Beranda / Urban / Tukang Pijat Tampan / Pertarungan Kedua Di Malam Itu

Share

Pertarungan Kedua Di Malam Itu

Penulis: Black Jack
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-03 22:14:31

Suasana masih riuh. Beberapa pertarungan telah terjadi dan kini Adit pun sedang menonton sebuah pertarungan yang seru. Sesekali Adit menatap Seina. Dan beberapa kali pula tatapan mereka bertemu sekian detik saja.

Seina sungguh penasaran dengan Adit. Dua kali ia telah melihat Adit menang melawan lawan yang berat. Kemenangannya seolah kebetulan. Namun ia berpikir, hal itu bukanlah sebuah kebetulan.

Pertarungan sedang Adit lihat akhirnya selesai juga. Lawan yang kalah tampak berdarah-darah. Penont
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Dua Pucuk Pistol Baru

    Adit menoleh ke arah Vera yang sedari tadi menyimak.“Mereka mau ke sini?”“Iya. Udah aku kasih ancer-ancer… tapi sebaiknya aku sharelock juga aja…”“Lebih baik gitu…” kata Vera.Sekitar tiga puluh lima menit kemudian, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Adit mengecek dari jendela, memastikan itu memang Bayu dan Joko.Ternyata benar. Adit bergegas ke depan, membuka gerbang.Bayu dan Joko turun dari motor, keduanya mengenakan jaket hitam dan membawa tas ransel kecil. Mereka berjalan masuk dengan langkah cepat."Di sini kamu tinggal?” kata Bayu."Iya, Bang. Makasih udah datang cepat."Joko juga menyapa dengan ramah. "Adit, rumah baru kamu ini bagus. Enak. Tenang… sepi…”Adit tersenyum kecil. "Makasih, Mas. Tapi tolong jangan cerita ke siapapun soal rumah ini. Aku mau cari ketenangan di sini…”"Tenang, Dit. Kami tidak akan cerita," jawab Bayu serius.Mereka masuk ke ruang tengah. Vera sudah duduk di sofa dengan wajah yang serius.Adit memperkenalkan. "Ini Vera, manajer aku. Ve

  • Tukang Pijat Tampan   Butuh Senjata?

    Adit menatap Vera, mempertimbangkan kata-katanya dengan serius.Tapi lalu dia menggeleng lagi. "Tidak usah, Ver."Vera terlihat frustasi. "Kenapa?""Aku tidak mau ketenangan di rumah ini terganggu dengan datangnya orang media. Wartawan akan datang. Kamera akan nongkrong di depan rumah. Tetangga akan ribut. Aku... aku capek dengan semua itu."Adit menghela napas panjang, terlihat lelah."Dulu pas kasus Jenderal Guntur viral, ibaratnya, aku selalu dikerubungin wartawan setiap hari. Aku tidak bisa keluar dengan tenang. Setiap gerak-gerik dipantau. Aku tidak mau mengalami itu lagi. Sekarang sama saja sih. Tapi setidaknya, di rumah ini, rasanya tenang…"Vera terdiam, paham perasaan Adit. Memang benar. Viral membawa perlindungan, tapi juga membawa gangguan.Lalu Vera mencoba pendekatan lain. "Oke, kalau begitu... bagaimana kalau kamu kasih tahu Renata? Minta dia kirim beberapa orang untuk ngawalin kamu?"Adit langsung menggeleng keras. "Tidak. Aku tidak mau melibatkan Renata lagi. Dia baru

  • Tukang Pijat Tampan   Apa Solusinya?

    Adit segera mengambil ponselnya. Lalu dia menelpon Vera.Sambungan tersambung setelah dua nada tunggu."Halo, Dit? Ada apa telpon jam segini? Kamu udah di rumah? Udah makan?" Sahut Vera menjawab telefon."Ver, kamu bisa ke rumah sekarang? Ada... kejadian," kata Adit dengan nada yang berusaha tenang."Kejadian apa? Kamu aman?""Aku aman. Tapi... ada yang ngirim ancaman. Kepala babi sama surat ancaman mati. Di lempar ke halaman rumah."Hening sejenak di ujung sana."APA?!" suara Vera meninggi. "Oke, aku langsung kesana. Tunggu aku. Jangan kemana-mana. Kunci pintu!""Oke, Ver."Sambungan terputus.Adit menatap kardus berisi kepala babi itu dengan perasaan jijik dan marah. Dia tidak mau menyentuhnya lagi, jadi dia membiarkan kardus itu terbuka di lantai ruang tengah.Lalu dia teringat, CCTV.Adit langsung pergi ke ruang kecil di samping dapur di mana monitor CCTV terpasang. Dia memutar rekaman dari sekitar satu jam yang lalu, saat dia belum pulang.Layar menampilkan gambar hitam putih dar

  • Tukang Pijat Tampan   Ancaman Misterius

    Malam sudah larut, pukul delapan lewat, tapi Raymond masih berada di kantornya yang luas dan mewah di lantai dua puluh lima gedung Semesta Group. Ruangan itu didekorasi dengan furniture modern yang mahal, jendela kaca besar yang menghadap ke pemandangan kota Jakarta yang berkelap-kelip, dan meja kerja besar dari kayu jati solid.Raymond duduk di kursi direktur dengan postur santai, mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, dasi yang sudah dilonggarkan, dan segelas whisky di tangan kanannya.Di depan mejanya, berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan jas hitam, bernama Hendra, salah satu kepala keamanan pribadi Raymond yang juga berfungsi sebagai... investigator tidak resmi untuk urusan-urusan yang lebih sensitif."Jadi?" tanya Raymond sambil menyeruput whisky-nya dengan santai. "Apa yang kamu dapat hari ini?"Hendra membuka tablet di tangannya, lalu mulai melaporkan dengan nada yang profesional."Hari ini Nona Clara syuting dari pagi hingga sore, sekitar pukul

  • Tukang Pijat Tampan   Mengerjakan Adegan Sulit

    Setelah istirahat selesai, semua orang kembali ke set dengan suasana yang sedikit lebih tegang dari biasanya.Adegan ranjang selalu menjadi momen yang menantang, bukan hanya bagi aktor, tapi juga bagi seluruh kru. Semua harus profesional, semua harus fokus, dan semua harus menjaga batasan yang tepat antara seni dan realitas.Set sudah disiapkan dengan sempurna, sebuah kamar tidur mewah dengan ranjang king size beralaskan seprai sutra berwarna putih gading, pencahayaan yang lembut dan hangat dari lampu samping tempat tidur, dan jendela besar dengan tirai tipis yang sedikit terbuka, menciptakan siluet cahaya bulan yang romantis.Pak Teguh berdiri di samping kamera dengan naskah di tangan, memberikan arahan terakhir kepada Adit dan Clara yang sudah berdiri di samping ranjang dengan kostum minimal, Adit hanya mengenakan celana pendek kain, tanpa baju. Clara mengenakan lingerie set berwarna putih dengan kimono sutra tipis yang hampir transparan."Oke, dengar baik-baik," kata Pak Teguh deng

  • Tukang Pijat Tampan   Jujur Dengan Perasaan

    Syuting di hari berikutnya dimulai dengan suasana yang... berbeda.Tidak ada yang bisa dijelaskan dengan jelas, tapi ada ketegangan yang terasa di udara. Ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh Adit dan Clara.Keduanya datang tepat waktu, menjalani proses make-up dan kostum seperti biasa, lalu mulai syuting dengan profesional.Tapi ada yang berbeda.Clara kadang moodnya bagus, tersenyum, fokus, aktingnya natural dan kuat. Tapi kadang dia terlihat... kosong. Matanya menatap tapi tidak benar-benar melihat. Dialognya keluar tapi terdengar... mekanis.Adit juga tidak jauh berbeda. Dia berusaha fokus, berusaha profesional, tapi pikirannya terus melayang. Ke Clara. Ke Raymond.Keduanya sama-sama memendam pikiran yang membuat mereka tidak bisa maksimal dalam berakting.Tapi untungnya, hasilnya masih di fase aman. Pak Teguh tidak meminta take ulang. Chemistry mereka masih cukup kuat untuk menutupi kekurangan-kekurangan kecil."Oke, bagus! Next scene!" teriak Pak Teguh setelah adegan percaka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status