Home / Urban / Tukang Pijat Tampan / Waktu Bagi Adit Untuk Bersaksi

Share

Waktu Bagi Adit Untuk Bersaksi

Author: Black Jack
last update Huling Na-update: 2025-11-01 22:20:14

Hari demi hari berlalu. Beberapa persidangan telah dilakukan, didominasi oleh perdebatan sengit tentang Eksepsi dan putusan sela yang menolak argumen tim hukum Sandi; sebuah kemenangan kecil bagi faksi Pak Robert. Kini, tibalah saat yang paling ditunggu: agenda pemeriksaan saksi.

Pagi itu, Adit memasuki ruang sidang dengan langkah yang lebih tegak dari biasanya, meskipun ia tahu ia berjalan menuju sarang singa. Ia adalah saksi tunggal, satu-satunya orang yang berani bersaksi melawan anak Jenderal. Ruangan sidang penuh sesak; ketegangan terasa begitu padat.

Adit duduk di kursi saksi. Di depannya, Majelis Hakim tampak serius, di sampingnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menatapnya dengan campuran harapan dan kekhawatiran. Di seberangnya, Sandi menyeringai, sementara tim kuasa hukumnya siap menerkam.

Setelah sumpah diucapkan, Hakim Ketua mempersilakan JPU untuk memulai pemeriksaan.

“Saudara saksi Adit,” JPU memulai, suaranya lantang. “Silakan ceritakan kronologi kejadian malam itu, mulai dar
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tukang Pijat Tampan   Tak Jadi Menginap

    Adit beranjak dari tempat tidur kamar tamu yang empuk itu dan berjalan menuju pintu dengan langkah perlahan. Adit membuka pintu dan persis seperti dugaannya; Seina lah yang datang.Tapi kali ini, berkat kejadian serangan yang baru saja terjadi, Adit sama sekali tidak memiliki minat untuk melanjutkan apa yang hampir terjadi sebelumnya. Hasrat yang sempat membara tadi sudah padam total, digantikan dengan kewaspadaan dan kelelahan mental.Dan tampaknya, Seina pun juga merasakan hal yang sama. Wanita itu sudah berganti gaun tidur; kali ini yang jauh lebih tertutup, semacam piyama sutra berwarna biru muda dengan lengan panjang dan celana panjang yang sopan, tidak ada lagi godaan atau undangan terselubung. Wajahnya terlihat lelah, dan mata yang tadi penuh hasrat kini hanya menunjukkan kelelahan dan rasa bersalah."Adit, maaf soal yang tadi ya…" katanya dengan suara yang pelan, tulus, dan sedikit gemetar. "Dua kali berturut-turut dalam satu malam kamu menyelamatkan aku… dan aset di rumah ini

  • Tukang Pijat Tampan   Siapa Yang Menyerang Siena?

    Adit menghindar dari ayunan tongkat seseorang yang mengarah padanya dengan mudah. Tubuhnya bergerak seperti bayangan, meliuk ke samping dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat mata, lalu ia meluncurkan pukulan keras langsung ke wajah penyerang itu.PRAAAKK!Bunyi tulang hidung patah terdengar sangat jelas bahkan di tengah keributan. Penyerang itu terlempar ke belakang seperti ditendang kuda, tubuhnya melayang hampir dua meter sebelum jatuh tidak sadarkan diri, masker robek dan hidung hancur berdarah.Satu orang telah tumbang mengenaskan.Tiga penyerang yang melihat itu langsung meninggalkan satpam yang sudah hampir tidak berdaya dan beralih menyerang Adit. Sepertinya, kini mereka menyadari ancaman baru yang jauh lebih berbahaya. Mereka datang dari tiga arah berbeda dengan senjata teracung; golok dari kiri, rantai besi dari kanan, pentungan dari depan.Adit tidak mundur. Ia maju ke depan dan masuk ke jarak dekat dengan penyerang yang membawa pentungan sebelum pentungan itu sempat d

  • Tukang Pijat Tampan   Gangguan Tak Terduga

    Awalnya Adit membeku. Tubuhnya kaku seperti patung, tidak merespon, masih berusaha mempertahankan kontrol terakhir.Tapi kemudian, entah karena tubuh mengalahkan pikiran, atau karena ia sudah lelah melawan, ciuman itu ia balas juga.Perlahan. Ragu-ragu pada awalnya. Tapi kemudian lebih dalam. Lebih intens.Tangan Seina yang melingkar di leher Adit menariknya lebih dekat. Tangan Adit yang tadinya kaku di samping tubuh, perlahan naik, satu menyentuh pinggang Seina yang ramping itu, dan satunya lagi ke punggung wanita itu.Ciuman berlanjut. Makin lama makin dalam. Makin panas. Hasrat yang sudah lama terpendam mulai terbakar, mengobarkan api gairah yang sulit dipadamkan.Seina mulai menggerakkan tubuhnya; gerakan kecil yang sangat menggoda. Tangannya turun dari leher Adit, menyusuri dada, meraba otot-otot di balik piyama tipis itu.Adit sudah tidak berpikir lagi. Hanya merasakan. Hanya merespon.Seina mendorong tubuh Adit perlahan, membuat lelaki itu berbaring di tempat tidur. Ia ikut ber

  • Tukang Pijat Tampan   Godaan Kelas Berat

    Adit tidak bisa menolak. Atau lebih tepatnya, ia tidak tahu bagaimana menolak dengan cara yang tidak menyinggung wanita yang baru saja ia tolong dan yang sedang berdiri di depan kamarnya dengan gaun tidur yang sangat menggoda itu. Ia mengizinkan Seina masuk dengan gerakan canggung; mundur sedikit, membuka pintu lebih lebar, memberi ruang bagi wanita itu untuk melangkah masuk.Seina masuk dengan langkah pelan dan anggun, aroma parfumnya semakin kuat di ruangan tertutup itu. Ia menutup pintu di belakangnya, tidak mengunci, hanya menutup, lalu berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepinya dengan postur yang sangat sadar akan daya tariknya sendiri.Adit berdiri canggung di tengah ruangan, tidak tahu harus duduk di mana. Akhirnya ia memilih duduk di tepi tempat tidur juga, tapi menjaga jarak yang cukup jauh, setidaknya satu meter, dari Seina. Suasana di antara mereka sangat canggung, dipenuhi dengan ketegangan yang tidak terucap."Kok kamu belum tidur?" tanya Seina dengan suara yang le

  • Tukang Pijat Tampan   Dua Anak Seina

    Sepuluh menit kemudian, seperti yang Seina janjikan, mereka sampai di sebuah kawasan elite; komplek dengan gerbang utama yang dijaga ketat oleh security berseragam, jalan yang bersih dan lebar dengan pohon-pohon tinggi di kedua sisi, dan rumah-rumah mewah yang berdiri megah dengan arsitektur modern minimalis.Mobil mewah putih Seina berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan fasad kaca dan beton yang elegan, halaman depan yang luas dengan taman yang terawat sempurna, dan pagar otomatis yang terbuka begitu mobil mendekat; sistem sensor yang canggih. Adit parkir motornya di samping mobil Seina, di garasi terbuka yang bisa muat untuk lima mobil.Rumah itu bukan hanya besar. Rumah itu mewah dengan cara yang subtle; tidak mencolok atau berlebihan, tapi setiap detail menunjukkan kelas dan harga yang tidak murah."Ini rumahmu?" tanya Adit sambil melepas helm, tidak bisa menyembunyikan sedikit kekaguman di suaranya."Iya. Sederhana saja," jawab Seina dengan nada santai. Bagi wanita seka

  • Tukang Pijat Tampan   Tak Bisa Menolak Tawaran Seina

    Salah satu dari delapan pria itu, yang paling dekat dengan Adit, segera merespon dengan ucapan."Eh, ada yang mau jadi pahlawan nih," katanya sambil menepuk tongkat baseball di tangannya ke telapak tangan kiri, menciptakan bunyi puk-puk yang mengancam. "Lo tahu nggak sih siapa yang lo hadapin, Bos?"Adit tidak menjawab. Ia terus melangkah sampai berdiri tepat di antara Seina dan kedelapan pria itu, membentuk penghalang hidup. Baru kemudian ia berbicara, dengan nada yang sopan tapi tegas; suara yang terdengar tenang meski situasi sangat tidak tenang."Selamat malam, Ibu. Butuh bantuan?" katanya sambil menoleh sedikit ke arah Seina tanpa melepaskan pandangan waspada dari para lelaki di depannya.Seina yang sejak tadi berusaha tetap tenang dengan wajah datar meski jantung berdebar kencang, merasakan gelombang lega yang luar biasa. Wajahnya yang sempurna, hasil perawatan mahal dan gaya hidup sehat, menunjukkan sedikit senyum tipis."Syukurlah kamu datang," katanya dengan suara yang sediki

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status