LOGINDi sela-sela jeda pengambilan gambar yang melelahkan, Bu Ria menghampiri Adit yang masih terduduk di kursi riasnya.Bu Ria adalah tipe produser yang seolah mengharamkan kursi bagi dirinya sendiri; ia tidak pernah terlihat duduk, selalu berdiri, dan selalu bergerak.Tangannya tak pernah kosong, selalu ada naskah yang dibaca, ponsel untuk mengetik pesan, atau berkas yang ia tandatangani bahkan sambil bicara dengan orang lain.Perempuan berusia lima puluh tahun itu memiliki ciri khas kacamata yang selalu bertengger sedikit miring di hidungnya, serta suara mantap yang sanggup memenuhi ruangan tanpa perlu sedikit pun ditinggikan."Adit," katanya, "Kami sudah berdiskusi, aku, Pak Teguh, dan beberapa orang di tim inti." Bu Ria sedikit merendahkan suaranya. Bukan karena ada rahasia besar, tapi instingnya sebagai orang lapangan mengatakan bahwa percakapan sensitif ini tak perlu menjadi konsumsi seluruh orang di studio. "Kami ingin menawarkan sesuatu."Adit hanya diam menunggu, menatap pantulan
Clara datang tanpa banyak kata pendahuluan. Kedua tangannya melingkar di bahu Adit sebelum jarak di antara mereka sempat ditutup sepenuhnya, dan pelukan itu bukan pelukan basa-basi yang singkat dan sopan. Pelukan itu adalah pelukan yang mengandung sesuatu yang sudah disimpan selama beberapa hari terakhir dan baru sekarang menemukan tempatnya untuk diletakkan.Adit tidak kaku. Ia membalasnya dengan satu tangan yang menepuk punggung Clara pelan, cara yang tidak berlebihan, tapi juga tidak dingin.Beberapa detik berlalu.Clara mundur, memandang Adit dari jarak dekat dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa disebut bahagia tapi juga jauh sekali dari sedih. "Akhirnya…" katanya. Hanya satu kata, tapi diucapkan dengan nada seseorang yang bermaksud mengatakan jauh lebih banyak dari dua kata dan memilih bahwa dua kata itu sudah cukup mewakili semuanya.Clara melirik sekilas ke arah Vera yang berdiri dua langkah di belakang dengan gelas kopi yang baru saja ia ambil dari asisten produksi, lalu
Pagi itu menyusup masuk melalui celah-celah gorden dengan cara yang asing, hampir-hampir terasa janggal bagi indra pendengaran Adit. Biasanya, harinya dimulai dengan hiruk-pikuk yang kaku; suara statis dari radio panggil yang saling bersahutan di depan dan samping bangunan utama.Pagi itu sudah terasa sunyi. Satu-satunya yang memecah keheningan hanyalah pekikan alarm dari ponsel Adit yang bergetar di atas nakas tepat pukul enam pagi. Setelah ia mematikannya, keheningan sempat kembali bertahta sejenak, sebelum kemudian digantikan oleh gemericik air yang samar dari balik dinding kamar mandi sebelah. Vera sudah bangun lebih dulu, dan suara air itu menjadi pengingat ritmis bahwa rutinitas normal telah kembali.Hari itu bukan hari untuk waspada atau bersembunyi. Hari itu adalah jadwal syuting.Adit terduduk di tepi tempat tidur, membiarkan tubuhnya meresapi keempukan kasur untuk beberapa detik terakhir. Matanya menyipit, berusaha menyesuaikan diri dengan sebilah cahaya matahari yang membel
Cahaya benderang menyambut kedatangan konvoi itu saat mereka memasuki pelataran rumah Renata. Setiap sudut bangunan tampak sudah terjaga, memancarkan pendar kuning yang kontras dengan kegelapan malam di luar sana.Tampaknya Joko telah membaca situasi lebih cepat dari siapa pun, entah karena ada laporan yang masuk lebih dulu atau karena ia telah membedah pola komunikasi radio yang ia pantau dengan teliti sepanjang malam. Gerbang besi yang kokoh itu berayun terbuka bahkan sebelum kendaraan pertama sempat menginjakkan rem sepenuhnya.Bayu turun dari SUV dengan gerakan yang terasa sedikit berat. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia secara tak sadar menopang punggungnya dengan satu tangan, sebuah gestur kecil yang mengkhianati rasa lelahnya. Adrenalin yang sejak tadi menjadi penopang kini mulai surut, membiarkan keletihan yang luar biasa merembes naik ke permukaan."Berapa orang yang harus segera ditangani?" tanya Bayu tanpa menoleh pada Roni yang berjalan cepat di sampingnya untuk melapor.
Motor-motor berserakan seperti bangkai besi yang teronggok tak berdaya di atas aspal, menciptakan labirin hambatan yang menyulitkan siapa pun untuk bergerak. Di tengah semua itu, sebuah kendaraan besar yang tadinya menjadi simbol kekuatan untuk memblokir jalan, kini berdiri miring dengan posisi yang menyedihkan.Ban depannya telah habis, mungkin tersayat tajam atau meledak karena tekanan, sebuah detail krusial yang luput dari perhatian semua orang. Tidak ada yang tahu pasti kapan atau bagaimana kendaraan itu dilumpuhkan; di tengah badai kekacauan yang menghancurkan logika, detail-detail kecil seperti itu terkubur oleh insting bertahan hidup yang jauh lebih mendesak. Malam itu, jalanan bukan lagi milik mereka yang bersenjata, melainkan milik kesunyian yang mencekam pasca-badai."Mundur! Mundur semua!"Pekikan itu membelah udara, muncul dari barisan belakang orang-orang Pancasona yang masih tersisa. Itu bukan suara sang komandan yang saat ini mungkin masih tertidur di atas aspal dingin
Adit merangsek lebih dalam, membiarkan dirinya ditelan oleh lautan manusia yang mulai kehilangan nalar. Jaraknya kini sudah mencapai tiga puluh meter dari SUV yang ditinggalkannya, sebuah jarak yang cukup untuk membuat sosoknya tampak seperti titik kecil yang dikeroyok badai di tengah aspal.Dari sudut pandang orang awam, apa yang dilakukan Adit adalah sebuah tindakan bunuh diri yang mencolok; menyerbu ke titik paling padat dari kepungan lawan. Namun, bagi Adit, kerumunan ini bukanlah tembok, melainkan air. Ia bergerak dengan ketenangan seorang penyelam profesional yang sudah hafal setiap lekukan arus dan tekanan di kedalaman, memahami bahwa di balik kegaduhan itu, ada pola yang bisa ia manipulasi.Kecepatan adalah satu-satunya anomali yang tidak bisa diredam oleh jumlah sebanyak apa pun, dan itulah kebenaran pahit yang mulai merayap di benak orang-orang Pancasona pagi itu. Pemahaman mereka tidak datang melalui logika, melainkan melalui rasa sakit yang datang sebelum mata sempat berke
Mereka kini berdiri di depan Panel 2 yang masih kusam, lalu menatap detail gambarnya; gambar di mana si lelaki dalam posisi berdiri dan si perempuan dalam posisi jongkok.Mereka sama-sama tahu apa itu. Dan gambar itu membuat mereka berdua sama-sama malu.“Kita udah nggak pakai baju di sini, Dit…”“
Mereka keluar dari area apartemen dengan mobil Vera. Perjalanan ke mall terdekat terasa normal, tetapi begitu mereka memarkirkan mobil di basement, Vera sudah tidak sabar.“Ingat ya, jangan pasang muka serius. Kamu itu sekarang seleb,” bisik Vera saat mereka berjalan menuju eskalator.“Aku cuma mau
Sampailah Adit di apartemen Vera setelah seharian menghabiskan waktu di markas Pak Robert membahas banyak hal. Ia akan mengikuti saran Pak Robert; pindah ke markas itu untuk sementara waktu.Vera sudah datang sejak tadi sore. Dan ia segera membukakan pintu untuk Adit.“Gimana? Kamu aman?”“Aman. Ad
Malam itu, pukul 19:30, Adit tiba di gedung Nusantara TV. Ia masuk melalui pintu belakang yang dijaga ketat, dikawal oleh tim keamanan Pak Robert dan manajer humas stasiun. Suasana di balik layar studio terasa dingin dan profesional, jauh berbeda dari suasana di markas Pak Robert.Dea mendampinginy







