แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Anna
Berdasarkan lokasi yang tertera di postingan statusnya, aku naik taksi menuju hotel di tepi pantai itu.

Setelah masuk ke dalam taksi, aku menerima notifikasi transaksi dari rekening bersama kami.

Aldo baru saja menggunakan uang dengan jumlah sembilan digit.

Nama tokonya adalah sebuah toko perhiasan.

Di saat yang sama, dia memposting sebuah postingan baru.

Wanita itu mengulurkan tangannya dan di pergelangan tangannya melingkar sebuah gelang berlian.

Keterangannya, [Wanita itu harus dimanja seperti seorang putri.]

Aku menunduk menatap pergelangan tanganku sendiri.

Di sana ada bekas luka yang sangat samar.

Musim dingin tahun lalu, Aldo sakit perut. Aku bangun tengah malam untuk memasak bubur untuknya, lalu tak sengaja tersenggol pinggiran panci yang panas.

Saat itu, dia merasa sangat tidak tega. Dia memegang tanganku dan meniupnya lama sekali.

Dia bilang, “Sayang, mulai sekarang biar aku saja yang mengerjakan hal-hal seperti ini.”

Setelah itu, dia memang mulai belajar memasak bubur.

Hanya saja, bukan untukku.

Di postingannya, saat wanita itu sakit, dia sengan setia mendampingi di samping ranjang dan menyuapinya bubur.

Kelembutan yang kukira telah hilang, ternyata tak pernah lenyap.

Hanya saja sudah berpindah ke orang lain.

Tepat saat aku turun dari taksi, Aldo mengirimkan sebuah foto.

Foto itu memperlihatkan sebuah boneka kangguru berbahan bulu.

Dia bilang, [Sayang, ini lucu, nggak? Aku belikan untuk kamu, ya.”

Aku menekan foto itu.

Di kaca etalase sebelah boneka kangguru, terpantul separuh wajah wanita itu.

Wanita itu bersandar di bahu Aldo, rambutnya berkibar ditiup angin, tersenyum sangat manis.

Aku menyimpan ponselku, lalu berjalan masuk ke dalam hotel.

Di aula sedang diadakan pesta pribadi, di depan pintu dipenuhi bunga mawar putih dan menara gelas sampanye.

Spanduk di sana bertuliskan, [Hari Perayaan Peringatan Tiga Tahun untuk Aldo dan Yuna].

Layar elektronik menayangkan foto-foto Aldo dan wanita itu secara berulang.

Di setiap foto, senyuman Aldo terlihat begitu bahagia.

Aku berdiri membeku di depan pintu, bagaikan orang luar yang tak sengaja menerobos masuk ke dalam kebahagiaan orang lain.

Seketika, aku teringat bulan lalu, saat aku memintanya menemaniku foto pasangan di studio.

Aldo bilang, “Sayang, aku nggak suka difoto.”

Namun sekarang, setiap foto yang ditampilkan di layar itu memperlihatkan wajah tersenyumnya yang menatap langsung ke arah kamera.

Seorang wanita yang memakai gaun putih berlari keluar dari lift, diikuti Aldo di belakangnya.

Wanita itu memakai mahkota ulang tahun yang miring di kepalanya, sambil tertawa menghindari Aldo, “Jangan mendekat, nanti riasan wajahku bisa luntur gara-gara kamu.”

Aldo mengejarnya, lalu merapikan posisi mahkota itu dengan sangat cekatan.

“Aldo.”

Suaraku yang agak gemetar terbawa angin laut masuk ke dalam aula.

Saat melihatku, raut wajah Aldo langsung panik. Dia reflek melepaskan tangannya yang merangkul wanita itu.

Yuna menatapku sejenak, lalu bertanya, “Aldo, dia siapa?”

Suaranya sangat pelan, mirip anak rusa yang ketakutan.

Aldo langsung menunduk dan menenangkannya, “Hanya teman.”

Perjalanan cinta selama tujuh tahun, tiga ribuan hari, pertengkaran dan balikan yang tak terhitung jumlahnya, pada akhirnya disebut ‘hanya teman’.

Aku kira diriku bakal menangis.

Namun anehnya, tak ada setetes air mata pun yang menetes.

Mungkin saat seseorang benar-benar terluka hingga mencapai titik paling menyakitkan, dia malah tak mampu mengeluarkan suara lagi.

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka galeri foto.

“Aku pacar Aldo yang sudah berpacaran tujuh tahun.”

Aku mengangkat ponselku tinggi-tinggi.

Foto pertama, saat malam penyambutan mahasiswa baru di kampus. Aldo berdiri di atas panggung memegang gitar. Setelah bernyanyi, dia menyatakan cintanya padaku di hadapan semua orang.

Foto kedua, saat kelulusan. Aldo memakai seluruh gaji pertamanya untuk membelikan sebuah kalung untukku. Dia membantuku memakainya dengan canggung, lalu berjanji akan membahagiakanku di masa depan.

Foto ketiga, saat demamku mencapai 40 derajat. Aldo menggendongku berlari ke rumah sakit dengan mata yang berkaca-kaca sangking paniknya.

Foto keempat, malam tahun baru di tahun lalu. Aldo sedang membuat pangsit di dapur rumahku. Dengan tangan penuh tepung, dia berkata pada orang tuaku, “Om, tante, tenang saja. Aku bakal memperlakukan dia dengan baik seumur hidupku.”

Video demi video terus terputar.

Wajah Aldo semakin lama semakin pucat.

Yuna pun ikut membeku.

Dia menatap Aldo waktu muda yang ada di dalam layar, lalu air matanya mulai menetes.

“Bukannya kamu bilang kalian sudah lama putus?”

Jakun Aldo bergerak naik turun, tapi tak ada sepatah kata pun yang bisa dia ucapkan.

Orang-orang di sekitar pun mulai menyadari situasinya, lalu berusaha mencairkan suasana dengan canggung.

“Nona, soal perasaan itu nggak bisa hanya dinilai siapa yang datang duluan.”

“Iya, Aldo dan Yuna juga nggak mudah selama tiga tahun ini. Ini baru namanya cinta sejati.”

“Kalau benaran cinta dengan Aldo, seharusnya kamu mengikhlaskan dia.”

“Emangnya kenapa kalau sudah tujuh tahun? Yang nggak pernah dipublikasikan yang termasuk orang ketiga.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 9

    Satu bulan kemudian, uang di rekening bersama kami sudah sepenuhnya dilunasi.Aldo mentransfer kembali bagianku dan ada kelebihan sejumlah uang yang katanya sebagai bentuk kompensasi.Aku mengembalikannya.Aku tak butuh kompensasi darinya.Kompensasi artinya rasa bersalah masih bisa diukur dengan angka, padahal tujuh tahunku yang terbuang tidak akan pernah bisa ditebus dengan nominal berapa pun.Setelah itu, Fiona juga datang mencariku.Dia berdiri di lantai bawah rumahku sambil memegang kue kesukaanku dulu, dengan matanya yang sembap.Dia berkata, “Tara, aku benar-benar sudah tahu salah.”Hari itu angin berhembus sangat kencang. Aku menatapnya, lalu teringat pada musim panas saat kami masih SMA dulu.Kami berdesakan di depan kantin sekolah memakan satu es lilin berdua, sambil tertawa bilang kalau nanti siapa pun yang menikah duluan, yang satunya wajib jadi pengiring pengantin.Ketulusannya nyata.Namun, pengkhianatan ini juga nyata adanya.Aku tak menerima kue itu.“Fiona, aku sudah t

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 8

    Keesokan paginya, aku mengunggah satu postingan.Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun ini, aku menuliskan nama Aldo.Aku tak menangis atau memaki-maki, tapi hanya membeberkan kronologi waktunya dengan sangat jelas.Pernyataan cinta waktu kuliah, pacaran selama tujuh tahun, tinggal bersama, rekening bersama, pertemuan dengan orang tuaku, hingga janji tanggal pernikahan.Serta bagaimana Aldo mulai menjalin hubungan dengan Yuna sejak tiga tahun lalu, mempublikasikan wanita itu di postingannya, membawanya bertemu dengan teman-teman dan ibunya, tapi di saat yang sama terus beralasan padaku sedang perjalanan dinas, sibuk dan menunggu waktu yang tepat.Terakhir, aku mengunggah video yang kuambil di hotel malam itu.Di dalam video tersebut, Aldo bilang sendiri, “Aku bakal menikahimu, tapi juga bakal mengadakan pesta pernikahan dengan dia.”Setelah mengunggahnya, aku mematikan ponsel dan menemani ibu pergi berbelanja ke pasar.Sepanjang jalan ibu terus menggenggam tanganku, sama seperti wakt

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 7

    Aldo tak langsung pergi.Dia berdiri di lantai bawah sampai siang, lalu mengirim banyak pesan di depan pintu rumahku.Dia bilang kalau dirinya sudah menghapus semua kontak Yuna.Dia bilang kalau dirinya akan membalas semua pengakuan status yang terutang padaku selama ini.Dia bilang asal aku mau memaafkannya, dirinya rela berlutut memohon pada seluruh kerabat dan temanku.Tak ada satu pun pesan yang kubalas.Sore harinya, Fiona meneleponku lagi.Kali ini, nadanya tak seberani kemarin, melainkan terdengar sangat lelah.“Tara, kamu benaran harus sekejam ini?”Aku duduk di dekat jendela, memegang cangkir air hangat yang diberikan ibu, lalu bertanya padanya dengan tenang, “Emangnya apa yang kulakukan?”“Gara-gara kamu, Aldo langsung terbang balik malam-malam. Yuna menangis terpuruk sampai sekarang. Dia nggak tahu kalau kamu dan Aldo masih pacaran. Dia juga korban.”“Jadi?”Di seberang telepon mendadak hening sejenak.Aku melanjutkan, “Jadi aku harus menenangkannya, mengucapkan selamat untu

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 6

    Keesokan harinya, aku terbangun oleh suara kegaduhan dari lantai bawah.Ibu berbisik-bisik di luar pintu, suaranya terdengar dingin dan tegas, sesuatu yang jarang sekali terjadi, “Dia nggak mau bertemu denganmu, pergi saja.”Seketika, dadaku terasa sesak. Aku memakai jaket dan berjalan ke arah jendela.Aldo sedang berdiri di lantai bawah. Dia masih memakai kemeja yang sama seperti kemarin, lecek tak beraturan.Saat mendongak dan melihatku, matanya langsung berbinar, seperti menemukan harapan hidupnya yang terakhir.“Sayang, turun sebentar, temui aku.”Aku tak bergerak.Dia terus mendongak, suaranya terdengar sangat serak, “Aku naik penerbangan paling pagi untuk balik ke sini, bahkan nggak sempat membawa koper. Tara, aku benaran sudah tahu salah, tolong jangan buang aku.”Dulu, aku paling tak tahan melihatnya seperti ini.Asalkan dia memanggilku sayang dengan mata berkaca-kaca, hatiku pasti langsung luluh. Aku bakal merasa bahwa perjalanan tujuh tahun itu tak mudah, lalu melupakan semua

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 5

    Saat pesawat mendarat, gerimis halus sedang mengguyur di luar jendela.Saat mengaktifkan ponsel, pesan-pesan yang masuk hampir meledakkan ponselku.Aldo menelepon lebih dari tiga puluh kali. Pesan yang dikirimnya berubah dari bujukan lembut menjadi pertanyaan yang panik.[Sayang, kamu ke mana?][Jangan ngambek lagi, bukannya aku sudah bilang bakal menikahimu?][Apa maksudmu menghapus semua postinganmu?]Pesan terakhir dikirim pada pukul empat pagi.[Sayang, aku sudah tahu salah. Angkat teleponku, ya?]Aku menatap kalimat ‘aku sudah tahu salah’ itu, tiba-tiba merasa sangat miris.Dia tak merasa salah saat aku dipermalukan oleh teman-temannya.Dia tak merasa salah saat mengatakan ingin menikahiku, tapi malah memberikan pesta pernikahan untuk Yuna.Dia juga tak merasa salah saat aku mengetahui bahwa dirinya telah berbohong padaku selama tiga tahun.Dia hanya menyadari aku telah benar-benar pergi.Makanya dia panik.Ibu dan ayah sudah menungguku di pintu kedatangan. Saat melihatku, mata ib

  • Tujuh Tahun Tanpa Status   Bab 4

    Aku berdiri di tepi jalan raya, tiba-tiba ponselku bergetar.Ada pesan masuk dari ayah.Ayah berkata, [Nak, kapan Aldo pulang? Hari ini ibu menanyakan soal pernikahan kalian lagi.]Aku menatap barisan kalimat itu, akhirnya mataku terasa perih.Demi Aldo, aku sudah terlalu lama membohongi keluargaku.Membohongi mereka dengan bilang dia sibuk, bilang dia menyayangiku, bilang dia itu tipe orang yang tertutup.Hingga akhirnya, diriku sendiri pun hampir memercayainya.Aku menelepon ibuku.Suara lembut ibu terdengar, “Bagaimana? Kamu sudah menentukan tanggal pernikahan dengan Aldo? Kapan dia mau ke rumah?”“Ibu, kami sudah putus.”Di balik telepon mendadak hening untuk waktu yang lama.Begitu lama sampai aku mengira ibu bakal memarahiku karena dianggap terlalu impulsif atau membujukku untuk memberi kesempatan sekali lagi pada Aldo.Namun, ibu hanya menghela napas pelan.“Kamu merasa tertekan, ya?”Begitu empat kata itu diucapkan, seluruh pertahanan dan gengsi yang kutahan mati-matian langsun

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status