MasukLelaki tua itu hanya bisa diam dengan kepala tertunduk dalam-dalam seperti orang linglung. Langkah kakinya terseret tak berdaya saat Adit mendorongnya turun ke lantai bawah. Lampu-lampu yang tadi sengaja dipadamkan kini kembali menyala, menerangi ruangan dengan cahaya putih yang keras dan tanpa ampun.Seno berdiri di sana, matanya memindai seluruh ruangan secara perlahan. Anak buahnya berserakan di mana-mana; ada yang meringkuk di sudut, ada yang terlentang di tengah ruangan, ada yang masih mencoba bangkit namun hanya mampu bertumpu pada satu lutut. Tak ada satu pun yang tampak baik-baik saja.Wajah-wajah itu penuh lebam, napas mereka tersengal-sengal. Beberapa masih memegangi bagian tubuh yang terasa nyeri. Seno terhenyak. Bukan hanya karena kondisi anak buahnya yang menyedihkan itu; melainkan karena ia baru saja mengetahui bahwa semua kehancuran ini hanya dikerjakan oleh empat orang. Hanya empat orang.Bimo, Arman, dan Steven bergerak dengan gesit dan tenang, mengamankan situasi tan
Di atas, situasinya tidak lebih tenang.Dua belas orang berdesakan di lorong lantai dua; semua bersenjata, sebagian besar sudah mengokang senjata mereka sejak tadi. Mereka menghadap ke bawah dari balik pagar balkon, mengintip ke ruangan di bawah dengan ekspresi yang campuran antara marah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.Di ujung lorong, di balik pintu kamar yang setengah terbuka, Seno berdiri.Usianya sekitar enam puluhan. Tubuhnya tidak besar, tapi cara ia berdiri menunjukkan seseorang yang sudah lama terbiasa dihormati. Rambutnya sudah lebih banyak putihnya. Di tangannya ada pistol yang ia pegang dengan cara seseorang yang pernah tapi tidak sering memakainya."Pak Seno," bisik salah satu pengawalnya. Pemuda bertubuh kekar dengan senjata laras panjang yang terlihat terlalu besar untuk lorong sesempit ini. "Kita tembak saja dari sini. Mereka cuma sedikit orang.""Kamu sudah hitung yang di bawah?" balas Seno pelan.Pemuda itu tidak menjawab."Puluhan orang di bawah sana," kata
Dua langkah Adit masuk ke ruang depan rumah megah itu, orang-orang bersenjata tajam segera menyerbunya. Dua orang pertama dari arah kanan dan kiri telah sampai; mengayunkan pedang panjang dengan penuh emosi dan hampir bersamaan.Di mata mereka, Adit tiba-tiba hilang dan itu sungguh mengagetkan. Sebetulnya yang terjadi tidaklah begitu. Adit hanya bergerak dengan sangat cepat dan seolah-olah ia menghilang, lalu tiba-tiba muncul di sisi kanan ruangan itu, di tempat yang kosong dari orang-orang yang memusat di tengah.Di sana, Adit mengangkat sebuah sofa dengan begitu mudahnya, lalu melemparkan sofa itu seolah ia sedang melemparkan bantal.Sofa panjang dan besar yang bobotnya mungkin 50an Kg itu menghantam kerumunan. Tak semua bisa menghindar dan mereka tertimpa.Terdengar suara jeritan dan umpatan. Saat mereka kembali menatap Adit, sofa-sofa lain sudah menyusul beterbangan ke berbagai arah.Kepanikan dan keributan langsung pecah dan di situasi seperti itu, Adit kembali bergerak dengan be
Teriakan pendek itu ternyata memicu reaksi berantai yang tak terelakkan. Tak butuh waktu lama, lampu di lantai dua bangunan utama mendadak menyala terang, membelah kegelapan malam. Dari dalam rumah, suara langkah kaki yang tergesa-gesa menggema, disusul suara pintu samping yang dihempaskan terbuka dengan kasar.Empat orang muncul sekaligus dari balik pintu. Dua di antaranya langsung mengangkat senjata dengan sigap, menodongkan moncong hitamnya ke arah kegelapan yang tak pasti, seolah mencoba mengancam bayangan yang bersembunyi di sana."Siapa di sana!" teriak salah satu dari mereka, suaranya parau tertahan ketegangan.Namun, kegelapan tidak memberi jawaban. Alih-alih suara, yang datang justru sebuah serangan dari arah yang sama sekali tak terduga; bukan dari depan, bukan pula dari samping, melainkan dari atas kepala mereka.Adit melompat turun dari loteng teras bangunan dengan gerakan yang hampir tak bersuara. Meski ketinggiannya tidak seberapa, gravitasi memberikan momentum yang cuku
Halaman itu ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat di foto udara. Adit berjalan merapat ke sisi tembok. Ia memanfaatkan bayangan pohon yang jatuh miring di bawah cahaya bulan sebagai pelindung. Matanya menyapu area depan dengan waspada. Di sayap kanan bangunan, ia menangkap satu titik cahaya yang bergerak.Seseorang sedang berpatroli. Orang itu membawa senter kecil yang nyalanya justru lebih mengkhianati posisinya daripada menerangi jalan.Adit berhenti. Ia menunggu dalam diam.Penjaga itu berjalan santai dengan langkah yang tidak waspada. Itu adalah langkah seseorang yang sudah terlalu bosan melakukan rutinitas yang sama setiap malam. Cahaya senternya menyapu dinding, lalu menyapu tanah, dan sesekali berhenti di udara kosong.Ketika penjaga itu memutar badan untuk berbalik arah, Adit sudah berada tepat di belakangnya.Dengan satu gerakan, tangan kiri Adit membekap mulut pria itu dengan kuat, sementara tangan kanannya bekerja di titik saraf yang tepat pada sisi leher. Dalam d
Adit berhenti tepat di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan. Akar pohon yang perkasa itu menyembul keluar hingga mengangkat permukaan trotoar di sekelilingnya. Cabang-cabang pohon tersebut menjulur panjang ke arah tembok rumah Seno. Meskipun tidak sampai melewati garis tembok, posisi dahan-dahannya sudah cukup dekat untuk dijadikan pijakan.Sebelum memulai aksi, Adit menoleh sejenak ke arah tiga rekannya yang bersiaga di belakang. Tidak ada instruksi verbal yang keluar dari mulutnya. Ia hanya memberikan sebuah anggukan kecil yang langsung dipahami sepenuhnya oleh Arman, Bima, dan Steven sebagai tanda dimulainya penyerbuan.Dengan satu gerakan eksplosif, Adit melompat ke arah pohon tersebut. Tangannya meraih cabang pertama dengan akurasi yang luar biasa, seolah ia sudah mengukur setiap inci jaraknya. Tubuhnya terangkat dengan ringan, kakinya berputar lincah, dan dalam satu gerakan mengalir yang menyerupai air, ia sudah berpindah ke cabang yang lebih tinggi. Tidak ada
Lima menit berlalu; Lima menit yang terasa seperti berjam-jam bagi semua orang yang menonton dari dalam bus.Clara menatap keluar jendela dengan wajah pucat; tangannya gemetar memegang ponsel. Dia melihat Adit bergerak dengan kecepatan yang melampaui manusia normal, melumpuhkan satu demi satu peram
Clara berdiri di tengah ruang tamu, membuka naskahnya ke halaman yang sudah ia tandai dengan sticky note merah. Matanya menyapu teks dengan cermat, lalu ia menatap Adit dengan senyum yang profesional, tapi ada sesuatu yang berkilat di matanya, sesuatu yang lebih dari sekadar niat latihan biasa."Ok
Adit yang sudah kehilangan semua pertahanannya, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.Tangannya bergerak memeluk pinggang Melinda, menarik tubuh wanita itu semakin dekat sampai mereka bersentuhan sepenuhnya; dada ke dada, pinggul ke pinggul.Melinda mengerang pelan di dalam ciuman, tanga
Keesokan paginya, Adit terbangun dengan perasaan yang aneh; campuran antara bahagia dan gelisah. Pengalaman semalam masih terasa sangat nyata di ingatannya. Sensasi melayang, alam yang indah bersama Larasati. Adit seolah menemukan solusi bagaimana mereka pacaran dan melepas rindu tanpa ketahuan ora







