首頁 / Rumah Tangga / Tukar Ranjang Puaskan Rasa / Bab 10 - Malam Penuh Gairah

分享

Bab 10 - Malam Penuh Gairah

作者: SamL9
last update publish date: 2026-08-02 23:01:45

Edward merasa ingin dan merasa bersalah pada waktu yang bersamaan. Dia tidak tahu harus berbuat apa, tetapi bukankah menikmati apa yang terjadi juga tidak ada ruginya?

"Nyonya, apakah Nyonya bisa berjanji tidak akan menceritakan hal ini kepada orang lain? Terutama kepada Faela?" tanya Edward dengan gugup.

Laura tersenyum. "Tenang saja, andai istrimu tahu sekalipun. Ini tak apa. Dia memang sudah menyerahkan kamu padaku, Edward. Santai saja, nikmati, dan lakukan yang terbaik. Lupakan segala hasra
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (2)
goodnovel comment avatar
kwetiau jumbo
sumuk ini mah
goodnovel comment avatar
SamL9
panas dingin, nggak?
查看全部評論

最新章節

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 21 - Resah

    Sejak pagi, Faela tidak berhenti mondar-mandir di lorong rumah sakit. Sudah beberapa jam dia berada di sana, tetapi rasanya belum ada satu pun urusan yang benar-benar selesai.Setelah dokter mengatakan kondisi ibunya kembali memburuk, Faela harus mengurus berbagai keperluan administrasi. Mulai dari berkas pasien, biaya perawatan, obat-obatan, hingga beberapa kebutuhan lain yang harus dibayarkan sebelum tindakan berikutnya dilakukan.Faela berdiri di depan loket administrasi sambil menggenggam dompetnya erat. "Jadi untuk pembayaran hari ini, saya harus membayar semuanya sekarang, Bu?"Petugas administrasi mengangguk. "Untuk sementara, iya. Karena kondisi pasien masih membutuhkan perawatan intensif."Faela menelan ludah. "Berapa totalnya?"Petugas itu menyebutkan sebuah nominal.Wajah Faela langsung berubah. "Sebanyak itu?""Iya, Bu. Itu belum termasuk kalau nanti ada tindakan tambahan dari dokter."Faela menundukkan kepala. "Baik ... saya usahakan."Dia membuka dompetnya. Uang yang ada

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 20 - Kekhawatiran

    Mobil yang dikendarai Laura akhirnya berhenti di depan sebuah restoran eksklusif yang berada di lantai paling atas sebuah gedung mewah. Tempat itu dikenal sebagai restoran yang sering digunakan para pengusaha untuk melakukan pertemuan penting karena memiliki beberapa ruangan private dengan pemandangan kota yang begitu indah.Seorang petugas langsung menghampiri dan membukakan pintu. "Selamat siang, Tuan Bald. Selamat siang, Nyonya Laura.""Siang," jawab Bald.Laura hanya tersenyum tipis.Mereka kemudian diarahkan menuju ruangan private di bagian paling belakang. Begitu pintunya ditutup, suasana menjadi jauh lebih tenang. Tidak ada suara pengunjung lain. Hanya terdengar alunan musik lembut dan pemandangan gedung-gedung tinggi dari balik kaca besar.Laura duduk berhadapan dengan suaminya. "Tempatnya bagus sekali," ucapnya.Bald tersenyum. "Aku tahu kamu suka tempat yang tenang."Laura mengangguk.Seorang pelayan datang menyerahkan menu. "Silakan, Tuan, Nyonya. Hari ini chef kami merekom

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 19 - Firasat

    Laura memarkir mobilnya di area parkir khusus tamu perusahaan milik Bald. Dia mematikan mesin, tetapi kedua tangannya masih menggenggam kemudi dengan erat.Jantungnya berdegup lebih cepat daripada biasanya. "Aku harus tenang," gumamnya pelan.Dia membuka kaca spion, memastikan riasannya masih tampak rapi. Bibirnya membentuk senyum tipis, lalu segera menghilang."Aku datang untuk menjemput suamiku. Bukan untuk hal lain." Kalimat itu diucapkannya berulang-ulang, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.Laura akhirnya turun dari mobil. Gedung perusahaan yang menjulang tinggi itu tampak sibuk seperti biasa. Para karyawan berlalu-lalang membawa berkas dan laptop, sementara beberapa tamu keluar masuk melalui pintu utama.Begitu Laura memasuki lobi, resepsionis langsung berdiri. "Selamat siang, Nyonya Laura.""Selamat siang.""Apa Ibu ingin langsung ke ruang Tuan Bald?"Laura mengangguk. "Iya.""Silakan, lift khusus direksi sudah siap.""Terima kasih."Laura melangkah menuju lift dengan ten

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 18 - Kangen?

    Sejak pagi, Laura sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Setelah Bald berangkat ke kantor, rumah megah itu terasa jauh lebih lengang dari biasanya. Beberapa kali dia mencoba membaca majalah fashion favoritnya, tetapi baru beberapa halaman, pikirannya kembali melayang.Tatapannya kosong. Sesekali dia mengembuskan napas panjang."Kenapa jadi begini ...." gumamnya lirih.Bayangan wajah Edward kembali muncul di benaknya. Dia masih mengingat bagaimana pria itu bersikap tenang dan sopan setiap kali berbicara dengannya. Semakin dia berusaha mengusir bayangan itu, semakin sulit pula pikirannya menjadi tenang. Namun, bersamaan dengan itu, rasa bersalah perlahan menyusup ke dalam hatinya.Dia memandang cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. "Bald ...."Suaminya tidak pernah memperlakukannya dengan kasar. Bahkan beberapa hari terakhir, Bald justru terlihat semakin perhatian. Membawakan makanan kesukaannya. Menanyakan keadaannya. Bahkan membantu biaya pengobatan ibu Faela tanpa dimint

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 17 - Tugas yang Sulit

    Edward berdiri beberapa detik di depan pintu ruang kerja Tuan Bald. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan debaran jantungnya.Tok ...Tok ...Tok ..."Masuk." Suara berat Tuan Bald terdengar dari dalam.Edward segera membuka pintu sambil membawa dua paper bag dan beberapa gelas kopi. "Permisi, Tuan. Kopi dan pastry yang Tuan pesan sudah saya bawakan.""Taruh saja di meja.""Baik, Tuan."Edward meletakkan semua pesanan dengan hati-hati. Setelah selesai, dia berdiri tegak beberapa langkah di depan meja kerja. "Tadi kata salah satu pegawai, Tuan ingin bertemu saya?"Tuan Bald mengangguk pelan. "Iya."Pria paruh baya itu mengambil amplop cokelat yang sejak tadi tergeletak di atas meja. "Aku baru menerima laporan dari bagian administrasi rumah sakit."Edward mengernyit. "Laporan?""Ibumu ... maksudku, ibunya Faela."Edward langsung menegakkan tubuh.."Bagaimana, Tuan?""Katanya kondisinya memang cukup serius hingga harus dirawat di ICU."Edward menundukkan kepala.."Iya, Tuan."Tua

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 16 - Terkejut

    "Permisi, Pak ... Permisi!" seru salah seorang petugas di cafe tersebut karena Edward sudah dipanggil beberapa kali, tetapi tidak memberikan respon padahal pesanan tersebut sudah selesai dibuat.Edward tersentak. "Eh ... maaf." Dia terkejut karena bahunya ditepuk oleh salah satu petugas. Edward buru-buru berdiri dari kursinya. "Ya, ada apa?""Pesanan yang tadi diorder sudah selesai dibuat. silakan diambil ke meja pengambilan pesanan, Pak," jelas pegawai itu."Baik. Terima kasih banyak atas informasinya." Edward langsung berjalan menuju ke meja pengambilan pesanan.EdwardPetugas kafe tersenyum ramah sambil menyerahkan beberapa cup kopi dan dua paper bag besar berisi beberapa pastry. "Pesanan atas nama Tuan Bald sudah lengkap.""Iya, terima kasih." Edward menerima semua pesanan itu dengan kedua tangan. Dia menghela napas pelan setelah membayar, lalu berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman kafe.Begitu duduk di balik kemudi, dia tidak langsung menyalakan mesin. Tatapannya justr

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status