LOGINSejak pagi, Faela tidak berhenti mondar-mandir di lorong rumah sakit. Sudah beberapa jam dia berada di sana, tetapi rasanya belum ada satu pun urusan yang benar-benar selesai.Setelah dokter mengatakan kondisi ibunya kembali memburuk, Faela harus mengurus berbagai keperluan administrasi. Mulai dari berkas pasien, biaya perawatan, obat-obatan, hingga beberapa kebutuhan lain yang harus dibayarkan sebelum tindakan berikutnya dilakukan.Faela berdiri di depan loket administrasi sambil menggenggam dompetnya erat. "Jadi untuk pembayaran hari ini, saya harus membayar semuanya sekarang, Bu?"Petugas administrasi mengangguk. "Untuk sementara, iya. Karena kondisi pasien masih membutuhkan perawatan intensif."Faela menelan ludah. "Berapa totalnya?"Petugas itu menyebutkan sebuah nominal.Wajah Faela langsung berubah. "Sebanyak itu?""Iya, Bu. Itu belum termasuk kalau nanti ada tindakan tambahan dari dokter."Faela menundukkan kepala. "Baik ... saya usahakan."Dia membuka dompetnya. Uang yang ada
Mobil yang dikendarai Laura akhirnya berhenti di depan sebuah restoran eksklusif yang berada di lantai paling atas sebuah gedung mewah. Tempat itu dikenal sebagai restoran yang sering digunakan para pengusaha untuk melakukan pertemuan penting karena memiliki beberapa ruangan private dengan pemandangan kota yang begitu indah.Seorang petugas langsung menghampiri dan membukakan pintu. "Selamat siang, Tuan Bald. Selamat siang, Nyonya Laura.""Siang," jawab Bald.Laura hanya tersenyum tipis.Mereka kemudian diarahkan menuju ruangan private di bagian paling belakang. Begitu pintunya ditutup, suasana menjadi jauh lebih tenang. Tidak ada suara pengunjung lain. Hanya terdengar alunan musik lembut dan pemandangan gedung-gedung tinggi dari balik kaca besar.Laura duduk berhadapan dengan suaminya. "Tempatnya bagus sekali," ucapnya.Bald tersenyum. "Aku tahu kamu suka tempat yang tenang."Laura mengangguk.Seorang pelayan datang menyerahkan menu. "Silakan, Tuan, Nyonya. Hari ini chef kami merekom
Laura memarkir mobilnya di area parkir khusus tamu perusahaan milik Bald. Dia mematikan mesin, tetapi kedua tangannya masih menggenggam kemudi dengan erat.Jantungnya berdegup lebih cepat daripada biasanya. "Aku harus tenang," gumamnya pelan.Dia membuka kaca spion, memastikan riasannya masih tampak rapi. Bibirnya membentuk senyum tipis, lalu segera menghilang."Aku datang untuk menjemput suamiku. Bukan untuk hal lain." Kalimat itu diucapkannya berulang-ulang, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.Laura akhirnya turun dari mobil. Gedung perusahaan yang menjulang tinggi itu tampak sibuk seperti biasa. Para karyawan berlalu-lalang membawa berkas dan laptop, sementara beberapa tamu keluar masuk melalui pintu utama.Begitu Laura memasuki lobi, resepsionis langsung berdiri. "Selamat siang, Nyonya Laura.""Selamat siang.""Apa Ibu ingin langsung ke ruang Tuan Bald?"Laura mengangguk. "Iya.""Silakan, lift khusus direksi sudah siap.""Terima kasih."Laura melangkah menuju lift dengan ten
Sejak pagi, Laura sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Setelah Bald berangkat ke kantor, rumah megah itu terasa jauh lebih lengang dari biasanya. Beberapa kali dia mencoba membaca majalah fashion favoritnya, tetapi baru beberapa halaman, pikirannya kembali melayang.Tatapannya kosong. Sesekali dia mengembuskan napas panjang."Kenapa jadi begini ...." gumamnya lirih.Bayangan wajah Edward kembali muncul di benaknya. Dia masih mengingat bagaimana pria itu bersikap tenang dan sopan setiap kali berbicara dengannya. Semakin dia berusaha mengusir bayangan itu, semakin sulit pula pikirannya menjadi tenang. Namun, bersamaan dengan itu, rasa bersalah perlahan menyusup ke dalam hatinya.Dia memandang cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. "Bald ...."Suaminya tidak pernah memperlakukannya dengan kasar. Bahkan beberapa hari terakhir, Bald justru terlihat semakin perhatian. Membawakan makanan kesukaannya. Menanyakan keadaannya. Bahkan membantu biaya pengobatan ibu Faela tanpa dimint
Edward berdiri beberapa detik di depan pintu ruang kerja Tuan Bald. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan debaran jantungnya.Tok ...Tok ...Tok ..."Masuk." Suara berat Tuan Bald terdengar dari dalam.Edward segera membuka pintu sambil membawa dua paper bag dan beberapa gelas kopi. "Permisi, Tuan. Kopi dan pastry yang Tuan pesan sudah saya bawakan.""Taruh saja di meja.""Baik, Tuan."Edward meletakkan semua pesanan dengan hati-hati. Setelah selesai, dia berdiri tegak beberapa langkah di depan meja kerja. "Tadi kata salah satu pegawai, Tuan ingin bertemu saya?"Tuan Bald mengangguk pelan. "Iya."Pria paruh baya itu mengambil amplop cokelat yang sejak tadi tergeletak di atas meja. "Aku baru menerima laporan dari bagian administrasi rumah sakit."Edward mengernyit. "Laporan?""Ibumu ... maksudku, ibunya Faela."Edward langsung menegakkan tubuh.."Bagaimana, Tuan?""Katanya kondisinya memang cukup serius hingga harus dirawat di ICU."Edward menundukkan kepala.."Iya, Tuan."Tua
"Permisi, Pak ... Permisi!" seru salah seorang petugas di cafe tersebut karena Edward sudah dipanggil beberapa kali, tetapi tidak memberikan respon padahal pesanan tersebut sudah selesai dibuat.Edward tersentak. "Eh ... maaf." Dia terkejut karena bahunya ditepuk oleh salah satu petugas. Edward buru-buru berdiri dari kursinya. "Ya, ada apa?""Pesanan yang tadi diorder sudah selesai dibuat. silakan diambil ke meja pengambilan pesanan, Pak," jelas pegawai itu."Baik. Terima kasih banyak atas informasinya." Edward langsung berjalan menuju ke meja pengambilan pesanan.EdwardPetugas kafe tersenyum ramah sambil menyerahkan beberapa cup kopi dan dua paper bag besar berisi beberapa pastry. "Pesanan atas nama Tuan Bald sudah lengkap.""Iya, terima kasih." Edward menerima semua pesanan itu dengan kedua tangan. Dia menghela napas pelan setelah membayar, lalu berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman kafe.Begitu duduk di balik kemudi, dia tidak langsung menyalakan mesin. Tatapannya justr







