Share

Bab 8

Penulis: Crispy Coco
Setelah pertunjukan itu, para panitia bersikeras agar aku tetap tinggal untuk makan malam. Aku mencoba menolak, tetapi mereka sangat gigih. Aku mencari sudut yang tenang agar bisa makan dengan cepat dan pergi, tetapi aku bisa merasakan sepasang mata yang menatap tajam punggungku. Tanpa perlu menoleh pun, aku sudah tahu siapa yang menatapku.

"Dante, malam ini kamu aneh sekali."

Dari meja yang tak jauh di sana, aku mendengar suara tajam Ava yang penuh kekesalan. Aku melirik sekilas dan melihat Ava merangkul lengan Dante dengan posesif.

"Nggak apa-apa," jawab Dante dengan nada datar.

Ava membentak, "Benarkah? Jadi, kenapa kamu terus menatap mantan istrimu itu sejak dia naik ke panggung? Apa istimewanya dari dia yang hanya menggesek biola sialan itu?"

"Ava, jaga mulutmu," kata Dante memperingatkan.

Ava meninggikan volume suaranya. "Apa aku salah bicara? Jangan bilang kamu masih punya perasaan padanya. Dante, jangan lupa, dia yang mengajukan cerai. Dia sama sekali nggak pantas menjadi anggota Keluarga Taulany."

Aku sudah merasa cukup mendengar percakapan mereka. Aku pun berdiri dan hendak pergi.

Tepat pada saat itu, seorang pria bersetelan hitam bergegas ke sisi Dante dan membisikkan sesuatu di telinganya. Terlihat ekspresinya menjadi muram dan bertanya dengan nada menuntut, "Kapan ini terjadi?"

Pria itu menjawab, "Tiga jam yang lalu. Keluarga Hartono bilang kita yang membocorkan jalur perdagangan. Mereka jadi kehilangan produk bernilai 75 miliar."

"Sudah tahu siapa yang membocorkannya?" tanya Dante lagi.

"Kami masih menyelidikinya, tapi ... kurang dari sepuluh orang di organisasi yang tahu soal rute itu," jawab pria itu.

Tikus.

Berarti ada pengkhianat di dalam Keluarga Taulany.

"Kita pergi," kata Dante dengan suara pelan.

Namun, saat Dante berbalik, Ava meraih lengan Dante. "Dante, tunggu dulu."

Setelah itu, Ava melirikku dengan tatapan yang sangat licik. "Aku rasa kamu perlu tahu ini. Aku melihat Elara bertemu dengan seorang pria asing beberapa hari lalu. Mungkin ...."

Ava sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi maksudnya sangat jelas.

Aku menatap Ava dengan dingin. "Sebaiknya kamu punya bukti atau aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik."

Dante mengernyit. Dia tahu aku tidak akan pernah mempertaruhkan bisnis keluarga. "Ava, cukup."

Api cemburu membakar matanya, lalu seketika berlinang. "Dante, aku nggak bohong. Aku punya buktinya."

Setelah mengatakan itu, Ava mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video.

Di layar itu, terlihat seorang wanita yang wajahnya persis sepertiku sedang tertawa bersama seorang bos mafia terkenal dari keluarga rival. Namun, aku sangat yakin sampai merasa mual bahwa wanita itu bukan aku.

Ava memanfaatkan kesempatan itu untuk menekankan. "Ini terjadi tepat setelah kamu membakar barang-barang ibunya. Mungkin dia akhirnya kehilangan kendali dan ingin balas dendam ...."

Aku melihat ekspresi Dante berubah setelah mendengar perkataan itu. Jelas Dante sudah mulai goyah. Aku berkata dengan suara pelan, tetapi tegas, "Cukup, Ava. Aku bersumpah atas nama keluargaku, aku bukan pengkhianat."

Ava menyeringai. "Kalau begitu, kemarin sore kamu di mana?"

Aku menatap Ava dan menjawab, "Di rumah. Ada masalah?"

"Apa ada orang yang bisa membuktikannya?" tanya Ava.

Aku langsung terdiam. Saat itu, Roberto sedang keluar untuk berbelanja dan aku sendirian.

Ava berkata pada Dante dengan nada penuh kemenangan, "Lihatlah. Dia bahkan nggak punya alibi."

Mendengar itu, tubuhku langsung gemetar karena menahan amarah. "Ava, kamu gila. Aku nggak tahu apa-apa soal jalur perdagangan. Untuk apa aku melakukannya?"

"Untuk balas dendam. Kamu benci Dante yang sudah memilihku, jadi kamu memutuskan untuk menghancurkannya," kata Ava, seolah-olah itu hal sangat masuk akal.

Aku tidak tahu harus berkata apa. "Aku ...."

"Cukup," kata Dante yang akhirnya berbicara dengan suara yang sangat muram.

Aku pikir Dante akan membelaku dan menghentikan tuduhan Ava yang gila. Namun, dia menatapku dengan tatapan yang dingin dan sangat curiga, lalu berkata pada anak buahnya, "Marco, bawa dia kembali."

Aku seketika terpaku. "Apa?"

"Bawa dia kembali ke rumah dan kurung dia di Ruang Hukuman," kata Dante tanpa menatapku.

Aku pernah mendengar tentang Ruang Hukuman ini. Itu adalah ruang penyimpanan dingin di bawah tanah yang telah diubah dan dijaga pada suhu membeku, tempat Keluarga Taulany menginterogasi para pengkhianat.

"Dante, kamu sudah gila ya? Kamu benar-benar percaya padanya?" tanyaku yang tidak percaya dengan apa yang sudah aku dengar.

Dante akhirnya menatapku dan berkata, "Semua keluarga sedang memperhatikan. Sampai kamu dibersihkan dari tuduhan ini, kamu adalah sebuah risiko."

Setelah berhenti sejenak, Dante mencoba membuat nada bicaranya terdengar lebih lembut. "Hanya sampai semuanya jelas. Kamu akan baik-baik saja."

Kata-kata Dante seharusnya terdengar menenangkan, tetapi hawa dingin langsung menjalar di tulang punggungku. Dia mungkin tidak percaya aku bersalah, tetapi dia juga tidak berniat melindungiku. Jika itu Ava, apakah dia akan begitu tega? Pertanyaan itu masih bergema di kepalaku saat dua penjaga mencengkeram lenganku.

Aku tidak memberontak, hanya menatap Dante dengan tajam dan berkata, "Dante, kamu akan menyesal."

Namun, Dante sudah berpaling, hanya memberiku punggungnya yang dingin dan tak berperasaan.

Ava mengikuti di belakang Dante, lalu menoleh sekilas ke arahku dengan senyuman penuh kemenangan. Dia memang menang, berhasil mengubahku dari korban menjadi penjahat hanya dengan beberapa kebohongan.

Mobil melaju melewati gerbang vila itu, tempat yang dahulu aku sebut rumah dan kini menjadi penjaraku. Ruang Hukuman berada di bagian terdalam dari bawah tanah vila itu.

Saat pintu besi yang berat itu dibanting menutup di belakangku, hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyelimutiku. Dalam waktu sepuluh menit, gigiku sudah gemeletuk. Tubuhku masih lemah akibat keguguran, sehingga tidak sanggup menahan dingin ini. Orang sehat mungkin bisa bertahan, tetapi bagiku ini adalah sebuah siksaan.

Saat waktu yang dijanjikan Dante hampir tiba, aku mendengar suara seorang pria dari luar pintu.

"Bos bilang setengah jam terlalu singkat. Tambah satu jam lagi."

Penjaga yang bertugas terdengar ragu. "Satu jam? Bukankah itu terlalu lama?"

"Itu perintah dari Bos. Kamu tinggal jalankan," kata pria itu.

"Baik, Pak," jawab penjaga itu.

Saat mendengar percakapan itu, aku dalam keadaan mati rasa. Aku tidak tahu apakah itu benar-benar perintah dari Dante atau hanya ulah Ava lagi. Apa pun itu, kebenarannya tetap sama. Dante telah meninggalkanku sekali lagi.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 20

    Sebulan kemudian, tibalah hari pernikahanku dengan Liam.Aku mengenakan gaun putih yang indah, dikelilingi para tamu yang benar-benar ikut berbahagia untuk kami. Tidak ada satu pun dari semua ini yang pernah kurasakan di pernikahanku dengan Dante.Seorang pelayan menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil, hadiah pernikahan dari tamu anonim.Aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah catatan.[ Bos bersikeras agar ini disampaikan kepadamu. Tolong, terimalah. ]Di bawah catatan itu tergeletak sebuah bros. Bros milik ibuku.Meski telah diperbaiki dengan sangat hati-hati, aku masih bisa melihat samar bekas kerusakan air di tepinya. Aku hanya bisa membayangkan betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengambilnya kembali dari dasar laut.Aku menggenggamnya erat dan berbisik pelan, "Terima kasih."Namun, hanya itu saja."Sayang? Ada apa?"Suara Liam memanggilku. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di ujung lorong, senyum hangat menghiasi wajahnya.Aku tak bisa menahan senyum saat melangkah

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 19

    Aku terbangun dengan bau apek yang menusuk.Tangan dan kakiku terikat erat ke sebuah kursi dengan tali kasar. Tempat itu tampak seperti gudang terbengkalai, udara dipenuhi aroma karat dan debu."Kamu sudah bangun."Sebuah suara parau dan nyaris gila terdengar di depanku. Aku mendongak dan melihat siapa yang berdiri di sana.Ava.Tidak, wajah itu sudah tak bisa lagi disebut wajah.Separuh mukanya dipenuhi bekas luka mengerikan, seperti terkena cairan asam. Matanya menyala dengan kebencian gila yang membara. Dia tampak seperti iblis yang diseret kembali dari neraka."Kaget?" katanya sambil menyeret kakinya yang terluka, terpincang-pincang mendekat, sebuah pistol tergenggam di tangannya. "Ini ulah Dante. Dia melemparkanku ke laut, menarikku keluar, lalu melemparkanku lagi. Dia menghancurkan wajahku dan mengumumkan ke seluruh dunia kalau dia sudah selesai denganku. Katanya dia ingin aku merasakan rasa sakit yang kamu rasakan."Dia tertawa melengking, histeris."Dia menghancurkanku dan semu

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 18

    Sudut Pandang Elara:Aku sempat berpikir Dante pasti sudah lelah memainkan permainan kecilnya ini.Ternyata aku salah besar. Dia justru semakin menjadi-jadi.Selama satu minggu penuh, dia berdiri di luar gedung apartemenku, membawa mawar, memohon-mohon agar aku memaafkannya."Elara, aku tahu kamu ada di dalam," pintanya, suaranya serak dan menyedihkan. "Aku cuma ingin bicara …."Yang kurasakan hanya lelah. Aku menolak menemuinya, jadi dia akan berdiri di sana sampai larut malam sebelum akhirnya pergi.Bunga-bunga yang ditinggalkannya di depan pintuku? Semua kubuang ke tempat sampah. Tak satu pun kusisakan."Perlu aku singkirkan dia?" tanya Liam lembut, sambil memandangi sosok yang berdiri di jalan di bawah sana.Aku tidak mengatakan tidak.Aku melihat Liam turun dan berbicara dengannya. Beberapa saat kemudian, Dante pergi, bahunya merosot, langkahnya penuh kekalahan.Aku penasaran. "Kamu bilang apa ke dia?"Liam tersenyum tipis. "Aku bilang kehadirannya hanya membangkitkan kenangan men

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 17

    Dante menarik napas dalam-dalam, lalu membuka berkas terenkripsi yang dikirim Vincent.Yang pertama muncul adalah rekaman kamera keamanan.Di rekaman itu Elara jelas terlihat sendirian sambil menyeret tubuh Dante yang berlumuran darah ke tempat aman. Kamera menangkap momen tepat ketika telapak tangan Elara teriris pecahan kaca di tanah.Beberapa menit kemudian, Elara berlari pergi untuk mencari bantuan. Saat itulah Ava keluar dari bayangan. Pertama, dia melukai tangannya sendiri. Kemudian, dia menelepon anak buahnya untuk mengangkat Dante dan membawanya pergi.Ketika Elara kembali dengan perban, yang tersisa hanyalah genangan darah.Dante merasa seperti disambar petir. Tubuhnya seketika membeku. Dia teringat suatu malam, di atas ranjang, jemarinya menelusuri bekas luka panjang yang menonjol di tangan Elara.Dia tak pernah menanyakannya.Dia teringat Ava yang menunjukkan "lukanya" dengan mata penuh air mata sambil berkata, "Dante, aku nggak menyesal. Semua ini sepadan demi menyelamatkan

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 16

    Keesokan paginya, aku melihat Liam menerima telepon tanpa henti.Dari kerutan di dahinya dan suaranya yang tegang, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Saat dia akhirnya menutup telepon, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Ada apa?"Liam menoleh dan memberiku senyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit masalah kecil bisnisku."Namun, aku tahu itu lebih dari sekadar itu. Setelah tiga tahun menjadi istri Dante, aku tahu persis bagaimana dunia mafia bekerja. Hatiku terasa mencelos."Itu Dante, 'kan?" tanyaku langsung.Liam tidak menyangkal. Dia menghampiriku dan dengan lembut menangkup wajahku. "Elara, jangan khawatir. Aku sudah pernah menghadapi yang jauh lebih buruk."Beberapa hari berikutnya, aku menyaksikan sendiri kegilaan Dante. Beberapa mitra utama Liam tiba-tiba menarik investasi mereka. Kasino-kasinonya digerebek secara mendadak. Satu demi satu "masalah" bermunculan.Aku menonton laporan berita dengan tubuh gemetar menahan amarah. "Dasar bajingan keji! Menggunakan c

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 15

    Untuk membangkitkan semangatku, Liam membawaku ke sebuah resor ski di luar Bastin. Dengan mengenakan baju ski putih, aku meluncur menuruni lereng dan merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Liam adalah pemain ski yang luar biasa. Dia mengajarkanku teknik baru dengan sabar dan tangannya menstabilkanku setiap kali aku mulai goyah."Kamu belajar dengan cepat. Wajar juga. Seniman selalu punya koordinasi yang baik," kata Liam sambil tertawa.Aku juga ikut tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Profesor."Saat kami beristirahat di pondok di puncak gunung, aku merasa sangat tenang. Sinar matahari yang menembus jendela besar terasa hangat dan menenangkan."Elara, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Liam yang ekspresinya tiba-tiba menjadi serius."Apa itu?" tanya Elara."Apa kamu mau ... bersamaku? Maksudku, benar-benar bersamaku," tanya Liam.Hatiku langsung berdebar, pipiku terasa panas. Pria yang baik dan lembut ini .... Aku telah melihat betapa baiknya dia padaku selam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status