Keesokan harinya, aku terbangun oleh suara kegaduhan dari lantai bawah.Ibu berbisik-bisik di luar pintu, suaranya terdengar dingin dan tegas, sesuatu yang jarang sekali terjadi, “Dia nggak mau bertemu denganmu, pergi saja.”Seketika, dadaku terasa sesak. Aku memakai jaket dan berjalan ke arah jendela.Aldo sedang berdiri di lantai bawah. Dia masih memakai kemeja yang sama seperti kemarin, lecek tak beraturan.Saat mendongak dan melihatku, matanya langsung berbinar, seperti menemukan harapan hidupnya yang terakhir.“Sayang, turun sebentar, temui aku.”Aku tak bergerak.Dia terus mendongak, suaranya terdengar sangat serak, “Aku naik penerbangan paling pagi untuk balik ke sini, bahkan nggak sempat membawa koper. Tara, aku benaran sudah tahu salah, tolong jangan buang aku.”Dulu, aku paling tak tahan melihatnya seperti ini.Asalkan dia memanggilku sayang dengan mata berkaca-kaca, hatiku pasti langsung luluh. Aku bakal merasa bahwa perjalanan tujuh tahun itu tak mudah, lalu melupakan semua
Baca selengkapnya