แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Crispy Coco
Sehari setelah interogasi itu, aku langsung demam tinggi. Selama seminggu penuh, aku terus pingsan dan tersadar kembali di atas ranjang rumah sakit pribadi. Seorang perawat berkata suhu tubuhku sempat melonjak hingga 106 derajat beberapa kali dan mereka hampir kehilanganku.

Saat itu, Dante juga tidak pernah datang menjenguk.

Pada hari aku dipulangkan, seorang tetua keluarga memberitahuku malam itu ada acara lelang bawah tanah yang penting dan aku harus hadir bersama Dante. Aku ingin menolak, tetapi kata-kata tetua itu membuatku tidak memiliki pilihan lain.

"Ini soal kehormatan keluarga, Elara. Apa pun yang terjadi di antara kalian berdua, kalian tetap suami istri di depan publik."

Suami istri.

Kata-kata itu terdengar seperti lelucon yang pahit.

Begitu aku selesai berganti pakaian, pengacaraku menelepon dan berkata dengan suara yang penuh antusias sampai bergetar, "Nyonya Elara, aku punya kabar luar biasa. Perceraiannya sudah resmi. Semua dokumen sudah diajukan ke pengadilan. Kapan pun kamu siap, kamu sudah bisa mengumumkannya secara resmi."

Tanganku yang memegang ponsel bergetar. Kebebasanku akhirnya berada dalam genggamanku.

Acara lelang itu diadakan di pabrik tua lainnya yang sudah ditinggalkan. Tempat-tempat seperti ini biasanya aman dan dilindungi dari gencatan senjata di antara para tokoh besar, tetapi malam ini ada seseorang yang melanggar aturan.

Tak lama setelah aku tiba, terdengar suara tembakan meletus di luar gedung.

"Kita diserang! Semuanya keluar!"

Suasana di tempat itu langsung menjadi kacau karena orang-orang berteriak dan berhamburan.

Naluriku yang terasah karena sudah hidup di dunia ini selama bertahun-tahun membuatku langsung mencari Dante. Dia berada tidak jauh dariku. Dia mengarahkan anak buahnya membuat garis pertahanan dengan tenang. Saat tatapannya bertemu denganku, ekspresinya terlihat rumit.

Pada saat itu juga, Ava berlari mendekat dari samping dan menjerit dengan suara penuh ketakutan, "Dante, tolong aku! Aku terluka!"

Aku melihat goresan dangkal di lengan Ava itu mungkin karena terdesak kerumunan yang panik, tetapi Ava bertingkah seolah-olah sudah sekarat dan jatuh dengan dramatis ke dalam pelukan Dante.

"Sakit .... Dante, aku takut ...," bisik Ava dengan lemah.

Dante menundukkan kepala dan menatap Ava, lalu ekspresinya langsung melunak dan bergumam sambil mengelus rambut Ava, "Nggak apa-apa, aku akan melindungimu."

Setelah itu, Dante menoleh ke salah satu anak buahnya. "Siapkan mobil. Kita bawa dia ke rumah sakit."

Dante menggendong Ava dan melangkah menuju pintu keluar. Saat melewatiku, dia sempat ragu. "Tunggu di sini. Aku akan kembali menjemputmu."

"Oke. Aku akan tunggu," kataku sambil tersenyum, itu adalah senyuman terakhirku pada Dante. Aku tentu saja tidak akan menunggunya. Aku sudah tidak berharap apa pun lagi pada Dante.

Dante menghilang bersama Ava di tengah kekacauan.

Saat aku baru saja hendak mencari jalan keluar sendiri, sekelompok preman dari Keluarga Rumantir menghalangi jalanku.

"Elara Taulany, bos kami ingin bicara denganmu," kata pemimpin preman itu sambil menyeringai dengan kejam.

Para preman itu mengikatku di sebuah gudang kosong, lalu pemimpin mereka mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Dante.

Sekali, dua kali, tiga kali ....

Tetap tidak ada jawaban.

"Sialan!" umpat pria itu, lalu menelepon Dante lagi.

Saat duduk di kursi dan menyaksikan pemimpin itu merasa makin frustrasi, aku malah merasa sangat tenang. Dante sedang sibuk dengan cinta sejatinya, tentu saja tidak memiliki waktu untuk mengangkat telepon.

Setelah panggilan kesepuluh tetap tidak terjawab, amarah pemimpin itu langsung meledak. "Apa yang sedang dilakukan bajingan itu?"

Aku menjawab dengan tenang, "Dia sedang di rumah sakit bersama pacarnya. Kalian sudah salah menangkap orang. Bagi Dante Taulany, aku ini nggak berharga."

Pemimpin itu menatapku. "Mustahil. Kamu ini istrinya."

"Mantan istri," koreksiku. Saat pemimpin itu kebingungan, aku menggunakan sepotong kawat yang kusembunyikan untuk mengiris tali di pergelangan tanganku. Ternyata latihanku tidak sia-sia. Aku berhasil melepaskan diri, lalu merebut pistol dari penjaga terdekat dan melumpuhkan para preman itu sebelum mereka sempat menyadari apa yang sedang terjadi.

Aku keluar dari gudang itu dan menelepon pengawal pribadiku. "Jemput aku."

Saat aku sedang menunggu, seseorang yang tak terduga pun datang. Dante terlihat panik dan pakaiannya kusut. Namun, aku sudah bukan Elara yang dahulu, yang meleleh hanya karena sedikit perhatian dari Dante.

Saat melihatku tidak terluka, ekspresi Dante terlihat jelas merasa lega. "Elara, aku datang terlambat. Aku sebenarnya mau langsung kembali untuk menjemputmu, tapi Ava .... Dia benar-benar membutuhkanku ...."

"Nggak apa-apa. Bukannya aku baik-baik saja, 'kan?" potongku sambil tersenyum.

Melihat sikapku yang tenang, Dante jelas merasa terguncang. Dia mencoba menjelaskan lagi. "Baterai ponselku habis. Aku nggak bermaksud meninggalkanmu. Oh, lalu soal Ruang Hukuman hari itu .... Itu bukan perintahku untuk menahanmu lebih lama. Aku sudah membereskan orang yang melakukannya ...."

Aku menganggukkan kepala, tetapi ekspresiku tidak terliha lega. "Aku mengerti."

Dante terlihat kebingungan. "Elara ...."

Saat itu, mobilku tiba. Aku langsung masuk ke dalam mobil, membuka kaca jendela, lalu menoleh ke arah Dante untuk terakhir kalinya. "Aku punya hadiah untukmu. Pastikan kamu melihat langit malam ini."

Setelah itu, aku langsung pergi. Namun, aku tidak langsung pulang. Aku menelepon pengacaraku dan berkata dengan suara yang lebih tegas daripada sebelumnya, "Jalankan rencananya. Sekarang juga."

Tepat pada tengah malam, semua papan reklame elektronik di pusat kota Chilaga menyala secara serentak. Kata-kata berukuran raksasa dan berwarna merah menyala terang di langit malam.

[ SELAMAT ATAS PERCERAIAN ELARA NUGROHO DAN DANTE TAULANY! AKHIRNYA BEBAS! ]
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 20

    Sebulan kemudian, tibalah hari pernikahanku dengan Liam.Aku mengenakan gaun putih yang indah, dikelilingi para tamu yang benar-benar ikut berbahagia untuk kami. Tidak ada satu pun dari semua ini yang pernah kurasakan di pernikahanku dengan Dante.Seorang pelayan menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil, hadiah pernikahan dari tamu anonim.Aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah catatan.[ Bos bersikeras agar ini disampaikan kepadamu. Tolong, terimalah. ]Di bawah catatan itu tergeletak sebuah bros. Bros milik ibuku.Meski telah diperbaiki dengan sangat hati-hati, aku masih bisa melihat samar bekas kerusakan air di tepinya. Aku hanya bisa membayangkan betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengambilnya kembali dari dasar laut.Aku menggenggamnya erat dan berbisik pelan, "Terima kasih."Namun, hanya itu saja."Sayang? Ada apa?"Suara Liam memanggilku. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di ujung lorong, senyum hangat menghiasi wajahnya.Aku tak bisa menahan senyum saat melangkah

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 19

    Aku terbangun dengan bau apek yang menusuk.Tangan dan kakiku terikat erat ke sebuah kursi dengan tali kasar. Tempat itu tampak seperti gudang terbengkalai, udara dipenuhi aroma karat dan debu."Kamu sudah bangun."Sebuah suara parau dan nyaris gila terdengar di depanku. Aku mendongak dan melihat siapa yang berdiri di sana.Ava.Tidak, wajah itu sudah tak bisa lagi disebut wajah.Separuh mukanya dipenuhi bekas luka mengerikan, seperti terkena cairan asam. Matanya menyala dengan kebencian gila yang membara. Dia tampak seperti iblis yang diseret kembali dari neraka."Kaget?" katanya sambil menyeret kakinya yang terluka, terpincang-pincang mendekat, sebuah pistol tergenggam di tangannya. "Ini ulah Dante. Dia melemparkanku ke laut, menarikku keluar, lalu melemparkanku lagi. Dia menghancurkan wajahku dan mengumumkan ke seluruh dunia kalau dia sudah selesai denganku. Katanya dia ingin aku merasakan rasa sakit yang kamu rasakan."Dia tertawa melengking, histeris."Dia menghancurkanku dan semu

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 18

    Sudut Pandang Elara:Aku sempat berpikir Dante pasti sudah lelah memainkan permainan kecilnya ini.Ternyata aku salah besar. Dia justru semakin menjadi-jadi.Selama satu minggu penuh, dia berdiri di luar gedung apartemenku, membawa mawar, memohon-mohon agar aku memaafkannya."Elara, aku tahu kamu ada di dalam," pintanya, suaranya serak dan menyedihkan. "Aku cuma ingin bicara …."Yang kurasakan hanya lelah. Aku menolak menemuinya, jadi dia akan berdiri di sana sampai larut malam sebelum akhirnya pergi.Bunga-bunga yang ditinggalkannya di depan pintuku? Semua kubuang ke tempat sampah. Tak satu pun kusisakan."Perlu aku singkirkan dia?" tanya Liam lembut, sambil memandangi sosok yang berdiri di jalan di bawah sana.Aku tidak mengatakan tidak.Aku melihat Liam turun dan berbicara dengannya. Beberapa saat kemudian, Dante pergi, bahunya merosot, langkahnya penuh kekalahan.Aku penasaran. "Kamu bilang apa ke dia?"Liam tersenyum tipis. "Aku bilang kehadirannya hanya membangkitkan kenangan men

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 17

    Dante menarik napas dalam-dalam, lalu membuka berkas terenkripsi yang dikirim Vincent.Yang pertama muncul adalah rekaman kamera keamanan.Di rekaman itu Elara jelas terlihat sendirian sambil menyeret tubuh Dante yang berlumuran darah ke tempat aman. Kamera menangkap momen tepat ketika telapak tangan Elara teriris pecahan kaca di tanah.Beberapa menit kemudian, Elara berlari pergi untuk mencari bantuan. Saat itulah Ava keluar dari bayangan. Pertama, dia melukai tangannya sendiri. Kemudian, dia menelepon anak buahnya untuk mengangkat Dante dan membawanya pergi.Ketika Elara kembali dengan perban, yang tersisa hanyalah genangan darah.Dante merasa seperti disambar petir. Tubuhnya seketika membeku. Dia teringat suatu malam, di atas ranjang, jemarinya menelusuri bekas luka panjang yang menonjol di tangan Elara.Dia tak pernah menanyakannya.Dia teringat Ava yang menunjukkan "lukanya" dengan mata penuh air mata sambil berkata, "Dante, aku nggak menyesal. Semua ini sepadan demi menyelamatkan

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 16

    Keesokan paginya, aku melihat Liam menerima telepon tanpa henti.Dari kerutan di dahinya dan suaranya yang tegang, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Saat dia akhirnya menutup telepon, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Ada apa?"Liam menoleh dan memberiku senyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit masalah kecil bisnisku."Namun, aku tahu itu lebih dari sekadar itu. Setelah tiga tahun menjadi istri Dante, aku tahu persis bagaimana dunia mafia bekerja. Hatiku terasa mencelos."Itu Dante, 'kan?" tanyaku langsung.Liam tidak menyangkal. Dia menghampiriku dan dengan lembut menangkup wajahku. "Elara, jangan khawatir. Aku sudah pernah menghadapi yang jauh lebih buruk."Beberapa hari berikutnya, aku menyaksikan sendiri kegilaan Dante. Beberapa mitra utama Liam tiba-tiba menarik investasi mereka. Kasino-kasinonya digerebek secara mendadak. Satu demi satu "masalah" bermunculan.Aku menonton laporan berita dengan tubuh gemetar menahan amarah. "Dasar bajingan keji! Menggunakan c

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 15

    Untuk membangkitkan semangatku, Liam membawaku ke sebuah resor ski di luar Bastin. Dengan mengenakan baju ski putih, aku meluncur menuruni lereng dan merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Liam adalah pemain ski yang luar biasa. Dia mengajarkanku teknik baru dengan sabar dan tangannya menstabilkanku setiap kali aku mulai goyah."Kamu belajar dengan cepat. Wajar juga. Seniman selalu punya koordinasi yang baik," kata Liam sambil tertawa.Aku juga ikut tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Profesor."Saat kami beristirahat di pondok di puncak gunung, aku merasa sangat tenang. Sinar matahari yang menembus jendela besar terasa hangat dan menenangkan."Elara, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Liam yang ekspresinya tiba-tiba menjadi serius."Apa itu?" tanya Elara."Apa kamu mau ... bersamaku? Maksudku, benar-benar bersamaku," tanya Liam.Hatiku langsung berdebar, pipiku terasa panas. Pria yang baik dan lembut ini .... Aku telah melihat betapa baiknya dia padaku selam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status