LOGINHawa dingin Svalbard yang membekukan tulang tak lagi mampu menembus kulit mereka. Di atas Terminal Genesis yang terbuat dari bongkahan obsidian hitam pekat, napas Laura dan Edward masih beradu dalam ritme yang memburu. Keringat yang membasahi tubuh telanjang Laura menguap tipis di udara Arktik yang kering dan berbau ozon, sementara pelukan protektif lengan kekar Edward menjaganya dari sengatan suhu ekstrem.Data triliunan Euro, kode akses satelit global, dan rahasia paling mematikan di bumi kini mengalir senyap di bawah punggung mereka, menjadi saksi bisu dari penyatuan beringas yang baru saja meruntuhkan warisan terakhir Silas Bald.Edward menarik dirinya perlahan, mengecup dalam-dalam bibir Ratu-nya yang membengkak merah. Ia meraih mantel bulu serigala putih dari lantai baja yang berserakan sisa-sisa selongsong peluru dan rongsokan anjing mekanis, lalu membungkus tubuh Laura dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kebuasannya saat menyetubuhi wanita itu beberapa menit yang lalu
Angin Arktik melolong bagai raungan roh penasaran saat Laura menempelkan Apex Drive ke atas panel pemindai di sisi pintu baja raksasa itu. Lampu LED yang membeku oleh lapisan es seketika berkedip hijau. Terdengar suara desis hidrolik yang memekakkan telinga, memecah kebekuan yang telah bersemayam selama puluhan tahun. Pintu setebal dua meter itu bergeser perlahan, menghembuskan udara kering yang berbau ozon dan mesin dari dalam kegelapan.Edward melangkah masuk lebih dulu, laras FN SCAR-H miliknya membelah gulita, tubuh raksasanya menjadi perisai mutlak bagi sang Ratu. Begitu ujung sepatu bot mereka melewati ambang pintu, deretan lampu darurat berwarna merah darah menyala secara berurutan, menerangi lorong panjang yang terbuat dari beton dan baja padat.Namun, bukan keheningan yang menyambut mereka. Dari ujung lorong, terdengar derap mekanis yang berat dan mematikan.Empat siluet merangkak keluar dari bayang-bayang. Mereka bukan manusia. Itu adalah combat drones berkaki empat—anjing p
Perintah itu adalah pelatuk yang meledakkan kewarasan Edward. Sang algojo mengaum rendah, mengangkat tubuh Laura dari lantai dan membantingnya dengan kasar namun penuh perhitungan ke atas ranjang kabin yang luas. Jubah sutra hitam itu terlepas sepenuhnya, mengekspos kemolekan sempurna Laura di bawah cahaya temaram pesawat.Edward merobek sisa pakaiannya sendiri, memperlihatkan otot-ototnya yang bergemuruh tegang dan kejantanannya yang telah mengeras buas, berkedut menuntut pelampiasan dari rasa frustrasi dan protektivitas yang membakar dadanya.Pria itu merangkak naik, mengungkung tubuh Laura layaknya predator yang mengunci mangsanya. "Dia hanya masa lalu yang sudah membusuk, Laura. Sementara aku... aku adalah masa depanmu. Aku adalah kenyataanmu!"Edward menunduk, menghisap salah satu payudara Laura dengan rakus, menggigit putingnya yang mengeras hingga Laura menjerit nikmat. Tangan Edward yang besar dan kapalan menyusuri paha jenjang sang Ratu, secara paksa melebarkan kedua kaki wan
Di tengah layar merah itu, sebuah video perlahan muncul. Kualitasnya sangat jernih, direkam dalam sebuah ruangan kerja bergaya klasik yang sangat familiar bagi mereka berdua.Di dalam video itu, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam pinstripe, menghisap cerutu Kuba dengan keangkuhan seorang kaisar. Matanya yang tajam dan dingin menatap lurus menembus lensa kamera.Itu adalah Silas Bald. Ayah Laura.Edward menahan napas. Jantung Laura berdetak satu ketukan lebih cepat. Silas telah mati, tubuhnya telah mereka lihat sendiri, namun hantu penguasa lama itu kini menatap mereka dari balik alam kubur."Jika rekaman ini diputar, itu berarti dua hal," suara bariton Silas yang berat dan berwibawa menggema di dalam kabin jet. "Pertama, Ordo Bayangan telah runtuh. Kedua, putriku, Laura... kau telah mengambil alih takhta dan memegang Apex Drive."Silas dalam video itu menghembuskan asap cerutunya pelan."Kau mungkin mengira kau sudah menang, Putriku. Kau mengira dengan membunuh par
Kobaran api dari reruntuhan kendaraan taktis milisi menjilat langit malam gurun, mengubah kanvas gelap itu menjadi lautan jingga yang membara. Di tengah pusaran debu, asap mesiu, dan bau daging terbakar, ciuman beringas antara Laura dan Edward menjadi satu-satunya sumber kehidupan, sebuah sirkuit gairah yang menyedot energi dari kematian di sekeliling mereka.Tangan besar Edward yang berlumuran darah segar merengkuh pinggang Laura, mengangkat tubuh Ratu-nya hingga kaki jenjang wanita itu melingkar erat di pinggangnya. Sang algojo berjalan menembus panggung pembantaian itu tanpa melepaskan tautan bibir mereka, membawa Laura kembali ke dalam perut jet supersonik yang mesinnya masih menderu konstan.Begitu pintu hidrolik pesawat tertutup, mengunci hawa panas gurun dan pemandangan neraka di luar sana, Edward menjatuhkan punggung Laura ke dinding panel kabin."Kau selalu tahu cara membuatku gila, Laura," geram Edward parau. Ia mencium rahang wanita itu, turun ke lehernya, menghisap kulit p
Udara malam di atas perairan internasional Mediterania terasa membekukan, namun di dalam kabin jet supersonik yang melesat membelah awan menuju Timur Tengah, suhu terasa mendidih.Laura duduk bersandar di kursi kulit Nappa, membiarkan Edward membalutkan kembali perban baru di perutnya yang masih menyisakan nyeri tumpul. Sang algojo melakukan tugasnya dengan kehati-hatian seorang pemuja, jemarinya yang kapalan menyentuh kulit pucat sang Nyonya Besar seringan bulu."Timur Tengah bukanlah arena bermain seperti Eropa atau Amerika, Laura," suara Edward mengalun berat, memecah kesunyian kabin yang hanya diisi dengung pelan mesin jet. Matanya tak lepas dari luka Laura, namun pikirannya membedah setiap ancaman yang menanti mereka. "Di sana, uang dan ancaman politik tidak selalu berarti. Faksi-faksi ini digerakkan oleh fanatisme dan darah. Mereka tidak peduli jika kau memegang Interpol di tanganmu."Laura tersenyum miring, senyum sosiopat yang selalu berhasil memabukkan akal sehat Edward. Ia m







