แชร์

Tujuh Tahun Tanpa Status
Tujuh Tahun Tanpa Status
ผู้แต่ง: Anna

Bab 1

ผู้เขียน: Anna
Tepat saat notifikasi tiket pesawat muncul, Aldo melakukan panggilan video denganku.

Di layar, dia sedang berdiri di depan jendela kaca hotel.

Dia tersenyum dan memanggilku, “Sayang, kok belum tidur?”

Jika belum melihat lebih dari 600 postingannya itu, aku mungkin masih akan luluh mendengar suaranya.

Aku tak langsung menjawab.

Aldo membujukku seperti biasa, “Kangen aku, ya? Sabar ya, proyek di sini sudah hampir selesai. Paling lama tiga hari lagi bakal pulang, nanti aku bawain oleh-oleh.”

Aku bertanya padanya, “Kamu sendirian di hotel?”

Raut wajahnya tak berubah sedikit pun, senyumannya bahkan semakin terlihat alami, “Tentu saja sendiri. Aku sudah janji nggak akan keluyuran saat perjalanan bisnis, ‘kan?”

Usai dia bicara, terdengar suara tawa seorang wanita dari balik video.

Senyuman di wajah Aldo sempat membeku sesaat.

Detik berikutnya, dia menggeser kameranya ke samping dan berpura-pura kesal, “Rekan kerjaku lagi rapat di kamar sebelah, berisik sekali. Nanti aku telepon lagi, ya.”

Aku menatap layar yang tiba-tiba menjadi hitam, jariku terasa dingin hingga mati rasa.

Dulu dia tak mengizinkanku masuk ke lingkaran pertemanannya, katanya karena takut orang lain melirikku.

Jadi, setiap kali ada perkumpulan dengan teman-temannya, aku tak pernah ikut.

Acara tahunan perusahaannya, aku juga tak ikut.

Bahkan saat sahabatnya menikah, Aldo hanya bilang, “Sayang, kamu terlalu cantik, aku nggak rela kalau mereka melirikmu.”

Mataku perlahan terasa perih. Aku tak bisa menahan diri dan membuka postingannya lagi menggunakan akun palsuku, menatap foto itu dengan seksama.

Aldo memakai kemeja putih, angin laut meniup rambutnya. Dia menunduk mencium wanita itu, tersenyum bahagia seperti seorang pemuda yang akhirnya tercapai impiannya.

Sementara aku telah bersamanya selama tujuh tahun, foto bersama pun tak pernah diposting.

Dia bilang, “Sayang, aku nggak mau orang lain mengganggu kehidupan kita.”

Dia bilang, “Hubungan itu urusan dua orang, nggak perlu dipamerkan ke orang luar.”

Dia bilang, “Aku orangnya posesif, nggak mau orang lain tahu seberapa baiknya kamu.”

Aku memercayainya dulu.

Barulah sekarang aku paham. Ternyata dia bukan tak suka pamer, tapi hanya tak ingin memamerkanku.

Di postingan itu, ada yang berkomentar, [Kak Aldo memang pria sejati. Sejak awal pacaran sudah langsung dipublikasikan, bahkan sudah tiga tahun.]

Aldo membalas, [Nggak tega membiarkan dia menemaniku tanpa status yang jelas.]

Aku menatap kalimat itu untuk waktu yang sangat lama.

Selama tujuh tahun, dia tak pernah memberiku status yang jelas.

Kami tinggal bersama, pernah memelihara seekor kucing, melewati suka dan duka bersama.

Namun, tak pernah ada diriku dalam postingannya.

Teman-temannya pun tak ada yang tahu keberadaanku.

Cinta yang dia pamerkan ke semua orang telah diberikan pada orang lain.

Sementara diriku, bagaikan baju lama yang dikunci di dalam lemari, tampak bersih, tenang dan siap kapan saja menunggunya kembali untuk memakainya.

Ponselku bergetar lagi, itu pesan darinya.

[Sayang, tadi sinyalnya jelek.]

[Tidur lebih awal, ya. Jangan pikir yang aneh-aneh.]

[Aku paling sayang denganmu.]

Aku tak membalasnya.

Aku membuka lemari pakaian, menggeser kemejanya satu per satu. Di bagian paling dalam tergantung gaun putih yang kubeli tahun lalu.

Itu gaun yang kupakai saat menunggunya pulang untuk makan malam bersama di hari ulang tahunnya.

Dia tak pulang malam itu, katanya ada lembur dadakan.

Namun, di postingannya saat hari yang sama, dia mendampingi wanita itu menonton konser di gedung pertunjukan seni. Keterangan fotonya, [Semua yang dia sukai, selalu kuingat.]

Aku mengambil gaun itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Kemudian, aku mengambil KTP, kartu bank, laptop dan beberapa pakaian ganti.

Selama tujuh tahun, ternyata barang yang bisa kubawa pergi sangat sedikit.

Dan barang tak bisa kubawa memang sudah tak perlu dipertahankan lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 9

    Satu bulan kemudian, uang di rekening bersama kami sudah sepenuhnya dilunasi.Aldo mentransfer kembali bagianku dan ada kelebihan sejumlah uang yang katanya sebagai bentuk kompensasi.Aku mengembalikannya.Aku tak butuh kompensasi darinya.Kompensasi artinya rasa bersalah masih bisa diukur dengan angka, padahal tujuh tahunku yang terbuang tidak akan pernah bisa ditebus dengan nominal berapa pun.Setelah itu, Fiona juga datang mencariku.Dia berdiri di lantai bawah rumahku sambil memegang kue kesukaanku dulu, dengan matanya yang sembap.Dia berkata, “Tara, aku benar-benar sudah tahu salah.”Hari itu angin berhembus sangat kencang. Aku menatapnya, lalu teringat pada musim panas saat kami masih SMA dulu.Kami berdesakan di depan kantin sekolah memakan satu es lilin berdua, sambil tertawa bilang kalau nanti siapa pun yang menikah duluan, yang satunya wajib jadi pengiring pengantin.Ketulusannya nyata.Namun, pengkhianatan ini juga nyata adanya.Aku tak menerima kue itu.“Fiona, aku sudah t

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 8

    Keesokan paginya, aku mengunggah satu postingan.Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun ini, aku menuliskan nama Aldo.Aku tak menangis atau memaki-maki, tapi hanya membeberkan kronologi waktunya dengan sangat jelas.Pernyataan cinta waktu kuliah, pacaran selama tujuh tahun, tinggal bersama, rekening bersama, pertemuan dengan orang tuaku, hingga janji tanggal pernikahan.Serta bagaimana Aldo mulai menjalin hubungan dengan Yuna sejak tiga tahun lalu, mempublikasikan wanita itu di postingannya, membawanya bertemu dengan teman-teman dan ibunya, tapi di saat yang sama terus beralasan padaku sedang perjalanan dinas, sibuk dan menunggu waktu yang tepat.Terakhir, aku mengunggah video yang kuambil di hotel malam itu.Di dalam video tersebut, Aldo bilang sendiri, “Aku bakal menikahimu, tapi juga bakal mengadakan pesta pernikahan dengan dia.”Setelah mengunggahnya, aku mematikan ponsel dan menemani ibu pergi berbelanja ke pasar.Sepanjang jalan ibu terus menggenggam tanganku, sama seperti wakt

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 7

    Aldo tak langsung pergi.Dia berdiri di lantai bawah sampai siang, lalu mengirim banyak pesan di depan pintu rumahku.Dia bilang kalau dirinya sudah menghapus semua kontak Yuna.Dia bilang kalau dirinya akan membalas semua pengakuan status yang terutang padaku selama ini.Dia bilang asal aku mau memaafkannya, dirinya rela berlutut memohon pada seluruh kerabat dan temanku.Tak ada satu pun pesan yang kubalas.Sore harinya, Fiona meneleponku lagi.Kali ini, nadanya tak seberani kemarin, melainkan terdengar sangat lelah.“Tara, kamu benaran harus sekejam ini?”Aku duduk di dekat jendela, memegang cangkir air hangat yang diberikan ibu, lalu bertanya padanya dengan tenang, “Emangnya apa yang kulakukan?”“Gara-gara kamu, Aldo langsung terbang balik malam-malam. Yuna menangis terpuruk sampai sekarang. Dia nggak tahu kalau kamu dan Aldo masih pacaran. Dia juga korban.”“Jadi?”Di seberang telepon mendadak hening sejenak.Aku melanjutkan, “Jadi aku harus menenangkannya, mengucapkan selamat untu

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 6

    Keesokan harinya, aku terbangun oleh suara kegaduhan dari lantai bawah.Ibu berbisik-bisik di luar pintu, suaranya terdengar dingin dan tegas, sesuatu yang jarang sekali terjadi, “Dia nggak mau bertemu denganmu, pergi saja.”Seketika, dadaku terasa sesak. Aku memakai jaket dan berjalan ke arah jendela.Aldo sedang berdiri di lantai bawah. Dia masih memakai kemeja yang sama seperti kemarin, lecek tak beraturan.Saat mendongak dan melihatku, matanya langsung berbinar, seperti menemukan harapan hidupnya yang terakhir.“Sayang, turun sebentar, temui aku.”Aku tak bergerak.Dia terus mendongak, suaranya terdengar sangat serak, “Aku naik penerbangan paling pagi untuk balik ke sini, bahkan nggak sempat membawa koper. Tara, aku benaran sudah tahu salah, tolong jangan buang aku.”Dulu, aku paling tak tahan melihatnya seperti ini.Asalkan dia memanggilku sayang dengan mata berkaca-kaca, hatiku pasti langsung luluh. Aku bakal merasa bahwa perjalanan tujuh tahun itu tak mudah, lalu melupakan semua

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 5

    Saat pesawat mendarat, gerimis halus sedang mengguyur di luar jendela.Saat mengaktifkan ponsel, pesan-pesan yang masuk hampir meledakkan ponselku.Aldo menelepon lebih dari tiga puluh kali. Pesan yang dikirimnya berubah dari bujukan lembut menjadi pertanyaan yang panik.[Sayang, kamu ke mana?][Jangan ngambek lagi, bukannya aku sudah bilang bakal menikahimu?][Apa maksudmu menghapus semua postinganmu?]Pesan terakhir dikirim pada pukul empat pagi.[Sayang, aku sudah tahu salah. Angkat teleponku, ya?]Aku menatap kalimat ‘aku sudah tahu salah’ itu, tiba-tiba merasa sangat miris.Dia tak merasa salah saat aku dipermalukan oleh teman-temannya.Dia tak merasa salah saat mengatakan ingin menikahiku, tapi malah memberikan pesta pernikahan untuk Yuna.Dia juga tak merasa salah saat aku mengetahui bahwa dirinya telah berbohong padaku selama tiga tahun.Dia hanya menyadari aku telah benar-benar pergi.Makanya dia panik.Ibu dan ayah sudah menungguku di pintu kedatangan. Saat melihatku, mata ib

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 4

    Aku berdiri di tepi jalan raya, tiba-tiba ponselku bergetar.Ada pesan masuk dari ayah.Ayah berkata, [Nak, kapan Aldo pulang? Hari ini ibu menanyakan soal pernikahan kalian lagi.]Aku menatap barisan kalimat itu, akhirnya mataku terasa perih.Demi Aldo, aku sudah terlalu lama membohongi keluargaku.Membohongi mereka dengan bilang dia sibuk, bilang dia menyayangiku, bilang dia itu tipe orang yang tertutup.Hingga akhirnya, diriku sendiri pun hampir memercayainya.Aku menelepon ibuku.Suara lembut ibu terdengar, “Bagaimana? Kamu sudah menentukan tanggal pernikahan dengan Aldo? Kapan dia mau ke rumah?”“Ibu, kami sudah putus.”Di balik telepon mendadak hening untuk waktu yang lama.Begitu lama sampai aku mengira ibu bakal memarahiku karena dianggap terlalu impulsif atau membujukku untuk memberi kesempatan sekali lagi pada Aldo.Namun, ibu hanya menghela napas pelan.“Kamu merasa tertekan, ya?”Begitu empat kata itu diucapkan, seluruh pertahanan dan gengsi yang kutahan mati-matian langsun

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status