LOGINErin Kayonna kembali ke kota asalnya setelah kesehatan kedua orang tuanya mulai menurun. Dengan tabungan dari pekerjaannya sebagai Sports Physiotherapist di ibu kota, Erin membuka klinik fisioterapi olahraga kecil bersama seorang temannya. Namun, kepulangan itu membawanya kembali ke masa lalu yang selama sepuluh tahun dia coba lupakan. Ketika Erin datang ke sekolah lamanya untuk menawarkan kerja sama layanan fisioterapi bagi para atlet muda di sana, dia justru bertemu kembali dengan Rama Mahanta. Pria yang dulu dia tinggalkan. Pria yang masih percaya bahwa Erin telah mengkhianatinya. Saat Erin berusaha menghindar, takdir terus mendekatkannya pada Rama. Apa yang terjadi jika takdir memberikan mereka kesempatan kedua? Akankah Erin tetap menolak saat Rama tidak pernah berniat melepaskannya?
View MoreErin Kayonna berdiri di depan gerbang SMA Gravion dengan satu tangan menggenggam erat dokumennya.
Setelah sepuluh tahun lalu meninggalkan kota ini dengan memori buruk, Erin tidak menyangka dia malah kembali ke tempat ini lagi. Tapi, keadaan memaksa, jadi Erin tidak memiliki pilihan lain. Kesehatan ibu Erin mulai menurun beberapa bulan terakhir karena usia. Ayahnya pun tidak lagi cukup kuat untuk merawatnya sendiri, sementara adik laki-lakinya masih kuliah di luar kota dan jarang bisa pulang. Akhirnya, Erin memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai fisioterapis di ibu kota dan kembali ke kota asal demi menjaga kedua orang tuanya. Untungnya, teman Erin dari ibu kota, yang berprofesi sama dengannya, menawarkan kerja sama untuk membuka klinik fisioterapi olahraga kecil di kota ini. Dan karena Gravion memang cukup terkenal sebagai penghasil atlet profesional, Erin pun menyetujui ide tersebut. Seperti bunyi peribahasa ‘sambil menyelam minum air’, dia bisa tetap bekerja sekaligus menjaga orang tuanya. “Bu Erin?” Panggilan itu membuat tubuh Erin menoleh. Ternyata, satpam yang tadi memintanya menunggu untuk mengonfirmasi kehadirannya sebagai tamu telah kembali. “Silakan masuk, Bu. Pak Kepsek sudah menunggu.” Erin pun mengangguk dan berjalan mengikuti sang satpam yang mengantarnya menuju ruang kepala sekolah. Memasuki koridor, dua lemari kaca setinggi langit-langit koridor memperlihatkan piala-piala kebanggaan yang berhasil diraih oleh para atlet berprestasi Gravion. Hal itu membuat Erin sedikit lebih bersemangat. Dia yakin keputusannya untuk menawarkan kerja sama antara kliniknya dengan Gravion sudah sangat tepat. Kliniknya akan berkembang lebih pesat dan memiliki penghasilan lebih stabil. Tapi, saat matanya melihat satu piala itu …. “He he, pialanya besar banget ya, Bu?” Ucapan satpam membuyarkan lamunan Erin. Dia cepat-cepat menetralkan ekspresi dan berkata dengan senyum tipis, “Ah … ya. Pialanya paling mencolok dari yang lain.” Sang satpam ikut menatap piala tersebut di sebelah Erin dan tersenyum lebar, seakan ikut bangga. “Itu dari alumni kita yang paling berhasil loh, Bu! Rama Mahanta, si atlet nasional itu! Ibu tahu, ‘kan?” DEG! Satu kali, jantung Erin berdetak sangat kencang dalam dada hingga napasnya sesak. Rama Mahanta. Sudah lama sekali semenjak ada yang membicarakan nama tersebut secara langsung di depannya. “Bu Erin?” Panggilan sang satpam menyentak Erin lagi dari lamunan. Lalu, dia tersenyum profesional dan berkata, “Tentu saja, Pak. Rama Mahanta itu atlet kebanggaan negara lulusan SMA Gravion. Masa saya tidak tahu?” Erin sama sekali tidak berbohong. Siapa yang tidak tahu soal seorang Rama Mahanta? Lahir di keluarga terpandang, Rama Mahanta mencetak rekor sebagai atlet basket termuda yang berhasil menembus tim nasional junior. Saat usianya baru dua puluh satu tahun, dia sudah dinobatkan sebagai pemain inti tim nasional basket kebanggaan negara. Di usianya ke dua puluh dua, dia berhasil membawa pulang medali emas pertama untuk Nusantara di ajang Kejuaraan Asia Tenggara. Dan sekarang, menginjak usia dua puluh delapan, dia sudah menjadi salah satu atlet basket paling bersinar secara internasional. Namanya hampir selalu muncul di berita olahraga, di iklan televisi, bahkan di poster-poster besar yang dipasang di berbagai kota. Mendengar kalimat Erin, sang satpam tampak kagum. “Wah, sepertinya Bu Erin fans berat Pak Rama, ya? Ha ha ha. Dari A sampai Z, semua tahu!” Ucapan sang satpam membuat Erin tersenyum canggung, “Ha ha ha … ya, begitulah.” Untungnya, perjalanan menuju ruang kepsek tidak begitu jauh, jadi perbincangan Erin dan sang satpam mengenai Rama bisa cepat berakhir. “Kapan-kapan, kalau Bu Erin datang lagi, kita ngobrol tentang Pak Rama lagi, ya!” ucap sang satpam, seakan baru saja mendapatkan rekan satu idola, membuat Erin hanya bisa tersenyum tidak berdaya. Masuk ke dalam ruang kepsek, Erin tidak lagi membuang waktu dan langsung membicarakan perihal penawaran kerja samanya dengan kepala sekolah. Erin menawarkan agar klinik fisioterapinya bisa membantu menangani cedera dan pemulihan fisik para atlet Gravion. Jika kerja sama itu berhasil, kliniknya akan mendapatkan sumber pasien yang stabil sekaligus membangun reputasi sebagai pusat fisioterapi olahraga di kota ini. Setelah kurang-lebih satu jam pembahasan, akhirnya sang kepala sekolah mengulurkan tangan dan berkata, “Semoga kerja sama kita lancar, Erin.” Mendengar hal tersebut, pancaran mata Erin bersinar dan dia pun menerima jabatan sang kepala sekolah. “Tentu, Pak! Terima kasih!” “Untuk kontraknya nanti akan kami siapkan dulu sesuai poin-poin yang kita bahas hari ini,” lanjut kepala sekolah. “Biasanya perlu waktu dua atau tiga hari karena harus kami ajukan ke yayasan sekolah dan bagian administrasi untuk disetujui.” Erin mengangguk. “Tidak masalah, Pak. Saya tunggu kabarnya saja.” Setelah itu, kepala sekolah berdiri dan dengan ramah mengantar Erin ke luar dari ruangannya. Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah yang tenang. “Terus terang, saya senang sekali kalau ada alumni yang kembali dan berkontribusi untuk Gravion,” ujar kepala sekolah sambil berjalan di samping Erin. “Banyak juga lulusan kita yang sudah berhasil, tapi tetap ingat sekolahnya.” Erin menoleh sedikit, tampak tertarik. “Selain saya, memang ada siapa lagi, Pak?” Pertanyaan itu sebenarnya dilontarkan Erin dengan santai. Siapa tahu ada nama yang bisa dia kenali, atau bahkan seseorang yang bisa menjadi koneksi baru bagi kliniknya. Kepala sekolah mulai menyebutkan beberapa nama dan juga kontribusi mereka. Ada yang menjadi pelatih tim provinsi, ada yang membuka pusat kebugaran sendiri, ada juga yang sekarang bekerja sebagai dokter tim untuk klub olahraga di ibu kota. Beberapa nama terdengar familiar bagi Erin. Sebagian adalah teman satu angkatan, sebagian lagi junior yang dulu sering dia lihat di lapangan. Namun, tiba-tiba kepala sekolah berhenti berjalan sejenak, seakan baru teringat sesuatu. “Oh ya! Ada satu lagi,” katanya sambil menepuk pelan dahinya. “Saya hampir lupa.” Erin menoleh. “Rama juga.” Langkah Erin seketika terhenti. “… Rama?” ulangnya pelan. Senyumnya mulai terasa sedikit kaku. “Iya! Rama Mahanta,” jawab kepala sekolah dengan nada bangga. “Saya baru ingat kalian dulu satu kelas juga, kan?” Kepala sekolah terlihat mengerutkan keningnya. “Kalian lumayan dekat kalau tidak salah.” Erin tidak langsung menjawab. “Hari ini dia juga akan datang ke sekolah,” lanjut kepala sekolah lagi dengan semangat. “Katanya ada tim produksi yang mau membuat film dokumenter tentang perjalanan kariernya, jadi mereka ingin mengambil beberapa adegan di sekolah ini.” Seketika, Erin merasa tidak nyaman. “Hari ini, Pak? Tapi bukannya Rama sekarang sedang di—” Belum selesai kalimat Erin, sang kepala sekolah tiba-tiba memotong. “Nah! Itu dia!” Kepala sekolah tiba-tiba menunjuk ke arah ujung koridor. Erin menoleh cepat mengikuti arah tersebut. Di ujung koridor, beberapa orang tampak berjalan bersama. Dua pria membawa kamera, satu orang lagi memegang mikrofon panjang, sementara seorang staf sekolah berbicara dengan mereka. Di tengah rombongan itu berdiri seorang pria yang jauh lebih mencolok dibandingkan yang lain. Tinggi dengan bahu lebar yang membuat jas hitam yang dikenakannya tampak pas di tubuhnya. Rambutnya dipotong rapi, sementara langkahnya tenang namun penuh wibawa. Bahkan tanpa mengenakan seragam olahraga, aura atlet yang kuat masih terpancar dari setiap gerakannya. Beberapa siswa yang lewat di koridor tanpa sadar melambatkan langkah, menoleh dua kali, lalu berbisik satu sama lain. Tidak salah lagi. Itu adalah Rama Mahanta. Sang atlet nasional! “Rama!” panggil kepala sekolah. Pria di ujung koridor itu berhenti berjalan. “Rama, coba lihat ini siapa!” DEG! Jantung Erin kembali berdetak keras, batinnya berteriak, ‘Tidak, tidak …!’ Perlahan, Rama mengalihkan pandangannya. Tatapannya bergerak dari kepala sekolah … lalu berhenti tepat pada sosok Erin. Untuk sesaat, waktu terasa seperti berhenti. Sorot mata Rama yang tadi tenang berubah seketika, menjadi sangat dingin dan mengintimidasi. Tatapan pria itu menusuk lurus ke arah Erin, lalu dia berjalan menghampiri dengan tenang. Sangat tenang. Terlalu tenang. Saat sampai di hadapan Erin, Rama akhirnya membuka mulut. “Erin ….” Nada suaranya rendah, namun terdengar jelas di sepanjang koridor. “Lama tidak bertemu.” Dalam hati, Erin ingin menangis. Kenapa … kenapa setelah sekian lama menghindari, dia harus bertemu mantannya ini lagi?! ***“Sekali lagi, saya minta maaf karena kerja sama ini tidak terjadi, Bu Erin. Selamat sore.”BIP.Panggilan itu berakhir sebelum Erin sempat memberikan respons.Tangannya yang memegang ponsel kemudian merosot turun. Dia memejamkan mata dan menghela napas, berusaha menenangkan api kemarahan yang mulai membakar dadanya.Tindakan Rama sudah keterlaluan!Pun mereka pernah memiliki masalah di masa lalu, haruskah Rama membalasnya dengan cara seperti ini?!Tanpa kerja sama dengan Gravion, kliniknya mungkin akan bangkrut dalam hitungan beberapa bulan ke depan.Dan kalau itu terjadi, bukan hanya dirinya, tapi Cakka juga akan berada dalam situasi terpojok!Memikirkan bukan hanya nasib dirinya, melainkan juga sahabatnya, Erin pun bertekad. “Aku harus menemui Rama!” Berdasarkan informasi yang dia terima dari mulut ayahnya sendiri, Erin segera bergegas menuju lapangan basket dekat tempat sang ayah membeli air kelapa tadi. Jika memang pria itu sedang melakukan syuting, seharusnya dia masih berada di
Di sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.“Hachi!”“Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.”“Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak sakit. Erin bersin cuma karena debu,” balas Erin cepat sambil tersenyum hangat.Dia kemudian menaikkan selimut untuk menghangatkan tubuh ibunya yang kini berbaring di ranjang tidur. Menatap sang ibu yang tampak lemas, senyuman Erin sedikit goyah.Hari ini terhitung bulan ketiga sejak dia kembali ke kota asal untuk membangun klinik sekaligus menjaga kedua orang tuanya. Tapi sejauh ini … kondisi ibunya yang didiagnosis Alzheimer tidak menunjukkan perbaikan. Justru semakin menurun.Beberapa saat lalu, saat Erin berjaga di klinik, dia mendadak menerima telepon dari sang ayah yang mengatakan bahwa ibunya keracunan makanan. Panik, Erin langsung pulang dan membawa sang ibu ke rumah sakit. Untungny
Kalimat Cakka membuat jantung Erin berdebar. Dia melirik sang sahabat yang lanjut berkata, “Apa mungkin kalian sebenarnya—” “Kami rival,” sela Erin cepat seraya membasahi bibir bawahnya. “Ah?” Cakka menatap Erin penuh selidik, tidak langsung percaya. “Rival …?” Erin menelan makanannya dan menatap Cakka. “Sifat kami tidak cocok, dan selalu ada saja hal yang kami jadikan kompetisi.” Dia menyendok makanannya lagi. “Intinya, kami tidak akur, tapi tidak sepenuhnya benci. Jadi … rival.” Kerutan di dahi Cakka terlihat dalam. “Hanya itu?” Usai menyuapkan makanan ke dalam mulut dan menelannya, Erin mengalihkan pandangan dari bento yang sudah kosong kembali ke Cakka. “Apa lagi yang kamu harapkan?” Cakka menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas kasar. Raut wajah yang semula tampak antusias pun sirna. “Tidak seru. Kukira kalian mantan pacar, makanya kamu tidak suka saat mendengar namanya.” Erin hampir tersedak mendengar tebakan sahabatnya itu, tapi cepat dia berusaha menj
“Erin, jangan marah! Aku benar-benar tidak sengaja!”Rengekan itu membuat Erin, yang sedang menyantap makan siangnya di klinik, mengangkat pandangan dan menatap ke depan.Seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata biru terang indah tampak memasang wajah memelas di hadapannya.“Tolong, maafkan aku …?”Menatap Cakka Dalziel, sahabat dekat sekaligus partnernya dalam kepemilikan klinik itu, Erin hanya bisa menghela napas pasrah.Tadi, usai Erin menemukan klinik dalam keadaan kosong tanpa terkunci, Cakka baru kembali dan menjelaskan semuanya. Sekitar setengah jam yang lalu, pria itu ingin menerima paket dari kurir yang baru tiba. Tapi, kemudian dia tertarik oleh restoran baru di ujung jalan dan berujung membeli makan siang untuk Erin dari sana. Masalahnya, dia lupa belum mengunci pintu klinik dan baru teringat kembali saat makanan sudah jadi dan Erin sudah tiba!Alhasil, Erin menegur Cakka habis-habisan dan berujung mendiamkannya selama beberapa saat agar pria itu tahu betapa serius












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews