu kabarnya saja.”

Setelah itu, kepala sekolah berdiri dan dengan ramah mengantar Erin ke luar dari ruangannya.

Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah yang tenang.

“Terus terang, saya senang sekali kalau ada alumni yang kembali dan berkontribusi untuk Gravion,” ujar kepala sekolah sambil berjalan di samping Erin. “Banyak juga lulusan kita yang sudah berhasil, tapi tetap ingat sekolahnya.”

Erin menoleh sedikit, tampak tertarik.

“Selain saya, memang ada siapa lagi, Pak?”

Pertanyaan itu sebenarnya dilontarkan Erin dengan santai. Siapa tahu ada nama yang bisa dia kenali, atau bahkan seseorang yang bisa menjadi koneksi baru bagi kliniknya.

Kepala sekolah mulai menyebutkan beberapa nama dan juga kontribusi mereka.

Ada yang menjadi pelatih tim provinsi, ada yang membuka pusat kebugaran sendiri, ada juga yang sekarang bekerja sebagai dokter tim untuk klub olahraga di ibu kota.

Beberapa nama terdengar familiar bagi Erin. Sebagian adalah teman satu angkatan, sebagian lagi junior yang dulu sering dia lihat di lapangan.

Namun, tiba-tiba kepala sekolah berhenti berjalan sejenak, seakan baru teringat sesuatu.

“Oh ya! Ada satu lagi,” katanya sambil menepuk pelan dahinya. “Saya hampir lupa.”

Erin menoleh.

“Rama juga.”

Langkah Erin seketika terhenti.

“… Rama?” ulangnya pelan. Senyumnya mulai terasa sedikit kaku.

“Iya! Rama Mahanta,” jawab kepala sekolah dengan nada bangga. “Saya baru ingat kalian dulu satu kelas juga, kan?” Kepala sekolah terlihat mengerutkan keningnya. “Kalian lumayan dekat kalau tidak salah.”

Erin tidak langsung menjawab.

“Hari ini dia juga akan datang ke sekolah,” lanjut kepala sekolah lagi dengan semangat. “Katanya ada tim produksi yang mau membuat film dokumenter tentang perjalanan kariernya, jadi mereka ingin mengambil beberapa adegan di sekolah ini.”

Seketika, Erin merasa tidak nyaman. “Hari ini, Pak? Tapi bukannya Rama sekarang sedang di—”

Belum selesai kalimat Erin, sang kepala sekolah tiba-tiba memotong.

“Nah! Itu dia!”

Kepala sekolah tiba-tiba menunjuk ke arah ujung koridor.

Erin menoleh cepat mengikuti arah tersebut.

Di ujung koridor, beberapa orang tampak berjalan bersama. Dua pria membawa kamera, satu orang lagi memegang mikrofon panjang, sementara seorang staf sekolah berbicara dengan mereka.

Di tengah rombongan itu berdiri seorang pria yang jauh lebih mencolok dibandingkan yang lain.

Tinggi dengan bahu lebar yang membuat jas hitam yang dikenakannya tampak pas di tubuhnya. Rambutnya dipotong rapi, sementara langkahnya tenang namun penuh wibawa. Bahkan tanpa mengenakan seragam olahraga, aura atlet yang kuat masih terpancar dari setiap gerakannya.

Beberapa siswa yang lewat di koridor tanpa sadar melambatkan langkah, menoleh dua kali, lalu berbisik satu sama lain.

Tidak salah lagi.

Itu adalah Rama Mahanta. Sang atlet nasional!

“Rama!” panggil kepala sekolah.

Pria di ujung koridor itu berhenti berjalan.

“Rama, coba lihat ini siapa!”

DEG!

Jantung Erin kembali berdetak keras, batinnya berteriak, ‘Tidak, tidak …!’

Perlahan, Rama mengalihkan pandangannya.

Tatapannya bergerak dari kepala sekolah … lalu berhenti tepat pada sosok Erin.

Untuk sesaat, waktu terasa seperti berhenti.

Sorot mata Rama yang tadi tenang berubah seketika, menjadi sangat dingin dan mengintimidasi.

Tatapan pria itu menusuk lurus ke arah Erin, lalu dia berjalan menghampiri dengan tenang.

Sangat tenang.

Terlalu tenang.

Saat sampai di hadapan Erin, Rama akhirnya membuka mulut.

“Erin ….”

Nada suaranya rendah, namun terdengar jelas di sepanjang koridor.

“Lama tidak bertemu.”

Dalam hati, Erin ingin menangis. Kenapa … kenapa setelah sekian lama menghindari, dia harus bertemu mantannya ini lagi?!

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 68 Tentang Kita ... END

    Erin tidak segan mendorong bahu Rama agar menjauh. “Pergi,” pintanya sambil tanpa sadar mulai memukul dada pria di hadapannya dengan lemah. “Tolong, Rama, jangan seperti ini.” Erin menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah untuk menolak Rama atau menolak kenyataan yang akhirnya terbongkar juga. Kedua tangan Rama menahan lengan Erin di dadanya. “Kamu yang membuatku tampak menyedihkan seperti ini, Erin.” Suara Rama terdengar jauh lebih lirih dibandingkan sebelumnya. Selama sepuluh tahun, dia percaya kalau Erin–cinta pertamanya telah mengkhianatinya. Jadi, Rama terus memupuk kebencian terhadap sosok Erin. Bahkan dengan kejamnya, dia sengaja membuat wanita itu kesulitan. “Kalau memang alasanmu memutuskanku dulu karena permintaan Ayah …,” Rama menjeda ucapannya. Rahangnya mengeras, seakan kalimat berikutnya terlalu berat untuk keluar dari bibirnya. Dia berusaha menelan egonya. “Lalu, bagaimana dengan kamu yang memacari rival basketku?” Tidak sedikit pun Rama menggeser pandangannya dari

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 67 Semua Sudah Berakhir

    “Jangan-jangan kamu berpikir bisa balikan dengan Rama?”Di balik pintu ruang fisioterapi yang ternyata tidak tertutup rapat, Rama yang baru saja tiba mengernyit ketika mendengar suara Rowan.Jadi … benar ayahnya ada di sini?Tangannya yang semula hendak mendorong pintu seketika mengurungkan niat untuk masuk. Entah pembicaraan apa yang sedang berlangsung di dalam, Rama memilih diam dan memutuskan mendengarkan terlebih dahulu.“Aku bertanya, Nona Erin.”Suara Rowan kembali terdengar mengudara.Sebelum benar-benar menjawab, pandangan Erin tidak sengaja bergeser ke arah pintu.Mungkin karena Siska tadi pergi terlalu terburu-buru, pintu itu tidak tertutup sepenuhnya. Karena di balik kaca buramnya, samar-samar terlihat bayangan seseorang yang berdiri di sana. Erin tidak bisa mengenali siapa sosok itu. Mungkin hanya seseorang yang kebetulan lewat, pikirnya, sebelum dehaman Rowan membuat pandangannya kembali teralihkan.Wanita itu mengembuskan napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendir

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 66 Alasan Putus

    Beberapa saat sebelum memutuskan bergabung ke kafetaria untuk makan siang, Erin masih memiliki satu pekerjaan yang menurutnya tanggung jika ditinggalkan. Jadi, dia memilih menyelesaikannya lebih dulu di ruang fisioterapi yang saat itu hanya dihuni dirinya seorang.Erin tetap fokus pada pekerjaannya sampai suara pintu terbuka terdengar dari belakang.“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya sambil mengangkat wajah.Dalam sekejap, tubuhnya membeku. Bahu Erin tampak menegang. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Sebenarnya kakinya juga sulit untuk digerakkan. Namun, Erin tetap memaksakan diri melangkah mendekat. Dia menundukkan kepala sedalam mungkin.“Pak Rowan … lama tidak bertemu dengan Anda.” Erin menyapa sosok pria yang datang dengan suara yang terdengar sedikit gemetar.Di hadapannya, Rowan Mahanta menatapnya intens dari atas kepala hingga ujung kaki Erin, membuat kedua tangan wanita itu meremas erat sisi celananya.“Jadi …,” Rowan mendengus pelan. “Kamu wanita yang bersama Rama di da

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 65 Kamu Menyukainya?

    Malam itu Erin menyadari kalau dirinya sudah terlalu banyak ikut campur terhadap apa yang terjadi dengan Rama.Entah ada masalah apa di antara Rama dan Sena, wanita pengirim pesan tanpa nama, hal-hal seperti itu seharusnya dibiarkan berlalu saja.Ah, dan satu hal lagi.Erin juga sempat menanyakan nama lengkap Manajer Lee.Mendapati pertanyaan yang tiba-tiba itu, Rama jelas dibuat penasaran. “Kenapa tiba-tiba menanyakan manajerku?”Karena tidak ingin menjelaskan lebih lanjut, Erin pun menarik kembali pertanyaannya. Dia beralibi, “Itu … cuma penasaran saja. Kalau Manajer Lee tahu apa yang baru saja kamu lakukan, dia pasti juga akan kesal sepertiku.”Erin menambahkan, “Sejak awal aku sudah memanggilnya Manajer Lee, tapi sebenarnya aku tidak tahu nama aslinya.”“Cukup panggil Manajer Lee saja.”Sampai di situ, Rama tidak memberikan jawaban lain. Oleh karena itu, Erin tidak bertanya lebih lanjut.Tidak mungkin dia terang-terangan memberitahu asumsi konyolnya kalau pria bernama ‘Pak Lee’ ya

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 64 Memberitahu Rama

    “Kalau kamu tidak mencoba menghentikkan permainan, aku tidak akan kalah, Erin.”Begitu menyusul Erin masuk ke ruang fisioterapi, Rama tidak segan menyuarakan kekesalannya. Namun, dia sengaja menjaga jarak, seakan tidak ingin kekesalannya memuncak.Erin yang sedang menyiapkan alat terapi di dekat salah satu bed menatap Rama setengah tidak percaya. “Dalam situasi tadi, kamu masih memikirkan hal itu?”Tidak hanya Rama yang kesal. Erin pun sama. Kedua alisnya bertaut tidak kalah tajam. “Kalau cederamu memburuk, kamu bisa absen bertanding berbulan-bulan.”Bukan hanya proses terapinya yang akan berjalan lebih lama, tetapi juga kesempatan Rama untuk kembali bermain di lapangan. Tidakkah seharusnya pria itu menyadari hal tersebut?Keduanya masih saling bertatapan sengit sampai akhirnya Rama yang lebih dulu membuang pandangan. Dia mendengus pelan. “Kamu tidak mengerti.”“Apa yang tidak aku mengerti?” balas Erin seakan menantang Rama.Apa yang dia lakukan adalah mencoba memahami pria keras kepa

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 63 Ikut Campur

    Apa mau dikata, Erin tidak punya pilihan lain selain berlari ke tengah lapangan, tepat di mana baik Rama maupun Sena masih sibuk memperebutkan bola.“Fisio Erin, apa yang kamu lakukan?” Coach Teknik terdengar panik begitu melihat wanita itu berada di jalur permainan, seakan memaksa kedua pria itu untuk menyadari kehadirannya.Sebenarnya Rama langsung bisa merasakan kehadiran sosok lain. Dari suara yang terdengar menyerukan nama Erin, demi memastikan Rama sempat menolehkan pandangan dan menukikkan alis saat benar-benar melihat wanita itu tepat ada di sampingnya.“Berikan bolanya padaku,” pinta Erin sambil mengulurkan kedua tangannya pada Sena.Mendengarnya, Sena yang sedang menggiring bola tertawa pelan. Selama lebih dari lima belas menit berduel dengan Rama, Coach Teknik yang sejak tadi berusaha menghentikkan mereka pun hanya bisa memanggil dari pinggir lapangan.Apa yang membuat fisioterapis tim ini sampai nekad untuk menghentikkan mereka?“Kamu mau ikut bermain, Fisio Erin?” goda Se

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 8 Membuang Harga Diri

    Ditanya tanpa basa-basi seperti itu, Erin berusaha menjawab dengan tenang selagi menggenggam ujung bajunya sendiri, “Aku ke sini untuk bicara padamu.” Rama tidak langsung membalas. Pria itu hanya diam menatap Erin, menunggu lanjutan penjelasannya. “Aku dengar … kamu merekomendasikan fisioterapis

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 7 Bantuan

    Wanita berambut ikal itu langsung tersentak dan buru-buru melepaskan lengan Erin. “Ka-Kak Rama, aku cuma—” wanita itu buru-buru memasang senyum canggung. “Tadi dia bikin rusuh, jadi aku—” Namun, Rama bahkan tidak meliriknya. Pria itu langsung berjalan mendekati Erin dan berhenti tepat di depanny

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 6 Kerumunan Penggemar

    “Sekali lagi, saya minta maaf karena kerja sama ini tidak terjadi, Bu Erin. Selamat sore.”BIP.Panggilan itu berakhir sebelum Erin sempat memberikan respons.Tangannya yang memegang ponsel kemudian merosot turun. Dia memejamkan mata dan menghela napas, berusaha menenangkan api kemarahan yang mulai

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 5 Rama Lagi?!

    Di sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.“Hachi!”“Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.”“Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status