Beranda / Urban / Tukang Pijat Tampan / Kejadian Di Sore Hari

Share

Kejadian Di Sore Hari

Penulis: Black Jack
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-05 15:49:17

Adit bersandar di jok mobil, mencoba mencerna situasi. Cincin itu memang tidak terlihat bentuk fisiknya. Hanya seperti tatto di jari tangan adit. Namun demikian, Adit merasakannya saat merabanya.

Dan kini, dekat dengan Larasati, ia tak mengerti kenapa jemarinya itu terasa hangat.

Larasati mengemudi dengan ekspresi tegang, matanya sesekali melirik ke kaca spion seakan-akan sedang memastikan sesuatu. Di luar, matahari mulai condong ke barat, lampu-lampu jalanan mulai menyala, menciptakan bayangan panjang di kota yang masih cukup ramai.

"Kamu bilang ada yang mengejarmu?" Adit akhirnya membuka suara.

Larasati menggigit bibirnya, lalu mengangguk. "Ya, dan aku tidak tahu harus lari ke mana lagi."

Adit menghela napas. "Tapi kenapa aku? Kenapa kamu tiba-tiba menyeretku ke dalam masalah ini?"

Larasati tidak langsung menjawab. Ia membelokkan mobil ke sebuah jalan kecil yang lebih sepi, lalu mematikan mesin. Di bawah cahaya senja yang mulai meredup, wajahnya tampak sedikit pucat.

"Karena aku yakin kamu bisa melindungiku. Dan... ada hal aneh yang terjadi sejak aku bersentuhan denganmu," ucapnya lirih.

Adit mengepalkan tangan. Ia sangat yakin, itu pasti karena cincin tinggalan kakeknya dan hal itu membuatnya terseret dalam situasi yang semakin rumit. Masalahnya, Adit tak tahu bagaimana melepaskannya; cincin itu sudah berubah menjadi tatto.

Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, suara deru mobil mendekat dengan cepat. Larasati tampak panik, segera menyalakan kembali mesin mobil.

"Mereka menemukan kita! Pegangan!" seru Larasati. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam.

Mobil melaju kencang di jalanan sempit, suara klakson dan ban berdecit terdengar dari belakang. Adit menoleh dan melihat sebuah sedan hitam mengejar mereka dengan kecepatan tinggi. Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Siapa mereka?" tanya Adit.

"Orang-orang yang ingin mengambil sesuatu dariku," jawab Larasati singkat.

Tiba-tiba, suara tembakan terdengar! Kaca belakang mobil retak, Larasati berteriak tertahan. Adit langsung merunduk refleks.

"Sial! Mereka benar-benar serius!" Adit meraih sabuk pengaman dan mengencangkannya. "Kita nggak bisa terus lari begini. Kamu tahu tempat aman?"

"Ada," jawab Larasati. "Tapi kita harus sempat sampai ke sana dulu!"

Mobil berbelok tajam, hampir kehilangan kendali, tapi Larasati tetap memegang kemudi dengan kuat. Adit merasakan cincin di jarinya mulai hangat, seolah merespons ketegangan situasi. Ada sesuatu yang mengalir dalam tubuhnya, perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

"Laras!" seru Adit tiba-tiba. "Ke kiri!"

Tanpa bertanya, Larasati membanting setir ke kiri. Sedan hitam yang mengejar mereka tidak siap dengan manuver mendadak itu dan melaju lurus, kehilangan jejak sesaat.

Larasati tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menekan gas lebih dalam, membawa mereka menjauh. Setelah beberapa menit, ia akhirnya memperlambat mobil dan memasuki sebuah gang tersembunyi di belakang bangunan tua.

Mereka berdua terengah-engah. Suasana di dalam mobil terasa sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar.

"Aku rasa kita aman untuk sementara," bisik Larasati.

Adit menatapnya. "Sekarang kamu bisa jelaskan? Siapa yang mengejarmu dan kenapa?"

Larasati diam beberapa saat, lalu menarik napas dalam. "Mereka orang-orang yang dulu berurusan dengan keluargaku. Ada sesuatu yang mereka inginkan, dan aku satu-satunya yang tahu di mana itu berada."

Adit mengernyit. "Sesuatu? Apa maksudmu?"

“Aku belum bisa bercerita sekarang,” kata Larasati.

Adit duduk bersandar di jok mobil, masih mencoba mengatur napasnya. Sementara itu, Larasati mengintip dari celah jendela, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka lagi. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, langit berubah menjadi oranye kemerahan yang kontras dengan ketegangan yang masih menggantung di antara mereka.

"Sepertinya kita sudah aman," ucap Adit, meski di dalam hatinya ia masih waspada.

Larasati menarik napas panjang, lalu menatap Adit. "Aku tahu kamu pasti punya banyak pertanyaan." Matanya terlihat sedikit lelah, tetapi sorotnya tetap tajam.

Adit mengangguk. "Ya, dan aku rasa ini waktunya kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka mengejarmu?"

Larasati menunduk, jemarinya saling menggenggam di pangkuannya. "Aku nggak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Tapi yang jelas, ini berhubungan dengan keluargaku. Dengan sesuatu yang berharga yang mereka inginkan dariku."

Adit menatapnya tajam. "Sesuatu? Apa itu?"

Larasati menggeleng. "Aku nggak bisa memberitahumu sekarang. Tapi satu hal yang aku tahu pasti… sejak bersentuhan denganmu, ada sesuatu yang berubah."

Adit mengernyit. "Berubah bagaimana?"

Larasati menggigit bibirnya, lalu mengangkat telapak tangannya, memperlihatkan punggung tangan yang tadi sempat bersentuhan dengan Adit.  “Genggam tanganku…”

Tanpa bertanya, Adit melakukannya.

"Aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Tapi ada rasa… hangat, dan sesuatu seperti getaran yang aneh di tubuhku sejak saat itu."

Adit menatap tangannya, lalu merasakan cincin di jarinya sedikit berdenyut. Ia mulai menyadari bahwa cincinnya tidak hanya sekadar memberikan efek biasa. Ada hal lain yang lebih dalam yang belum ia pahami sepenuhnya.

Keduanya sama-sama diam. Tangan Adit masih menggenggam tangan Larasati. Ia melihat wajah sosok yang cantik itu bersemu kemerahan. Dan ada tanda-tanda serupa dengan orang yang pernah ia pijat, meski Laras tak seekstrim itu menunjukkannya.

“Cukup…” kata Larasati.

Adit melepaskan genggaman tangannya.

Sebelum Adit sempat bertanya lebih jauh, Larasati kembali berbicara, kali ini suaranya lebih tegas. "Kita harus berpisah untuk sementara. Aku nggak ingin kamu terseret lebih jauh ke dalam masalah ini."

Adit mengerutkan dahi. "Kamu pikir aku bisa lepas begitu saja setelah apa yang terjadi? Aku sudah terlibat, Laras. Dan aku juga nggak bisa membiarkanmu menghadapi ini sendirian."

Larasati terdiam beberapa saat, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Kalau begitu… kita akan bertemu lagi. Aku yang akan menghubungimu. Untuk sementara, jangan cari aku. Jangan ikut campur sebelum aku siap menjelaskan semuanya."

Adit tahu ada banyak hal yang masih disembunyikan Larasati, tetapi ia juga sadar bahwa memaksanya sekarang hanya akan membuat keadaan semakin rumit. Akhirnya, ia mengangguk setuju. Toh ia juga tak tahu bagaimana harus mencari wanita kaya itu.

Larasati menyalakan kembali mobilnya dan mengantarkan Adit kembali ke tempat kerjanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Ukir Sugita
lanjut penasaran
goodnovel comment avatar
SANDRO MITRA05
apakah ini jodohnya adit nanti ?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Dijemput Raymond

    Setelah take keempat yang sukses, syuting berlanjut dengan sangat lancar. Adegan demi adegan diambil dengan hasil yang memuaskan, chemistry Adit dan Clara kembali menguat, ekspresi natural, tidak ada lagi pengulangan berkali-kali.Sentuhan energi yang Adit berikan tadi, meski sedikit dan hanya sesaat, seperti membuka kembali sesuatu dalam diri Clara. Sesuatu yang tadi tertutup oleh kekhawatiran dan ketakutan.Clara kembali seperti semula; fokus, profesional, tapi juga... ada api di matanya. Api yang membuat setiap adegan terasa hidup.Pak Teguh sangat puas. "Bagus! Bagus sekali! Kalian berdua hari ini luar biasa. Kita selesai lebih cepat dari jadwal!"Kru bertepuk tangan. Semua orang merasa lega karena proses syuting berjalan mulus tanpa drama.Tapi di dalam pikiran Clara; keadaan tidak semulus yang terlihat di luar.Sepanjang sisa syuting hari itu, dia seolah melupakan Raymond. Melupakan ancaman dari kakaknya. Melupakan semua tekanan yang menimpanya sejak malam perjodohan itu.Dunian

  • Tukang Pijat Tampan   Perubahan Clara

    Waktu libur dua hari berlalu begitu cepat; seolah hanya sekejap mata. Adit bahkan tidak sempat benar-benar istirahat karena pikirannya terus dipenuhi dengan berbagai hal.Hari Rabu pagi, syuting kembali dimulai. Lokasi kali ini di studio dengan set interior apartemen mewah yang menjadi tempat tinggal karakter Alicia. Adegan hari ini cukup berat; adegan di mana hubungan Arjuna dan Alicia mulai melewati batas.Adit tiba di studio sekitar pukul delapan pagi. Begitu masuk, dia langsung merasakan ada sesuatu yang berbeda.Clara yang biasanya menyapanya dengan senyum lebar dan semangat tinggi; kali ini hanya tersenyum tipis, mengangguk singkat, lalu sibuk dengan ponselnya di pojok ruangan.‘Aneh, dia kenapa ya?’ pikir Adit sambil berjalan menuju ruang make-up.Proses make-up dan kostum berjalan seperti biasa. Adit mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing atas terbuka, terlihat casual tapi tetap menarik. Clara mengenakan lingerie set berwarna merah marun yang ditutupi dengan kimono sutra t

  • Tukang Pijat Tampan   Terdesak Paksaan

    Clara tersenyum tipis, senyum yang sopan, elegan, dan tidak menyinggung."Pak Ranuwijaya, saya sangat menghargai niat baik Bapak dan keluarga," katanya dengan nada yang lembut tapi tegas. "Tapi saya harus jujur... saya sama sekali belum siap untuk memikirkan pernikahan saat ini."Dia berhenti sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati."Karir saya sedang di puncak. Film saya yang terbaru masih dalam proses syuting dan akan memakan waktu beberapa bulan lagi. Saya... belum punya ruang untuk memikirkan hal-hal seperti ini."Pak Ranuwijaya mengangguk paham, tapi senyumnya tidak memudar. "Tentu, tentu. Kami mengerti. Karir penting.""Dan..." Clara melanjutkan dengan nada yang lebih hati-hati. "Malam ini terlalu... tiba-tiba bagi saya. Saya tidak tahu akan ada pembicaraan seperti ini. Jadi saya mohon maaf, tapi saya belum bisa memberikan jawaban apapun saat ini."Hening sejenak.Papa Clara terlihat sedikit kecewa, tapi dia tidak berkomentar. Mama Clara menatap Clara dengan pandangan yang s

  • Tukang Pijat Tampan   Clara Dijodohkan

    Malam itu, saat Adit sedang berada di rumah Renata, mengobrol santai sambil menikmati teh hangat dan kue kering sambil menonton drama di TV, di tempat lain, ponsel Clara bergetar keras di atas meja makan apartemennya yang mewah itu.Dia mengangkat dengan ekspresi bingung. Papanya yang meneledon. "Halo Papa… ada apa?""Clara, kamu harus pulang sekarang," suara Papa-nya terdengar tegas di ujung sana. "Ada tamu penting yang datang. Mereka sudah di jalan."Clara mengerutkan kening. "Tamu? Siapa, Pa? Aku tidak tahu ada acara malam ini.""Rekan bisnis Papa. Keluarga Ranuwijaya. Mereka mau berkunjung. Ini penting. Kamu harus ada di rumah."Clara menghela napas, lelah setelah seharian istirahat dari perjalanan panjang Paris. "Pa, aku capek. Baru pulang dari luar negeri tadi pagi. Tidak bisa besok aja?""Tidak bisa," jawab Papa-nya dengan nada yang tidak memberi ruang untuk negosiasi. "Ini sangat penting. Kamu harus pulang sekarang. Pakai baju yang rapi. Jangan casual."Sebelum Clara sempat pr

  • Tukang Pijat Tampan   Membawakan Oleh-Oleh

    Sampai di rumah Adit langsung merasakan kelegaan yang luar biasa. Rumahnya. Tempat yang familiar. Tempat yang aman.Vera membantu membawa koper masuk, lalu keduanya duduk sebentar di ruang tengah. Adit di sofa, Vera di seberangnya.“Akhirnya… lega banget sampai rumah…”“Hehehe… sehebat-hebatnya dunia luar, rumah sendiri tetap yang terbaik…”“Bener… oh iya, aku ada sesuatu buat kamu," kata Adit sambil membuka koper besarnya yang masih berantakan dengan pakaian dan berbagai barang.Dia mengeluarkan beberapa kotak; satu kotak cokelat mewah dari toko terkenal di Paris dengan kemasan yang sangat cantik, dan beberapa souvenir kecil seperti gantungan kunci Menara Eiffel, magnet kulkas dengan pemandangan Paris, dan syal sutra tipis berwarna ungu lembut."Ini buat kamu," kata Adit sambil menyerahkan semuanya pada Vera.Vera menerima dengan senyum lebar; matanya berbinar melihat cokelat dan souvenir itu. "Wah! Makasih, Dit! Asyikkk… aku dapat oleh-oleh. Hehehe…"Dia membuka kotak cokelat sebent

  • Tukang Pijat Tampan   Pulang

    Setelah sarapan bersama di restoran hotel di mana Clara terlihat lebih segar meski masih sedikit lemas, mereka berkumpul di lobby bersama seluruh tim.Pak Teguh mengumumkan dengan senyum lebar. "Oke, seperti yang Bu Ria bilang kemarin, hari ini kita libur! Tidak ada syuting, tidak ada jadwal ketat. Kalian bebas jalan-jalan, explore Paris, beli oleh-oleh, apapun yang kalian mau. Besok siang kita flight pulang ke tanah air. Jadi hari ini... enjoy aja!"Semua orang bersorak senang; terutama para kru yang memang sudah lelah setelah kerja keras."Tapi tetep jaga kesehatan ya," tambah Pak Teguh sambil menatap semua orang. "Jangan sampai ada yang sakit atau kenapa-kenapa. Kita masih harus pulang dengan selamat."Setelah briefing singkat, mereka semua bubar, ada yang pergi berdua, ada yang sendirian, ada yang pergi berempat.Clara mendekat pada Adit dengan senyum. "Dit, yuk jalan bareng. Aku mau beli oleh-oleh."Adit ragu sejenak, tapi menolak akan terlihat aneh. Lagipula, ini siang hari. Di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status