Share

Jumpa Fans

Author: Black Jack
last update publish date: 2026-01-07 11:51:44

Hari-hari berganti dan berjalan seperti biasa. Adit fokus pada berbagai persiapan untuk acara jumpa fans yang akan datang, latihan fisik di home gym barunya, dan sesekali mengobrol dengan Vera dan Laras membahas soal endorsement. Hanya itu-itu saja. Tak ada yang ia kerjakan.

Adit tidak berkomunikasi dengan Seina sama sekali. Itu hal bagus bagi Adit. Ia justru akan pusing jika bertemu dengan wanita penuh godaan seperti itu lagi. Dan ia sungguh tak memikirkan soal imbalan dari wanita itu. Ia tak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Vera Dan Renata

    Sarapan pagi itu berlangsung dalam suasana yang canggung.Adit duduk di ujung meja dengan wajah yang berusaha terlihat biasa, menyendok nasi goreng dan telur dadar dengan gerakan yang sedikit kaku. Sesekali dia melirik ke arah Renata yang duduk di ujung meja yang lain dengan postur yang sangat elegan, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.Vera duduk di tengah, antara Adit dan Renata, dengan wajah yang sedikit lesu dan lingkaran hitam di bawah mata yang cukup mencolok. Dia makan dengan sangat pelan, hampir tidak menyentuh makanannya, hanya sesekali menyeruput jus jeruk dengan tatapan kosong.Tidak ada yang berbicara.Hanya terdengar suara sendok garpu yang menyentuh piring, suara gelas yang diletakkan di atas meja, dan suara pelayan yang sesekali datang menambahkan makanan atau minuman.Renata yang akhirnya memecah keheningan, dengan nada yang berusaha terdengar casual. "Vera, setelah ini kamu mau ikut aku jalan-jalan? Biar tidak bosan di rumah terus."Vera mendongak, sedikit terkejut.

  • Tukang Pijat Tampan   Konser Yang Membuat Vera Gagal Tidur

    "Sial..." gumam Vera lirih.Vera mencoba menutupi telinganya dengan bantal, namun imajinasinya justru bekerja lebih liar. Ia bisa membayangkan bagaimana tubuh Adit yang kokoh itu bergerak, bagaimana Adit memperlakukan Renata di sana. Pikiran-pikiran itu mengirimkan gelombang panas yang tidak diinginkan ke sekujur tubuhnya.Vera merasakan napasnya mulai memberat. Ada sensasi panas-dingin yang menjalar dari ujung kakinya hingga ke dadanya. Jantungnya berdegup kencang, selaras dengan irama hantaman yang terdengar dari balik dinding. Secara tidak sadar, kedua paha Vera merapat, bergesekan karena rasa "haus" yang tiba-tiba muncul akibat provokasi suara dari kamar sebelah.Vera mengerang frustrasi dalam diam. Ia merasa bersalah karena ikut terangsang oleh aktivitas temannya sendiri, namun insting biologisnya tidak bisa berbohong. Bagian intimnya mulai berdenyut, bereaksi pada energi maskulin yang seolah-olah terpancar menembus tembok dari sosok Adit.Renata sudah kehilangan hitungan berapa

  • Tukang Pijat Tampan   Vera Mendengar

    Suasana kamar itu semakin berat oleh uap gairah. Renata, dengan keanggunan seorang bos yang telah memenangkan taruhannya, perlahan membimbing Adit untuk tetap terlentang. Ia tidak terburu-buru. Baginya, momen semacam ini adalah selalu merupakan perayaan atas kekuasaannya.Dan ia menikmati hal itu meski ia tahu, Adit berbeda. Adit bukan lelaki-lelaki penghibur yang pernah ia sewa.Bahkan, sejak ia dan Adit bercinta waktu itu, bagi Renata, kenikmatan sejati baru bisa ia dapatkan jika ia bercinta dengan Adit. Dan seolah, jika tak ada Adit, ia tak bergairah sama sekali. Sebaliknya, begitu ia dekat dengan Adit, gairanya meluap-luap. Malam ini pun, sesungguhnya, Renata sudah tidak tahan lagi. Dan ia tak peduli dengan apapun. Ia hanya ingin memiliki Adit di ranjang.Kini semua telah ia dapatkan.Adit merasakan aliran energi di ujung jemarinya mulai berdenyut, sebuah insting purba ingin meledak dan menaklukkan wanita di atasnya dalam sekejap. Namun, Adit menahannya. Ia menarik napas panjang,

  • Tukang Pijat Tampan   Renata Berulah

    Renata tertawa kecil menatap Adit.“Malah bengong…”“Eh… iya, silakan masuk, kak Ren…” kata Adit.Renata masuk, lalu ia sendiri yang menutup pintu, menguncinya.Adit kembali menelan ludah.Renata berbalik, menatap Adit, tersenyum menggoda.“Aku mau cek sesuatu… itumu… masih berfungsi dengan baik kan…”Adit terpaku di tempatnya berdiri. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa dua langkah, namun aroma parfum lembut dan wangi yang menguar dari tubuh Renata terasa begitu nyata merasuk ke indranya."Kak… Kak Ren…?" suara Adit terdengar parau, tenggorokannya mendadak kering.Renata tidak langsung menjawab. Dia melangkah perlahan mendekati Adit, setiap gerakannya membuat kain sutra tipis itu bergesekan halus, menciptakan suara desiran yang memekakkan telinga di dalam kamar yang sunyi itu.Dia berhenti tepat di depan Adit. Jemari lenturnya yang dingin menyentuh dada Adit, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang.Matanya mendongak, menatap langsung ke dalam ma

  • Tukang Pijat Tampan   Telfon Kangen Dan Pengkhianatan Lagi

    Taman Belakang Rumah Renata - Pukul 21:30 MalamAdit berjalan keluar dari rumah melalui pintu belakang, menuju taman yang luas dan tenang dengan lampu taman yang redup yang menciptakan suasana yang damai.Dia duduk di bangku taman yang menghadap ke kolam koi, menatap ikan-ikan yang berenang dengan santai di bawah cahaya lampu bawah air yang lembut.Malam di taman itu terasa sangat tenang; berbeda sekali dengan hiruk-pikuk yang terjadi di luar sana. Di televisi, di media sosial, di jalanan, semua orang membicarakan video terbaru yang viral, membicarakan penangkapan Haryanto, membicarakan skandal kepolisian.Tapi di situ, di taman itu, hanya ada suara air kolam yang mengalir pelan, suara jangkrik yang bersahutan, dan angin malam yang menyejukkan.Adit mengambil ponselnya; menatap layar sebentar.Laras.Sudah hampir seminggu mereka tidak berbicara. Terakhir kali Laras mengirim pesan adalah tiga hari lalu; bilang dia masih sakit dan harus istirahat total.Adit merindukan suaranya.Dia men

  • Tukang Pijat Tampan   Bukti Terbaru Diluncurkan

    Demonstrasi terus berlanjut dengan intensitas yang tidak berkurang. Ribuan orang memenuhi jalan depan mabes, membawa poster, spanduk, megaphone, bahkan ada yang membawa tenda untuk berkemah karena tidak mau pulang sampai ada keadilan.Tapi ada frustrasi yang mulai terasa di antara massa.Seorang koordinator demonstrasi, pemuda dengan kaos #TeamAdit, berdiri di atas panggung darurat sambil berbicara lewat megaphone dengan suara yang mulai serak."Kita sudah tiga hari di sini! Kita sudah tunjukkan video pengakuan yang jelas! Tapi polisi bilang itu fitnah! Mereka bilang tidak ada bukti! MEREKA BOHONG!"Massa berteriak setuju; tapi ada nada kelelahan di sana.Seorang ibu-ibu yang sudah berdiri sejak pagi berteriak dengan frustasi. "Tapi gimana kita buktiin?! Ketiga orang yang ngaku itu hilang! Polisi pasti sembunyiin mereka!"Koordinator menjawab dengan keras. "KITA TERUS DESAK! KITA TIDAK BOLEH MENYERAH!"Tapi kenyataannya, tanpa bukti fisik atau saksi hidup, tuntutan mereka mulai kehila

  • Tukang Pijat Tampan   Pesan Misterius Itu Lagi

    Jam dua malam. Lampu neon di papan nama café mulai redup, hanya menyisakan sinar kuning pucat yang menerangi jalan sepi di depannya. Suara mesin espresso yang menderu sepanjang hari kini terdiam, digantikan oleh desiran angin malam yang menyelinap masuk setiap kali pintu terbuka. Satu per satu, kar

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Tukang Pijat Tampan   Lawan Seram

    Mobil sedan hitam melaju menembus malam yang pekat, meninggalkan hiruk-pikuk lampu kota menuju kawasan yang semakin sepi. Adit memperhatikan jalanan yang dilalui dengan seksama; mereka memasuki area industri tua yang tampak ditinggalkan, di mana gedung-gedung kosong berdiri seperti hantu-hantu beto

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Tukang Pijat Tampan   Di Kamar Dinda

    Malam itu, udara terasa segar setelah hujan ringan yang sempat turun sore tadi. Adit mengikuti langkah Pak Darmawan yang masih terlihat bersemangat tinggi meski jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Sepatu kulit bosnya itu berbunyi ritmis di atas lantai marmer yang masih agak basah. A

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Tukang Pijat Tampan   Ujian Pertama Di Hari Pertama Kerja

    Para mucikari telah datang. Adit awalnya mengira jika mereka itu adalah wanita-wanita tua yang kusam dan berpenampilan biasa. Namun ia salah besar sebab ternyata mereka masih muda, seusia Renata, mungkin di kisaran 35 hingga 40 tahunan. Lebih mengejutkan lagi, mereka bukan hanya muda, tapi juga can

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status