LOGINKini Adit, Pak Teguh dan beberapa asisten sutradara, serta para pemain lainnya memulai latihan sebelum pengambilan gambar.Dua puluh orang yang berperan sebagai anak buah bos mafia penculik Clara, campuran antara stuntman profesional dan aktor pendukung yang memiliki latar belakang bela diri, berkumpul di set dan mendengarkan Adit menjelaskan apa yang ia inginkan dari mereka. Bukan instruksi tentang kapan harus jatuh atau ke arah mana harus terpental. Instruksi yang berbeda.Dalam hal perkelahian, orang-orang sungguh menaruh hormat kepada Adit. Mereka masih ingat betul peristiwa syuting di pantai waktu itu di mana Adit mengatasi banyak preman lokal sendirian. Jadi, di depan Adit, tak ada yang sok jago meski Adit masih muda.Kini ia memberi penjelasan seperti seorang guru mengajari muridnya."Serang sungguhan," kata Adit, dan ia mengatakannya dengan nada yang tidak memberi ruang untuk ditafsirkan sebagai hiperbola. "Jangan ukur-ukur. Jangan tunggu isyarat dari saya. Kalau naluri kalian
Pagi itu Vera dan Adit meninggalkan rumah Renata setelah sarapan dengan membawa kopor dan tas berisi pakaian serta alat-alat mandi.Merteka pergi ke studio. Berdua saja. Tanpa pengawalan.Hari masih pagi saat mereka memarkir mobil di parkiran depan studio itu. Beberapa kru tampak sibuk menyiapkan sesuatu untuk keperluan di hari itu. Dua security menyapa dengan ramah.Adit dan Vera masuk hingga ke loby depan dan di sana seorang perempuan 40an tahun dengan rambut yang dikepang rapi, berseragam kru, datang menyambut Adit. Adit dan Vera sering melihatnya di studio, tapi tak pernah tahu namanya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Mbak Wulan, yang mengurusi kebutuhan rumah tangga akomodasi studio.Ia berbicara dengan nada yang efisien dan menyenangkan sekaligus, menjelaskan jadwal kebersihan kamar, nomor yang bisa dihubungi jika ada kebutuhan apapun, dan lokasi fasilitas-fasilitas yang mungkin diperlukan, semuanya disampaikan dalam waktu yang tidak lebih dari tiga menit tanpa ada yang terle
Usai makan malam, Renata membahas lagi soal apa yang tadi Adit katakan. Dan akhirnya Renata setuju; Adit akan menginap di studio selama proses syuting. Kurang lebih dua minggu. Bisa kurang jika proses syuting berjalan lancar. Dan setelahnya, Adit bebas. Tak punya tanggungan lagi.Renata mewanti-wanti agar Adit memberi kabar dan tidak diam saja jika butuh sesuatu.Malam harinya, usai telfonan dengan Laras dan Ayunda, Adit menyibukkan diri mengemasi pakaiannya. Ia membawa beberapa untuk ia kenakan di studio saat ia menginap di sana.Jam 10 malam, saat Adit hendak tidur, pintu kamarnya diketuk dari luar.Tok. Tok.Dit segera membuka pintu. Ia bisa menebak siapa yang datang. Dan benar saja. Renata lah yang datang ke kamarnya. Dia mengenakan baju tidur tipis. Seksi. Cukup mengundang.“Belum tidur kak Ren?” Adit berbasa-basi.“Bantu aku biar bisa tidur nyenyak!” kata Renata. Ia masuk dan menutup pintu kamar Adit, menguncinya.Setelah itu Renata menanggalkan jubah tidurnya dan hanya menyisak
Di sela-sela jeda pengambilan gambar yang melelahkan, Bu Ria menghampiri Adit yang masih terduduk di kursi riasnya.Bu Ria adalah tipe produser yang seolah mengharamkan kursi bagi dirinya sendiri; ia tidak pernah terlihat duduk, selalu berdiri, dan selalu bergerak.Tangannya tak pernah kosong, selalu ada naskah yang dibaca, ponsel untuk mengetik pesan, atau berkas yang ia tandatangani bahkan sambil bicara dengan orang lain.Perempuan berusia lima puluh tahun itu memiliki ciri khas kacamata yang selalu bertengger sedikit miring di hidungnya, serta suara mantap yang sanggup memenuhi ruangan tanpa perlu sedikit pun ditinggikan."Adit," katanya, "Kami sudah berdiskusi, aku, Pak Teguh, dan beberapa orang di tim inti." Bu Ria sedikit merendahkan suaranya. Bukan karena ada rahasia besar, tapi instingnya sebagai orang lapangan mengatakan bahwa percakapan sensitif ini tak perlu menjadi konsumsi seluruh orang di studio. "Kami ingin menawarkan sesuatu."Adit hanya diam menunggu, menatap pantulan
Clara datang tanpa banyak kata pendahuluan. Kedua tangannya melingkar di bahu Adit sebelum jarak di antara mereka sempat ditutup sepenuhnya, dan pelukan itu bukan pelukan basa-basi yang singkat dan sopan. Pelukan itu adalah pelukan yang mengandung sesuatu yang sudah disimpan selama beberapa hari terakhir dan baru sekarang menemukan tempatnya untuk diletakkan.Adit tidak kaku. Ia membalasnya dengan satu tangan yang menepuk punggung Clara pelan, cara yang tidak berlebihan, tapi juga tidak dingin.Beberapa detik berlalu.Clara mundur, memandang Adit dari jarak dekat dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa disebut bahagia tapi juga jauh sekali dari sedih. "Akhirnya…" katanya. Hanya satu kata, tapi diucapkan dengan nada seseorang yang bermaksud mengatakan jauh lebih banyak dari dua kata dan memilih bahwa dua kata itu sudah cukup mewakili semuanya.Clara melirik sekilas ke arah Vera yang berdiri dua langkah di belakang dengan gelas kopi yang baru saja ia ambil dari asisten produksi, lalu
Pagi itu menyusup masuk melalui celah-celah gorden dengan cara yang asing, hampir-hampir terasa janggal bagi indra pendengaran Adit. Biasanya, harinya dimulai dengan hiruk-pikuk yang kaku; suara statis dari radio panggil yang saling bersahutan di depan dan samping bangunan utama.Pagi itu sudah terasa sunyi. Satu-satunya yang memecah keheningan hanyalah pekikan alarm dari ponsel Adit yang bergetar di atas nakas tepat pukul enam pagi. Setelah ia mematikannya, keheningan sempat kembali bertahta sejenak, sebelum kemudian digantikan oleh gemericik air yang samar dari balik dinding kamar mandi sebelah. Vera sudah bangun lebih dulu, dan suara air itu menjadi pengingat ritmis bahwa rutinitas normal telah kembali.Hari itu bukan hari untuk waspada atau bersembunyi. Hari itu adalah jadwal syuting.Adit terduduk di tepi tempat tidur, membiarkan tubuhnya meresapi keempukan kasur untuk beberapa detik terakhir. Matanya menyipit, berusaha menyesuaikan diri dengan sebilah cahaya matahari yang membel
Vera memanjat ke atas ranjang dengan gerakan yang kaku, seolah-olah permukaan kasur itu terbuat dari kaca yang mudah retak. Di tangannya, sebuah bantal sofa ia dekap erat; sebuah pengganti kamera yang terasa konyol sekaligus menyedihkan.Ia berdiri di lututnya, tepat di belakang punggung lebar Adit
Dua minggu berlalu dengan cepat bagi Adit yang merasa setiap harinya padat tanpa jeda.Pagi hingga sore, bahkan kadang sampai malam, dia habiskan di lokasi syuting. Scene demi scene diambil, dialog demi dialog diucapkan, ekspresi demi ekspresi dikeluarkan. Pak Teguh menuntut kesempurnaan, dan Adit
Alarm berbunyi keras pukul enam pagi. Adit terbangun dengan mata yang masih berat. Tidurnya hanya lima jam. Meski masih mengantuk, tapi tapi tubuhnya sudah terbiasa dengan sedikit tidur.Dia bangun, mandi cepat, lalu mengenakan pakaian casual; kaos hitam polos dan celana jeans. Rambutnya dia sisir
Peluru melesat keluar dari laras pendek dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata. Lintasannya lurus dan mematikan, mengarah tepat ke dada Adit dari jarak yang seharusnya tidak bisa meleset.Tapi satu detik sebelum peluru itu sampai, Adit bergerak.Bukan melompat. Bukan berlari. Hanya memiringk







